Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Jodohku ternyata mesum


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Perkenalkan namaku Irma. Usiaku 24 tahun , pemilik sebuah minimarket depan gang tempat tinggal ku.


Aku perempuan yang mandiri. Tidak manja dan sudah jelas tidak suka bergantung dengan orang lain.


Mereka bilang aku ini sombong. Mentang-mentang anak lurah satu-satunya dan punya usaha sendiri.


Terserah. Aku si masa bodo.


Karena yang bilang begitu adalah lelaki yang ku tolak cintanya atau ibu-ibu yang lamaran anaknya tak kuterima. Malah saking jengkelnya mereka padaku, aku pun sampai di sumpahin '' Perawan tua '' sama mereka .


Hiii... Amit-amit dah !


Aku bergidik takut memikirkan jika sampai kejadian. Siapa juga yang mau, iyakan ?


Tapi, kalau dipikir-pikir wajar juga si mereka bersikap sampai mengataiku seperti itu. Karena jujur saja, aku ini orangnya pemilih.


Pacaran saja, aku baru satu kali. Itupun kira-kira lima tahun lalu. Eh, uda lama juga ya aku jomblo.


Ckckckck ( geleng-geleng, prihatin pada diri sendiri )


Tapi sekarang tidak lagi. Setelah negara Api menyerang, aku kini sudah berstatus memiliki kekasih.


Oleh Dina, teman semasa kuliahku dulu yang kini sudah menikah dan memiliki seorang anak - aku diperkenalkan dengan seorang pria.


Kira-kira setahun lalu.


Aku dan dia pertama kali saling sapa setelah Dina mengatur pertemuan untuk kami di sebuah cafe. Em, kalau di drakor biasanya disebut kencan buta gitu. Ehehehe..


Namanya Aksa. Lajang berusia 27 tahun , bekerja sebagai asisten chet di sebuah restoran yang cukup ternama di kota ini.


Dari segi penampilan ia terbilang cukup menawan. Dan kalau dari segi ekonomi, dia juga sudah cukup mapan.


Karena menurut informasi yang Dina peroleh dari suaminya yang merupakan chef yang mana Aksa adalah asistennya, Aska telah bekerja kurang lebih lima tahun di restoran yang para pelanggannya adalah mereka yang berasal dari golongan atas.


Dina juga memberitahu kisaran penghasilan Aska perbulan . Termaksud juga bonus dan lemburannya. Aku sempat tak percaya.


Karena dari hasil kerja kerasanya itu , Aska bahkan mampu membeli sebuah bangunan berlantai dua yang kini ia jadikan sebuah cafe sekaligus juga tempat tinggalnya.


Karena penasaran, aku pun menanyakan lebih banyak lagi tentang Aksa. Dina mengatakan, jika selama suaminya Aksa menjadi asistennya, lelaki itu tak pernah sekalipun terlihat menggandeng seorang perempuan. Atau mungkin juga nasibnya sama seperti ku. Sudah lama menjomblo.


Hehhe.. Entah mengapa aku senang sekali mengetahui ada yang bernasib sama seperti ku.


Dari semua hal yang begitu menarik tentangnya, hanya satu yang membuatku harus berpikir ulang apakah perkenalan ini harus ke tahap selanjutnya atau tidak .


Aksa tak banyak bicara. Cara menatap dan bicaranya juga terkesan datar . Bukan biasa saja, tapi memang seperti itulah karakternya.


Lagi-lagi ini hasil dari interview Dina pada suaminya, yang kemudian di beritahukan padaku.


Pun aku juga menilainya demikian.


Sikapnya agak dingin-dingin gimana gitu.


Tapi tak bisa ku pungkiri jika aku tertarik padanya. Maka setelah pertemuan pertama dan mendapat kesan yang cukup baik, kami lantas lanjut bertukar nomor ponsel.


Sejak itu, kami sering bertukar pesan untuk sekedar bertanya kabar dan aktivitas keseharian.


Hanya sesekali saja, kami akan ngobrol dalam sambungan telepon dan juga ketemuan .


Itu pun jarang karena pekerjaan Aksa yang banyak menyita waktu dan sering menuntutnya bekerja ekstra.


Waktu terus berjalan.


Malam itu adalah malam yang tak akan pernah ku lupakan.


Usai menonton dan makan malam, Aksa yang selalu kemana-mana menggunakan kendaraan roda dua NMX marun nya mengantarkan ku pulang.


Tepat disaat aku sudah turun dari boncengan, ia menyebut namaku. Membuatku yang hendak berbalik, menoleh seketika.


'' Ir, gimana kalau kita coba ketahap berikutnya ? '' tanyanya dengan ekspresi khas nya.Datar.


' Eh, aku melongo sejenak. Ini aku lagi ditemba ? Masih ku ingat dengan jelas bagaimana perasaanku yang saat itu menjadi gugup.


'' Kamu mau gak jadi pacar aku ? Tapi itupun kalau kamu gak keberatan dengan pekerjaan ku.


Karena pacaran denganku, belum tentu aku bisa ngeluangin waktu ataupun sering-sering komunikasi sama kamu '' tanyanya lagi.


Aku pun mengangguk antusias.


Sungguh senang rasanya, karena sekarang aku gak jomblo lagi. Besar harapanku Aksa adalah lelaki tepat yang memang ditakdirkan menjadi jodohku.


Eheheh... Siapa yang gak mau coba punya suami yang pekerjaannya menjanjikan, punya usaha, cakep pula.


Dengan penuh semangat alias ingin pamer, aku pun memberitahukan hal tersebut pada kedua orang tuaku .


Namun , ayah dan Ibuku malah acuh. Mereka tak tertarik . Baru sekedar pacar, terkecuali lelaki tersebut datang melamar - barulah mereka bilang akan menanggapinya. Sungguh menyebalkan kedua orang tuaku ini. Mereka sepertinya sanksi jika akan ada pria yang mau dan betah padaku.


Ya , mungkin karena aku ini orang nya susah diatur dan juga suka membangkang.


Ehehhe.. ketahuan lagi deh jeleknya.

__ADS_1


Gapapa, yang penting sekarang uda gak jomblo lagi. Pasang tampang terbaik dan bersikap jaim-jaiman aja dulu. Begitu setiap hari aku menyemangati dan meyakinkan diri.


Tak terasa enam bulan terlewati.


Hubungan yang kami jalani memang tak seperti pacaran pada umumnya.


Kami jarang bertemu. Dan lebih sering kirim pesan Whatsapp dan juga sesekali saja menelpon .


Tak mengapa, meski jarang berkencan aku sudah cukup merasa senang . Padahal ku pikir dia akan bersikap dingin seperti sikapnya. Tapi nyatanya, dia sangat - sangat perhatian . Ia mulai banyak bertanya dan bilang ingin tau semua hal tentangku. Dan dengan senang hati, akupun memberitahukannya.


Semakin hari, Aksa semakin menunjukan perhatiannya. Tak jarang ia mengirimkan makanan hasil buatan tangannya sendiri ataupun bunga yang sebenarnya adalah hal yang tak kusukai sama sekali.


Tapi aku tak mungkin menolaknya dan terang-terangan mengatakannya. Kan aku harus bersikap baik.


Selain berkencan ( pacarku ini orang nya sederhana, padahal punya mobil .Tapi lebih suka naik motor ) - di beberapa kesempatan juga ia mau menemaniku ke acara keluarga.


Disitu akupun memanfaatkan kesempatan untuk memperkenalkannya dan pamer pada keluarga besarku. Kukatakan sekaligus ku peringati mereka untuk tidak menyinggung ku lagi. Karena sekarang aku uda gak jomblo lagi . Entah sudah berapa kali aku mendeklarasikan bahwa ' aku tak lagi jomblo '. Seperti orang yang tak tau malu saja.


Ekekeke.. Biarin.


Setahun berlalu.


Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai menyadari ada yang salah dengan hubungan ini.


Tak ada kemajuan. Selalu dan hanya itu-itu saja yang kami lakukan setiap kali bertemu.


Keluar, jalan, makan malam, nonton, pegangan tangan. Sudah.


Sering aku berpikir, sepertinya cuma aku yang berdebar setiap kali memeluknya ketika dibonceng.


Dan mungkin hanya aku yang penasaran bagaimana rasanya jika kami melakukan hal yang sedikit lebih jauh. Bukan itu, lo yaaa... Em.. tapi kaya ciuman misalnya.


Pasalnya, sudah setahun dan kami sama sekali belum pernah berciuman.


Setelah ku ingat-ingat, selama ini Aksa tak pernah mau menatapku lama-lama. Ia hanya menatap ketika bicara dan setelah itu alihkan kemana-mana.


Sungguh. Aku tak tahan lagi. Sepertinya hubungan ini memang salah. Hanya status saja yang pacaran, tapi nyatanya yang kami jalani tak lebih dari sekedar teman tapi gandengan.


Semakin hari, hal ini semakin menganggu pikiranku hingga berdampak pada hubungan ku dengannya.


Setelah puas berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk bicara dan mengatakan apa yang selama ini mengganjal di hati.


Malam pukul 10.


' Trrrtttttttttt ' getar bersaman dengan nada dering yang berasal dari ponselku.


Aku yang sedang sibuk menghitung pendapatan minimarket ku hari ini, memilih acuh. Itu adalah telpon dari Aksa yang kesekian kalinya ku abaikan.


' Ting ' sebuah pesan masuk.


Kuraih ponsel dan ku lihat isinya yang ternyata pesan dari Aksa.


'' Aku di depan minimarket mu ''


'' Eh '' aku berlonjak kaget.


Karena ruko dua lantai yang ku sewa sebagai tempat usaha ini berdinding kaca transparan. Dari luar orang bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada didalam .


Bergegas aku menyelesaikan hitunganku, lalu memasukan lembaran rupiah ke tempat yang aman. Setelah itu, aku pun keluar untuk memastikan apakah Aksa benar-benar ada di depan, seperti yang tertera dipesan yang dikirimkannya lima menit lalu.


Langkah ku sontak terhenti, mendapati Aksa berdiri di sebarang jalan.Di belakangnya terparkir sebuah mobil yang aku tau itu miliknya. Ia pernah tiga atau empat kali mengendarainya saat menemaniku ke acara keluarga.


' Hup ' nafas yang ku tarik seperti tertahan. Aku tercekat melihat Aksa menyebrang . Dan hanya dalam hitungan detik saja, dia kini sudah berdiri di hadapanku.


'' Kamu kenapa ? Sakit ? '' tanyanya dengan kening mengkerut. Maniknya bergerak - gerak memperhatikanku.


'' Ak- aku gapapa '' jawabku menepis tangan yang hendak memegang lenganku.


Raut wajah Aksa berubah seketika. Ia perhatikan aku dalam-dalam. Membuat ku jadi tak nyaman.


' Ups ' sumpah. Aku reflek .Tak bermaksud apa-apa . Aku hanya tak mau ada yang liat dan jadi salah paham karena ini didepan umum ? Kan bisa malu kalau nanti jadi bahan gosip ibu-ibu besok pagi.


'' Terus ? Kalau gak sakit, kenapa seharian ini telpon ku gak diangkat ? ''


' Glup ' aku menelan ludah dengan susah.


'' Ak-aku.. Cuma lagi sibuk... Ini kan tanggal orang gajian. Jadi banyak yang datang buat belanja bulanan.. ehehehe '' nyengir tapi dalam hati bergemuruh tak karuan.


Diam beberapa saat.


'' Kayanya bukan itu ''


'' ... ''


'' Kamu tau, karena sejak pagi kamu gak jawab telpon dan balas pesanku, aku tadi ijin pulang lebih awal.


Tapi aku gak pulang. Dari jam 7 tadi aku uda di sini nungguin kamu sambil perhatiin kamu .


Aku gak tau, apakah ini perasaanku saja atau bukan. Tapi, aku ngerasa kamu seperti tengah menghindariku ''


Aku terperangah, tak percaya. Sungguh ini diluar dari perkiraan. Jadi dia uda tiga jam di depan hanya buat nungguin aku ? Kenapa coba gak nyamperin masuk ?


Terus sekarang aku harus bagaimana ?

__ADS_1


Apa.. eng.. sebaiknya aku jujur saja atau...


Beberapa saat setelah berpikir . Aku putuskan untuk mengutarakan hak yang selama ini kupendam.


'' Maaf, Ka. Jujur... Sebenarnya aku emang lagi mencoba menghindari kamu ''


'' Apa ? Tapi kenapa ? Apa uda ngelakuin sesuatu yang salah ke kamu ? ''


Aku menggeleng.


'' Belakang ini aku sering kepikiran soal hubungan kita.


Aku.. Aku... Aku kayanya gak bisa nerusin hubungan yang sama sekali gak ada kemajuan ini '' ucapku lirih dengan kepala tertunduk. Sebab aku tak bisa mengatakan ini sambil menatapnya.


Lega rasanya karena akhirnya bisa juga ku katakan . Tapi di saat bersamaan, ada rasa tak nyaman yang sulit diartikan menyelimuti ku.


'' Jadi, kamu mau putus ? '' tanyanya terdengar getir.


Aku menegakkan kepala. Menatap Aksa yang kedua matanya memerah dan mulai berembun. Jangan bilang dia mau nangis.. Haaaa... Aku panik.


Tanpa pikir panjang, aku menariknya masuk kedalam minimarket milikku.


Sampai dibagian paling belakang, tempat teraman dari sapuan mata yang melintas di depan sana, aku menghentikan langkah. Disini tak akan ada yang bisa melihat sebab tertutup jejeran rak-rak berisi barang dagangan ku.


Aku melepaskan pegangan tanganku. Namun Aksa meraihnya dan kembali tangan kami saling bertautan.


Mata yang tadinya merah kini berangsur jernih. Namun tatapan yang tadinya sendu, entah kenapa berubah tajam.


' Dag-dug-dang ' suara jantung berdetak tak beraturan. Aku gugup juga panik.


'' Kamu bilang gak bisa nerusin hubungan yang sama sekali gak ada kemajuan, itu bukannya sama aja kamu mau putus ?


Tapi aku gak ngerti. Apa maksudnya dengan gak ada kemajuan, Ir ? Kamu mau minta aku nikahin ? ''


'' Eeeehh... Buk-bukan . Bukan gitu '' aku menggeleng dengan tangan terangkat dan menggoyangkannya.


'' Terus kenapa kamu mau putus ?


Kalau emang aku ada salah, kamu tinggal bilang. Aku akan berusaha untuk perbaiki . Dan - ''


Aku memutus ucapannya yang terdengar mulai meninggi. Aksa sepertinya tak mau putus dari ku.


'' Bukan juga itu '' cicit ku dengan kepala tertunduk.


Sumpah aku malu untuk mengungkapkannya.


'' Terus apa, Ir.. '' nada suaranya menurun.


Aku memberanikan diri menegakkan kepala dan menatapnya. Dan ' cup ' aku mengecup bibirnya .


Huaaaa... rasanya luar biasa. Lembut banget. Sumpah. Aku pengen lagi. Tapi.. ' deg ' aku terkena serangan jantung.


Aksa menatapku sangat lekat dan tak berkedip.


'' Uda setahun kita pacaran tapi kamu sama sekali gak pernah mencium ku.


Jadi, ak- aku pikir mungkin cuma aku yang punya perasaan. Sedangkan kamu mungkin hanya...


Entahlah..


Aku pun gak tau dan gak bisa menebak sebenarnya kaya apa perasaanmu ke aku '' ucapku membalas tatapannya .


Aksa menarik tanganku, membuatku terjerembab di dadanya. Tubuh kami menempel dan jarak wajah kami sangat dekat .


'' Kamu salah kalau berpikir aku seperti itu, Ir.


Aku suka sama kamu, Ir. Aku cinta. Dan kurasa aku uda tergila-gila sama kamu.


Dan jarena itu aku selama ini berusaha untuk gak menyentuh mu ''


Aku mengernyit.


'' Kamu mungkin kaget kalau tau aku yang sebenarnya seperti apa.


Aku.. Kalau uda suka sama seseorang, aku selalu sulit menahan diri . Jika sudah sekali, menyentuhnya.. Maka aku akan terus mau dan mau lagi mengulanginya. Yang aku takutkan adalah kalau aku menginginkan lebih dari sekedar ciuman atau pelukan.


Dan sekarang kamu udah mancing aku. Jadi jangan salahkan aku. Karena kalau sudah memulai, aku sulit untuk berhenti ''


A-apa maksudnya..


Belum sempat aku bicara, Aksa sudah mendaratkan bibirnya di bibirku . Aku reflek memejamkan mata.


Ciumannya kini semakin dalam dan kuat.


Bibirnya meremas, menggigit kecil bibir bawah ku, membuatku sulit membuka mata. Sesekali lidahnya masuk dan menyapu kedalam mulutku.


Sungguh.. rasanya...


Eh, eh, tunggu ! Aku membuka mata lebar-lebar ketika merasa pergerakan didalam kaos hitam yang kukenakan.


Nah, Lo ?


Sejak kapan tangannya menyusup kedalam dan sudah mendarat di.. dadaku...

__ADS_1


__ADS_2