
Suasana pagi di rumah kontrakan berukuran delapan persegi itu sedikit ramai oleh kesibukan Tania yang sedari subuh tadi telah berkutat di dapurnya. Sebagai wanita yang bersuami, hal seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin buatnya. Menyiapkan sarapan dan segala keperluan suaminya, sebelum akhirnya harus pergi kerja di pabrik.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam pagi. Sarapan di meja sudah tertata. Giliran Tania untuk membangunkan suaminya yang masih molor di kamarnya.
"Mas Doni." Tania mengguncang lengan suaminya hati-hati. Salah-salah bila terbangun kaget, maka Tania akan kena semprot pagi-pagi.
"Mas, ayo bangun."
Tetapi pria betatto di lengannya itu malah tambah nyenyak.
"Mas, aku harus segera berangkat kerja. Ayo kita sarapan bareng." Cinta mengusap lengan kekar itu dengan lembut.
"Kerja ya kerja saja sana! Aku masih ngantuk! Ganggu orang tidur aja kerjaannya!" gertak Doni, membuat hati Tania langsung mencelos karena ucapannya.
Hampir setiap hari, tanpa sebab akibat, Doni selalu uring-uringan kepada Tania. Bahkan belakangan ini suaminya itu selalu pulang petang. Semalam saja pulang ke rumah hampir pukul dua dini hari. Bila ditanya oleh Tania alasannya selalu bilang cari duit. Padahal selama dua tahun menikah, Doni seperti menumpang hidup kepada Tania. Jarang menafkahi Tania lahir maupun batin.
Tania hanya bisa menghela nafas sepenuh dada tiap kali mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari suaminya itu. Bukannya ia tidak bisa melawan balik kepada suaminya, tetapi lebih ke takut dengan syariat agama yang tidak memperbolehkannya membangkang atau berbicara kasar kepada suami. Yang mana bila itu sampai dilakukan tanggungannya adalah dosa besar.
"Baiklah. Kalau gitu aku pamit kerja, Mas. Sarapannya sudah siap di meja makan. Jangan lupa kunci pintu, Mas," pesan Tania kepada Doni.
"Hem," Doni hanya bergumam malas, masih dengan posisi tubuhnya yang tidur tengkurap.
Setelah itu Tania segera keluar dari rumahnya. Kunci rumah yang memang hanya sisa satu dari pemilik rumah kontrakannya itu, membuat Tania tidak bisa membawa kunci cadangan. Untuk membuat duplikatnya belum ada ijin dari pemilik aslinya.
Wanita itu pergi ke pabrik tempatnya bekerja dengan menaiki motor tua yang ia pinjam dari pegadaian rumahan menggunakan uang tabungannya. Sebelum jam tujuh Tania harus sudah tiba di pabrik. Dan hal itu yang membuat Tania menambah kecepatan laju motornya yang berjalan lambat seperti siput.
Dalam perjalanan itu Tania tak sengaja berpapasan dengan Sari di trafic light. Sari adalah teman karib Tania mulai dari masa kecil sampai sekarang.
"Berangkat kerja, Tan?" sapa Sari dari pada jemu menunggu lampu berubah jadi hijau.
__ADS_1
Tania hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah kinclong banget."
"Biasalah... Mau mejeng." Sari berkata sambil menaik turunkan alisnya.
"Huuu... Pacaran mulu!"
Lampu hijau pun menyala.
"Biarin. Weeeeekk...."
Sari menarik tuas motornya lebih dulu meninggalkan Tania yang tentu sedikit lebih lambat laju motornya dibanding motor yang dinaiki Sari.
Beruntung saja Tania masih tidak telat masuk pabrik. Kurang dari lima menit saatnya masuk, Tania sudah tiba di pabrik tempatnya bekerja selama ini.
Setiap hari Tania bekerja di pabrik dari pagi hingga petang. Bahkan tak jarang meski hari minggu ia sering mengambil lemburan di pabriknya. Tania memang perempuan pekerja keras. Cita-citanya sangat tinggi. Ingin menjadi orang sukses dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Andai Doni ada sedikit usaha untuk mencukupi nafkahnya, mungkin Tania tidak akan sekeras ini bekerjanya. Belum lagi untuk membayar kontrakan tiap bulan, dan juga biaya untuk di makan sehari-hari semua Tania yang menanggung. Seperti dunia terbalik, Doni setiap hari meminta jatah rokok dan bensin kepada Tania tanpa sungkan. Bisa dikatakan Tania menikahi pria pengangguran.
Meski begitu wanita itu tetap memilih bertahan bersama Doni karena tak mau adanya perceraian dalam kamus hidupnya. Ia tahu bagaimana rasanya hidup dengan keluarga broken home. Walau sampai dua tahun pernikahannya itu Tania belum di karuniai anak, tetapi sekuat hati Tania tidak akan bercerai.
Tak terasa waktu merambat dengan cepat. Hari sudah petang. Saatnya Tania pulang dari pabrik. Sebelum pulang Tania biasa mampir membeli nasi bungkus di warung tempat langganannya. Selain murah meriah, ibu pemilik warung itu juga sangat baik terhadap Tania. Bahkan ibu itu sering menawari Tania untuk bekerja di warungnya saja dari pada bekerja di pabrik. Tetapi Tania selalu menolaknya karena memang selisih penghasilan bekerja di warung itu dan di pabrik tentu jauh berbeda.
Bukan tanpa sebab ibu itu mengajak Tania bekerja dengannya. Sesama wanita ia merasa kasihan melihat Tania bekerja keras sebagai buruh di pabrik. Apalagi melihat Tania yang tak kunjung diberikan momongan, bisa disebabkan karena Tania terlalu kelelahan menurut ibu itu.
"Beli sebungkus saja, Tan?" tanya wanita paruh baya bernama Ima.
"Iya, bu Ima."
__ADS_1
"Kamu nggak beli juga apa?"
Tania hanya menggeleng. Untuk makan malam ini Tania akan makan mie instan saja. Dan nasi bungkus itu akan ia berikan untuk suaminya.
"Ini, Tan." Ibu Ima memberikan dua bungkus nasi kepada Tania.
"Kok dua, Bu?"
"Buat kamu." Lalu ibu Ima memberinya langsung ke tangan Tania.
Tania menerimanya sedikit sungkan. Ibu Ima memang selalu baik dengannya, juga sering memberinya nasi gratis bila dagangannya sedang sedikit sepi.
"Terimakasih, Bu," seru Tania sebelum kemudian pergi untuk segera pulang ke rumah.
Sekitar hampir jam tujuh malam Tania tiba di rumahnya. Kondisi rumah sudah terang oleh pencahayaan lampu di rumahnya. Wanita itu meletakkan motornya di teras depan rumah. Dari dalam ia mendengar suaminya sedang berbicara dengan seseorang. Tetapi jika melihat sandal yang ada di teras itu sepertinya tidak ada tamu malam ini.
Pelan-pelan ia membuka pintu rumahnya dengan menggumamkan salam, tetapi rupanya suaminya itu terlalu asyik bertelponan sehingga tidak mendengar ucapan salam Tania.
Terdengar pria itu tertawa sangat senang dengan seseorang yang di telponnya itu. Awalnya Tania tidak terlalu kepo dengan siapa suaminya itu bertelponan. Ia malah langsung beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Menyalin nasi bungkus itu pada piring yang telah disiapkan. Beralih kemudian menyalakan kompor untuk merebus air buat memasak mie instan.
Saat Tania akan menyapa Doni yang masih betah bertelponan di kamarnya, tanpa di sengaja Tania mendengar obrolan suaminya itu dengan nada yang cukup mesra.
"Iya, Sayang. Percaya deh, aku tuh sumpah mati cinta sama kamu."
Deg.
*
Hai hai hai....
__ADS_1
Semoga kalian suka ya dengan cerita ini. Tidak bosan othor selalu minta dukungan kalian semua. Tekan like, vote dan subscribe. Dan jangan lupa komentarnya juga ya...
Salam sayang dari othor😘