
Setelah berdebat cukup alot dengan Siska masalah keberatannya karena Tania harus pindah dari rumahnya, akhirnya Zafran memutuskan untuk mengajak Siska juga. Sekalian bisa menjadi teman Tania di rumah yang nanti akan di tempati wanita itu.
Dan selesai mengemas barang dan perlengkapan penting milik mereka, tanpa mengulur waktu lagi mereka akhirnya pergi dari rumah itu. Cukup lama perjalanan menuju rumah yang Zafran tuju, membuat Siska mulai menggerutu, karena baru tahu jika tempatnya lumayan jauh dari jarak tempatnya bekerja.
"Aku sudah bilang, kamu di larang menyesal," seloroh Zafran setelah puas mendengar omelan Siska.
"Saya pikir tadi Tuan bohong, biar saya nggak jadi ikut," balas Siska dengan ekspresi nya yang terlihat pasrah.
Zafran hanya mendengus sedikit kesal. Ia memang paling tidak suka perempuan ngeyelan seperti Siska. Berbeda dengan Tania yang selalu tenang dan tipe-tipe perempuan penurut. Eh, kenapa jadi membanding-bandingkan dua perempuan itu?
Hampir dua jam perjalanan akhirnya mobil itu masuk ke dalam halaman rumah yang cukup luas, dengan di tumbuhi beberapa pohon mangga yang membuat suasana menjadi rindang. Bangunan rumah itu cukup sederhana, tidak begitu besar, tetapi sedang-sedang saja.
Tak lama kemudian muncullah seorang lelaki sekitar berusia enam puluhan, datang menyapa mereka.
"Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini, Den,?" sapa bapak itu, sedikit membungkukkan badannya saat menyapa Zafran.
"Mendesak, Pak," seru Zafran sambil tersenyum hangat kepada bapak itu.
"Kalau nelpon dulu kan saya bisa bersihkan dulu. Pasti banyak debu di dalam," sesal bapak itu merasa tidak enak karena di bayar untuk menjaga rumah itu tetapi begitu pemiliknya datang malah belum sempat di bersihkan.
"Tidak apa-apa, Pak. Biar mereka nanti yang bersihkan." Zafran berkata sambil melirik kepada Tania dan Siska.
__ADS_1
"Kalau begitu maaf loh, Den. Ini kunci rumahnya," bapak itu menyerahkan kunci rumah itu kepada Zafran.
"Bapak boleh pergi. Kami bisa kerjakan sendiri. Terimakasih ya," ucap Zafran yang kemudian bapak itu langsung menurut dan kemudian pergi.
"Assalamu'alaikum," ucap Zafran bersamaan saat pintu rumah itu terbuka lebar.
"Wa'alaikum salam." Tiba-tiba Tania menjawabnya dengan lirih.
Seketika Zafran menoleh kepadanya. Cukup tercengang, sekaligus aneh, tetapi kenapa malah terasa menenangkan.
"Ini serius kita mau tinggal di sini?" Siska masuk lebih dulu, setelah Zafran menyalakan lampunya. Matanya berkeliling mencermati ruang tamu yang sudah lengkap dengan isinya, tetapi semua tertutup dengan kain putih sebagai pelindung dari debu yang bisa mengotori perabot rumah itu.
"Ini rumah siapa, Tuan?" Akhirnya Tania bertanya juga.
Pria itu membuka kain putih penutup sofa panjang yang ada di ruang itu. Mengibaskan kain putih yang cukup berdebu, membuat kedua wanita itu spontan menutup hidung takut bersin. Setelah itu Zafran duduk dengan nyaman di sana. Matanya menatap nyalang pada sebuah figura kosong berukuran besar yang terpasang di dinding ruang tamu itu. Setelah beberapa kali hentakan nafasnya keluar, barulah Zafran berdiri dari tempatnya.
"Aku harus pulang," serunya kemudian.
"Ini sudah hampir tengah malam, Tuan," ucap Tania mendadak merasa khawatir, mengingat jarak tempuh menuju tempat asal mereka butuh waktu dua jam lamanya.
Zafran hanya tersenyum getir. Tanpa banyak bicara lagi, pria itu segera keluar dari rumah itu, di susul dua perempuan itu yang mengekor nya hingga ke teras depan.
__ADS_1
"Mm... Kalian boleh bebas di rumah ini. Asal tidak masuk ke kamar itu." Zafran menunjuk pada sebuah kamar dengan pintu bercat putih gading.
Tania langsung mengangguk patuh. Berbeda dengan Siska yang sedari tadi berwajah masam. Membayangkan betapa capeknya ia kalau setiap hari harus menempuh jarak panjang untuk menuju tempat kerjanya. Mana motor miliknya masih ada di rumah lama, dan lagi besok pagi ia sudah harus masuk kerja. Ngalamat otw subuh-subuh kalau begini.
"Dan kamu," Zafran menunjuk kepada Siska.
"Tolong rahasiakan tempat ini dari Yudha," ucapnya kemudian. Menjadi peringatan keras, karena pria itu mengatakannya dengan sangat serius. Lengkap dengan tatapannya yang seketika horor.
Siska tak lekas mengangguk. Tetapi ia mengerti akan perintah itu. Karena sebenarnya Siska sendiri sudah mulai menyesal, kenapa tadi harus ngeyel ingin ikut Tania. Tahu begini nggak mungkin ikut.
Lalu kemudian Zafran segera masuk ke mobilnya. Pria itu segera melajukannya tanpa mau menoleh lagi pada rumah itu. Beralih kemudian Tania dan Siska masuk lagi ke rumah itu untuk kemudian berberes sejenak, sebelum kemudian bisa tidur dengan nyenyak.
Di tengah perjalanan Zafran menepikan mobilnya. Keadaan di sekitar jalanan itu cukup sepi pelintas. Hanya beberapa kendaraan roda besar, seperti bus dan truk pengangkut barang yang terkadang mondar-mandir di jalan itu.
Pria itu menyandarkan punggungnya pada jok nya, memijit keningnya yang tiba-tiba merasa pening. Kisah percintaannya yang sad ending, seketika kembali melintas saat pria itu terpaksa datang lagi ke rumah impian yang saat itu ia persiapkan untuk kekasih tercinta. Nuansa perkampungan yang asri nan ramah lingkungan, Zafran sangat suka nuansa seperti itu. Tetapi belum sempat Zafran memberi surprise itu, calon istrinya itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Zafran membeli rumah itu juga tanpa setahu kedua orang tuanya. Bahkan sampai detik ini pun ayah ibu Zafran tidak tahu perihal rumah itu. Bukan tanpa sebab Zafran dulu mempersiapkan rumah impian, padahal dirinya adalah anak tunggal yang pastinya akan selalu tinggal bersama orang tua. Karena tiada restu dari ayah ibunya lah yang membuat Zafran mempersiapkan segalanya secara diam-diam. Merahasiakan segala kejutan yang ia siapkan untuk pujaan hati dari kedua orang tuanya.
Hingga detik ini pun Zafran masih belum tahu bagaimana dan di mana wanita itu berada. Meski begitu Zafran sudah tidak begitu penasaran akan kabar wanita itu. Karena sudah cukup rasanya pria itu terpuruk seorang diri hanya karena patah hati. Menyadari hidup bahwa terus berjalan, tidak mungkin pula membiarkan masa lalu menggerus kebahagiaan yang semestinya ia rasakan. Walau harus dengan mencoba bersama orang lain itu masih terlalu sulit buatnya.
Setelah puas merenung seorang diri, akhirnya Zafran kembali melajukan mobilnya. Kali ini pria itu berniat pulang ke rumah. Sudah siap menghadapi segala kemungkinan pertanyaan yang siap menghadang terutama dari ibunya.
__ADS_1
Tanpa Zafran tahu kalau sebenarnya ayah ibunya sudah tahu di mana saat ini ia berada. Tentu itu berkat laporan dari orang suruhan pak Lukman, yang terus mengintai dan mengikuti ke mana Zafran pergi. Termasuk info tentang Zafran yang membawa Tania, ibu Diana dan pak Lukman juga sudah mengetahuinya.
*