
🌺 hem.. 🌺
* * *
Lanie berdiri di belakang Danu yang sedang melakukan pembayaran di kasir.
'tit '
' tit '
' tit '
' tit '
' tit.tit' lagi dan lagi.
Lanie melongo.
Entah berapa item totalnya. Namun semua barang yang dibayar dengan kartu kredit itu dimasukkan kedalam lima buah handbag.
Hanya ada satu handbag yang ia tau apa isinya.
Tas yang ia pilih untuk nanti Danu hadiahkan pada Erina.
Sisanya ia tak tau kapan dipilih dan kenapa Danu membelinya.
Lanie yang tak berani bertanya lantas mengikuti saja saat Danu melangkah meninggalkan toko baju.
'' kita balik,ya . Takut Erina uda datang dan nungguin di rumah '' ajak Lanie dengan raut khawatir .
'' kenapa gak di telpon aja ? Bilang kalau kamu lagi sama aku buat nyariin kado ulang tahunnya. '' Danu berucap santai.
Setelah menimbang-nimbang, Lanie putuskan menelepon Erina seperti yang Danu sarankan.
'' halo, Er '' ucap Lanie begitu sambungan telponnya terhubung .
'' ya Lan '' sambut Erina.
'' nga, anu.. kamu uda dimana ? ''
'' oh, iya. Sori .
Aku tadi ketiduran.Ini baru mau otw kerumah mu ''
'' oh, gitu.. ''
Diam beberapa detik.
Lanie tersentak . Saat mendapati Danu yang ternyata tengah memperhatikan . Dan sepertinya pun Danu menyimak percakapannya dan Erina.
'' Lan, ada apa ? '' suara Erina menyandarkannya.
'' anu, Er. Sebenarnya aku juga lagi di luar .. sam-sama Danu '' nada suara Lanie merendah di ujung kalimatnya.
'' ... ''
'' so-sori baru ngasi tau.
Danu juga mendadak kerumah.
Dia juga gak ada rencana. Hanya minta tolong nyari kado buat ulang tahun mu ''
'' o- o- ya, kalau gitu ga papa kok. Engggg... tapi kalian masih lama gak ? ''
'' ga-gak kok ini uda ma-mau - - '' bicara Lanie terhenti ketika melihat Danu menggeleng. Menandakan jika sepertinya mereka belum akan pulang.
'' Lan '' suara Erina kembali menyadarkan.
'' aku belum tau ni, Er. Soalnya lagi kejebak macet '' bohong Lanie yang terucap begitu saja.
Dilihatnya Danu mengukir senyum.
Dan panggilan pun berakhir setelah Erina mengatakan akan tetap kerumahnya dan menunggu hingga ia pulang m
Lanie termenung. Ia merasa tak nyaman sebab ini kali pertama ia berbohong . Dilihatnya lagi Danu yang semakin merekahkan senyum.
'' karena kamu uda terlanjur ngomong gitu, sekarang kita cari makan dulu.
Aku lapar '' Danu berbalik dan mengambil langkah.
Namun baru tiga langkah, ia berhenti karena menyadari jika tak ada tanda-tanda diikuti.
Di lihatnya Lanie masih ditempatnya tadi.
Gadis itu bergeming dengan tatapan datar.
'' Lan ''
'' aku pulang duluan, ya.
Kamu lanjut aja. Toh urusan kita juga uda selesai ''
Lanie mengambil langkah cepat .
Namun kalah cepat dengan Danu yang telah berhasil menyusulnya.
Laki-laki itu mencekal lengannya hingga memaksa langkahnya terhenti.
'' aku mau pulang sekarang, Nu.
Gak enak sama Erina kalau terlalu lama nunggu ''
Lanie hendak menarik tangannya, namun Danu justru mempererat pegangannya.
Alhasil Lanie pun tak bisa beranjak.
'' ya, uda kalau gitu. Aku gak jadi makan. Aku antar kamu pulang sekarang '' ucap Danu mendadak dingin.
Pegangannya terlepas. Di raihnya jemari Lanie dan ia genggam untuk kemudian ia tarik paksa mengikuti maju jalannya.
Lanie tak bisa menolak.
Ia biarkan saja telapak tangan itu membalut kelima jemarinya.
* * *
__ADS_1
Langit cerah sudah berganti gelap.
Sebab matahari telah kembali ke tempat persembunyiannya.
Sesaat lagi bintang dan bulan akan muncul menghiasi langit malam.
Tari dan Erina sontak berdiri saat mobil yang mereka kenali berhenti di depan rumah.
Lalu munculah Lanie dan Danu yang keluar dari mobil secara bersamaan.
'' maaf, lama kak '' Danu menyapa Tari .
Tari menggeleng seraya mengatakan '' ga papa '' dengan nada yang bersahabat.
'' sori, Er '' Lanie dengan tampang tak enak menyapa Erina yang berekspresi datar sebab Danu tak menyapanya terlebih dahulu.
'' hei, Er '' Danu menyapanya .
Erina tersentak dan langsung tersenyum.
'' aku pulang, dulu ya. Uda malam '' pamit Danu yang hanya menatap Erina sekilas lalu segera beralih pada Lanie .
Senyum Erina luntur seketika.
Padahal ia tadi sempat berharap Danu akan mengajaknya keluar juga. Atau paling tidak tinggal walaupun sebentar.
Untuk sekedar saling bertanya kabar sebab mereka jarang bertemu dan hanya berkomunikasi lewat pesan saja.
Atau mungkin ngobrol ringan lainnya.
Tapi sepertinya Danu tak ada niatan seperti itu sama sekali.
Erina memperhatikan interaksi teman dan laki-laki yang ia sukai di hadapannya ini.
Danu dan Lanie terlihat akrab.
Danu pamit setelah panjang lebar bicara pada Lanie. Hal yang terdengar sama sekali tak penting untuk dikatakan.
'' makasi, ya uda nemenin aku hari ini . Lain kali kalau aku butuh bantuanmu , aku bolehkan ngajak kamu keluar lagi ?
Em.. trus aku boleh juga dong sekali-kali main kerumah mu ? ''
Erina tercengang.Apa ia tak salah dengar ?
Danu bicara dengan begitu gamblang.
Seolah hanya ada mereka berdua saja. Ia dan Tari seolah dianggap tak ada.
Erina tak suka.
Padahal katanya Danu menyukainya. Tapi kenapa lebih perhatian pada Lanie ?
Diperhatikan sikap Lanie yang tak begitu menanggapi ucapan Danu.
Erina pun mulai perpikiran yang macam-macam.
'' apa dia sedang menggoda Danu ?
Tarik - ulur jual mahal , gitu ?
Erina jengah melihat tingkah Danu dan Lanie yang saling bertolak belakang.
" o, ya Er.
Nih buat kamu " Danu menyodorkan sebuah handbag pada Erina.
Seketika Erina kembali melebarkan kedua sudut bibirnya. Ia tersenyum begitu sumringah sambil menyambut uluran tangan dan mengambil bungkus belanjaan berlogo sebuah toko baju yang sering ia kunjungi.
" ga papa kan kalau aku kasi kadonya sekarang ?
Soalnya hari ulang tahun mu bulan depan, bertepatan dengan acara keluarga diluar kota "
" iya, ga papa.
Makasi banyak lo, Nu "
Lagi - lagi Danu hanya membalas tatapannya sekilas dan langsung mengalihkannya pada Lanie.
" nih, Lan " Danu menyorokkan empat buah handbag oada Lanie.
Senyum Erina kembali luntur. Matanya melebar tak percaya dengan semua yang ia dengar dan ia lihat.
Apa - apaan ?
Aku yang ulang tahun cuma dikasi satu handbag.
Sedangkan Lanie dapat empat ? Empat ?
Erina semakin gusar.
" tap- tapi " Lanie mencoba menolak dengan tak mau mengangkat tangannya.
Danu tersenyum.
Ia lalu maju beberapa melangkah menghampiri kaka Lanie.
Ia serahkan barang yang memang ia beli untuk Lanie itu pada Tari.
" aku titip ya , kak " ucap Danu yang setelah itu pamit pada semuanya.
Tari mengambilnya dengan perasaan linglung.
Entah ada apa dengan mereka ini ?
Setelah beberapa saat Danu pergi, diam mengisi susana di antara mereka.
Tari yang sadar jika ada sesuatu di antara adik, teman, dan laki-laki yang tadi, lantas beranjak masuk lebih dulu .
" maaf , Er " Lanie mengoyak sunyi.
Erina bergeming.
Ia tak tau harus bagaimana.
Rasanya tak masuk akal jika ia marah dan menuduh Lanie berbuat curang di belakangnya.
__ADS_1
Selain karena ia dan Danu belum pacaran, pun siapa juga yang akan percaya jika Danu yang sudah mengatakan suka dan ingin mendekatinya akan tiba-tiba berpaling pada perempuan seperti Lanie.
Tak mungkin.
" ak-aku pulang ya Lan.
Janji kita hari ini batal aja.
Uda malam juga " ucap Erina tanpa mau melihat Lanie.
Ia menyeret langkah menuju mobil yang terparkir di depan rumah tersebut.
Tak berselang lama, Erina pun berlalu.
" arrrggghhh " Lanie melampiaskan rasa geramnya yang entah karena apa atau untuk siapa.
Yang pasti, apa yang baru saja terjadi benar-benar tak pernah ia bayangkan.
Lanie berbalik dan masuk kedalam rumah.
" kak ? " dahi Lanie mengkerut saat mendapati Tari tengah membongkar isi handbag dan melihatnya satu persatu .
Tari menghela nafas. Ia angkat sepasang kets , dan menunjukkan harga yang tertera di logonya.
Lanie mengangkat kedua bahunya sejajar dengan ekor mata menyapu semua barang yang berhamburan di meja ruang tamu.
Beberapa diantaranya ia ingat, jika barang - barang-barang itu adalah yang ia lihat, ia pegang , ia tanya harganya dan sempat ia coba juga ditoko tadi.
Ia tak tau apa maksud Danu membeli semua itu dan diberikan padanya.
Tari meletakkan barang yang ia pegang.
Kemudian beralih pada barang lainnya.
Ia lipat, ia susun dengan rapi , dan ia masukan kembali ke dalam handbag seperti semula.
" sejak kapan dia kaya gini sama kamu ? "
" ga-gak pernah. In-ini pertama kalinya "menjawab dengan nada rendah.
" terus ? Bukannya kamu cerita dia itu lagi PDKT sama Erina ? Tapi kok bisa bersikap loyal banget sama kamu ? Kan gak pantas ? "
Lanie lalu menjelaskan secara singkat.
Di mulai dari awal mula Danu meminta no handphonenya. Kemudian Danu yang selalu beralasan malu jika harus berkomunikasi langsung dengan Erina. Hinggap ia pun mau tak mau melibatkan diri dan bertindak sebagai perantara antara Erina dan Danu.
Tari menghempaskan nafasnya dengan kasar.
Sama seperti Lanie . Ia pun sebenarnya tak paham akan masalah percintaan. Sebab selama ini mereka hanya fokus pada pendidikan agar bisa menata masa depan dengan baik.
Tapi ia cukup peka. Tak sepolos adiknya yang tak bisa membaca apa yang kini sedang terjadi.
" Danu itu bukan suka Erina.
Dia itu suka kamu "
' deg ' ucapan Tari membuat Lanje reflek menggeleng tegas.
" gak mungkin " Lanie mencoba menyangkal. Padahal ia sendiri juga berpikiran seperti itu .
" ok. Mungkin memang sulit di percaya.
Tapi, sekarang kamu dengar baik-baik apa yang kakak katakan ini ! "
Lanie mengangguk.
Kakaknya memang selalu mengerti dan tak pernah marah apalagi menghakimi untuk hal yang belum jelas letak masalahnya.
" simpan barang-barang ini dengan baik. Jangan pernah berpikir untuk mengeluarkannya apalagi dipake ?! paham ?! "
Lanie mengangguk lagi. Tak perlu di ingatkan pun ia tak berniat untuk menyentuh apalagi mengenakan barang-barang mahal itu.
" terus, berhenti berhubungan dengan Danu "
Kali ini Lanie mengangguk samar.
Satu sisi ia berpikir jika memang sudah waktunya ia berhenti menjadi orang ketiga diantara Erina dan Danu .
Namun di sisi lain. Entah mengapa ada nyeri berdenyut memikirkan jika ia tak akan berhubungan dengan Danu lagi. Seperti ada sesuatu yang di paksa lepas darinya.
Melihat keraguan di wajah adiknya, Tari pun prihatin.
" kamu suka sama Danu ?"
Kali ini pertanyaan Tari sama sekali tak bisa Lanie jawab.
Tari menarik nafas panjang.
" dengar, dek.
Kita ini orang gak punya.
Yang kita butuhkan sekarang adalah pendidikan.
Cuma itu bekal untuk masa depan kita.
Hal kaya gini ini harus bisa kita kesampingkan dulu.
Belum atau ada saatnya untuk ini. Tapi nanti. Bukan sekarang.
Sebelum terlambat, sebaiknya kamu segera sadarkan dirimu.
Utamakan dan selesaikan dulu kuliahmu. Kejar dan raih cita - citamu.
Baru setelah itu kau bisa memulai untuk hal lainnya. Em ? "
Tari berucap lembut namun terdengar begitu bijak sebab mengandung ketegasan didalam setiap yang kalimat ia ucapkan barusan.
Lanie mengangguk.
Ia tatap sang kakak . Lewat pancaran sorot mata, ia menyakinkan Tari jika ia tak akan mengecewakan.
bersumbang - -
Habis baca di like, ya..
__ADS_1
Mkasi🤗