
"Iya, Sayang. Percaya deh, aku tuh sumpah mati cinta sama kamu."
Doni sangat mesra mengucapkannya. Hingga tanpa ia sadari kalau Tania sedang menguping dari balik pintu kamarnya.
Jangan tanya bagaimana perasaan seorang istri saat mendengar suaminya bercakap mesra dengan orang lain. Sudah pasti hancur sehancur-hancurnya. Apalagi dari segi bicaranya itu bisa ditebak kalau Doni sedang berbicara dengan wanita. Tidak mungkin pria kan?
"Hah, Siapa? Si tonggos?" Doni kembali bersuara.
Lalu pria itu lagi-lagi tertawa tanpa beban.
"Si tonggos?" batin Tania bertanya-tanya.
"Jam segini biasanya dia--"
Tiba-tiba Doni menjeda bicaranya. Pria itu menatap jeli ke arah pintu kamar, karena samar-samar ia seperti melihat bayangan seseorang dari balik pintu itu.
Dalam seperkian detik Tania tidak mendengar suara Doni lagi. Rupanya memang pria itu menyudahi aktifitas telponnya.
Brakk!!
"Astaghfirullah!!"
Tania terjengkit kaget saat suaminya itu tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan kasar. Seperti memang di sengaja. Hingga wanita itu hampir tersungkur karenanya.
"Ngapain di sini?" bentak Doni seketika.
"Nguping? Hah!"
"E-- e... Nggak, Mas." Tania mengelak dengan suaranya yang mulai gemetar.
Wanita itu selalu ketakutan dan tak berani bicara apa-apa lagi tiap suaminya membentaknya. Bagai orang yang sangat patuh pada suami. Ia bukan wanita bodoh, hanya terlalu lugu saja.
Apalagi dengan kondisi wajahnya yang memang tidak mendukung, membuatnya bertambah minder. Ada yang mau dengannya saja sudah syukur. Makanya ketika dulu dilamar oleh orangtua Doni, Tania menerimanya. Meski tak sedikit bisik-bisik tetangga berkata jika Doni adalah pria tempramen.
__ADS_1
Harapannya saat itu Tania ingin mengubah kebiasaan buruk suaminya. Tetapi yang ada makin ke sini suaminya itu malah semakin ngelunjak. Tepatnya setelah Tania diterima kerja di pabrik setahun yang lalu. Dari itu perilaku Doni semakin semena-mena kepadanya. Yang lebih menyedihkan lagi, sudah setahun pula Tania tak lagi disentuh oleh Doni.
Doni langsung pergi ke teras depan, meninggalkan Tania yang masih tertegun di tempatnya. Berulang kali Tania menghembus nafas beratnya. Menahan sesak ke sekian kalinya karena perlakuan suaminya itu.
Lamunan Tania seketika buyar saat teringat jika ia sedang merebus air tadi. Alhasil panci yang dibuat untuk masak itu hangus, dan menimbulkan bau gosong hingga menyeruak ke teras depan. Doni mencium bau itu, tetapi ia memilih acuh dan terus saja menikmati rokok yang sedang di sesapnya.
Buru-buru wanita itu mematikan kompornya. Kepulan asapnya sudah memenuhi seluruh ruangan dapur. Terbatuk-batuk, tetapi suaminya itu seperti menutup telinga dan tak mau tahu apa yang terjadi di dalam.
"Astaghfirullah... Untung nggak sampe kebakaran. Ya Allah...."
Tania segera merapikan lagi kondisi dapurnya yang sempat kacau. Sesaat setelah kondisi dapurnya sudah kembali normal, akhirnya Tania bisa kembali bernafas lega. Sejenak terlupa jika baru saja dirinya tersakiti oleh suaminya.
Lalu Tania memilih duduk sejenak di kursi makan. Menenggak air minum hingga habis dua gelas. Rasa dahaga sekaligus lapar, seketika musnah akibat kejadian fatal barusan.
Netra wanita itu melirik nasi bungkus yang ia beli buat suaminya. Sesaat kembali menghentak nafasnya. Setelah itu beranjak dari tempatnya untuk menyusul suaminya ke teras depan.
Terlihat Doni sedang tersenyum-senyum sendiri saat Tania akan memanggilnya. Diam-diam ia kembali curiga, tetapi bisa apa?
"Mas Doni," sapa Tania lembut.
"Makan, Mas. Sudah aku siapkan di dalam," serunya lagi.
Tanpa menyahut, tetapi Doni beranjak dan masuk ke rumahnya.
"Ini lagi! Ini lagi!"
Doni hampir membanting piringnya, begitu tahu kalau makanan yang disiapkan istrinya itu selalu itu-itu saja. Meski lauk yang dijual oleh ibu Ima selalu berbeda tiap harinya, tetapi yang namanya orang tak tahu bersyukur ya seperti Doni orangnya.
"Bosan! Dasar nggak bisa melayani suami dengan becus!"
Setelah mengucapkan itu Doni masuk kamar. Tetapi tak lama setelah itu kembali keluar dengan menenteng jaket di tangannya.
"Mana kunci motornya!"
__ADS_1
Tangan pria itu menengadah kepada Tania.
Tania langsung menurut, mengambilnya dari dalam saku celana dan menyerahkannya kepada Doni.
"Mau kemana, Mas?" tanyanya sambil terus mengikuti langkah kaki Doni keluar rumah.
Pria itu tidak menyahut. Hingga sampai pergi melajukan motornya, tetap saja tidak berkata apa-apa.
Tania menatap nyalang kepergian suaminya hingga tak lagi terlihat dari pandangannya. Tak terasa genangan air mata yang sedari tadi berusaha ia bendung akhirnya tumpah juga. Seketika Tania menutup pintunya, dan duduk bersimpuh sambil menyandar pada pintu itu dengan linangan air matanya yang terus menetes.
Seketika perkataan mesra suaminya beberapa saat lalu kembali terngiang-ngiang. Membuatnya kembali curiga jika suaminya itu telah memiliki wanita idaman lain di belakangnya.
Masih dalam kondisi menangis, Tania berdiri lagi dan segera membuka pintu untuk kemudian pergi menyusul suaminya. Meski tidak tahu kemana suaminya itu pergi, tetapi ia telah bertekad akan mencarinya kemana pun tempat yang ia tahu.
Wanita itu berlari menyusuri jalan yang dilewati Doni tadi. Hingga sampai tiba di jalan raya, ia mulai kebingungan kemana arah selanjutnya.
Lama berpikir, akhirnya Tania memilih arah sesuai insting hati. Lalu ia pun belok ke kanan, menyusuri trotoar jalanan, melangkah entah kemana tujuan.
Sapaan beberapa lelaki iseng bertautan saat wanita itu berjalan seorang diri di jalanan. Tetapi Tania tak menghiraukan sama sekali. Bahkan ketika salah seorang memanggilnya cantik, senyum getirnya seketika terbit. Sadar diri jika itu bukan pujian, melainkan ejekan buatnya.
Entah sudah berapa puluh meter Tania berjalan tanpa arah tujuan. Saat merasa lelah mendera, ia teringat jika saat ini posisinya berada tak jauh dari rumah kontrakan Sari. Senyum kecilnya terbit lagi. Seperti menemukan adanya bantuan untuk dirinya.
Iya, Tania memutuskan pergi ke rumah Sari. Dengan harapan bisa meminjam motornya agar tak lagi berjalan kaki untuk mencari Doni.
Tiba saat Tania sudah berada di depan kontrakan Sari, ia dibuat tertegun dengan adanya motor miliknya yang kebetulan ada di teras kontrakan itu.
Degup jantungnya tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Tiba-tiba merasa resah sendiri. Dengan langkah kakinya yang sengaja disamarkan, diam-diam Tania mendekat ke kontrakan berdinding dari bahan kayu triplek itu.
"Aaah... Mas... Pelan, Mas...."
"Kamu candu sekali, Sayang."
"Aaaaaahhhhh......."
__ADS_1
*