
๐บ hem.. ๐บ
* * *
Memang wajar jika Herman begitu menyayangi putri tunggalnya.
Karena ketika sang istri meninggal dunia, Erna begitu terpukul dan frustasi. Begitu pun dengannya yang harus ikhlas kehilangan sosok pendamping.
Herman pun mengesampingkan rasa dukanya, demi bisa menghibur Erna agar tak larut dalam kesedihan yang panjang dengan menuruti dan mengabulkan apapun kemauan anaknya .
Herman begitu memanjakan putri semata wayangnya dan tak pernah marahinya. Sebab tak ingin membuat dan melihat Erna bersedih lagi.
Bagi Herman, Erna adalah prioritas dalam hidupnya.
Hal itu terus berlangsung dan menjadi sebuah kebiasaan hingga sekarang.
Walaupun ia sadar jika saat ini ada hati dan perasaan yang juga harus ia perhatikan .
Tapi lagi-lagi , kasih sayang yang begitu besar dan rasa tak tega membuatnya tak mau mempermasalahkan sikap Erna yang sudah keterlaluan terhadap istrinya , Soraya.
Herman ingkar.
Setelah mengatakan akan akan membahas perlakuan Erna terhadap saudara tirinya, namun nyatanya tak ada pembicaraan sama sekali mengenai hal tersebut.
Herman seolah mengacuhkan masalah itu.
Soraya pun kecewa.
Ia benar-benar sudah mencapai batas kesabarannya.
Jangankan membela , Herman bahkan tak sedikitpun berniat menegur Erna.
'' aku gak minta mas bersikap kasar, membentak apalagi main pukul.
Aku cuma mau mas tegas.
Dia memang anak mas. Tapi aku ini istri mas !
Kondisi kita sama, mas. Kita sama-sama ditinggal pergi pasangan.
Dan aku juga punya anak.
Jadi aku tau bagaimana rasanya.
Tapi bukan berarti sekalipun anak berbuat salah , kita tetap diam dan membiarkannya saja.
Setidaknya berilah teguran ! "
Herman mengiyakan. Ia mencoba membujuk sang istri agar tenang dan berjanji akan melakukan seperti yang Soraya minta. Ia akan menegur Erna.
Soraya terbujuk. Ia pupuk lagi sabarnya untuk memberi kesempatan pada sang suami dan juga pada dirinya agar bisa bertahan melawati ini.
Hari berganti, namun tak ada yang berubah.
Herman kembali ingkar. Soraya pun menagih janjinya.
Hal tersebut pun menyulut perdebatan.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, pasang suami istri itu bertengkar.
Bukannya meminta maaf, Herman justru meminta agar Soraya sadar. Sebagai istri dan orang tua,ia seharusnya bisa memaklumi sikap Erna .
Setelah mendengar ucapan itu Soraya pun berhenti bicara.
Ia hanya menatap lalu Herman berangkat kerja bersama Erna yang menyinggung senyum penuh kemenangan.
Melihat tingkah Erna yang seakan mengejeknya, Soraya pun tak tahan lagi .
Ia kemudian berkemas, masukan barang pribadinya dan juga Ririn kedalam tas.
Ketika jam pulang sekolah tiba, Soraya telah menunggu di depan gerbang sekolah anaknya dengan sebuah taksi.
Tak lama kemudian Ririn keluar dari gerbang bersamaan dengan murid lainnya.
Merekapun pulang, tapi bukan ke rumah yang sudah setahun belakangan menjadi tempat tinggal mereka , melainkan ke rumah pak Komang orang tua Soraya.
- -
Pak Komang dan istri menatap heran pada anak dan cucunya yang datang dengan tas berisi pakaian dalam jumlah banyak.
Tak menunggu ditanya, Soraya langsung menjelaskan apa yang telah terjadi.
Singkatnya ia mengatakan jika ia ingin tinggal sementara sambil menunggu apakah sang suami akan sadar dan mau menyusulnya.
Pak Komang dan istri hanya diam tak tau harus berkomentar apa.
Mereka akan menunggu sang menantu datang untuk membicarakan masalah ini.
Sehari berselang.
Herman tak datang.
Bahkan menelponnya saja tidak.
Soraya kian bertambah kecewa.
Tapi ternyata sang suami menghubungi orang tuanya, bertanya apakah ia ada disana dan menceritakan masalah rumah tangga mereka menurut versinya.
Entah apa yang Herman katakan pada orang tuanya.
__ADS_1
Karena kini Soraya mulai dihujani berbagai pertanyaan yang memojokkannya.
Soraya dinilai terlalu berlebihan dalam menanggapi sikap anak tirinya. Tak hanya itu saja, pak komang dan istri bahkan mengatakan jika penyebab masalah itu adalah karena ia dan Ririn yang tak bisa beradaptasi dengan kehidupan suaminya.
Bahkan kedua orang tuanya menambahkan jika ia seharusnya mengalah dan bersyukur mendapat suami sebaik dan semapan Herman.
Orang tuanya pun menjelaskan alasan Herman tak menyusulnya karena ingin memberi waktu dan tak ingin menganggu Soraya menenangkan diri.
Soraya meradang. Bukannya mendapat pembelaan. Kedua orang tuanya justru terperdaya oleh suaminya dan kini tak berhenti mengomelinya.
Hampir setiap hari, mereka menyuruh Soraya pulang ke rumah suaminya dan berhenti bersikap ke kanak-kanakan.
'' baik. Aku akan pulang kalau mas Herman dan Erna yang datang menjemput '' ucap Soraya yang jengah karena terus-terusan di lempari ocehan dari kedua orang tuanya.
Sebulan lamanya ia menunggu.
Herman akhirnya datang dengan tujuan untuk menjemputnya pulang.
Namun Erna tak ikut.
Soraya pun mempertanyakan kenapa Erna tak ikut padahal syarat ia akan pulang adalah Erna harus mengakui sikap kasarnya dan meminta maaf pada Ririn dihadapan semua orang.
Tapi lagi-lagi Soraya harus menelan kekecewaan.
Jangankan membujuknya, Herman justru mengimpori kedua orang tuanya.
Mereka memojokkannya. Mengatakan betapa egoisnya ia dan membuat Slseolah-olah semua adalah salahnya.
Sabar Soraya sudah habis.
Ia minta Herman pulang dan jangan pernah kembali lagi.
Herman menurut.
Ia masih percaya diri jika akan ada masanya Soraya lelah dan kembali padanya.
Namun sayang, semua hal itu cuma angannya saja.
Seminggu kemudian, sebuah surat berisi gugatan perceraian menghampirinya.
Herman pun bergegas menyambangi kediaman mertuanya. Tapi ia terlambat.
Tadi pagi Soraya dan Ririn pergi ketika pak komang dan istri sedang keluar dan tak bilang akan kemana.
Tadinya mereka sempat berpikir ,mungkin saja Soraya dan Ririn pulang ke rumah Herman.
Tapi mereka dibuat terkejut dengan kedatangan Herman yang mengatakan jika ia telah digugat cerai oleh Soraya.
Dan yang mengejutkannya lagi adalah Soraya ternyata telah mengurus perpindahan sekolah Ririn.
Entah sejak kapan wanita yang dikenal penurut dan pendiam itu merencanakan dan mengurus semuanya.
Herman resmi menyandang status duda untuk kedua kalinya.
Hari berganti minggu. Perlahan Herman pun mulai menyadari kesalahannya .
Ia lalu berniat untuk memperbaiki diri dan membenahi semuanya.
Ia mulai dari berbicara dari hati ke hati dengan Erna .
Ia berharap pikiran Erna mau terbuka dan sadar .
Agar sang anak mau merubah sikapnya .
Erna yang melihat bagaimana terpuruknya sang papa karena ditinggal ibu tirinya itupun akhirnya menyadari kesalahannya.
Hampir setiap hari ia mendapati wajah murung Herman. Erna menyesal karena ini semua adalah dampak dari perbuatannya .
Satu bulan setelah ketuk palu memutuskan berakhirnya pernikahan Herman dan Soraya .
Erna membujuk sang papa untuk ke rumah pak Komang.
Siapa tau Soraya sudah pulang ? Begitu katanya.
Erna pun berjanji , jika bertemu dengan Soraya dan Ririn ia akan meminta maaf dan membujuk mereka untuk pulang.
Herman menyambut senang niat baik anaknya dan setuju. Mereka pun pergi ke rumah pak Komang.
Tapi jangankan bertemu, kabar dari Soraya dan Ririn saja pak Komang dan istri pun tak tau.
- -
Dua tahun kemudian.
Beberapa hari lagi menjelang perayaan Idulfitri.
Suasana sukacita menyambut hari kemenangan begitu di nantikan setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa.
Namun tidak pada keluarga pak Komang dan Herman.
Meski sudah bercerai , tapi hubungan mantan mertua dan menantu itu masih terjalin baik.
Herman masih setia menanti Soraya dengan sering berkunjung ke rumah pak Komang.
Sama seperti hari raya tahun lalu.
Pada Lebaran kali inipun pak Komang dan istri mengundang Herman dan Erna untuk merayakannya bersama .
Pagi itu, setelah sholat I'd, Herman dan Erna langsung meluncur ke kediaman pak Komang.
__ADS_1
'' asalamualaikum '' Herman mengucapkan salam ketika sudah di depan pagar rumah pak Komang.
'' Walaikumsalam '' suara tak asing terdengar .
'' Aya '' Herman terkesima melihat siapa gerangan yang menjawab salamnya.
Dalam balutan hijab syar'i berwarna putih, Soraya berdiri di mulut pintu .
Wanita itu tersenyum menyambutnya ramah seraya mempersilakannya masuk.
Dengan senang hati Herman dan Erna masuk.
'' siapa, bun ? '' seorang pria muncul menghampiri mereka .Pria bertubuh sedikit tambun dan berperut agak menjulang itu mendekat dan melingkarkan tangan di pinggang Soraya.
Melihat itu Herman dan Erna sontak membelalakkan mata dan saling lempar tatapan.
'' ini , yah . Mas Herman dan Erna anaknya. Mereka ini mantan suami dan anak tiriku '' ucap Soraya memperkenalkan ayah dan anak yang menatapnya penuh tanya.
'' oh, iya.. perkenalkan saya Erwin , suami Soraya '' Erwin tersenyum lebar seraya mengulurkan tangan pada Herman.
Herman menyambut jabatan tangan itu dengan perasaan gampang.
Melihat dan mendengar fakta bahwa Soraya kini telah memiliki pasangan membuat perasannya hancur.
Penantiannya selama dua tahun sia-sia. Buah kesabarannya berujung pahit.
'' ayah kedalam gih, bilang ke bapak dan ibu ada tamu. Anak-anak juga disuruh keluar sekalian '' pinta Soraya lembut.
Keduanya sempat menautkan tatapan mesra dengan telapak tangan Erwin mengelus perut Soraya.
Samar terlihat oleh mata kedua orang yang memperhatikan ketika tangan itu menekan bagian baju tersebut.
Perut Soraya membuncit.
'' kam-kamu sudah menikah ? '' tanya Herman masih dengan tampang shock nya.
Soraya tersenyum lebar dan mengiyakan.
'' iya ,mas Her.
Saya bertemu suami sewaktu bekerja di kota x. Dan kebetulan kami juga bekerja di supermarket yang sama ''
Soraya lantas lanjut menceritakan.
Saat itu, atas saran seorang teman lamanya, Soraya dan Ririn pergi ke kota X.
Mereka di beri tempat tinggal sementara dan Soraya di tawari pekerjaan.
Kebetulan suami temannya adalah seorang manager di sebuah supermarket.
Soraya pun tak nyia - nyiakan bantuan temannya itu.
Ia bekerja sambil mengurus anak semata wayangnya.
Beruntung sang teman mau membantu menjaga Ririn sepulang sekolah ketika Soraya belum pulang kerja.
Di tempat kerjanya itulah Soraya bertemu dan berkenalan dengan Erwin yang juga sesama pekerjaan di supermarket tersebut.
Singkatnya. Enam bulan kemudian, mereka sepakat menjalin hubungan.
Erwin adalah seorang duda dengan seorang anak perempuan yang baru saja tamat SMA.
Meski sempat ragu karena trauma pada kegagalan sebelumnya, namun Erwin mampu meyakinkannya hingga akhirnya mereka pun menikah.
Tak lantas percaya begitu saja, Soraya belajar dari pengalaman dan memilih untuk tidak langsung mempunyai anak.
Enam bulan pertama, ia mencoba mengenal lebih dalam bagaimana karakter dan sikap suami . Terutama anak tirinya yang bernama Siti.
Setelah melalui banyak dilema dan pertimbangan, Soraya akhirnya bisa bernafas lega.
Karena Tuhan telah berbaik hati memberikannya keluarga baru yang tak seperti yang dulu.
Erwin sangat pengertian dan tak pernah memaksakan kehendaknya.
Ia selalu membicarakan apa saja dan akan mengambil keputusan jika Soraya sependapat.
Begitu pun dengan Siti.
Gadis yang beranjak dewasa itu menerima dan mau menganggap Ririn layaknya adik sendiri.
Ia bahkan minta agar ayah dan ibu sambungnya segera memberikan mereka adik.
Inilah kehidupan Soraya yang sekarang.
Bahagia.
Meski tak hidup berkelimpahan. Namun ia merasa cukup dan sangat bersyukur.
Sekarang ia tau bagaimana agar bisa hidup dengan bahagia. Sebelum memikirkan dirinya, ia harus lebih dulu mengutamakan kenyamanan dan perasaan anaknya.
Bagi seseorang dengan status tanpa pasangan, entah karena maut yang memisahkan atau pun karena perceraian.
Terkadang, jika akan memulai atau bahkan menjalin suatu hubungan anak selalu menjadi pihak yang secara tak langsung diharuskan menurut dann dituntut untuk mau mengerti.
Padahal seharusnya, anak lah yang dijadikan pertimbangan utamanya.
๐selesai๐
Hayo, di-like ya
__ADS_1
Di komen juga sekalian