Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 07


__ADS_3

Saat sore menjelang Yudha kembali mengunjungi kamar rawat Tania. Terus terang ia yang semakin terobsesi untuk menawarkan operasi bedah plastik kepada Tania. Selain ia penasaran dengan wajah asli wanita itu. Semoga saja itu bukan Tania yang sama. Karena dilihat dari penampilan wanita itu semalam masih mengenakan seragam pabrikan.


"Astaga!" gumam Yudha mendadak kaget saat dirinya tiba-tiba teringat dengan seragam khas pabrik milik om Lukman, ayahnya Zafran.


"Bisa jadi dia buruh yang bekerja di sana." batinnya menerka-nerka sendiri.


Mungkin Zafran semalam tidak menyadari pakaian yang dipakai wanita itu. Bisa dimaklumi karena mungkin Zafran terlampau panik jadi ia abai. Seandainya Zafran tahu tentang ini? Haruskah Zafran tahu hal ini?


Yudha masih tertegun di depan pintu kamar rawat Tania. Hingga seorang suster yang kebetulan lewat menyapanya heran.


"Dokter Yudha," sapanya yang otomatis membuat Yudha yang tengah melamun terjengkit kaget.


"Eh, ada apa, Sus?"


"Dokter kenapa bengong di sini? Awas kesambet loh, Dok."


Yudha di kenal sosok dokter yang humble dengan bawahannya. Maka tak jarang beberapa perawat cewek sering menggodanya tanpa sungkan. Apalagi dokter tampan seperti Yudha saat ini di ketahui masih single, jadilah banyak beberapa perawat cewek yang bekerja di klinik miliknya sering tepe-tepe kepadanya. Sayangnya Yudha tak pernah kecantol, meski yang menggodanya cukup menawan.


Pria itu hanya merespon ucapan suster itu dengan senyum khasnya yang mampu buat cewek-cewek meleyot melihatnya. Lalu tanpa berkata apapun Yudha segera masuk ke dalam kamar rawat Tania.


"Selamat sore, Dok?" sapa seorang suster yang senantiasa menjaga Tania non stop.


"Sore." Pria itu menyahut ramah.


"Kamu boleh pulang, Sus. Biar pasien ini saya yang jaga," ucapnya lagi yang langsung mendapat respon anggukan kepala oleh suster itu.


"Sekitar jam sepuluh nanti saya minta kamu ke sini lagi nggak keberatan kan?"


Suster itu hanya mengangguk patuh. Karena dirinya juga sudah terikat sebuah perjanjian dengan Yudha untuk menjadi perawat pribadi wanita ini. Apalagi Yudha juga menawarkan gaji tambahan buatnya yang membuat suster itu tak mampu menolaknya.


Setelah suster itu keluar, barulah Yudha mendekat kepada Tania yang diketahui sedang tidak tidur.


"Apa yang anda rasakan sekarang?" tanyanya dengan ramah.


Tania menggelengkan kepalanya.


Yudha tidak bisa mengartikan arti gelengan itu. Tetapi ia harus tetap tenang di depan pasiennya.


"Apakah di sini ada saudara yang bisa saya hubungi?" selidik Yudha.

__ADS_1


Tania menggeleng lagi.


Yudha menghela nafasnya dalam-dalam. Ia harus mengatakan rencana operasi itu saat ini juga kepada Tania.


"Mm... Begini, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan kepada anda. Berkaitan dengan kondisi wajah anda," ucap Yudha dengan sangat hati-hati.


Tania bergeming. Sorot matanya kentara menerawang kosong.


"Kami ada rencana untuk mengoperasi wajah anda."


Tania melirik kepada Yudha.


"Jadi kami butuh informasi lengkap mengenai data anda."


Tiba-tiba Tania menggeleng kepalanya berulang-ulang. Dalam hati Tania, ia tidak setuju dengan usulan dokter itu. Bahkan ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi wajahnya akan seperti apa setelah ini. Walaupun nantinya akan berubah lebih baik, tidak akan merubah luka hatinya yang terlanjur sakit oleh sebuah penghianatan.


"Kenapa?" Yudha memberanikan diri menyentuh lengan Tania.


Tania tetap menggeleng. Tetapi perlahan bulir air matanya menetes. Semakin lama semakin tersedu-sedu tak dapat terbendung lagi. Sungguh luka hatinya itu masih sangat terasa. Ia sudah kehilangan harapan pada diri sendiri.


Yudha terdiam tak dapat berkata apapun. Tetapi ia bisa melihat ada luka yang mendalam yang di rasa wanita itu. Tiba-tiba teringat jika wanita itu pernah menulis sebuah kalimat yang mengatakan ia ingin mati saja. Dari itu Yudha semakin terpanggil untuk bisa membantu menyembuhkan rasa trauma yang di alami wanita itu.


Tangan Tania terulur mencoba mengambil secarik kertas yang berada di meja di sampingnya. Yudha mencoba membantu mengambilnya, kemudian Tania langsung menunjukkan tulisan pernyataan ingin mati yang di tulisnya pagi tadi.


"Astaghfirullah..."


Dokter muda itu mengucap lafadz pengampunan sembari menghela nafas dalam-dalam. Ia sangat yakin jika wanita itu sudah berada di fase ingin mengakhiri hidupnya. Dengan begini berarti Yudha harus bisa maksimal menjaga wanita ini agar tidak terjadi sesuatu yang di luar kendali.


"Istighfar, astaghfirullah..."


Yudha menuntun wanita itu agar mengucapkan kalimat istighfar agar hatinya bisa tenang, sambil mengusap lengannya dengan lembut. Biar bagaimana pun keputusan untuk mengakhiri hidup adalah suatu dosa yang amat besar. Sudah menjadi kewajiban seseorang untuk saling mengingatkan, bila perlu terus mendampinginya.


"Tolong ceritakan apa yang terjadi dengan anda. Setidaknya anda bisa membagi apa yang anda rasakan sekarang. Tolong jangan berkata ingin mati. Itu Dosa." Yudha berusaha membujuk Tania agar mau membagi luka hatinya itu.


Perlahan tangis Tania mulai mereda. Bukan karena tenang karena mendengar ucapan Yudha, tetapi rasanya sudah kering air matanya untuk menangisi nasib hidupnya itu.


Saat melihat Tania kembali tenang, mendadak Yudha kepikiran seorang temannya yang menjadi dokter psikolog. Mungkin bila ia meminta pertolongan temannya itu akan sedikit membantu memulihkan rasa trauma yang di alami Tania.


Yudha beranjak sedikit menjauh dari Tania untuk bisa menelpon temannya itu. Saat panggilannya itu terjawab oleh teman seprofesinya itu, pria itu langsung menceritakan apa tujuan menghubunginya. Beruntungnya temannya itu berjanji akan berkunjung malam ini juga. Tinggal Yudha menunggunya dengan bersabar.

__ADS_1


Saat Yudha menoleh lagi kepada Tania, tak di sangka rupanya wanita itu sedang berusaha melepas selang infusnya. Segera Yudha berlari mendekatinya dengan sangat panik.


"Apa yang anda lakukan?" Yudha mencegah tangan Tania agar menghentikan aksi nekatnya itu.


Tetapi Tania tetap bersikukuh akan melepas selang infus yang masih menancap di tangan kanannya itu, berusaha untuk kabur dari rumah sakit ini.


"Tolong jangan lakukan ini. Kondisi anda masih belum sepenuhnya pulih."


Tania tidak mempedulikan lagi walau bagaimana pun dokter itu membujuknya. Dengan nekatnya Tania menarik paksa jarum infus itu, tak lagi menghiraukan tetesan darah yang mengucur dari bekas suntikan infusnya itu.


Yudha kembali terdiam. Kali ini ia membiarkan saja wanita itu beranjak turun dari tempatnya. Karena pria itu pikir Tania tidak akan kuat berlari mengingat kondisinya yang seperti itu.


Tania melirik sekilas pada dokter Yudha yang terus saja mengekor saat dirinya hendak membuka pintu kamar rawatnya. Kebetulan dari luar pintu itu ada Zafran yang akan membuka pintunya juga. Hingga tak sengaja kepala Tania membentur pintu yang di buka dari luar yang membuat wanita itu langsung oleng hingga nyaris tersungkur ke lantai.


"Astaga!" pekik Yudha yang langsung menangkap tubuh Tania agar tak sampai benar-benar jatuh ke lantai.


"Aku nggak sengaja, Yud," Zafran langsung membela diri.


Tetapi Yudha tidak mempermasalahkan itu. Karena saat ini kondisi Tania kembali tak sadarkan diri.


"Zaf, tolong angkat bareng," mohon Yudha kepada Zafran agar membantunya membawa Tania kembali berbaring di tempatnya.


Lalu keduanya mengangkat tubuh Tania dan meletakkannya pada ranjang pasien.


"Dia mau ke mana kok bisa--"


"Mau kabur!"


Yudha langsung memotong bicara Zafran.


"Dia menolak tawaran operasinya. Bagaimana menurut kamu?" Yudha mulai menceritakan kepada Zafran sambil memeriksa kembali kondisi Tania.


"Aku tidak mungkin membiarkan wanita ini hidup dengan wajahnya yang hancur. Bagaimana pun semua ini salahku. Aku harus bertanggungjawab sepenuhnya."


"Jadi?"


"Malam ini bawa dia ke Korea. Lakukan operasi itu secepatnya," ucap Zafran sudah bertekad dengan keputusannya.


Yudha mengangguk paham. Lalu ia pun segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan wanita itu sebagai prosedur sebelum menjalani operasi wajah pada Tania.

__ADS_1


*


__ADS_2