Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 38


__ADS_3

Zafran dan Tania keluar dari swalayan itu sambil menenteng dua kantong belanjaan di tangan Zafran. Setelah mereka berdiri di samping motornya, Zafran mulai bingung bagaimana caranya membawa barang pembeliannya itu.


"Biar aku yang pegang, Tuan," ucap Tania memperhatikan Zafran yang kebingungan, tetapi pria itu langsung menggeleng tak setuju.


Memang Tania bukan siapa-siapa bagi Zafran, tetapi ia tidak tega saja membiarkan seorang wanita berpangku belanjaan yang cukup banyak sambil menaiki motor. Pasti akan tidak nyaman dan kurang aman. Kebetulan motor yang dibawa Zafran saat ini tipe motor sport. Andai motor matic, masih bisa diletakkan di bagian depan.


Melihat Zafran yang tidak setuju dengan usulannya, Tania memilih diam saja. Ia sendiri sebenarnya tidak jamin akan mampu membawa dua kantong belanja yang terisi penuh itu, dengan posisi duduk yang agak berdempet.


Kebetulan sekali ada abang ojol yang masuk ke swalayan itu. Senyum kecil Zafran mulai terbit.


"Tunggu di sini, Ta," ucapnya yang kemudian masuk lagi ke swalayan itu.


Tania melongo saja. Pikirnya Zafran akan membeli sesuatu lagi. Padahal barang yang dibelinya sudah cukup banyak. Tetapi kemudian Zafran keluar bersama abang ojol tadi, yang kemudian abang ojol itu membawa barang belanjaan mereka.


"Bang, aku ngikut dari belakang," seru Zafran kepada abang ojol itu.


Abang ojol itu mengangguk senang. Entah berapa upah yang diberi Zafran kepadanya. Wajahnya terlihat sumringah sekali.


Lalu setelah itu Zafran dan Tania kembali naik motor. Mereka kembali pulang.


Sekitar hampir setengah jam, mereka tiba di rumah lagi. Abang ojol itu meletakkan barang belanjaan di teras rumah.


"Terimakasih ya, Bang," ucap Zafran.


"Iya, saya juga terimakasih banyak. Semoga Allah mengganti kebaikanmu dengan rejeki yang semakin banyak," balas abang ojol itu dengan senyum riangnya.


"Aamiin," kata Zafran sambil tersenyum tipis.


"Dan semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warohmah, dan lekas diberi momongan oleh Allah," ucap abang ojol itu yang seketika membuat Zafran dan Tania sama-sama melongo di tempat.


Setelahnya abang ojol itu pergi. Tetapi Tania dan Zafran masih sama-sama mematung. Mungkin bagi abang ojol itu mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru. Apa iya? Zafran mulai menoleh menatap Tania. Dan ternyata Tania juga menoleh menatapnya.

__ADS_1


Sekilas senyum getir Zafran terukir. "Dia kira kita suami istri," katanya sambil kemudian masuk ke rumah sambil membawa dua kantong belanjaannya.


Di susul Tania yang juga ikut masuk. Dilihatnya Zafran sudah ada di dapur. Tania juga menyusulnya. Zafran mulai mengeluarkan satu persatu barang yang dibelinya. Ada banyak macam-macam sembako yang dibeli, juga beberapa barang kebutuhan lainnya. Mereka seperti bekerjasama untuk meletakkan barang belanjaannya itu. Hingga akhirnya semua sudah tertata dengan rapi di tempatnya.


Tak terasa waktu sudah merambat semakin malam. Zafran memilih duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Tania memilih masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Tania berpikir seorang diri. Sebenarnya ia ingin bertanya apakah Zafran akan pulang atau menginap. Tetapi selalu urung karena merasa hal itu tidak sepatutnya ditanyakan mengingat rumah ini adalah rumahnya.


Sedangkan yang di rasa Zafran juga tidak kalah galaunya. Tiba-tiba kepikiran jika membiarkan Tania malam ini seorang diri di rumah ini. Tetapi untuk bermalam dan tidur dalam satu rumah bukanlah solusi baik bagi mereka yang bukan pasangan halal.


Dering ponsel milik Zafran berbunyi, seketika membuyarkan pikiran Zafran yang masih di ambang keraguan.


"Assalamu'alaikum, Ayah," sapa Zafran kepada pak Lukman yang menelponnya.


"Wa'alaikum salam, kamu belum pulang, Zaf?" tanya pak Lukman to the point, ia tahu Zafran belum pulang dari rumah Tania karena orang suruhannya yang melapor.


Zafran tak langsung menjawab. Ia pun mulai curiga, kenapa tumben sekali ayahnya menanyakan dirinya pulang atau tidak. Karena biasanya yang seperti ini bagian ibunya yang selalu bertanya.


"Ini sudah malam. Tidak apa-apa kalau kamu tidak pulang. Ayah lebih khawatir kalau kamu memaksa pulang. Jarak dari sana cukup jauh. Ayah sama ibu khawatir terjadi apa-apa sama kamu di jalan," seru pak Lukman. Terkesan enjoy membiarkan Zafran bermalam serumah dengan Tania.


Zafran yang mendengar ucapan ayahnya itu kembali terheran-heran sendiri. Mulutnya tiba-tiba terkunci, sudah tidak bisa protes lagi.


Dan tiba-tiba saja sambungan telepon itu diakhiri begitu saja oleh pak Lukman.


Di saat Zafran masih terbengong, tiba-tiba pintu kamar Tania terbuka. Zafran spontan menoleh ke arahnya.


"Mm... Aku mau minum," ucap Tania tanpa ditanya sebelumnya.


Zafran diam saja. Ia melihat Tania membuka kulkas dan menuang air dingin itu ke gelas. Lalu meminumnya begitu saja. Zafran yang memperhatikan itu tiba-tiba dibuat speechless. Lekuk tubuh Tania terlihat indah. Posisinya yang berdiri tegak dengan mengangkat dagunya, seperti sedang mengekspos lehernya yang putih jenjang. Juga dua bola kenyal itu lebih menonjol di dada Tania.


"Astaghfirullah!" Buru-buru Zafran mengusap kasar wajahnya.


Tania yang mendengar seruan Zafran itu tak terasa tersedak minumannya, hingga sedikit membasahi pakaiannya karena tak sengaja tertumpah minumannya. Secepatnya Tania langsung menoleh ke tempat Zafran berada.

__ADS_1


Dilihatnya Zafran sedang mengusap-usap wajahnya dengan menundukkan kepala. Melihat itu membuat Tania cemas, takut terjadi apa-apa dengan Zafran. Tania pun mulai melangkah mendekati Zafran.


"Ada apa, Tuan? Apa yang terjadi?" tanyanya sambil berdiri agak berjarak dengan Zafran.


Zafran mendongakkan kepalanya menatap Tania. Matanya langsung tersita pada bagian dada Tania yang basah. Seketika Zafran memalingkan wajahnya, karena jika dibiarkan menatap sesuatu yang bisa menggoda itu, ia takut tidak akan kuat iman.


"Eh, tidak apa-apa," jawab Zafran masih tetap memalingkan wajahnya, lebih aman melihat ke luar jendela saja.


Tania diam saja, tidak mau kepo lagi dengan yang terjadi pada Zafran. Lalu ia memilih masuk kamar lagi, tetapi langkahnya terhenti saat Zafran memanggilnya.


"Ta, malam ini aku tidak pulang," serunya dengan jarak mereka yang cukup jauh.


Tania langsung mengangguk. Baginya percuma protes, karena rumah ini adalah rumahnya. Meski sebenarnya merasa canggung bersama lelaki yang tidak begitu dikenalnya dalam satu rumah.


"Kamu tidak keberatan?" tanya Zafran. Kenapa wanita itu seperti pasrah saja menurutnya.


"Untuk apa? Rumah ini milik Tuan. Apa aku berhak melarangnya?" balas Tania dengan balik bertanya.


Zafran terdiam sejenak.


"Baiklah, aku akan menginap di sini. Aku akan tidur di sini," ucap Zafran sambil menunjuk sofa didudukinya.


"Kenapa tuan tidak tidur di kamar saja?" Tania bertanya sambil menunjuk kamar milik Zafran.


Zafran langsung menggeleng cepat. Rasanya akan semakin sulit tidur nyenyak jika Zafran tidur di kamar itu. Sebab di dalam sana masih banyak foto Tata bersama dirinya yang terpajang rapi di dinding kamarnya, yang belum sempat ia enyahkan.


"Mm... Kalau begitu aku ke kamar, Tuan," pamit Tania yang kemudian langsung masuk ke kamarnya setelah Zafran mengangguk.


Keadaan kembali hening. Setidaknya malam ini Tania merasa aman karena ada Zafran di rumah itu. Secepatnya Tania langsung naik ke kasurnya. Mungkin karena perasaannya yang merasa tenang, membuatnya cepat terlelap hanya dengan hitungan menit.


Sedangkan Zafran masih saja tidak bisa tidur. Matanya tetap berbinar, rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Hingga sampai setengah jam kemudian, masih tak kunjung mengantuk. Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang sedang berbicara di luar, membuat Zafran langsung beranjak dari tempatnya. Dan kemudian mengintai orang-orang itu dari balik tirai.

__ADS_1


"Sialan!"


*


__ADS_2