
Sore itu mendadak Zafran ingin datang ke rumah sakit untuk menemui perempuan yang semalam ia tabrak. Awalnya yang ia menyerahkan semua kebutuhan wanita itu kepada Yudha, mendadak penasaran setelah Yudha memberitahu nama wanita itu. Apalagi namanya mirip dengan nama mantan kekasihnya. Ralat! Bukan mantan kekasih, karena sampai sekarang Zafran masih terikat hati dan belum mengakhirinya.
Tetapi tanpa ia sangka kedatangannya ke rumah sakit bersamaan dengan wanita itu ingin melarikan diri, yang akhirnya membuatnya urung untuk menyelidiki siapa wanita yang bernama Tania itu.
Zafran menyerahkan sepenuhnya kepada Yudha lagi, saat semua keperluan untuk berangkat ke bandara malam ini juga telah selesai di urus. Ia juga tidak ikut mengantar ke bandara, lantaran malam itu juga ia di mandat ayahnya untuk menemui klien bisnisnya.
Dan tak lama setelah itu mereka berpisah di klinik milik Yudha. Dengan Yudha, Tania, dan seorang perawat yang bertugas menjaga Tania, telah berangkat menuju bandara. Dan Zafran yang kemudian ikut pergi untuk menemui klien penting.
Selama perjalanan menuju bandara itu Tania terlihat sangat terlelap. Itu karena Yudha sengaja memberinya suntikan tenang agar wanita itu tidak lagi memberontak di jalan. Yudha yakin setelah wanita itu sadar nanti pasti kaget dirinya sudah ada di mana. Tetapi Yudha sudah mempersiapkan sebuah jawaban yang menurutnya tepat, andai nanti wanita itu tetap memberontak.
Sekitar tujuh jam perjalanan mereka pun tiba di Korea. Dan Tania sendiri masih belum sadar dengan keberadaan dirinya saat ini. Itu memudahkan Yudha untuk segera membawa Tania ke rumah sakit yang sudah mereka pilih sebelumnya untuk menjadi tempat wanita itu mengoperasi wajahnya.
Sesampainya di rumah sakit yang di tuju, Yudha beserta dokter yang akan menangani operasi bedah plastik itu langsung memasuki ruangan OK. Tinggal menunggu prosesnya saja, akan seperti apa perubahan wajah Tania setelah menjalani operasi.
Memang butuh waktu yang tidak instan jika menginginkan hasil yang maksimal. Tetapi Zafran, si penanggung biaya, sudah bertekad akan membantu semuanya hingga tuntas.
Tiga bulan berlalu....
Doni tak pernah jemu menunggu istri yang telah lama ia sia-siakan di depan area pabrik tempat Tania bekerja. Pria itu selalu tepat waktu bila saatnya buruh di pabrik itu waktunya pulang, ia selalu stand by di sana.
Bukan karena pria itu menyesal dan merasa kehilangan Tania. Tetapi lebih ke rasa kehilangan ATM berjalan miliknya. Terus terang selama memutuskan untuk hidup bersama Sari, pria itu baru sadar jika wanita yang di pilihnya itu lebih cerewet di banding Tania yang lebih banyak mengalah kepadanya.
Tak di tampik terkadang ia merindukan sosok yang kalem seperti Tania, tetapi jika teringat wajahnya yang jauh langit bumi dengan Sari, Doni kadang suka ngeri sendiri. Entah apa yang membuatnya dirinya dulu mau di nikahkan dengan Tania. Karena memang rasa sesal itu pasti datang di belakang.
Rasa kehilangan Tania juga di rasakan oleh Ibu Ima, si pemilik warung nasi langganan Tania membeli sepulang kerja. Sudah sering pula ia menanyakan kepada teman-teman kerjanya yang mengenal Tania, tetapi jawabannya tidak ada yang tahu yang kemudian lambat laun ibu Ima mendengar kalau Tania di nyatakan sudah di pecat dari tempat kerjanya itu.
Sebenarnya ibu Ima juga memperhatikan dari seberang jika Doni, suami Tania, selalu ada di sekitar sini. Tetapi wanita tua itu merasa malas jika harus menanyakan di mana Tania sekarang. Wanita itu sedikit banyak tahu bagaimana sikap tempramen Doni terhadap Tania. Makanya wanita itu juga ada rasa kurang suka dengan pria semacam Doni.
__ADS_1
Sudah sekitar hampir satu jam Doni menunggu Tania, tetapi lagi-lagi zonk. Semenjak malam itu wanita itu seperti lenyap ditelan telan bumi. Sebenarnya setiap hari Doni sering datang ke rumah kontrakan yang ia tempati saat bersama Tania dulu. Bahkan sudah banyak pula benda-benda berharga yang di tinggal Tania di sana sudah habis terjual. Itu semua demi membiayai hidup bersama Sari. Karena sifat malas kerja pria itu tetap membumbung di otaknya.
Saat sedang meneliti satu persatu para buruh pabrik yang keluar dari pagar utama pabrik itu, tiba-tiba ponsel milik Doni berdering. Sebuah nama Sari my love muncul di layar ponselnya.
"Iya, Sayang," sapa Doni dengan lembut.
"Berisik sekali! Kamu lagi di mana?" Suara Sari terdengar meninggi.
"Kerja," dusta Doni.
"Pulangnya jangan lupa belikan nasi goreng hati ayam sama terang bulan full meses," ucap Sari.
Wanita itu kini sedang mengandung benih cinta dirinya dengan Doni. Dan hampir tiap hari pula ia selalu meminta di belikan oleh-oleh tiap Doni pulang dengan alasan itu sebagai rasa ngidamnya. Entah sekedar alasan atau benar, tetapi terus terang Doni selalu pusing dibuatnya. Apalagi kantong pria itu sudah benar-benar kosong untuk bisa mewujudkan keinginan Sari. Dan untuk menjual barang berharga di kontrakannya yang dulu sudah habis terjual.
"Mas Doni!" Sari kembali menyapanya karena pria itu sedari tadi hanya diam.
"Eh, iya, ada apa?"
"Sendiri," jawab pria itu jujur.
"Bohong!"
"Ya sudah kalau nggak percaya."
Lalu Doni mematikan ponselnya. Tidak hanya itu, pria itu segera menon-aktifkan ponselnya demi menghindari telpon dari Sari.
"Ih, cerewet sekali!" umpatnya seorang diri.
__ADS_1
Sssstttt.... Dussss...
Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah yang melintas di dekatnya berhenti mendadak lantaran ban mobilnya bocor.
Sekilas Doni hanya memperhatikan tanpa minat membantu. Seorang pria mengenakan setelan jas bak pengusaha muda keluar dari mobil itu. Pria berwajah tampan itu mengontrol ban mobilnya. Terlihat kesal sambil menendang-nendang ban mobilnya yang bermasalah.
Senyum licik Doni seketika terbit. Setelah memperhatikan pria itu seperti kebingungan mencari pertolongan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tawar Doni tiba-tiba.
Pria itu menoleh. Sekilas memperhatikan penampilan Doni yang terlihat lusuh tetapi gayanya seperti seorang preman.
"Saya bisa bantu betulin ban mobilnya," ucap Doni lagi meyakinkan.
Pria itu masih berpikir ragu. Belakangan ini banyak orang-orang berlagak baik tetapi rupanya kelompotan dengan perampok. Dan itulah yang membuat pria itu masih meragukan tawaran Doni.
"Kalau anda tidak percaya saya, ya sudah. Tapi di daerah sini bengkel lumayan jauh. Kecuali anda memiliki kenalan pelanggan bengkel," ujar Doni lagi.
Andai bengkel langganan nya itu bisa di hubungi, tentu pria itu tak sebingung ini. Mungkin lebih baik pria itu menerima tawaran baik Doni. Karena tidak baik juga berburuk sangka pada seseorang hanya karena penampilannya yang urakan.
"Boleh, silahkan." Lalu pria itu mempersilahkan Doni membantunya.
Doni tersenyum puas. Karena setelah ini ia bisa meminta upah yang lumayan pada pria yang sudah tentu anak orang kaya.
"Nama kamu siapa?" tanya pria itu sebagai awal perkenalan.
"Doni," sahut Doni sambil mulai mendongkrak ban mobil yang bocor.
__ADS_1
"Nama saya Zafran," ucap pria itu turut memperkenalkan diri.
*