
🌺 hem... 🌺
* * *
" mama mana, sayang... '' tanya Harsa yang wajahnya memenuhi layar ponsel.
'' mamaaaaaa... '' seru gadis kecil yang rambutnya di kucir tunggal seraya menoleh ke arah Kira .
'' Lala aja yang ngomong sama papa .
Mama gak sempat '' tolak Kira dengan menaikan sedikit volume suaranya agar Harsa dapat mendengarnya.
Namun Lala yang polos mengarahkan ponsel di genggamanya pada Kira yang tengah duduk sambil melipat pakaian.
'' sayang... '' Harsa seketika terdengar bersemangat. Namun -
' tut ' Kira mengakhiri sambung vidio call itu.
Harsa menghempaskan tubuhnya dengan kasar.
Sudah sebulan berlalu sejak Kira pergi meninggalkannya. Dan selama itu pula Kira tak sekalipun mau membalas pesan dan mengangkat telponnya.
Hanya jika Harsa mengatakan rindu pada putri mereka saja, Kira mau menerima sambung vidio call. Tapi tetap saja Kira menolak untuk bicara dengannya.
Harsa rindu. Bukan hanya pada putri lucunya.
Tapi ia rindu pada wanita yang biasanya menyambut ketika ia pulang kerja dengan senyuman dan secangkir kopi panas.
Terlebih ketika malam tiba. Rasa rindunya semakin tak terbendung lagi.
Ia rindu sentuhan dan suara khas Kira seperti di malam-malam lalu.
* * *
Sedangkan Kira.
Wanita berambut panjang sebahu itu menolak bicara dan selalu bungkam ketika kedua orang tuanya menanyainya.
Pun dengan Sarman .
Padahal sebelumnya Kira telah berjanji akan bicara pada mereka. Namun hingga kini Kira tetap ingkar.
Mereka semua yakin, jika pasti telah terjadi sesuatu pada rumah tangganya. Sebab tak mungkin Kira pulang mendadak dan bersikap acuh setiap kali telponnya berdering .
Hingga akhirnya, Sarman dengan terpaksa mengambil tindakan.
Ia menghubungi Harsa dan meminta agar adik iparnya itu datang dan menyelesaikan masalah mereka.
Harsa menyanggupi dengan mengatakan akan ke sana menjemput anak istrinya minggu depan.
Seminggu kemudian.
Hari yang dijanjikan Harsa tiba.
Kira bangun lebih pagi untuk membantu kakak iparnya mengerjakan tugas rumah. Setelah itu, ia mengajak Anggun untuk menemaninya ke salah satu rumah tetangga yang membuka salon sederhana.
Anggun mengangguk bersedia.
Karena ini adalah hari sabtu , maka Anggun pun bisa tenang meninggal ke dua anaknya dirumah sebab sang suami tak bekerja alias libur.
Di salon, Kira langsung menyebutkan perawatan apa saja yang ia inginkan. Krimbat , maskeran dan luluran .
Paket komplit, pokoknya. Begitu Kira mengatakan pada si pemilik salon.
Ia sepertinya tengah bersiap menyambut kedatangan sang suami yang akan tiba sore nanti.
Dan Anggun pun melakukan hal serupa. Sudah lama juga ia tak memanjakan diri seperti ini. Pun dengan niatan untuk memberi susana berbeda demi menyenangkan suaminya saat di ranjang nanti.
Puas menghabiskan waktu empat jam di salon, kedua wanita yang telah selesai melakukan serangkaian perawatan itu pun pulang.
Pukul 5 sore , mobil tak asing terlihat memasuki halaman rumah .
Harsa keluar dari dalamnya seraya mengucapkan salam.
Kedatangannya ternyata telah ditunggu.
Seluruh anggota keluarga istrinya menyambut dimuka pintu.
Usai menyalami dan mencium punggung kedua mertua mertuanya, Harsa lanjut dengan menyalami sambil menyapa Saraman dan Anggun.
Barulah setelah itu ia memeluk anak dan istrinya.
Harsa sempat tak percaya melihat aura tak biasa yang terpancar di wajah Kira.
Padahal ia mengira akan disambut dengan wajah masam. Tapi Kira tersenyum begitu lebar dan membalas pelukannya.
Harsa lega. Karena sepertinya sang istri telah melunakkan .Dengan begitu ia tak perlu bersusah payah untuk membujuk Kira.
Syukur lah. Batinnya.
Malam harinya seusai makan malam.
__ADS_1
Tak lantas mau mempertanyakan masalah Kira dan Harsa, orang tua Kira memilih memberi ruang untuk pasangan suami istri itu bicara berdua dan menyelesaikannya sendiri.
Harsa kembali bersyukur. Meski ia sudah menyiapkan mental jika nanti di cercaan banyak pertanyaan oleh keluarga istrinya, namun sepertinya hal tersebut tak perlu ia khawatirkan lagi.
- -
" sayang " suara Harsa lembut berucap.
Kira yang baru saja selesai menidurkan Lala berbalik.
Ia tampilkan senyum terbaiknya.
'' mas kangen banget sama kamu '' Harsa membelai wajah Kira. Jemarinya mengusap lembut dan perlahan turun hingga ke tulang selangka istrinya.
Sesaat pandangannya fokus pada pakaian yang Kira kenakan.
Terusan satin tanpa lengan berwarna tosca yang hanya sependek pangkal paha.
Karena bagian atasnya yang berkerah rendah , gundukan kenyal pemiliknya pun seperti mengintip menyapanya.
Begitupun dengan bagian bawahnya. Sedikit saja kedua kaki Kira bergerak atau berpindah posisi, kain halus itu sudah tersingkap. Memperlihatkan isinya yang tak di bungkus apapun lagi.
Meski sudah tau seperti apa bentuk dan isinya , namun kaki ini terasa berbeda. Harsa merasa gejolak hasratnya yang menggebu-gebu seperti ingin meledak.
Kira mengangguk dengan masih mempertahankan senyumnya.
Ia tau maksud ucapan itu.
Kira bergeser hingga tubuhnya dan Harsa merapat tanpa jarak .
Tanpa sepatah kata, Kira meraup bibir yang tadi mengucapkan kata rindu padanya.
Harsa membalasnya.
Pasangan suami istri yang telah sebulan tak bertemu itupun menghabiskan malam dengan memadu kasih dan menyalurkan hasrat yang tertahankan.
* * *
Pagi hari. Harsa terbangun dengan perasaan bahagia luar biasa.
Semalam adalah pengalaman paling berkesan sepanjang ia dan Kira melakukan hubungan suami istri.
Kira melayaninya dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya, Harsa merasakan sensasi bercinta yang tak biasa.
Pun ia juga baru tau jika Kira memiliki sisi liar seperti yang ditunjukkan padanya semalam.
Harsa tersentak dari lamunannya.
Ia tersenyum sumringah melihat Kira berdiri di pintu kamar yang terbuka separuh.
'' buruan keluar. Uda ditungguin sarapan '' ucap Kira dengan nada suara dan ekspresi yang datar.
Senyum Harsa seketika surut.
Ada apa..Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah ?Batinnya heran .
Harsa bergegas turun dari ranjang dan keluar kamar.
Nampak seluruh anggota keluarga telah berkumpul, menunggunya untuk sarapan bersama.
Tak berselang lama. Mereka pun memulai aktifitas makan pagi dengan selingi obrolan ringan.
Namun lama. kelamaan, obrolan tadi berubah menjadi pembicaraan berat. Sepertinya memang sengaja untuk menyinggung perihal masalah rumah tangga anak Harsa dan Kira yang sampai kini mereka tak tau apa.
Kedua mertuanya secara bergantian bicara untuk memberi nasehat .
Mereka mengingatkan , agar lain kali jika ada masalah sebaiknya tidak kabur . Masalah harus di bicarakan bukan dihindari .
Dan hal tersebut lebih di tekankan pada Kira.
Lalu nasehat itu ditutup dengan kalimat supaya mereka bisa bersikap lebih dewasa lagi dan harus berusaha untuk memahami dan mengerti satu sama lain.
Harsa nampak memperhatikan Kira yang duduk di sampingnya.
Kira bergeming . Raut wajahnya terlihat gusar.
Tak lama setelah kedua orang tuanya menutup pembicaraan, Kira terlihat menarik nafas panjang. Sekarang gilirannya udah bicara.
'' bu, pak. Ada yang sesuatu yang mau Kira beritahu '' ucap Kira yang sebelumnya telah memastikan jika masing-masing dari mereka yang duduk mengitari meja makan telah selesai dengan makanan di piring mereka.
Seketika semua mata tertuju padanya. Begitupun dengan Harsa yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Melihat keseriusan terpancar di sorot mata Kira, cemas dan gugup mulai menghampiri Harsa .
'' sayang.. '' ucap Harsa dengan suara rendah.
Kini mereka mengalihkan pandangan pada Harsa.
Tapi tidak Kira. Pandangannya tetap menatap wajah yang ada di hadapannya.
__ADS_1
'' ak-aku mau bercerai dari mas Harsa ''
' trang ' sendok jatuh dari pegangan ibunya. Ekspresi wanita setengah baya itu terlihat begitu shock. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh mereka semua yang mendengarnya.
'' sayang '' Harsa meraih jemari Kira . Namun dengan cepat Kira menjauhkan tangannya.
'' Kira '' Sarman menatap adiknya yang nampak bersungguh-sungguh dengan pernyataan barusan.
'' masalah apa sebenarnya yang terjadi diantara kalian sampai kamu ngomong gak masuk akal kaya gini, HAH !? '' sang ayah meradang.
Perceraian adalah sesuatu yang tak baik. Dan sang ayah tak bisa menerima hal seperti itu terjadi dalam rumah tangga anaknya.
Diam beberapa saat.
Kira tertunduk.
Sakit hatinya kembali terasa ketika teringat kejadian sebulan lalu.
'' ak-aku uda gak tahan lagi tinggal serumah dengan mertuaku ''
Mereka semua kompak mebelalakan mata.
'' tap- tapi ra.. masa uda lima tahun, baru ini kamu bilang gak tahan ? Ka-kalaupun masalahnya adalah itu , kalian hanya perlu pisah rumah aja, kan ?
Gak perlu sampai bilang mau cerai segala '' ucap Sarman yang mewakili perasaan kedua orang tuanya yang nampak sulit untuk bersuara. Terutama sang ibu.
'' kalau aja bisa semudah, itu kak... ''
Kira menyeka air matanya yang lolos. Hatinya semakin berdenyut nyeri.
'' ra.. '' Sarman meraih jemari adik yang begitu ia kasihi. Lalu menggenggamnya.
Seolah menyalurkan kekuatan agar Kira tenang.
'' mungkin mbak Anggun tau ,gimana rasanya jadi menantu yang harus tinggal serumah dengan mertuanya .. ya-yang apapun dikerjakan hampir tak pernah dihargai '' Kira melemparkan tatapannya pada sang Ibu.
Seketika itu pula sang Ibu memalingkan wajahnya.Ia tau maksud ucapan yang menyinggung bagaimana ia memperlakukan Anggun selama ini.
Dan perkataan Kira itu begitu mengena dihatinya.
'' tap-tapi bedanya mas Harsa gak kaya kakak '' kini tatapan Kira beralih pada Sarman.
Air matanya kembali berlinang.
'' mau seperti apapun ibunya memperlakukanku dan mengataiku, mas Harsa gak pernah sekalipun membela apalagi mau menyanggah ucapan ibunya.
Bahkan ketika aku di tampar di hadapan adik dan ayahnya, mas Harsa tak melakukan apa - apa''
' deg ' mereka tersentak.
Kira di tampar oleh mertuanya ? Dan Harsa diam saja ?
Jadi itu sebabnya Kira minggat dan sekarang minta cerai ?
Harsa tertunduk.
Ia terlalu malu untuk melihat bagaimana cara mereka menatapnya saat ini.
'' mas Harsa minta agar aku ngalah dan tetap gak mau pisah rumah.
San ketika aku minta untuk di ijinkan pulang ke sini, mas Harsa ngancam gak akan kasi aku uang supaya aku gak bisa kemana-mana.
Jadi aku nekat ke sini dan dapat ongkos dari menjual cincin kawin ku ''
Kira menatap jemarinya yang tak satupun tersemat perhiasan. Masih membekas diingatannya , ketika ia harus merelakan cincin pernikahannya agar bisa pulang ke rumah orang tuanya. Perasannya saat itu hancur . Sama seperti harapannya yang telah pupus pada Harsa.
Mereka semua terdiam dan tak saling pandangan sebab tengah bergelut dengan pikiran masing-masing.
Masalah Kira dan Harsa bukan hanya membuat mereka terkejut. Secara tak langsung mereka seolah tersadarkan.
Mereka merenungi tentang apa yang telah terjadi dan menimpa Kira. Semuanya patut untuk mereka jadikan pembelajaran dan introspeksi diri.
Sang ibu menatap Anggun. Sesal menyeruak melihat raut wajah kalem menantu yang tak pernah sekalipun membantahnya .
Sedangkan Sang ayah yang menatap Sarman.
Ia salut pada Sarman yang selama ini telah mampu berdiri tegar dan bersikap tegas menghadapi rumah tangganya .
Ia juga bangga, karena sejauh ini Sarman bisa menengahi istri dan ibunya dengan baik.
Salut dan bangga. Namun satu sisi ia juga merasa malu. Sebagai orang tertua di rumah ini, ia belum tentu atau mungkin tak akan pernah bisa bersikap sebijak anak sulungnya. Karena Sarman lah, kehidupan mereka yang dapat berjalan dengan baik.
Lalu sekarang, bagaimana dengan nasib rumah tangga Kira dan Harsa ?
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Komennya juga sekalian.
__ADS_1
Makasih🤗