Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Sesal


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Seperti biasa , aktifitas pagi sudah terdengar disebuah rumah tipe 50 dengan tiga buah kamar tidur.


Setelah kesibukan didapur selesai, ia lalu beralih dengan tugas membangunkan anggota keluarganya.


' kreettt ' kamar pertama di buka.


Ia buka jendela hingga cahaya matahari yang menyilaukan pun masuk .


Tubuh remaja lelaki menggeliat dan terlihat ingin menarik selimut , namun kalah cepat karena selimutnya telah ditarik lebih dulu.


'' bangun ! mandi ! Kalau dalam 10 menit kamu gak keluar kamar, bukan mulut mama lagi yang bicara. Tapi T-A-N-G-A-N '' ucapnya seraya melipat selimut lalu meletakkannya di laci bawah tempat tidur.


Ia lalu melangkah keluar dan menuju ke kamar berikutnya.


'' naaahhhh, gitu dong. Bangun tanpa harus mama teriakin '' ucapnya bangga melihat kedua anak gadisnya sudah bangun dan tengah membereskan tempat tidur.


Ia tak tau jika si sulung dan si bungsu tengah mengerucutkan bibir.


Ia melanjutkan langkah ke kamar


terakhir. Kamarnya bersama pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama 20 tahun.


'' buruan pah, bangun. Nanti telat lagi ke Bandara '' ditepuknya bokong sang suami.


Ia lalu membuka lemari pakaian, mengeluarkan kemeja dan celana kerja sang suami lalu meletakkannya diatas tempat tidur.


Santi, wanita berusia 40 tahun adalah ibu rumah tangga dengan tiga orang anak . Mia anak sulungnya telah menginjak usia 18 tahun dan baru saja masuk universitas.


Doni putra satu-satunya dua hari lalu genap berusia 16 tahun dan sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA.


Dan si bungsu Hani, berusia 14 tahun dan baru saja masuk SMA .


Sedangkan sang suami bekerja disalah satu perusahaan dan menjabat sebagai kepala bagian keuangan.


Tak ada yang sepesial dihari yang ia jalani selain menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga seperti pada umumnya.


Mengurusi rumah, anak dan suami, dan bla-blanya.


Ia pun tergolong wanita yang tidak suka keluar rumah. Bahkan arisan pun ia jarang menghadirinya dan lebih sering menitip pembayarannya saja.


Wanita berambut panjang sebahu itu lebih senang menghabiskan waktu senggangnya dengan menjelajahi dunia perhaluan.


Santi gemar menonton film, membaca novel dan juga komik dari berbagai genre. Mulai dari komedi romantis, horor, trailer, dokumenter, hampir semua tema cerita ia suka.


Belasan menit kemudian, ketiga anak dan suaminya sudah duduk mengitari meja makan. Santi pun dengan sigap menyiapkan sarapan di atas meja.


'' papa mau keluar kota selama 2 hari. Kalian baik-baik dirumah '' ucap sang papa .


Heru namanya. Ia tersenyum, memandangi wajah satu persatu anaknya yang telah tumbuh semakin besar.


Sedangkan ketiga ankaknya justru menanggapinya datar. Mia, Doni dan Hani terlihat saling lirik.


Usai sarapan bersama, Santi lalu mengekor suami dan anaknya ke depan .


Terlalu dahulu Heru akan mengantar Hani dan Doni yang memang bersekolah di tempat yang sama. Sementara Mia yang sudah lulus kursus mengemudi dan juga telah memperoleh SIM, berangkat ke kampus dengan kendaraannya sendiri .


Setelah memastikan mereka semua pergi, Santipun kembali kedalam untuk melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa saat berlalu.


'' ahhh... segarnya '' ucap Santi yang baru saja keluar dari mandi setelah semua pekerjaan rumahnya kelar.


' ting.tong ' suara bel rumah berbunyi.


Santi begegas mengenakan pakaian dan langsung menuju pintu rumah .


Sebelum membuka pintu, ia sempat mengintip dibalik tirai jendela yang tak jauh dari sisi pintu masuk rumahnya.


'' ibu '' Santi reflek melebarkan matanya saat melihat siapa yang kini tenang berdiri didepan pintu.


Santi menarik nafas panjang, setelah merasa cukup tenang, ia pun membuka pintu seraya mengembang senyum terbaiknya .


Retno, wanita berusia 65 tahun itu adalah ibu dari Heru, mertuanya.


Santi memberi salam, mengecup punggung tangan mertua yang tak pernah bersikap ramah padanya itu sebagai bentuk hormat .


Retno merupakan salah satu orang yang masuk dalam daftar 10 keluarga terpandang dan juga disegani di kotanya.


Karena itu, selain karena statusnya yang merupakan ibu dari suaminya , kedudukan dan nama besar yang dimiliki wanita yang telah lama menjada itu membuat Santi segan dan sangat hormati Retno.


'' Hai, kakak ipar '' sosok perempuan muncul dari balik punggung Retno.


Dia adalah Tatiana .Saudara perempuan Heru yang tak Santi sangka juga datang .


Santi pun mempersilahkan keduanya masuk dan duduk.


Namun sang mertua tak mengindahkannya dan justru berjalan semakin masuk kedalam rumah .


Wanita yang masih terlihat bugar diusia senjanya itu nampak mengedarkan netranya , menelusuri setiap sudut rumahnya.


Santi mengehela lega. Untung ia selalu menjaga keadaan rumahnya dalam keadaan rapi dan bersih.


'' dasar perempuan bodoh '' Retno berbalik, menatap Santi dengan lekat.


'deg ' Santi tersentak mendengarnya.


* * *


Hani dan Doni keluar dari gerbang sekolah bersamaan .


Terlihat oleh mereka sang kakak yang sudah menunggu dengan bersandar di mobil yang terparkir disebrang jalan.


'' jadi, kak ? '' tanya Hani yang duduk disamping Mia.


Mia mengangguk . Untuk sesaat mereka bertiga terdiam dengan mesin mobil yang sudah menyala.


Mia menoleh kebelakang dan mendapati Doni tertunduk dengan raut wajah muram.


'' Don, kalau kamu gak siap kamu gak usah ikut aja, ya ? ''


Doni menegakkan kepala, lalu menggeleng cepat.


Mia mengembalikan posisi duduknya dan dengan satu tarikkan nafas ia pun mulai memacu kendaraannya.


Setelah melalui macetnya jalanan , mobil kini memasuki kawasan pantai yang terletak ditepi kota, dan berhenti di halaman sebuah hotel sederhana.


Ketiga bersaudara itu keluar dari mobil , berjalan masuk kedalam hotel dan langsung menuju ke meja resepsionis.


Setelah itu, mereka bertiga di tuntun menuju ke kamar yang sudah dipesan sebelumnya .


Pukul 6 sore.


Sudah tiga puluh menit Mia berdiri dengan wajah menempel di permukaan pintu. Satu matanya tertutup, sedang mata yang terbuka berada tepat di lubang intip pintu.

__ADS_1


Ia tengah mengintip kamar yang ada di sebrang.


'' Hani, Doni bangun '' Mia bergegas membangunkan kedua adiknya yang tertidur tak lama setelah mereka sampai.


Setelah Hani dan Doni bangun, Mia dengan cepat kembali ke pintu dan mengintip lagi.


Selang 15 menit kemudian, ia mengajak kedua adiknya keluar kamar.


Ketiganya lalu berjalan bersamaan dengan langkah hati-hati.


Dengan menjaga jarak yang dirasa cukup aman, mereka mengekori sepasang manusia yang tengah berjalan sambil bergandengan tangan.


Setelah melewati lorong kamar ,mereka kini keluar dari kawasan hotel dan sampai ditepian pantai.


Mia seketika menahan langkah dan diikuti oleh kedua adiknya.


Sepasang manusia yang tak lagi muda itu duduk ditepian pantai beralaskan pasir .


Mereka terlihat begitu mesra.


Mia meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Menahan geram dan air mata yang sudah memberontak ingin keluar.


Sedangkan Hani dan Doni memilih memalingkan wajah mereka dengan memutar tubuh membelakangi.


' cup ' si pria mengecup kening wanitanya ketika matahari hampir sepenuhnya tenggelam.


Mia tersentak. Ia sangat terkejut dan tak dapat menahannya lagi.


Air matanya tumpah. Dan perlahan mulai sesenggukan.


Begitupun kedua adiknya. Meski mereka tak melihat apa yang dilihat sang kakak, tapi mereka bisa menebaknya.


Mia berbalik, lalu menarik tangan kedua adiknya untuk kembali ke kamar.


Didalam kamar, Doni dan Hani yang duduk ditepian ranjang .Mereka terdiam dengan kedua mata memerah. Bulir-bulir air mata sesekali masih jatuh dan terus mereka seka .


Sementara Mia yang berada dikamar mandi, kondisinya pun kurang lebih sama.


Mia menatap diri didepan cermin.


Ia tengah mempersiapkan hati dan mentalnya. Pikirannya dipenuhi berbagai kata yang akan ia urai menjadi sebuah kalimat untuk ia katakan nanti.


Pukul 8 malam.


Hani yang kini bertugas mengintip dilubang pintu, memberi kode pada kedua saudaranya saat penghuni kamar sebrang yang mereka buntuti tadi keluar.


Mia lalu menghubungi bagian informasi untuk bertanya sesuatu.


Sesuai dugaan, mereka lalu keluar menuju ketempat yang juga sedang di tuju pasangan tersebut.


* * *


'' aku senang akhirnya kita bisa benar-benar menghabiskan waktu berdua '' ucap Belinda .


Wanita berusia 35 tahun itu masih terlihat segar dan cantik. Kulitnya putih dipadu dengan bentuk tubuh yang ramping .Ditambah dengan cara berpakaiannya yang begitu trendy, membuatnya sering menjadi bahan lirikan pria seusianya.


Dan Heru adalah salah satu yang terpikat oleh pesonanya itu.


Mereka pertama kali dipertemukan saat Belinda yang merupakan manager dari anak cabang perusahaan yang ada dikota X datang untuk pelatihan dikantor pusat.


Dimulai dari berjabat tangan, pertemuan yang semakin intens ditempat kerja, hingga saling sapa dan hal tersebut berlanjut dan kian dekat.


Dan entah bagaimana semuanya bermula, keduanya yang tak bisa lagi menahan rasa ketertarikan satu sama lain akhirnya terjadilah hal yang tak seharusnya mereka lakukan.


Heru tadinya adalah suami yang setia dan ayah yang begitu menyayangi dan memprioritaskan keluarga . Namun semua berubah karena ia telah tergoda kemolekan tubuh seorang Belinda.


Belinda memang kerap kali mengenakan pakaian pas body, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terawat dan terjaga dengan baik.


Padahal hubungan ranjangnya dengan sang istri terbilang baik dan selalu rutin ia salurkan. Namun setiap kali melihat Belinda ia merasakan ada gejolak lain yang selalu memancing kelelakiannya.


Apalagi Belinda menyambutnya. Meski tau Heru telah berkeluarga, janda tanpa anak itu ternyata juga menaru rasa dan juga beberapa kali secara terang-terangan menggodanya.


Keduanya yang sama-sama telah mengakui rasa suka itupun sepakat menjalani hubungan tanpa status dan akan berakhir jika tiba saatnya Belinda kembali ke kota asalnya.


Dan hari ini adalah hari dimana mereka akan mengakhiri hubungan terlarang yang telah terjalin selama dua bulan .


Dan selama itu pula ,tak terhitung sudah berapa kali mereka memuaskan hasrat biarahi mereka. Tak perduli dimana dan kapanpun. Asal ada kesempatan , mereka pasti akan melakukannya .


Mereka mengira semua akan berjalan seperti yang telah di rencanakan .


Belinda pergi dan Heru akan kembali ke kehidupannya semula.


Mereka pun berjanji tak akan pernah berhubungan lagi. Dan menjadikan apa yang pernah terjadi diantar sebagai sebuah kenangan yang hanya mereka saja yang tau.


Hanya saja, karena terlalu terbuai nikmati dunia, keduanya tak menyadari jika hubungan tersebut telah diketahui ketiga anak Heru.


'' kok restorannya sepi, ya ? '' Belinda memperhatikan sekelilingnya .


Herupun ikut melakukan hal yang sama. Ia pun tak kalah herannya karena hanya ada mereka berdua saja .


' tap.tap.tap.' suara langkah serempak mendekat.


Belinda melihat ke asal suara, begitupun dengan Heru yang memutar lehernya ke belakang.


Heru tersentak.


Ketiga anaknya tengah berjalan kearahnya.


' srak. srak. srak ' Ketiga saudara itu menarik kursi kemudian meletakkannya dan duduk di hadapan dua orang yang menatap dengan penuh keterkejutan.


'' ap-apa yang ka-kalian lakukan disini ?'' Heru tergagap. Ia menatap Belinda sepintas lalu melihat pada ketiga anaknya.


'' seharusnya kita yang nanya ? Bukannya papa bilang mau keluar kota ? Tapi kenapa papa ada disini ?'' Mia menatap secara bergantian pada Heru dan wanita yang ia tau memiliki hubungan dengan sang papa.


'' di-dia siapa,pah ?'' tanya Hani dengan tangan yang merambat pada Mia . Kedua tangan mereka bertemu dan saling erat mengenggam.


Heru tertunduk sesaat kemudian menatap ketiga anaknya, dan beralih lama pada Doni. Wajahnya remaja laki-laki itu merah padam.


Jelas terlihat jika Doni marah, kesal, dan sedih karena merasa telah dihianati.


Hatinya sakit, dan terasa lebih sakit lagi memikirkan bagaimana perasan sang ibu jika mengetahuinya.


'' apa mama tau ? '' tanya Heru.


'' apa papa berharap mama tau ? Atau papa berpikir akan lebih baik jika yang memergoki kalian adalah mama ? '' Mia menatap tajam, setajam ribuan belati yang tengah merajam hatinya .


Tak dapat ia bayangkan hancur hati sang ibu jika melihat dan menyaksikan semua ini.


Heru dan Belinda terdiam. Wajahnya mereka pias. Ini semua diluar prediksi. Padahal mereka akan mengakhiri semuanya dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing dan akan bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Tapi ini ?


' hiks ' Hani tak dapat menahan jatuh air matanya.


Doni dengan sigap merangkul asiknya, mengusap punggung Hani yang mulai bergetar.


Mia pun demikian. Ia mendongak sesaat, menahan air matanya yang juga ingin tumpah.

__ADS_1


'' darimana kalian tau.. da-dan-... sejak kapan ?'' tanya Heru penasaran.


'' papa ingat waktu papa ngasi hape ke Doni untuk bicara dengan mama ? ''


Heru mengulas memori. Ya, ia teringat saat itu ia sedang dalam perjalanan mengantar Doni dan Hani kesekolah. Karena ada berkas yang ketinggalan dirumah, ia pun menghubungi Santi. Namun karena jalanan macet ia lalu meminta meminta Doni yang berbicara.


Saat itulah Heru tanpa sadar telah menekan no yang salah. Nomor telpon Belinda lah yang ia hubungi.


Meski saat itu ia coba berdalih, namun ternyata Doni telah menaruh curiga. Karena saat ditelpon Belinda menyambut dengan sebutan sayang.


Kecurigaan Doni lalu ia sampaikan pada kedua saudaranya hingga akhirnya mereka menceritakan pada sang nenek.


Retno lah yang menyelidiki dan akhirnya semua punya terkuak.


Diam untuk beberapa saat hingga suara tangis Hani terdengar mulai mereda.


Hani lalu menarik diri, kembali menatap Heru dengan wajahnya yang sembab.


'' ap-ap-apa mama melakukan kesalahan ? Sam-sampai papah cari perempuan la-lain ?''


Heru menggeleng. Rasa penyesalan dan malu mulai menyeruak.


'' ap-apa papah uda gak mencintai mama lagi ? ''


'' ... ''


Hani menatap Belinda. Hatinya perih menyadari jika wanita itu jauh lebih cantik dan sangat menarik dari sang ibu . Kini iantau, pasti inilah alasan sang papa sampai tega menghianati keluarganya.


Hani menarik nafas panjang. Mencoba tenang namun tetap saja air matanya kembali berderai.


'' dulu mama juga cantik.


Tapi demi papa, demi mengurus kami, mama begitu perduli dan gak memperhatikan dirinya sendiri.


Waktu mama hanya untuk memastikan jika semua kebutuhan dan keperluan kita tersedia.


Mama uda gak muda lagi, mama juga gak secantik dulu .


Apa karena itu papa jadi berpaling ke dia ?''


'' ... ''


Hani memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup melihat wajah wanita itu lebih lama lagi.


'' cih '' Mia menatap sinis pada Belinda.


Wanita itu diam tak berkutik. Sama halnya dengan Heru. Kedua sama-sama merasa malu dan juga merasa bersalah .


'' kami sudah melihat semuanya tadi. Papa terlihat sangat bahagia bersama dia.


Apa papa berniat meninggalkan kami demi dia ?'' Mia melemparkan tatapan tajam lagi pada Heru.


'' gak, kalian salah paham. Kami gak bermaksud seperti itu '' Belinda akhirnya bersuara. Ia mencoba menjelaskan namun terhenti. Karena ia sadar. Apapun ia katakan tetap saja itu akan menjadi sebuah pengakuan bahwa ia telah sengaja masuk dan merusak sebuah keluarga.


'' kami ? Hah ' '' Mia tertawa miris.


Ingin rasanya ia menjambak rambut wanita yang kini tertunduk tak berani menatapnya.


'' mamaku mungkin gak secantik kamu, tapi dia perempuan terhormat yang tau batasan diri dan kodratnya sebagaimana statusnya.


Saya tau anda janda. Dan yang jadi masalahnya bukan status itu.


Tapi kepribadian anda!


Dimana letak nurani anda yang dengan berani menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga ?'' Mia geram. Hatinya panas, darahnya seperti mendidih. Ia benar-benar sudah dipuncak amarahnya.


...


'' sa-saya salah. Saya minta maaf '' Belinda menegakkan kepala, memberanikan diri untuk menatap ketiga anak pria yang sudah mengisi kekosongan hatinya selama dua bulan belakangan m


'' apa anda pikir, maaf anda itu berarti ?'' tanya Mia .


Air matanya lolos lagi. Mia membayangkan jika saat ini sang ibulah yang duduk berhadapan dengan kedua orang ini.


Entah akan seperti apa situasinya.


Namun satu hal yang ia tau pasti. Ibunya lah yang akan paling tersakiti dan juga yang paling menderita.


'' aku, pergi mas '' Belinda berdiri , menatap sekilas pria yang masih bergeming , meski ia sudah mengambil langkah pergi .


Heru biarkan wanita itu pergi.


Memang ada rasa tak rela, tapi itu juga sudah menjadi kesepakatan mereka bahwa hari ini akan menjadi akhiri dari semuanya.


Ia memang tergoda pada Belinda.Dan tak ia pungkiri jika ia menikmati setiap hal yang ia habiskan bersama wanita itu.


Tapi ia sama sekali tak berniat untuk meneruskan hubungan mereka. Ia mencintai keluarganya dan hanya ingin hidup bahagia bersama mereka sebagaimana sebuah keluarga yang utuh.


Tapi karena nafsu, keegoisan dan nikmati dunia telah menjebak dan menjerumuskannya.


'' kami kecewa sama papa '' ucap Doni tertahan. Ipun sama seperti kedua saudaranya. Merasakan sakit yang teramat sangat.


'' papa tau minta maaf saja gak akan cukup membuktikan betapa menyesalnya dan malunya papa terhadap kalian ''


'' jangan pikirkan tentang kami, pa.


Papa pikirkan saja mama.


Apa yang akan papa lakukan untuk meyakinkan mama bahwa papa menyesal atas perbuatan papa ini '' Mia menghapus air matanya, menatap kosong pada sang papa yang sejak tadi tertunduk.


Heru pun menangis meski hampir tak terlihat.


'' Ja-jangan ! jangan sampai mama kalian tau. Papa, mohon jangan katakan apapun samaama .


Papa janji gak akan pernah melakukannya lagi '' Heru sontak beranjak dari kursinya dan berlutut.


Diketahui dan dipergoki ketiga anaknya seperti ini saja , ia sudah tak tau harus berbuat apa.


Apalagi jka sampai Santi tau ?


'' telat, pa. Nenek pasti sudah ngasi tau mama ''


Heru tergugu.


'' sekarang semua tergantung mama.


Kami pergi.


Dan papa sebaiknya pulang.


Mama pasti uda nungguin papa ''


Mia berdiri begitupun Hani dan Doni.


Ketiga bersaudara itupun berlalu. Meninggalkan Heru dengan sejuta sesal yang tengah menghimpit dada.


Bersumbang - -

__ADS_1


Hayo, di-like ya


Di komen juga sekalian


__ADS_2