Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 29


__ADS_3

Pak Lukman menutup telponnya dengan wajah gusar. Hal itu langsung bisa di baca oleh ibu Diana yang saat ini berada di sampingnya. Keduanya saat ini sedang duduk berselonjor kaki sambil menyender ke hard board ranjang.


"Bagaimana, Mas?" tanya ibu Diana yang sudah tahu bahwa orang yang menelpon suaminya itu ialah orang suruhan yang di pekerjakan oleh suaminya.


"Zafran bawa wanita itu tinggal di rumah yang cukup jauh dari sini. Tidak tahu itu rumah siapa, biar nanti orangku yang tanya," ucap pak Lukman dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.


"Apa mungkin anak kita memang mencintai wanita itu, Mas? Tapi wanita itu bilang ke aku kalau sebenarnya dia di suruh Zafran untuk mengaku jadi pacar bohongan di depan kita."


"Itu yang aku tidak mengerti, Diya. Apa yang sebenarnya Zafran mau. Kalau memang wanita itu hanya pacar bohongan nya, seharusnya tidak sampai sejauh ini. Orangku bilang, Zafran membawa wanita itu pindah rumah karena kata orangku sebelumnya wanita itu di ganggu oleh penyelundup yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Kalau tidak suka, harusnya Zafran tidak sepeduli begini kan?"


Ibu Diana hanya bisa menghembus nafas beratnya, sudah tidak bisa merespon seperti apa lagi selain menanyakan langsung perihal ini kepada anak mereka nanti.


"Mungkin Zafran hanya merasa kasihan saja sama wanita itu, Mas," seru ibu Diana mencoba menenangkan suaminya yang kentara terlihat resah.


Bagaimana tidak resah, memiliki anak lajang yang sudah berumur, dengan membawa seorang wanita tinggal di rumah yang sudah Zafran siapkan, sebagai orang tua merasa takut anaknya itu akan terjerumus dalam perbuatan yang di larang. Tetapi pikiran negatif itu segera pak Lukman tepis dari benaknya, mencoba terus berprasangka baik terhadap putra semata wayangnya itu.


"Sekarang kata orang itu Zafran apa masih di sana?"


Pak Lukman hanya menggeleng. Terakhir orang suruhannya itu mengabari jika Zafran pergi dan orang itu mengikuti. Tetapi hingga detik ini orang itu tidak mengabari apa-apa lagi.


Sekilas ibu Diana melirik jam yang menempel di dinding, sudah hampir tengah malam rupanya.


"Ayo, tidur, Mas. Anak kita sudah dewasa, aku yakin dia pasti tahu mana yang baik dan tidak untuk hidupnya. Kita tanyakan saja besok."


"Tidak, Diya!" Pak Lukman segera menolak, membuat ibu Diana seketika terdiam.


"Aku ingin menyusul wanita itu di sana. Bisa jadi dia beda pengakuan bila denganku. Kita tidak perlu bertanya sama Zafran, nanti dia akan curiga dari mana kita tahu semua ini," serunya kemudian.


Ibu Diana hanya bisa mengangguk mengiyakan. Sebab mau melarang rasanya tidak mungkin untuk suaminya yang sedikit keras kepala itu. Lebih baik setuju saja, dari pada melihat suaminya itu tidak tidur semalaman karena memikirkan Zafran.


"Aku ikut kalau kamu mau ke sana," usul Diana.

__ADS_1


Pak Lukman langsung mengangguk setuju. Lalu setelah itu keduanya sama-sama tidur, mengunjungi peraduan mimpi panjang mereka.


Zafran tiba di rumah saat denting jam menunjuk pada angka satu dini hari. Keadaan rumah sudah pasti sepi. Biasanya ia akan menemukan ibunya yang selalu menunggu bila ia telat pulang, tetapi malam ini sudah berbeda. Tak nampak ibu Diana menunggu kedatangan Zafran seperti malam-malam sebelumnya. Meski merasa ada yang kurang, tetapi minimal sedikit melegakan perasaan Zafran yang tidak tenang.


Tanpa Zafran tahu ibunya itu melihat kepulangannya sambil mengintip dari jendela kamar. Merasa lega karena Zafran masih mau pulang. Semoga saja besok pagi Zafran mau terbuka, harapannya seperti itu yang ibu Diana panjatkan sebelum kemudian benar-benar tidur menyusul suaminya yang sudah terlelap sedari tadi.


***


Kumandang adzan subuh baru saja menggema. Tetapi keadaan di rumah baru yang Tania dan Siska tempati mendadak riweh oleh karena Siska yang harus siap-siap berangkat kerja sepagi ini.


"Kamu entar mau naik apa, Sis?" tanya Tania yang ikut bingung melihat Siska yang sedari bangun mondar-mandir mirip setrika bekerja.


"Masa iya nggak ada ojek," seru Siska sambil membungkuk menali sepatunya.


"Coba tanya sama bapak semalam itu kali ya?" usul Tania yang langsung di angguki setuju oleh Siska.


Lalu mereka berdua keluar dari rumah itu, berdiri cukup lama di teras depan sambil memperhatikan jalanan di sekitar yang hanya di lewati oleh beberapa pedagang sayur yang lewat.


"Nggak semudah itu, Tata. Rasanya aku ngelunjak banget, sudah di kasih cuti kemarin masih mau nambah cuti lagi. Lama-lama aku bisa di pecat. Mana cari pekerjaan susah."


Tania terdiam. Mendadak hatinya menjadi sensi kalau membahas tentang pekerjaan. Dirinya saja saat ini masih pengangguran. Di tambah lagi saat ini hidup di tempat baru yang masih asing baginya. Mau cari pekerjaan di mana coba, sedangkan tempat ini saja cukup jauh dari perkotaan.


"Maaf, Sis, karena aku kamu harus susah begini. Seandainya kita menolak tawaran tuan Zafran, pasti kamu tidak akan kerepotan begini," ucap Tania sungguh-sungguh tak enak hati.


Siska menatap Tania. "Jangan merasa bersalah seperti itu. Hari ini aku kerepotan cuma karena nggak ada motor aja. Jadi entar pulang kerja aku mampir rumah dulu, mau ambil motor."


Tania mengangguk.


"Kamu nggak pa-pa kan aku tinggal?" tanya Siska sedikit khawatir meninggalkan Tania seorang diri di tempat baru yang belum di kenalnya.


"Nggak pa-pa." Tania menyahut dengan senyuman kecilnya yang mengembang.

__ADS_1


"Eh, itu bapak yang semalam. Pak...!" Tangan Tania melambai-lambai memanggil pria tua yang kebetulan lewat di jalan depan.


Bapak itu berhenti. Mereka sama-sama melangkah mendekat.


"Ooh... Si Mbak perawat toh?" sapa bapak itu setelah memperhatikan penampilan Siska.


"Iya, Pak. Semalam kita belum kenalan. Nama saya Siska, dan teman saya ini namanya Tata," tutur Siska mulai memperkenalkan diri kepada bapak itu.


Bergantian mereka bertiga saling berjabat tangan sebagai awal perkenalan mereka. Lalu bapak itu tersenyum hangat menatap Tania.


"Setelah sekian tahun, akhirnya Den Zafran bawa istrinya juga ke rumah ini," selorohnya yang pasti membuat Tania dan juga Siska tercengang heran. Karena dulu Zafran pernah bilang kalau nama calon istrinya itu adalah Tata. Jadi tidak salah jika bapak itu menduga Tania adalah istrinya Zafran.


"Istri?" Bersamaan Tania dan Siska bertanya.


"Loh, bukannya kamu istrinya Den Zafran?" tunjuk bapak itu kepada Tania.


"Ah, bukan, Pak! Saya bukan istrinya," sanggah Tania langsung.


"Kalau bukan tapi namanya kok sama? Den Zafran itu beli rumah ini sudah lebih tiga tahun, katanya buat calon istrinya. Dulu itu pas beli rumah ini Den Zafran sudah mau menikah, Mmm... Sekitar kurang dua mingguan kalau nggak salah. Tapi kalau benar kamu bukan istrinya, sebenarnya masuk akal sih. Sebab kalau memang istrinya, Den Zafran nggak mungkin ninggalin kalian berdua semalam. Hehe... Maaf ya?"


Tania mengangguk ramah. Apapun yang di ceritakan bapak itu cukup mengagetkan Tania dan Siska. Baru tahu kalau rumah ini memiliki sejarah penting buat Zafran. Pantas saja semalam Zafran berpesan untuk tidak masuk ke kamar yang di tunjuk nya.


"Duh, sudah mau terang begini aku masih belum berangkat." Mendadak Siska gelisah lagi. Niat hati ingin bertanya tentang barangkali ada ojek, malah keasyikan mengobrol.


"Pak, di sini cari ojek di mana ya?" tanya Siska.


"Saya kang ojek, ayo, mau antar ke mana?" ujar bapak itu.


"Alhamdulillah... Ayo, Pak, antar saya sekarang juga. Nanti aku jelaskan di jalan arahnya," seru Siska merasa bersyukur sekali karena tidak harus kerepotan mencari tukang ojek.


*

__ADS_1


__ADS_2