
"Sudah siap, Ta?"
Siska, seorang perawat yang di pekerjakan untuk merawat dan menjaga Tania selama berada di Korea menyapa Tania yang sedang merias diri di kaca rias.
"Tunggu sebentar lagi, Sis," sahut Tania sambil memakai hells nya dan bercermin sekali lagi. Memastikan tampilan dirinya yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
Siska tersenyum melihatnya. Selama wanita itu oleh dokter Yudha di tugaskan sebagai perawat pribadi Tania, ia mengenal sosok Tania sangat baik. Bahkan cerita pilu sebelum kejadian naas malam itu, Tania menceritakannya kepada Siska tanpa rahasia apa-apa lagi. Bisa di bilang mereka berdua sudah dekat layaknya pasangan sahabat. Sudah biasa menyebut nama masing-masing tanpa embel-embel lainnya. Apalagi setelah tahu jika mereka berdua sama-sama pernah memiliki masa lalu yang pahit dengan pasangan, membuat mereka bertambah dekat.
"Sudah cantik kok," seloroh Siska sambil memegangi pundak Tania, berdiri di belakangnya.
Tania tersenyum riang. Menatap wajah Siska yang tersenyum manis lewat pantulan cermin.
"Ayo, Ta," ajak Siska lagi.
Tania. Wanita buruk rupa yang selalu di hina oleh suaminya dahulu kini telah berubah menjadi wanita yang rupawan. Layaknya wanita berkelas. Bahkan setelah wajahnya berubah drastis wanita itu tak lagi mau di panggil dengan nama Tania. Berganti menjadi Tata.
Lalu bersamaan Tania dan Siska keluar dari apartemen yang selama ini mereka tempati semenjak berada di Korea. Saat ini juga mereka berdua akan kembali ke Indonesia. Ke tempat asal mereka berdua. Tetapi sungguh wanita itu tidak berharap akan bertemu lagi dengan suaminya itu di sana.
Ralat! Bukan suami. Mungkin sudah jadi mantan suami. Karena Tania yakin pria lacknat itu pasti sudah hidup bahagia bersama Sari. Dan setelah kembalinya ia ke negeri sendiri, Tania telah bertekad akan menjadi orang lain. Orang baru. Yang tak lagi mengenal siapa-siapa di masa lalunya.
Hanya ada dua nama yang Tania kenali sekarang, yaitu Siska dan juga dokter Yudha. Dan satu lagi yang Tania harus kenali, dia adalah Zafran. Laki-laki yang membuatnya harus menjalani seperti ini, namun beruntungnya sangat bertanggungjawab kepadanya.
Tak di tampik jika seluruh penampilan dan biaya hidup Tania itu adalah Zafran yang menanggungnya. Walau sebenarnya satu kali pun Tania tidak tahu seperti apa wujud dan rupa Zafran, tetapi Tania merasa sangat berhutang budi kepadanya.
"Mm, apa kamu yakin mau kembali ke kontrakan?" tanya Siska saat mereka dalam perjalanan menuju airport.
"Entahlah, Sis. Tapi di sana aku butuh beberapa barang penting milikku," jawab Tania benar adanya.
Wanita itu sangat membutuhkan ijazahnya yang kemungkinan masih ada di kontrakan itu. Sebab sepulangnya itu, Tania berencana akan mencari pekerjaan sebagai penyambung hidup, yang otomatis membutuhkan lampiran ijazah jika ingin mencari pekerjaan yang sepadan dengan ijazah SMA yang ia miliki.
"Trus kalo mereka tanya kamu siapa, mau jawab apa? Katanya sudah nggak mau tahu sama orang di sekitar masa lalu?"
"Itu yang aku bingung, Sis. Bantu mikir dong..."
"Kalau menurutku lebih baik kamu nggak usah ke sana lagi. Maksudku, kamu bisa minta tolong bantuan orang lain yang mengambilnya dan suruh orang itu ngaku sebagai saudara kamu. Beres kan?"
__ADS_1
Mendadak senyum kecil Tania terbit. Usulan dari Siska itu cukup masuk akal baginya. Tetapi seketika wajah ayu wanita itu murung, ia tidak punya uang untuk membayar orang suruhannya itu. Bukankah menyuruh orang juga pasti ada upahnya?
"Hei, mikir apa lagi sih?" Siska menyenggol lengan Tania yang kedapatan sedang melamun.
"Aku harus segera dapat pekerjaan, Sis," ucapnya tiba-tiba yang membuat Siska menarik nafas dalam-dalam saat mendengarnya.
"Mending nggak usah mikirin itu dulu. Sekarang waktunya kita pulang. Apa kamu nggak kangen sama masakannya bu Ima yang kamu bilang enak-enak di banding makanan di sini." Siska berkata dengan riangnya.
"Kangen banget, tapi kayaknya aku masih nggak siap ketemu bu Ima secepat ini."
Sotot mata Tania menjadi sendu. Terbayang wajah ibu Ima yang selama ini selalu baik dengannya. Tentu Tania sangat merindukan ibu Ima.
"Gampang. Wajah kamu kan sudah beda nih, pura-pura nggak kenal dulu. Pokoknya setelah nyampe kita wajib makan di warungnya ibu Ima itu," seru Siska memberi solusi.
Memang selama ini secara tidak langsung Siska telah menjadi motivator bagi Tania. Andai tidak ada Siska yang begitu sabar mendampinginya, mungkin Tania sudah tidak lagi di dunia ini. Sebab tak hanya sekali dua kali Tania mencoba bunuh diri, tetapi selalu berhasil di bujuk oleh Siska.
Flashback
"Kamu jangan bodoh, Tania! Seharusnya kamu bersyukur Tuhan memberimu kesempatan memiliki hidup yang lebih baik dengan wajah kamu yang sekarang. Tolong lah... Lelaki bejat seperti suamimu jangan kamu pikirkan lagi. Itu sampah! Sampah, Tan!" ucap Siska sambil memeluk erat pada Tania yang berhasil ia tahan saat akan melompat dari jendela kamar gedung rumah sakit tempat Tania di rawat.
"Tania, dengar! Tolong dengar aku!" Siska menatap wajah Tania lekat-lekat, sambil merangkum kedua pipinya dengan tangannya.
"Kamu cantik, Tania. Kamu bukan Tania yang dulu lagi. Pergunakan wajah kamu ini untuk menjadi orang baru, orang asing. Jangan pedulikan mereka yang pernah menyakitimu. Lupakan! Andai suatu saat kamu tidak sengaja dipertemukan lagi dengan mereka, seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dengan wajah kamu yang sekarang. Paham!"
Sorot mata Siska ikut mengembun saat mengatakannya. Bukan maksud dirinya untuk mengajari wanita sebaik Tania untuk balas dendam. Tetapi Siska sudah kehabisan kata-kata untuk bisa mencegah Tania mengulangi perbuatan nekatnya itu.
Tania terdiam cukup lama. Entah apa yang di pikirkannya. Tetapi tak lama setelah itu, Tania mengusap bersih air matanya. Tersenyum tipis kepada Siska, dan kemudian mereka pun saling berpelukan erat.
"Jangan tinggalkan aku, Suster. Setelah aku pulang nanti aku tidak punya siapa-siapa kecuali suster," mohon Tania.
Siska melerai pelukannya. Kemudian wanita itu tersenyum sambil mengangguk kepada Tania.
"Mulai saat ini jangan panggil aku suster. Panggil Siska. Hem?"
Tania mengangguk.
__ADS_1
"Tolong jangan panggil aku Tania lagi, Siska. Aku benci nama itu," seru Tania kemudian.
"Bagaimana kalau aku ganti nama kamu eemmm.... Alexandra, Clara, Janny, atau Berbie," usul Siska yang mampu membuat Tania terkekeh kecil.
"Jangan lah... Kamu pikir aku wanita bule apa?" tolak Tania setelah mendengar nama yang di rekomendasi oleh Siska berbau kebaratan semua.
"Trus panggil apa dong, Ta?"
"Nah, itu dia. Panggil aku Tata!"
"Tata?"
"Hem. Setidaknya itu masih jadi ciri khas nama Indonesia."
Siska tersenyum senang melihat keakraban mereka yang terasa menyenangkan.
"Baiklah nona Tata," ucap Siska kemudian.
"Ah, kenapa ada embel-embel nona?"
"Wajah kamu ini pantas untuk menjadi nona besar."
Tania hanya mendengus tak percaya.
"Aamiin, deh. Aku aminin saja, siapa tahu kenyataan," seloroh Tania.
*
Hai Hai... Penasaran nggak nih sama visual Tania?
Baiklah... Berhubung othor lagi baik hati, ehem... ehem... Othor kasi visualnya ya..
Kalau misalnya tidak cocok sama bayangan readers, othor mohon maaf. Hehe....
__ADS_1