
๐บ hem.. ๐บ
* * *
Meri prov.
" akh, sakit.. kumohon, berhenti... ini sakit.. ini benar-benar sakit " pekikku saat pertama kali ia menyelaminya.
" pelan - pelan.. kumohon pelan-pelan.. ini masih sakit .. rasanya masih sangat ngilu " pintaku saat ia memasuki ku untuk kedua kalinya.
Tapi di sesi berikutnya.
" enghhh... " yang keluar dari mulutku adalah sebuah eluhan panjang seiring dengan kuku yang menacap di punggung liatnya.
" sekarang sudah tidak sakit lagi, bukan ? " bisiknya yang mulai mempercepat tempo.
Aku menggeleng samar. Rasanya terlalu malu untuk mengakuinya jika kini yang kurasakan adalah sebuah kenikmatan.
" ah, ah, jangan berhenti.. lebih cepat lagi "
Sial. Batinku memaki diri sendiri, saat mulutku mengatakannya.
Ia menyeringai, tersenyum puas melihat ku terkulai lemas usai mencapai puncakku untuk yang kesekian kalinya.
* * *
Sudah seminggu di perbatasan.
Dan selama itu pula, ia yang menjadi perwakilan kerajaan, disibukkan dalam perundingan antar dua kerajaan yang tengah bersitegang.
Setiap harinya, pangeran Leo harus berhadapan dengan para petinggi dari kerja tetangga.
Ia tengah berusaha agar dalam perundingan yang mereka lakukan dapat menghindari perang tak berguna dan bisa mencapai kesepakatan damai .
Sementara itu, Meri yang tadinya datang dengan menyamar sebagai prajurit pilihan , kini menjadi tawanan ranjang sang tunangan.
* * *
Meri menyamping tubuhnya, menarik selimut agar kulitnya tak tertusuk hawa dingin.
Ia menatap nanar apa yang ada di hadapannya, tenda yang menjadi pelindung sekaligus saksi , hal yang baru saja ia dan pangeran Leo lakukan.
Pria itu bergerak, lalu merapat dan menciumi punggung yang tengah membelakanginya.
'' kau menyukainya, em ? "
Meri menggeliat. Geli, dan rasa itu kembali menjalar ke penjuru indra perasaannya.
" berbaliklah, lihat aku " melingkarkan tangan besarnya ke perut tunangannya dan memaksa agar tubuh itu berbalik menghadapnya.
Meri pun terpaksa berbalik.
' cup ' kecupan di keningnya yang kemudian turun ke hidung dan berakhir lama di bibir. Lidahnya bahkan memaksa masuk kedalam rongga mulut Meri.
" hentikan " Meri menarik diri dan memalingkan wajahnya.
" kau tak akan bisa menghindari ku, lagi Meri.
Karena sepulang dari sini, kita akan langsung menikah " menarik tubuh Meri masuk kedalam dekapannya.
Ia peluk erat tubuh yang tenggelam dalam balutan tubuh besarnya itu.
Ia belai dengan lembut setiap helai rambut panjang berwarna emas Meri dengan tak berhenti menghujani ciuman di pucuk kepalanya .
* * *
Namun semua tak berjalan seperti yang pangeran Leo harapkan.
Tak lama setelah membawa pulang Meri dari perbatasan, dan ditengah rencana pernikahan mereka, sang tunangan tiba-tiba jatuh sakit hingga tak sadarkan diri selama seminggu.
Hingga akhirnya diketahui jika Meri telah menegak racun. Meri putus asa dan berniat bunuh diri karena tak sudi menikah dengan si pria menyebalkan .
Pangeran Leo telah memberi luka dan trauma padanya. Menekan bahkan mengancamnya.
Meri tak kuas dan tak sanggup membayangkan jika harus hidup bersama pria seperti itu.
Dan tanpa pernah ia sadari, bahkan tak seorang pun akan menduganya, jika semua hal yang pria itu lakukan adalah karena pangeran Leo mencintainya.
Selama ia tak sadarkan diri, pria itu terus menungguinya dengan berada disisinya tanpa pernah beranjak barang sedetikpun.
Ia bahkan memerintahkan pada semua anak buahnya untuk mencari tabib terbaik yang ada seluruh penjuru negri.
Hingga akhirnya pertolongan pun datang , seorang tabib dari luar daerah dibawa untuk memeriksa keadaan Meri.
" Lady Meri tengah mengandung, karena itu ia tak sadarkan diri.
Racun yang ia minum diserap oleh rahimnya.
Jika ingin menyelamatkannya maka bayi yang ada dalam kandungannya harus digugurkan terlebih dahulu "
Hamil ? Mendengar itu pangeran Leo senang.
Tapi ia dihadapkan pada keputusan sulit.
Setelah berpikir sejenak, ia mantap memutuskan jika saat ini kesembuhan Meri adalah yang utama.
Dengan berat hati, ia pun merelakan buah cintanya yang ada dalam tubuh Meri.
Selang dua minggu kemudian, usai mengalami pendarahan yang cukup mengkhawatirkan, Meri mulai sadarkan diri .
Pangeran Leo senang. Meski ia sedih karena kehilangan calon anaknya, tapi setidaknya ia masih bisa melihat Meri hidup.
- -
__ADS_1
" maaf, tapi kau tak bisa menikahinya " tolak sang Raja saat ia minta agar pernikahannya dan Meri di lakukan seperti yang sudah direncanakan.
" aku sudah bicara dengan tabib yang mengobati Lady Meri.
Meski dia selamat , tapi karena pendarahan yang dialaminya saat proses pemulihan, hal itu membuat kondisi tubuhnya melemah dan akan kesulitan untuk bisa hamil lagi "
' deg ' pangeran Leo terpaku ditempatnya berdiri.
Padahal ia sudah berusaha menyembunyikan hal tersebut.
Seingatnya, hanya ia dan tabib saja yang tau hal itu.
Ia sengaja merahasiakannya dari semua orang, termaksud Meri dan pasangan Duke agar tak menimbulkan kepanikan.
" apa kau berniat jadi seperti ku? "
Pangeran Leo menggeleng dan mengatakan dengan tegas jika ia tak berniat memiliki banyak istri.
Baginya cukup Meri saja yang akan menjadi satu-satunya wanita salam hidupnya.
" kau hanya punya dua pilihan.
Jika kau tetap menikah dengannya maka kau harus melepas gelar mu.
Tapi kau juga tetap bisa memiliki keduanya.
Kau bisa naik tahta , tapi Meri tak bisa menjadi permaisuri. Ia hanya boleh menjadi selirmu "
Tidak adil. Padahal ayahnya saja menjadikan seorang wanita mandul sebagai permaisuri. Kenapa ia tak bisa berbuat hal demikian ? Tapi sekalipun ia jadi raja, ia tak akan mau memiliki lebih dari satu istri.
- -
Setelah pertemuan itu, pangeran Leo pun memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.
Berhari-hari memikirkannya, ia akhirnya dengan berat hati telah memutuskan untuk mengambil keputusan yang kedua.
Dan masalah tak terduga pun muncul.
Meri menolak meski ia dijadikan permaisuri sekalipun.
Hal tersebut membuat pihak kerjaan tersinggung.
Seorang lady menolak dinikahi seorang Putra Mahkota yang merupakan calon raja berikutnya.
Meri dan keluarganya dianggap meremehkan dan telah menghina nama baik kerajaan.
Mereka kemudian dia beri sanksi sebagai contoh bagi bangsawan lainnya agar tak ada lagi dapat bersikap tak sopan pada keluarga kerajaan.
Status dan semua harta milik Duke diambil.
Mereka sekeluarga pun di minta pergi ke sebuah desa terpencil yang ada di bagian paling ujung wilayah kerajaan.
'' kami tak masalah. Kami juga sudah muak dengan kehidupan kelas atas dan ingin suasana baru yang lebih tenang dan damai '' ucap sang ibu saat mereka dalam perjalanan ke tempat tinggal baru mereka dengan kereta kuda.
Perjalanan selama 2 hari itupun berakhir dengan berhentinya kereta didepan sebuah hamparan padang rumput sebelum akhirnya memasuki gerbang desa.
Tak ada banyak hal yang mereka miliki sekarang.
Hanya sebuah rumah dua lantai sederhana dengan lima orang pelayan .
Orang tua Meri dipercaya untuk menjadi kepala desa yang akan bertanggung jawab untuk mengelola desa kecil itu.
Dan itu bukanlah hal yang sulit. Mengingat dulu pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya jauh lebih rumit dan banyak.
Hanya sebuah desa kecil dengan lima puluh kepala keluarga yang ada didalamnya.
Sebuah desa yang begitu asri dan damai. Jauh dari kata perselisihan karena mereka terbiasa hidup dengan semangat gotong royong dan saling bahu membahu membantu satu sama lain.
Setahun dan dua tahun berjalan begitu saja. Meski awalnya sempat mengalami beberapa kendala, sekarang keluarga Meri sudah bisa beradaptasi dengan sangat baik.
Mereka menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan dan yang jauh dari kata persaingan .
Sungguh damai.
Tapi tetap saja ada yang kurang dari keluarga itu.
Meri jarang tersenyum dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri ditengah padang rumput didepan gerbang masuk desa.
Beberapa pria pernah mencoba mendekati dan mengajaknya berteman. Bahkan ada pula yang datang langsung ke orang tuanya untuk memperistrinya.
Namun Meri dengan tegas menolak. Ia tak berniat atau mungkin tak akan pernah mau menikah.
* * *
Di suatu senja yang cerah.
Sisa-sisa sinar matahari masih begitu terang.
Tampak Meri ditempatnya biasa menyendiri .
Kali ini ia berbaring, menyembunyikan tubuh diantara hamparan daun yang luas membentang .
" kau bilang pasti akan menikahiku, tapi nyatanya.. dasar cuma bisa bermulut besar.
Lihat siapa yang kini jadi pemenangnya?
Aku kan?
Pada akhirnya akulah yang berhasil membatalkan pertunangan dan pernikahan kita " Meri perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Ia mengingat masa-masa itu.
Miris. Antara benci dan rindu kini berkecamuk di batinnya.
__ADS_1
Satu sisi ia membenci sikap menyebalkan pria yang telah merusak dan merampas hal paling berharga dalam hidupnya.
Sedang disisi lainnya, ada rasa yang entah sejak kapan munculnya.
Mungkin sejak pria itu menyentuh tubuhnya. Tapi jika benar karena itu, maka seharusnya itu hanya lah sebuah nafsu. Bukan cinta.
Cinta ? Tidak ini bukan Cinta.
Tapi kenapa ia rindu ? Kenapa ia ingin bertemu dengan pria itu. Ingin melihat wajahnya dan disentuh lembut seperti yang pernah ia rasakan.
" kenapa aku sangat merindukanmu, sialan?
Seharusnya kan aku membencimu... "
Meri merutuki diri yang telah kecolongan karena hatinya yang terpaut pada pangeran Leo.
'' lihat aku ''
Meri tersentak.
Seperti hembusan angin segar yang menerpa hatinya yang tandus. Suara itu terdengar begitu jelas.
Meri semakin menutup rapat kedua matanya. Berharap ia dapat mendengar lagi suara itu , meski hanya dalam pikirannya saja.
" Meri, sayangku.. buka matamu "
Mata dan bibirnya bergetar. Hanya dengan suaranya saja sudah mampu membuat gejolak rindunya naik ribuan kali lipat.
Meri meremas gaunnya, menahan rasa ingin berteriak.
" dasar.. "
Tidak. Ini terlalu nyata. Meri merasa itu bukanlah sebuah suara yang ada dalam pikirannya saja.
Ia beranikan diri untuk membuka mata dengan perlahan.
' hiks.. hiks.. huweeeeee ' tangisnya pecah saat mendapati sosok yang begitu ia rindukan yang entah sejak kapan ada dan berbaring disampingnya.
Meri membenamkan wajannya di dada bidang dan memeluknya erat. Sangat erat bersamaan dengan tangisnya yang kian menjadi lebih deras.
" aku merindukanmu " ucapnya mengecup pucuk kepala Meri.
" kau jahat " memukul punggung itu dengan kepalan tangannya.
" maafkan aku.. "lirihnya semakin menghujani ciuman pada wanita yang sudah begitu ia rindukan.
Sama halnya dengan Meri, pangeran Leo pun sudah tak mampu lagi menahan rindu yang tertahan selama dua tahun tak bertemu.
Ia yang seharusnya bersiap untuk naik tahta, nyatanya tak sanggup dan memilih mundur dan menyerahkan kursi penerus kerjaan pada saudara laki-lakinya.
Padahal tinggal selangkah lagi, maka ia akan dilantik sebagai raja.
Ia hanya perlu melangsungkan pernikahan dengan seorang lady dari keluarga bangsawan terhormat.
Tapi hatinya tak bisa menerima wanita lain lagi.
Meri telah duduk di singgasananya dan bertahta didalamnya.
Ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyusul sang belahan jiwa.
Yang bukan hanya statusnya saja yang ia lepaskan, ia juga telah merelakan dengan meninggalkan kehidupannya yang nyaman di sana.
'' aku mencintaimu.
Aku tak bisa menjalani hidup tanpamu '' pangeran Leo menarik tubuh, menatap Meri lekat-lekat lalu mempertemukan kening mereka.
Dan begitulah, pernikahan yang sempat tertunda akhirnya terlaksana jua. Meski dengan cara yang sangat sederhana.
Kini mereka siap menyongsong kebahagiaan masa depan bersama.
Tak ada lagi si pria menyebalkan, dan tak ada lagi Meri si gadis yang tak menarik.
Mereka menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain dengan cinta yang tulus .
Sama halnya dengan pangeran Leo yang memilih untuk melupakan kehidupannya di istana, demikianpun dengan Meri. Ia berusaha untuk melupakan kehidupan sebelumnya.
Mereka pun hidup bahagia bersama keempat anak mereka selamanya.
Lalu , apa yang terjadi dengan Meri di kehidupan yang sebenarnya ?
* * *
Suasana rumah kontrakan sederhana yang terletak di antara jalan sempit itu terlihat haru.
Keluarga tersebut sedang berduka. Si sulung dari tiga bersaudara telah berpulang ke Yang Maha Kuasa .
Meri , atlet yang akan mengikuti pertandingan voli tingkat internasional, meninggal dunia.
Menurut penuturan sang ibu, Meri yang ia kira masih tertidur ternyata telah dalam kondisi tidak bernyawa.
Dan berdasarkan hasil otopsi , kematiannya disebabkan pembuluh darahnya pecah secara mendadak karena serangan struk .
Dan itu terjadi saat ia dalam keadaan tidur.
Siapapun tak menyangka, jika gadis bertubuh bugar tersebut meninggal dalam keadaan demikian.
Maut dan jodoh tak ada yang tau bukan ?
๐selesai๐
Hayo, di-like ya
Di komen juga sekalian
__ADS_1