
Zafran yang tiba-tiba datang ke rumah Yudha tanpa memberi kabar sebelumnya, membuat sahabatnya itu merasa kaget. Kebetulan malam itu Yudha sudah pulang dari kliniknya, karena ada dokter ganti yang bertugas jaga malam ini.
"Numpang nginep, Yud," ucap Zafran dengan santainya saat Yudha membuka pintu rumahnya.
Yudha langsung mengangguk dengan mempersilahkan Zafran masuk. Tak lama muncullah tante Lusi, mamanya Yudha, turut menyapa Zafran.
"Wah, ada mimpi apa nih, kok tumben menginap di sini?" sapanya dengan senyum riangnya menyambut kedatangan Zafran.
Dahulu ketika Zafran dan Yudha masih kuliah, Zafran memang sering bermalam di rumah Yudha. Tetapi Yudha sendiri tidak pernah satu kali pun pernah bermalam di rumah Zafran. Tetapi meski begitu kedua orang tua mereka sama-sama tahu jika Zafran dan Yudha berteman baik.
"Hehe... Selamat malam, Tante. Maaf nih ganggu, tapi boleh menumpang tidur di sini kan?" sapa Zafran sambil kemudian mencium tangan tante Lusi dengan takdzim.
"Selalu dong. Kamu boleh tinggal di sini kapan pun kamu mau," ujar tante Lusi sambil menepuk-nepuk lengan Zafran.
"Mulai deh aku di anak tirikan lagi," seru Yudha yang melihat mamanya selalu lebih perhatian kalau sedang ada Zafran di rumahnya.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu tersenyum kecil kepada Yudha.
"Kamu dari mana?" Yudha bertanya kepada Zafran sambil meneliti penampilan Zafran dari atas hingga ke ujung kaki.
"Kencan?" Binar mata Yudha mendadak berbinar.
"Nggak lah!" Zafran langsung mengelak.
Tetapi Yudha tetap curiga, karena tumben sekali Zafran malam-malam berpakaian rapih begini.
"Sudah punya pacar lagi?" tante Lusi ikut bertanya. Ia juga tahu bagaimana nasib cinta Zafran yang dahulu. Makanya tante Lusi juga ikut senang andai Zafran bisa move on dari masa lalunya.
"Nggak, Tante, nggak ada," sahut Zafran dengan tegas.
"Ah, kalian ini. Mau sampai kapan sama-sama jomlo. Entar burungnya karatan tahu rasa kalian."
Zafran dan Yudha sama-sama nyengir mendengar ucapan mama Lusi. Entahlah, kalau Zafran betah jomlo karena memang masih sibuk berusaha menyembuhkan luka hatinya. Dan Yudha sendiri yang sebenarnya kurang jelas kenapa ikut-ikutan jomlo, seperti tak minat mencari pasangan. Padahal banyak juga perempuan cantik yang mengharapkan cinta Yudha. Tetapi sikap Yudha seperti sedang menutup hatinya kepada wanita mana pun.
"Zaf," Yudha mengkode Zafran agar segera beranjak ke kamar. Karena jika terus meladeni mamanya, tak akan selesai sampai pagi urusannya.
__ADS_1
"Ee... Tante, kita ke kamar dulu ya?" pamit Zafran apa adanya.
Tetapi tatapan mama Lusi mendadak aneh kepada dua pemuda tampan itu.
"Kalian normal kan?" tanyanya tiba-tiba.
Zafran dan Yudha sama-sama bengong.
"Kalian bukan pasangan terong makan terong kan?" tanyanya lagi sudah tanpa filter, langsung menancap ke inti pertanyaan.
"Astaga!" Yudha langsung melotot, menggeleng heran kenapa mamanya bisa mencurigai mereka seperti itu.
"Astaghfirullah... Naudzubillah, Tante," seru Zafran ikut kaget mendengar tuduhan tante Lusi itu.
"Lagian kalian ini, tahun depan kalian sudah dua puluh sembilan tahun. Sudah sewajarnya di usia kalian sudah berkeluarga, malah banyak yang sudah mau punya anak dua. Nah kalian?"
Yudha lebih dulu meninggalkan ruang tamu itu, untuk segera menuju kamarnya. Nasib Yudha tidak jauh berbeda dengan yang di alami Zafran. Selalu di tuntut dengan pertanyaan kapan menikah. Tetapi masih beruntung kedua orang tua Yudha tidak menjodohkan Yudha dengan wanita pilihan orang tuanya. Karena mereka memasrahkan urusan pendamping hidup itu biar Yudha yang menentukan sendiri.
Dan Zafran yang melihat Yudha pergi ke kamarnya, tentu ikut menyusul pria itu. Lalu tinggallah tante Lusi seorang diri di ruang tamu itu. Wanita itu segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Jeng Diana tenang saja, Zafran menginap di sini," ucap mama Lusi ketika telponnya itu terjawab oleh ibunya Zafran.
"Lagian jeng Diya ini, Zafran sudah dewasa, biarkan dia mencari sendiri calon istrinya mau seperti apa. Jangan terlalu sering menjodohkan, biar anak itu tidak tambah memberontak sama jeng Diya."
"Ah, kayak kamu berhasil bujuk Yudha saja," seloroh ibu Diana yang kemudian mereka sama-sama tertawa meratapi nasib memiliki anak dewasa yang betah menjomlo sampai sekarang.
"Sudah ya jeng Lusi, aku titip Zafran." Lalu ibu Diana mengakhiri telponnya setelah mama Lusi menyahut mengiyakan.
Sedangkan keadaan di kamar Yudha, duo sahabat itu memilih ngobrol santai sambil duduk di teras balkon kamar. Menatap langit malam yang tiada berbintang.
"Kamu nginep di sini nggak lagi menghindari masalah perjodohan kan?" selidik Yudha, masih mencurigai kedatangan Zafran yang tiba-tiba.
"Lebih dari itu sebenarnya," jawabnya ambigu.
Lalu Zafran mengalihkan obrolan malam itu dengan hal random lainnya. Dua bujang tampan itu mengarungi malam mereka dengan saling sharing masalah pekerjaan. Sama sekali tak berminat membahas perempuan pada obrolan mereka malam ini.
__ADS_1
***
Pagi menjelang. Keadaan di rumah Siska sedikit rempong dengan kegiatan masak-memasak yang baru kali ini Siska terjun langsung ke dapur. Wanita itu ingin memanfaatkan jatah libur yang di berikan Yudha dengan belajar memasak bersama Tania. Hingga akhirnya kegiatan masak mereka akhirnya selesai juga. Dan barulah mereka berdua bisa menikmati sarapannya dengan perasaan yang luar biasa senang.
"Kamu pinter masak gini, tapi mantan suami kamu kok bisa selingkuh gitu sih. Emang nggak tahu diri banget. Udah jago masak, pinter cari duit, masih aja di selingkuhin," gerutu Siska setelah mereka selesai sarapannya.
"Mungkin karena aku nggak cantik," jawab Tania dengan tenang, karena wanita itu sudah move on dari kisah masa lalunya.
"Ah, cantik itu nomor sekian. Banyak kok wanita cantik tapi tetap di selingkuhi sama suaminya hanya karena kurang pandai melayani. Ups!" tiba-tiba Siska membungkam mulutnya, karena hampir keceplosan berkata sesuatu hal yang bersifat intim.
Tania paham dengan maksud perkataan Siska itu. Tetapi sama sekali ia tidak merasa sakit hati. Lantas hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Siska.
"Eh, Ta, serius aku mau nanya, kalau urusan goyang-menggoyang kamu lihai juga kan?"
Akhirnya Siska tak tahan untuk tidak menanyakannya. Karena kebanyakan kasus perselingkuhan itu juga di dasari karena kurang puasnya urusan ranjang.
"Ngomong apaan sih kamu!" Tania segera beranjak untuk mengangkat piring kotornya ke dapur. Bukan membenci kenapa Siska bertanya itu, tetapi lebih ke rasa tidak penting saja membahas hal itu.
"Eh, kamu marah ya? Duh, maaf, Ta," ujar Siska turut menyusul Tania ke dapur.
Tania menggelengkan kepalanya. Senyum kecilnya terbit, menandakan jika ia tidak marah atau pun kesal dengan Siska.
"Sis, aku ada duit dikit, bantu mikir dong aku pingin punya usaha kecil-kecilan, biar nggak nganggur terus."
"Duit? Di kasi siapa?" tanya Siska sangat penasaran.
"Mm...."
"Tata! Kamu di kasi duit sama cowok kamu? Astaga... Baik hati sekali cowok kamu," Siska asal menebak. Apalagi dengan baju dan tas branded yang di pakai Tania semalam membuat Siska bertambah yakin kalau Tania ada hubungan spesial dengan sopir dari Zafran itu.
"Cowok apaan sih! Kamu tuh salah paham."
Lalu Tania memilih menceritakan tentang semalam kepada Siska, tentang kesepakatan yang ia buat bersama Zafran. Rasanya tidak adil saja menutupi hal penting kepada orang baik hati yang mau menumpang nya tinggal di rumahnya seperti yang di lakukan Siska kepadanya.
"Ehem! Kenapa aku punya felling bakal ada yang jadi nyonya besar setelah ini," goda Siska setelah selesai mendengarkan cerita Tania.
__ADS_1
Tania merotasi bola matanya jengah. Walau yang di ucapkan Siska termasuk do'a baik buatnya, tetapi itu suatu kemustahilan yang akan terjadi kepadanya.
*