
๐บ hem.. ๐บ
* * *
Setelah berpikir semalaman Lanie akhirnya mengambil keputusan untuk tidak akan berhubungan dengan pria itu lagi. Dengan alasan apapun.
Meski Lanie sempat ragu , sebab ada rasa tak rela menderanya.
Namun ia segera menyadari diri .
Ia harus tegas dan memantapkan langkah.
Ia tak boleh terbawa perasaan.
Saat ini, ia harus fokus pada kuliah dan menata masa depannya saja.
Lanie yang malang. Ia terhenyak saat menyadari jika ia telah jatuh hati pada Danu.
Namun keadaan tak memungkinkannya untuk meneruskan perasaan yang baru pertama kali ia rasakan ini.
'' aku harus melupakannya '' ucap Lanie pada dirinya sendiri.
Lanie meraih ponsel dan memblokir nomor Danu, sebagai bukti keseriusan akan tekatnya.
* * *
Paginya.
Lanie berangkat ke kampus seperti biasa.
Ia memasang senyum dan menebarkannya pada siapa saja yang menyapa dan berpapasan dengannya .
'' hei, Er '' sapa Lanie pada teman sebangkunya.
'' hei '' balas Erina dengan senyuman tipis.
'' gimana tugasnya ? Uda selesai dikerjain belum ?
Kalau belum, mumpung masih ada waktu kita ke kantin yuk. Aku bantu kerjain '' tawar Lanie mencoba bersikap seperti tak terjadi apa - apa.
Erina menatapnya sekilas dan mengangguk tanda setuju.
Mereka lalu beranjak keluar kelas menuju kantin.
Susana nampak renggang.
Tak begitu banyak murid yang terlihat di pusat mengisi perut itu.
Lanie dan Erina memilih duduk di kursi pojokan dan langsung melakukan apa yang menjadi tujuan mereka.
Lanie membantu Erina mengerjakan tugasnya hingga selesai.
'' aku duluan, ya '' Erina berdiri . Hendak melangkah namun tak jadi. Ia pun kembali duduk.
'' eng, Lan. Soal kemarin.. '' Erina mencoba mengutarakan hal yang membuatnya gundah semalaman.
Lanie tersenyum.
Sebenarnya ia malas membahas hal itu. Namun sepertinya ia perlu meluruskan dan memberi penjelasan pada Erina agar tak menimbulkan kesalahan pahaman .
'' iya, Er. Sori, kemarin aku gak sempat jelasin ke kamu ''
Erina menatap sambil mengulum bibir.
'' ehehehe.. kamu jangan curigaan gitu dong.
Yang kemarin itu, aku sama Danu keluar benar-benar cuma nyariin kado buat kamu ''
'' eng, anu .. buk-bukan itu.
Aku gak berpikir seperti itu kok.
Karena- karena kan gak mungkin ju- juga kalau Danu menyukaimu ? ''
Tawa Lanie berhenti seketika.
'' jus- justru aku takut kamu yang nantinya salah paham sama sikapnya '' Erina menurunkan volume suaranya.
Lanie tersenyum kecut.
'' ma-maaf Lan. Aku gak bermaksud menyinggung mu.. ak-aku cuma - ''
'' gimana kalau seandainya itu benar ? ''
Erina tersentak.
Ia menatap tak percaya jika Lanie akan berkata demikian.
'' kenapa ? Mustahil bukan ?
Sudah tau itu gak mungkin
Tapi kenapa kamu ngomong dan bersikap seolah-olah aku bakalan baper ?
Apa kamu pikir , aku gak akan atau gak bisa tersinggung ? Kamu pikir aku gak punya perasaan ?
Dengar, Er. Tak perlu kau bilang pun, aku cukup sadar dan tau diri seperti apa diriku ini.
Aku gak secantik dan sepopuler kamu dikalangan laki-laki .
Kamu pikir aku punya kepercayaan diri seperti kamu ? Sampai berpikir kalau Danu suka sama aku ! "
'' lan, maaf.. aku gak bermaksud menyinggung mu.
Ak-aku hanya ''
'' ku pikir, setelah setahun berteman , kita uda bisa memahami dan saling menjaga perasaan.
Tapi ternyata , waktu setahun gak cukup untuk kita bisa mengenal satu sama lain.
Dan sekarang . Hanya karena satu laki-laki, hubungan kita malah jadi kaya gini ''
'' Lan ''
'' dengar, Er. Sekarang aku tau seperti apa kau menganggap ku selama ini.
Jadi, kurasa cukup sampai disini .
Mulai sekarang kita berteman seperti biasa.
Jangan lagi terlalu dekat seperti yang selama ini kita jalani ''
Lanie berdiri, menatap Erina yang sepertinya menyesal karena telah mengatakan hal yang tak seharusnya.
'' satu hal lagi ! Aku gak akan lagi terlibat hubunganmu dan Danu. Atau apapun tentangmu lagi ''
- -
Sejak hari itu, persahabatan Lanie dan Erina berubah menjadi teman biasa.
Mereka tak pernah lagi terlihat bersama. Baik itu di dalam maupun di luar kampus.
Lanie selalu menghindar ketika Erina coba mendekatinya. Dan tak ragu menolak tanpa basa - basi pasa apapun yang Erina tawarkan.
__ADS_1
Lanie benar-benar menjauh dan menjaga jaraknya dari Erina. Lanie bahkan tak ragu bersikap acuh pada Erina.
Sebulan berlalu.
Hubungan Lanie dan Erina menjadi seperti orang asing.
Begitupun hubungan Erina dan Danu yang mendadak tak pernah ada kabar.
Danu tak pernah menghubungi apalagi menemui Eeina.
Hal yang sama juga terjadi pada Lanie dan Danu.
Bedanya, Lanie lah yang mengabaikan Danu .
Laki-laki itu beberapa kali ke rumahnya.
Namun Lanie tak mau bertemu dan meminta sang kakak menggantikannya menemui serta mengembalikan barang pemberian Danu waktu itu.
Hingga suatu ketika, Danu nekat datang ke kampus hanya untuk bertemu Lanie.
Pukul tiga sore.
Danu yang tau jika hari ini ada jam pelajaran tambahan di kelas Lanie, menunggu gadis itu keluar di depan gerbang kampus.
Di saat itu pula Erina melihat Danu yang berdiri di pagar masuk kampusnya. Erina pun bergegas menghampiri sang pujaan hati.
Namun alangkah kecewanya, saat Danu mengatakan jika tujuannya datang adalah untuk mencari Lanie. Danu bahkan menanyakan ada apa dengan Lanie yang tiba-tiba tak bisa di hubungi dan seperti menghindarinya.
Erina bersedekap. Perih menyayat hati mendengar Danu bertanya Lanie.
Jangankan menanyakan kabar, Danu bahkan tak menatapnya .
Danu hanya fokus melihat ke arah selasar depan bangunan. Dana beberapa mahasiswa dan mahasiswi tengah berjalan menuju jalan keluar kampus.
Tak berselang lama. Sosok yang di nanti pun muncul.
Danu tinggalkan Erina begitu saja . Dengan langkah lebar, Danu berjalan mendekati Lanie yang seketika menghentikan kedua kakinya saat melihat Danu.
'' hei, Lan '' Danu menyapa dengan menunjukkan senyum terbaiknya.
'' ... '' Lanie menatapnya sekilas lalu beralih pada Erina yang berdiri di sana.
Mantan sahabatnya itu nampak tengah memperhatikan mereka.
'' Lan ''
Lanie masih bergeming . Ia tengah saling adu tatap dengan Erina.
Danu yang menyadari itupun lantas menyabet tangan Lanie.
Ditariknya hingga Lanie yang siap, terpaksa berjalan mengikutinya.
Sampai di depan Erina, Danu melepas pegangan tangannya.
'' ada apa dengan kalian berdua ? '' tanya Danu menatap secara bergantian pada Lanie dan Erina.
Dua perempuan yang berdiri diantaranya ini bungkam dan kompak membuang muka.
'' apa ini karena ku ? ''
Lanie dan Erina kompak mengangguk tanpa merubah arah pandangan.
'' sepertinya aku sudah membuat kalian salah paham.
Bukan.
Tapi aku memang telah melakukan kesalahan dengan sengaja ''
'' baiklah. Akan ku jelaskan semuanya ''
Danu menarik nafas panjang.
'' sebenarnya yang aku suka dari awal itu kamu '' Danu menatap Lanie.
'' iya, kamu '' sambungnya dengan mimik meyakinkan.
Lanie tergelak. Sementara Erina melongo.
Ekspresi berbeda untuk hal yang sama. Lanie dan Erina sama-sama tak percaya dengan ucapan Danu.
'' waktu itu, aku terpaksa bohong bilang naksir sama Erina . Hanya supaya aku ada alasan buat dapetin nomor telpon mu.
Aku terlalu malu buat bilang kalau sebenarnya aku pengen kenalan sama kamu '' aku Danu .
'' ... '' Lanie menatapnya datar.
'' aku tau kalau ini mungkin sulit dipercaya. Tapi aku serius. Itulah perasaanku yang sebenarnya ''
'' ... ''
'' coba kamu ingat-ingat .
Selama kita chat atau kalau aku nelpon kamu, apa pernah aku nanyain Erina ?
Selalu kamu kan yang ngalihin pembicaraan ke Erina .
Dengan semua sikap dan perhatian yang ku tunjukan selama ini ke kamu, masa kamu sedikitpun gak sadar, sih Lan ?
Kalau yang aku suka itu kamu ? '' Danu merubah nada bicaranya menjadi setengah memelas.
Berharap si gadis pencuri hatinya percaya.
'' maaf, Nu. Tapi aku gak bisa percaya '' ucap Lanie dingin.
Danu merasa sesuatu menghantam hatinya. Terasa retak dan hancur berkeping-keping didalam sana.
'' katakanlah jika yang kamu bilang memang benar.
Tapi itu gak akan ada ngaruhnya buat aku .
Aku punya hal lain yang sedang ku prioritas.
Jadi gak ada waktu untuk hal gak penting kaya gini ''
Diam beberapa saat.
'' aku-aku janji gak akan ganggu apapun yang sedang kamu lakukan.
Dan aku juga gak berharap kamu langsung terima perasaan ku sekarang.
Tapi plis ,Lan. Jangan acuhkan aku ''
'' maaf, untuk aku sama sekali gak percaya pada apapun yang kamu katakan.
Saat ini, aku cuma mau fokus kuliah .
Jadi, kalau kamu mau cari pacar, pilih yang lain. Masih banyak perempuan diluar sana .
Jangan aku. Aku gak mau jadi bahan mainan mu ''
Danu menatap Lanie dengan sorot mata sayu.
'' harus bagaimana aku buktiin ke kamu kalau aku perasaan ku ke kamu ini tulus.Aku serius sama kamu, Lan ? ''
__ADS_1
'' gak perlu,Nu. Gak ada dan jangan lakukan apapun.
Percuma !
Karena sampai kapanpun aku gak akan pernah percaya sama kamu !" Lanie tegas menolak.
Bukan hanya menolak perasaan Danu .Tapi juga menolak percaya jika laki-laki yang selama ini di kira menyukai Erina ternyata memiliki rasa khusus untuknya.
Lanie melangkah meninggalkan Danu dan Erina yang masih membatu di tempat mereka berdiri.
Hari itu, untuk pertama kalinya Lanie merasakan sesak menghimpit rongga pernapasannya.
Rasanya begitu sesak hingga ia tak sanggup menahan jatuh air matanya.
Pun Danu yang juga baru pertama kali mengalami yang namanya di tolak dan patah hati.
Ini memang bukan pertama kalinya ia menyukai seseorang. Tapi kali ini berbeda.
Ia benar-benar suka dan mungkin inilah yang dinamakan cinta .
Lain lagi dengan Erina yang sejak tadi diam dan hanya menjadi saksi pernyataan cinta Danu pada Lanie.
Entahlah. Harus ia gambarkan seperti apa perasaannya saat ini.
Kecewa sudah pasti.
Karena ternyata Danu tak memiliki sedikit pun rasa terhadapnya.
Erina juga merasa sangat malu , mengingat perkataannya yang telah menyinggung perasaan Lanie waktu itu. Ia menyesal.
Dan ia sedih sekaligus prihatin pada dua orang yang saling menyukai namun keadaan tak berpihak pada mereka.
* * *
Waktu terus berjalan.
Lanie berusaha mencoba mengubur perasaannya pada Danu. Mungkin tak bisa ia lupakan.Namun ia tak ingin memikirkan apalagi mengenangnya.
Termasuk juga kenangan selama ia dan Erina menjadi teman baik.
Lanie fokus dengan pendidikannya .
Erina pun terlihat demikian.Ia tak lagi bersikap centil dan suka cari perhatian seperti dulu.
Erina berubah. Ia lebih banyak diam dan menyendiri.
Lanie sebenarnya prihatin. Sempat terbesit untuk mendekat namun urung ia lakukan .
Ia tak mau kejadian lalu terulang kembali.
Begitupun dengan Danu.
Sejak hari itu , laki-laki itu tak ada kabar dan tak. pernah lagi muncul.
* * *
Dua tahun kemudian.
Lanie baru saja resmi menyandang status sebagai sarjana.
Ingin mengikuti jejak sang kakak yang sekarang menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta ternama, Lanie lantas mencoba peruntungannya dengan melamar di sana saat Tari mengatakan jika sedang ada lowongan .
Dicari dua orang lulusan jurusan matematika untuk mengajar anak SD kelas 1 .
Ya, meskipun cita-citanya adalah mengajar anak SMA atau SMP, tapi tak apalah. Anak SD pun tak masalah. Yang penting ia dapat bekerja sesuai keinginannya. Memperoleh pengalaman adalah hal utama dalam mencapai sebuah impian.
Begitu Lanie menyemangatinya diri.
" horeeee... " Lanie berteriak senang dan langsung memeluk Tari saat menerima surat panggilan wawancara.
Memang belum pasti apa ia akan diterima atau tidak.
Tapi paling tidak, ada secerah harapan untuknya.
Sebab akan menjadi sebuah kebanggaan dan pencapaian yang luar bisa jika ia bisa bekerja di pusat pendidikan elite ,di mana hanya orang-orang berdompet tebal saja yang mampu menyekolahkan anaknya di sana.
Hari yang di nanti tiba .
Sejak pagi Lanie telah bersiap.
Lanie yang sekarang bukan lagi Lanie yang dulu.
Si tomboi kini telah menjelma menjadi sosok dewasa yang anggun dengan rambut panjang sepinggang yang sering ia biarkan menjuntai bebas.
Kemeja putih dipadu celana slacks menjadi pilihan tampilannya. Lanie berangkat menuju sekolah yang terletak di jantung kota , tempat dimana sekarang ia berdomisili.
'' oh, anda datang untuk wawancara ? '' seorang wanita berseragam khusus menyambutnya.
Ia adalah salah satu staf di bagian administrasi sekolah.
Lanie kemudian di tuntun ke ruang tunggu kepala sekolah.
Lanie pun dipersilahkan masuk dan duduk.
Usai secangkir teh di letakan di atas meja sebagai teman menunggu, Lanie lantas ditinggal sendirian.
Lanie nampak gugup.
Sebab ini adalah kali pertama ia akan di interview.
'' selamat pagi, maaf membuat anda lama menunggu ''
Lanie yang tadinya tengah menyeruput teh hampir saja tersedak.
Iapun meletakkan cangkir ke tempat semula dan langsung berdiri.
'' se- selamat pagi, pak.
Tidak apa-apa. Karena kebetulan saya juga ba-ru sam-pai '' balas Lanie yang diujung ucapannya melambat ketika matanya bertemu pandang dengan siapa yang ada dihadapannya kini.
'' hei, Lan '' sapanya lembut.
Lanie terdiam beberapa saat.
Ia sedang mencoba menetralkan pikirannya.
Gugup yang tadi melanda kini berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa.
Lalu dengan perlahan, kedua sudut bibir yang di poles lipstik berwarna nude itu tertarik ke atas.
Lanie tersenyum lalu membalas sapaannya.
'' hai, juga Nu ''
Dan kisah mereka yang sebenarnya pun baru saja di mulai.
๐selesai๐
Jangan lupa di like ya
Di komen juga sekalian
Mkasi ๐ค
__ADS_1