Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 14


__ADS_3

Begitu mobil itu kembali melaju di jalan, Zafran mengajak Tri untuk pergi ke klinik milik Yudha. Setelah melihat wajah Tania itu yang membuat Zafran semakin penasaran dan ingin menanyakannya kepada Yudha.


Sedangkan Yudha yang sudah tahu jika Zafran akan datang menemuinya, karena sebelumnya Zafran sudah menghubunginya lebih dulu, menunggu Zafran di ruang kerjanya.


Tak lama setelah itu Zafran pun sampai di klinik itu. Pria itu langsung melangkah ke ruang kerja Yudha dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu lagi.


"Sepertinya penting sekali?" tanya Yudha begitu melihat paras sahabatnya kentara gusar.


"Soal wanita itu," seru Zafran tanpa menyebut namanya.


Yudha sedikit mengerutkan keningnya.


"Wanita siapa?" tanyanya setelah berpikir lama tapi kunjung paham.


"Wanita setengah milyar itu," sahut Zafran dengan nada jengah.


Sungguh ia tidak menduga keputusannya bertanggung jawab kepada korban kecelakaan yang di lakukannya itu akan menghabiskan hampir seluruh tabungan yang ia miliki. Bukannya tidak ikhlas, tetapi ia harus lebih kerja keras lagi setelah ini agar uang pribadinya kembali bertambah.


"Ooh... Tania," sahut Yudha.


"Bukan!"


"Bukan?"


"Dia Tata," Zafran mengatakan sesuai wanita itu mengenalkan namanya tadi.


Yudha seketika tercengang. Dari mana Zafran tahu jika wanita itu kini wajahnya mirip dengan Tata. Apakah Zafran pernah bertemu, atau hanya mendapatkan kiriman fotonya? Padahal selama ini Zafran tidak tahu menahu dan tidak mau kepo dengan Tania. Baginya selama tanggung jawabnya selesai, ya sudah.


Atau apakah Siska yang diam-diam memberi foto Tania kepada Zafran. Karena sebelum datang ke sini tadi Zafran meminta nomor ponsel Siska.


"Tata siapa, Zaf?" tanya Yudha pura-pura bego.


"Kamu pasti tahu kan?" Zafran balik tanya jengah.


"Aku tahunya Tata mantan kamu. Apa ini Tata yang lain?"


Brakk!


Zafran menggeprak meja kerja Yudha mulai emosi.


"Yudha, aku nggak bercanda!"


Yudha diam saja. Menunggu Zafran melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Apa tujuan kamu merubah wajah wanita itu mirip dengan Tata?" tanyanya langsung menuduh Yudha sebagai dalang semuanya.


"Hei, soal itu aku tidak tahu! Aku hanya memasrahkan sama dokter yang menanganinya, meminta hasilnya bagus dan tidak mengecewakan. Mana aku tahu dokter itu merubah wajahnya mirip sama Tata," jelas Yudha.


"Halah, itu akal-akalan kamu kan?"


Zafran sangat yakin jika Yudha lah yang menyuruh dokter di sana untuk merubah wajah Tania mirip dengan Tata.


"Akal-akalan apaan, Bro! Coba kamu pikir, kalau memang aku meminta dokter di sana merombak wajah Tania berubah total jadi mirip dengan Tata, uang lima ratus juta mu nggak akan cukup."


Zafran masih terdiam.


"Mungkin memang sebelumnya ada kemiripan antara Tania dengan Tata. Dan semakin mirip setelah merubah rahang giginya. Itu yang aku dengar dengan penjelasan dokter di sana." Lalu Yudha menunjukkan foto sebelum Tania menjalani oplas kepada Zafran, yang di kirim oleh dokter yang menanganinya di sana.


Zafran menghentak nafasnya kasar.


"Entahlah, Yud. Kepalaku pusing," seru Zafran pada akhirnya sambil memijiti pangkal hidungnya.


Pria itu sudah tidak mau lagi memperpanjang hal ini. Mungkin benar ini semua hanya suatu kebetulan saja. Sesuai kesepakatan di awal, itu sudah bukan menjadi urusannya lagi.


Dalam seperkian menit mereka sama-sama terdiam. Berkutat dengan pikirannya masing-masing. Zafran yang merasa entah karena hatinya kembali di ingatkan oleh kenangan masa lalunya itu, sedangkan Yudha yang kembali sibuk dengan berkas yang di bacanya.


"Aku balik, Yud," pamit Zafran akhirnya.


"Katakan pada suster itu, gaji terakhir dia sisa bulan ini saja," ucap Zafran lagi.


"Ooh... Oke! Nanti aku sampaikan. Baik-baik ya... Cepetan move on, dah berapa tahun ini," seloroh Yudha sambil mengantar Zafran sebatas pintu ruang kerjanya.


Zafran tidak merespon apa-apa. Sebenarnya ia sudah berusaha move on, tetapi luka hati yang di torehkan oleh mantannya itu yang sangat sulit di lupakan.


Sedangkan Yudha kembali termenung dalam ruang kerjanya. Hatinya tiba-tiba berdesir perih. Terasa sesak menyumbat dada. Andai semua itu berani ia ungkapkan, mungkin....


Sekitar hampir setengah jam perjalanan akhirnya Zafran tiba di rumahnya. Pria lajang itu langsung di sambut oleh kedua orang tuanya yang rupanya sengaja menunggu kedatangannya. Tak hanya itu, ternyata di rumah besar itu juga sedang ada tamu yang berkunjung. Yang Zafran sendiri sudah tahu jika tamu itu adalah rekan bisnis ayahnya.


Satu hal yang membuatnya agak curiga yaitu setelah melihat tamu itu membawa anak gadisnya juga. Karena tumben-tumbenan ada rekan bisnis papanya yang datang bersama anak gadisnya.


"Zafran, duduk sini, Nak," ucap ibu Diana menyuruh anaknya duduk bersama di ruang tamu itu.


Meski sebenarnya malas, demi menghormati tamu akhirnya Zafran ikut duduk di antara mereka.


"Zaf, dia ini putrinya pak Hadi, namanya Dinda."


Pak Lukman memperkenalkan Zafran kepada perempuan bernama Dinda. Pria itu hanya mengulas senyum tipis sambil mengangguk saja. Mengabaikan uluran tangan Dinda yang mengajaknya berjabatan tangan.

__ADS_1


Wanita itu tentu langsung mencelos di begitukan oleh Zafran. Tetapi kemudian bisa segera menutupi wajah kesalnya lantaran teringat tujuan utamanya datang ke sini karena pak Lukman dan papanya berencana akan menjodohkan mereka.


Sedangkan ibu Diana melirik kecewa kepada anaknya yang kurang sopan kepada tamu menurutnya.


"Maafkan Zafran nak Dinda, dia--"


Belum selesai ibu Diana berucap, Dinda langsung menyelanya.


"Ah, tidak apa-apa, Tante. Mungkin mas Zafran kecapekan pulang kerja, makanya sempat melamun barusan," ujarnya yang entah mengapa di telinga Zafran perkataan itu terdengar manis di bibir saja.


Setelah itu mereka semua kembali tersenyum untuk mencairkan suasana.


"Ee... Maaf, saya mau istirahat," pamit Zafran ceplas-ceplos seperti anak kecil yang tak pernah di ajari sopan santun.


"Tunggu dulu, Zaf," cegah pak Lukman.


Zafran menurut, karena tatapan ibunya menyuruhnya untuk menurut dan duduk kembali.


"Sebenarnya ayah dan pak Hadi berencana akan menjodohkan kamu dengan Dinda," jelas pak Lukman.


Zafran tidak kaget, karena itu sesuai dengan tebakannya. Sudah sering pula kedua orang tuanya berencana menjodohkannya namun selalu gagal karena dari sikap Zafran sendiri.


"Menurut kamu bagaimana, Zaf?" ibu Diana ikut bertanya.


Wanita paruh baya itu mengelus punggung Zafran dengan penuh kasih. Sudah sering pula wanita itu mengatakan jika ia sudah menginginkan seorang cucu, apalagi usia Zafran sudah cukup untuk menikah. Dari isyarat matanya Zafran sudah paham, sepertinya ibunya itu menyuruhnya untuk mencoba saja.


"Maaf, Ayah, Ibu, pak Hadi," ucap Zafran kemudian.


"Saya tidak bisa menerima perjodohan ini," lanjutnya.


Kedua orang tua Zafran terperangah, karena tak biasanya anaknya itu langsung menolak di tempat.


"Apa setidaknya coba kenalan dulu, Zaf," pak Lukman memberi usulan, karena baginya anaknya itu tidak punya alasan lain untuk menolaknya. Setahu dia Zafran tidak memiliki kekasih lagi setelah gagal menikah tiga tahun silam.


Zafran menggeleng kepala.


"Kenapa, Nak? Apa Dinda kurang menarik?" Pak Hadi ikut bimbang, karena rencana yang sudah di susun rapi bersama pak Lukman sepertinya akan gagal total.


Sedangkan wanita bernama Dinda itu wajahnya sudah sangat masam, setelah mendengar penolakan mentah-mentah dari pria tampan seperti Zafran.


"Apa kamu sudah punya calon sendiri?" ibu Diana bertanya dengan sabarnya.


Zafran menganggukkan kepalanya dengan mantap.

__ADS_1


*


__ADS_2