
🌺 hem... 🌺
* * *
Semua bermula saat aku baru saja menjalankan usahaku.
Cafe pertama yang kuberi nama ' One caffe ', berhasil menarik banyak pelanggan dan berkembang lebih cepat dari perkiraan.
Tahun ke dua akupun bersiap untuk membuka cabang kedua yang akan kuberi nama ' two caffe ' .
Saat itulah aku bertemu dengannya, Noya.
Sesuai namanya yang dalam bahasa Ibrani berarti cantik. Noya sangat cantik . Begitupun dengan kepribadiannya yang santun dan juga ramah .
Tentu saja sulit bagiku untuk tidak jatuh hati padanya.
Saat itu aku memang tengah membuka lowongan karena memang sedang butuh tambahan karyawan. Dan dia datang untuk melamar pekerjaan.
'' Ya, maukah kau menikah denganku ?''
ucapku setelah enam bulan mengenal dan tiga bulan menjalin kasih dengannya.
Gayung bersambut. Noya menerima lamaranku.
Dan dalam waktu singkat kami pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk membawa hubungan kami menuju ke pernikahan.
Kedua orang tua Noya telah meninggal. Sedangkan saudara satu-satunya bertugas melayani di Filipina sembari menjalani pendidikan sebagai seorang calon biarawati.
Dan ketika kami menikah, adik yang terpaut dua tahun darinya ternyata berhalangan datang.
Selang tiga bulan menikah, kebahagiaan kami semakin sempurna saat Noya dinyatakan positif hamil.
Namun hal tersebut tak berlangsung lama.
Noya meninggal saat proses persalinan.
Saat itulah adiknya, datang untuk menghadiri pemakaman Noya.
Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya.
Gadis berusia 21 tahun, mengenakan pakaian khusus seorang biarawati dengan krudung hitam menutupi sebagian kepalanya.
Wajahnya bersahaja, memancarkan kasih seperti jalan hidup yang ia pilih.
Tak seperti kebanyakan anggota keluarga lain yang menangis tersedu-sedu hingga ada pula yang sampai histeris. Grace menangis dalam diam.
Hanya terlihat linangan air mata yang mengalir tanpa henti di pipi mulusnya .
Dan terus seperti itu selama prosesi pemakaman berlangsung.
Ekspresinya yang demikian membuatku terenyuh.
Ia bahkan mampu merubah air muka kesedihan dan diganti dengan binar gembira ketika dihadapkan pada Edo.
Bayi yang baru saja lahir itu langsung menerima kehadirannya .
Karena itu, Grace kemudian meminta ijin agar pelayanannya dipindah dan kabar baiknya hal tersebut dikabulkan.
Selama empat puluh hari, Noya bolak-balik dari gereja tempat tinggalnya ke rumahku untuk melihat Edo.
Pasalnya Edo sangat rewel, dan hanya akan tenang saat bersama Grace saja.
Grace pun berat untuk pergi meninggalkan keponakannya.
Membuatnya terpaksa harus mengambil keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
Ia melepas kebiarawannya untuk bisa mengurus Edo.
Dan anehnya semua kerabat dan anggota keluarganya mendukung hal tersebut.
Selama hampir enam bulan pasca resmi kembali ke masyarakat biasa, Grace memfokuskan diri untuk merawat Edo.
Sedangkan aku yang masih dalam keadaan terpuruk , memilih sibuk mengurusi usahaku.
Setahun, dua tahun, dan tahun ketiga cobaan lainnya datang menghampiri.
Edo didiagnosa memiliki tumor otak dan divonis tak akan bertahan hidup lama.
Berbeda denganku yang semakin terpuruk, Grace yang telah mencurahkan semua bentuk kasih sayang pada anak yang telah memanggilnya mama itu justru tegar dalam menghadapinya.
Tak sekalipun Grace menyerah. Ia selalu tenang dalam merawat dan menemani Edo dikala sakit bahkan disaat beberapa kali melewati masa kritis.
Selama dua tahun Grace senantiasa ada di samping Edo yang harus berjuang melawan sakitnya . Sementara aku berusaha agar dapat memenuhi dan menutupi semua kebutuhan dan pengobatan mereka.
Meski jarang berkomunikasi, kami melaluinya bersama .
Dan tak sekalipun ia mengeluhkan karena aku yang terkesan melimpahkan tanggung jawab merawat Edo padanya.
Hingga sebulan lalu. Setelah keadaan Edo membaik, seorang kerabat dari keluarga Grace datang menghampiriku dan Grace.
Dia adalah bibi, adik dari mendiang ayah Grace.
Mewakili suara keluarga besar lainnya, ia menyarankan agar aku menikahi Grace.
Alasannya karena kami sama-sama tak punya pasangan, dan juga terlihat cocok bersama dalam mengurus Edo.
Namun belum sempat ku berpendapat, Grace dengan cepat menolak usulan tersebut.
Ia memiliki alasannya sendiri.
Merawat, mencintai dan memberikan kasih sayang, bahkan sampai menjadi ibu pengganti, ia melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas karena Edo adalah anak saudaranya yang ia anggap seperti anaknya sendiri.
Baginya, tak masuk akal jika ia harus menikah dengan kakak iparnya sendiri.
Mendengar itu, entah mengapa aku merasa kecewa.
Aku memang mencintai Noya dan masih belum seratus persen merelakannya.
Tapi selama lima tahun , bertemu dan banyak melakukan interaksi meski tanpa banyak bicara dengan Grace , aku menyadari jika ada sesuatu dari dalam diriku.
Aku tertarik, aku menyukai dan mungkin juga tanpa kusadari telah jatuh hati padanya.
Dan ketika ku katakan itu padanya, jawaban Grace tetap sama. Ia tak ingin menikah denganku. Karena bagaimana pun aku adalah suami Noya, lelaki yang dicintai mendiang kakaknya.
Dan Grace tak mau dijadikan pelarian.
Pelarian ? Tidak, Grace.
Andai aku bisa dengan tegas mengatakannya .
Jika semakin hari , aku semakin yakin jika aku mencintainya. Hanya saja aku tak tau kapan rasa itu dimulai.
Namun Grace tetap pada pendiriannya.
Ia bahkan menolak ku biayai lagi kehidupannya dan mulai mencari pekerjaan .
Aku tak berdaya.
Bagaimanapun aku membuktikan jika aku serius dengan perasaanku, hal itu tak cukup mampu untuk meyakinkannya .
Akhirnya, aku menyerah. Jika aku tak bisa menjadi lelakinya, setidaknya aku harus memastikan ia hidup dengan baik dan bertemu dengan pria baik pula.
Ia tak boleh terus-terusan terikat denganku karena Edo.
Jalan Tuhan adalah yang terbaik. Doaku dan harapanku dikabulkan oleh-NYA.
Berawal dari sebuah kebetulan , yang kemudian menjadi keputusanku.
Aldi sahabatku tertarik padanya.
Selain kepribadiannya yang baik, dari segi materi dan juga usianya ia adalah sosok yang lebih dari cukup memenuhi kriteria yang ku harapkan untuk menjadi pendamping Grace .
Aldi mengakui jika alasan ia menyukai Grace adalah karena kesederhanaannya.
Aku pun dengan senang hati menyanggupi untuk membantunya mendekati Grace.
Memang sepertinya akan sulit mengingat Grace yang meskipun sudah berusia 26 tahun masih kaku dan canggung soal percintaan.
Pasalnya ia sama sekali tak pernah sekalipun terlibat hubungan dengan seorang pria.
* * *
Setelah mendengar semua ceritaku dan perkenalan singkatnya dengan Grace malam itu, Aldi kian gencar mendekati Grace.
__ADS_1
Ia sering berkunjung ke restoran yang memang kupercayakan pada Grace untuk di kelola.
Aku tak ingin Grace bekerja di tempat yang jauh dari jangkauan . Setidaknya inilah yang bisa ku lakukan sebagai bentuk terima kasih karena telah membantuku melewati dan menemaniku di saat sulit dulu.
Awalannya Grace sempat menolak ketika ku katakan niatan Aldi yang ingin menjalin kedekatan dengannya.
Ia bahkan mencurigai ku jika ini kulakukan karena rasa tak nyaman usai ia menolak menikah denganku.
Namun karena kegigihan Aldi yang tak mau menyerah begitu saja, Grace pada akhirnya luluh saat Aldi mengatakan akan menerima Edo sebagimana Grace menganggapnya selama ini.
Tiga bulan berlalu dengan Aldi yang rajin mengunjungi Grace disaat jam restoran akan tutup.
Pria itu tanpa lelah membawa apa saja untuk Grace sebagai bentuk perhatiannya.
Dan di enam bulan berikutnya, Aldi resmi melamarnya.
Mereka pun bertunangan dan akan melangsungkan pernikahan dalam jangka enam bulan ke depan.
Itu adalah syarat Grace, yang masih butuh waktu untuk memantapkan hatinya menuju ke pernikahan.
Semua menyambut suka cita kabar tersebut. Begitupun dengan ku dan Edo.
Hanya saja, perlahan rasa lega itu berangsur-angsur pupus dan berubah menjadi rasa perih yang menyayat hati.
Tiap hari bahkan tiap detik yang kulewati ,terasa berat mengingat jika hari pernikahan mereka yang sudah semakin dekat .
* * *
Hujan dihari minggu .
Entah kenapa sejak pagi perasaanku inginkan ke makam Noya.
Ya, memang sudah lama aku tak ke sana.
Meski hujan, kuputuskan untuk nyekar.
Lagi pun Edo sedang berada di rumah Grace.
Gerbang pemakaman sudah didepan mata, namun karena jalanan yang becek mobilpun ku parkir agak menjauh.
Dibawah payung yang tangan kananku pegang, aku melangkah perlahan.
Makam Noya berada di ujung sana, tertutup rimbunan bunga yang tingginya seukuran orang dewasa.
Ketika sudah semakin dekat, samar terlihat sosok tengah berlutut didepan nisan yang terpajang foto almarhum istriku.
" Grace " langkahku terhenti.
Grace duduk dalam keadaan basah kuyup sembari memegang kepala nisan.
" aku gak tau apa ini benar atau salah " suara Grace samar terdengar membuatku reflex menyusup dibalik rimbunan bunga .
Meski tak pantas rasanya, tapi gejolak ingin tau mendorongku bersembunyi untuk mendengar apa yang ia katakan.
Tiba-tiba saja hujan menjadi reda. Semakin berkurang jatuhnya dan perlahan menjadi gerimis.
Kututup payungku dengan perlahan.
" maaf, kak "
Terdengar lagi ditemani suara gerimis yang tak begitu berisik. Akupun dapat mendengarnya dengan jelas.
'' aku menyukai suamimu ''
' deg ' suara gemuruh di langit saling bersahutan dengan yang ada di hatiku.
" dia menyukaiku ? "
" padahal aku akan segera menikah dengan Aldi.Tapi tetap saja, hatiku tak merasakan apa-apa saat bersamanya.
Aku justru merasa berdebar hanya ketika berada di dekat kak Eldric "
" dia mencintaiku ? sejak kapan? "
" Pernikahan itu seumur hidup sekali.
Dan aku takut jika akan menyesalinya nanti.
Bagaimana jika aku tetap menyimpan rasa ini meski sudah berstatuskan istri Aldi?
Lama ia terdiam hingga kudengar suara langkah kaki yang menandakan jika ia sudah selesai dan bersiap untuk pergi.
" kak Eldric ?" ia tampak begitu terkejut melihat ku yang muncul dari balik rimbun bunga.
Sesaat kami diam dengan saling menatap.
" kenapa, Grace ?"
" ... " Grace mencoba bungkam dengan bibir bergetar.
Dari ekspresinya, ia pasti menebak jika aku mendengar apa yang baru saja ia katakan tadi.
" ya, aku mendengar semuanya, Grace.
Jadi kau menyukaiku ? "
" ... "
" kenapa, Grace ? Kenapa tak kau katakan ?
Kenapa harus kau pendam ? Kau tau kalau aku juga menyukaimu dan memiliki rasa yang sama denganmu "
" ... "
" kau masih ragu ? "
" ... "
" bicaralah, Grace. Jangan diam begini.
Katakan seperti yang tadi kau ucapkan.
Sebelum semuanya terlambat "
" maaf, kak. Aku gak bisa. Aku.."
" apa kau merasa bersalah pada Noya? ''
''... ''
'' andai dia bisa bicara, dia tentu tak akan keberatan Grace "
" aku permisi dulu, kak. Kasihan Edo kalau kutinggal terlalu lama " Grace sudah mengambil langkah dan hampir melewatiku.
" aku mencintaimu, Grace " ucapku membuat Grace berhenti melangkah. Namun ia bersiap untuk kembali melanjutkan langkahnya.
" AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU , GRACE "
Grace berbalik. Air matanya mulai mengalir.
" kamu uda gila !!! " ucapnya berderai air mata.
Wajahnya merah padam seperti tengah menahan sesuatu . Kedua tangan yang ada disisi tubuhnya juga mengepal erat.
" Aldi " ucapku saat melihat sahabatku sudah berdiri tak jauh dari tempat kami berpijak.
Entah sejak kapan, atau kenapa aku tak menyadari jika ada orang lain selain kami di tempat ini.
Aldi menatap secara bergantian padaku dan calon istrinya.
Ternyata Grace datang tak sendiri. Dan sama seperti ku, Aldi memarkirkan mobilnya jauh dari area pemakaman dan aku sama sekali tak memperhatikannya.
Aldi tadi diminta menunggu, namun dirasa Grace sudah terlalu lama , ia pun pergi menyusul. Saat itulah ia tak sengaja melihatku dan Grace ,dan juga mendengar semuanya.
" kau mencintainya ? "tanya Aldi melemparkan pandangan dari Grace padaku .
...
" sejak kapan ? " tanyanya lagi yang entah ditujukan untuk siapa. Karena perasaanku dan Grace telah sama-sama ia ketahui.
" lalu ? Jika kau mencintainya kenapa kau mencomblangiku dengannya ?
Dan kau Grace, jika kau sadar perasaanmu pada Aldi, kenapa kau menerima lamaranku ?
__ADS_1
Apa kalian sengaja mempermainkanku ?"
...
" jika aku tak tau dan tetap menikah dengan Grace, sedangkan hatinya milikmu, apakah kau pikir aku akan bahagia ? "
Aku tertunduk. Seharusnya ini menjadi rahasia yang jangan sampai ia ketahui. Tapi - -
" jika semuanya kuakhiri sekarang, maka persiapan pernikahan yang sudah didepan mata harus di batalkan.
Lalu nama baikku, orang tuaku dan juga keluarga besarku adalah taruhannya.
Dan setelah itu, apa kalian akan menikah ?
Apa kalian akan hidup bahagia di atas penderitaanku ? "
Aku dan Grace sama-sama bergeming. Tak satupun dari kami yang bersuara apalagi mau memberi pembelaan.
" baiklah, akan ku nantikan itu. Akan kulihat apakah kalian sampai hati akan melakukannya ? "
Aldi berbalik. Melangkah meninggalkan ku dan Grace yang tak tau harus apa.
" mari kita pergi dari sini, Grace.
Biar ku antar kau pulang " ucapku yang berjalan lebih dulu dan disusul Grace.
Saat akan memasuki mobil, kulihat Aldi berdiri di samping mobilnya di sana.
Ia menatapku dan Grace dengan tatapan dingin. Setelah itu barulah ia masuk kedalam mobil dan berlalu lebih dulu.
* * *
Keesokan harinya, aku mendapatkan kabar jika Aldi memutuskan rencana pernikahannya dan Grace .
Padahal tinggal seminggu lagi acara tersebut akan dilangsungkan, dan persiapannya pun sudah 95% rampung.
Grace tak melakukan ataupun bicara apa-apa saat dihujani beragam pertanyaan dari keluarga besarnya.
Begitupun denganku yang juga tak luput dari sasaran cercaan mereka.
Ku coba menghubungi Aldi, namun nomornya tak aktif atau mungkin aku sudah ia blokir.
Lalu ku datangi rumahnya yang ternyata kosong.
Dan ku sambangi satu persatu rumah kerabat dan keluarganya, terutama rumah orang tuanya
Namun mereka sama sekali tak tau apa masalahnya hingga Aldi memutuskan tidak jadi menikahi Grace. Bahkan keberadaan Aldi pun mereka tak tau.
Sebulan berlalu sejak saat itu. Kabar terakhir yang akhirnya ku ketahui adalah Aldi tengah berada di Jerman untuk menyaksikan ajang pameran otomotif kelas dunia.
Ya, dia pasti butuh waktu untuk menenangkan diri.
Begitupun dengan ku dan Grace.
Kami sepakat untuk tidak membahasnya, dan mencoba menjalani kehidupan seperti biasa, seperti sebelumnya, dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.
Setahun berlalu.
Seolah tiada habisnya, lagi-pagi cobaan datang menghampiri kehidupanku.
Anak semata wayangku akhirnya menyerah dalam perjuangannya. Tuhan ternyata lebih sayang padanya.
Edo meninggal setelah tiga bulan koma.
Padahal aku adalah ayahnya, tapi Gracelah yang menjadi orang yang paling terpukul atas kepergian Edo.
Bahkan saat Noya meninggal dulu, ia tak sampai seperti ini.
Grace histeris, menangis hingga berkali-kali pingsan.
Saat itulah Aldi kembali menunjukkan diri dengan menghadiri pemakaman Edo.
Wajah dan tampilannya tampak kusut, cara berpakaiannya yang biasanya rapi dan necis pun terlihat berantakan.
Ia menyapaku sembari mengungkapkan bela sungkawa . Meski sempat merasa canggung, kami mencoba untuk bersikap seperti dulu dan mengesampingkan hal yang telah membuat hubungan kami selama setahun ini merenggang.
Ia lalu menghampiri Grace dan mengajaknya bicara.
Tapi Grace justru memintaku untuk menemaninya. Ia tak mau hanya berduaan saja dengan Aldi.
" kalian - " ucapnya melihat secara bergantian padaku dan Grace.
Ekspresinya terlihat tak nyaman.
Grace dan aku sama-sama masih bergeming. Ku lirik Grace yang wajahnya sembab, matanya pun merah karena terus menangis tanpa henti.
" ku kira kalian - - "
" jika kami mau, kami pasti sudah melakukannya sejak dulu.
Jauh sebelum kita berkenalan.
Tapi karena keadaan ,kondisi dan banyak lagi pertimbangan lainnya, kami tak bisa dan tak mungkin melakukannya .
Dan malah menjebakmu didalamnya.
Ini semua salahku yang tak bisa tegas pada perasaanku sendiri. Aku terlalu takut mengakui perasaanku padanya.
Karena aku tak mau jika hanya dijadikan pelarian saja.
Aku gak siap jika nanti hanya berstatuskan pengganti kakakku yang telah meninggal "
" maaf " Aldi terdengar tulus menyesal.
" akulah yang disini seharusnya meminta maaf.
Maafkan aku karena tak jujur dan telah memberimu harapan .
Aku menyesal telah melukaimu "
Diam beberapa saat. Aldi tertunduk. Tampaknya ia benar-benar menyesal.
" jika kalian terbebani oleh perkataan ku waktu itu, maka ku tarik semua ucapku .
Aku telah salah paham. Aku tak tau apa-apa dan telah mengatai kalian yang tidak-tidak.
Kumohon, lakukanlah apa yang kalian inginkan.
Jangan khawatir dan merasa tak nyaman denganku.
Justru aku akan merasa sangat bersalah dan juga berdosa karena telah menjadi penghalang hubungan kalian "
" kau salah, sejak awal hubungan kami memang tak bisa terjalin karena aku yang tak bisa meyakinkan diriku untuk menerima kakak iparku .
Aku tak bisa menganggapnya sebagai seorang pria "
"tapi, bukankah sekarang sudah tak ada apa-apa lagi yang akan menjadi penghalang diantara kalian ? "
....
" kuharap kalian bisa melanjutkannya "
" tidak semudah itu, Al.
Aku masih butuh waktu. Dan entah sampai kapan aku akan benar-benar yakin jika hubungan kami tak akan menjadi sebuah kesalahan . Karena aku tak ingin berujung pada kegagalan.
Terima kasih sudah mau memahami dan mengerti keadaanku.
Kuharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu "
Apa yang dikatakan Grace benar. Tak semudah itu kami bisa melakukannya . Karena menjalin sebuah hubungan, apalagi untuk sebuah pernikahan, tak cukup jika hanya mengandalkan cinta saja.
Kami harus bisa berkomitmen, mengokohkan pendirian, memantapkan hati dan pikiran serta meneguhkan apa yang nantinya akan kami jalani bersama.
Aku dan Grace tak lagi menutup hati. Namun kami juga tak bisa langsung begitu saja ke tahap selanjutnya.
Kami butuh proses, butuh waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain.
Biarlah waktu menjawab, sampai dimana keyakinan akan membawa kami.
📍 selesai 📍
Hayo, di-like ya
__ADS_1
Di komen juga sekalian