Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 37


__ADS_3

Zafran melajukan motornya hingga cukup jauh dari jarak rumahnya. Entah mengapa untuk sekedar mencari warung makan di kampung itu malam ini begitu sulit. Hingga akhirnya motor yang dibawa Zafran menuju ke arah kota, di situlah mulai banyak dijumpai beberapa warung makan yang buka.


"Ta, kamu mau makan apa?" tanya Zafran, suaranya sedikit mengeras karena banyak laju kendaraan yang melintas di jalanan itu.


"Terserah, Tuan," sahut Tania. Mau makan apapun sebenarnya Tania tidak keberatan, yang terpenting sekarang perutnya terisi dengan kenyang.


Lalu Zafran memilih menepikan motornya begitu melihat warung penjual aneka seafood. Tanpa banyak bicara segera Zafran masuk ke warung itu, diikuti Tania yang juga ikut masuk.


Zafran mulai duduk di tempat yang diinginkan, tetapi Tania masih tetap berdiri di tempatnya. Rasanya masih canggung walau antara mereka sebelumnya pernah duduk dan makan berdua seperti ini.


"Kenapa tidak duduk?" tanya Zafran heran.


Tania malah menundukkan wajahnya, tambah canggung saja.


"Ya sudah, kamu pesan sana mau makan apa? Tolong aku pesankan gurami goreng. Jangan lupa minumnya juga, Ta," seru Zafran, menyuruh Tania memesan makanan yang akan mereka makan. Sebenarnya tidak tega memerintah Tania seperti itu, jadi mirip membawa keluar pembantu menurut Zafran.


Tania mengangguk patuh. Lalu wanita itu segera menuju abang penjualnya. Agak lama Tania mengobrol dengan abang penjual itu, membuat Zafran sedikit jengah melihatnya.


Tak lama kemudian Tania kembali menghampiri Zafran.


"Sudah?" tanya Zafran dengan sorot yang kentara bete.


Tania mengangguk saja.


"Kamu kenal sama orang itu?" Zafran menunjuk dengan dagunya ke arah abang penjual. Yang dilihat dari gelagatnya seperti suka merayu wanita.


Tania menggeleng kepala.


"Tidak kenal tapi kalian bicara seperti sudah saling kenal?" gumam Zafran, sedikit bisa didengar oleh Tania.


Tania mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Zafran. Pikirannya bingung sendiri, kenapa Zafran seperti tidak suka dirinya bicara dengan orang itu. Menyadari Tania menatapnya, lantas Zafran membuang muka melihat ke arah jalan raya.


"Kamu mau berdiri di situ sampai kapan?" ucap Zafran tiba-tiba, setelah beberapa menit saling diam.


"Eh, iya, Tuan." Lalu Tania duduk saling berhadapan dengan Zafran.


"Se- sebenarnya aku kenal dia. Dia temanku di kampung, tapi dia tidak mengenaliku," jelas Tania kemudian.

__ADS_1


Pria penjual di warung ini berasal dari daerah yang sama dengan Tania. Mereka dulu pernah berteman semasa kecil. Tetapi karena wajah Tania yang sudah berbeda, maklumlah jika pria itu tidak mengenalinya. Bahkan pria itu malah merayu Tania tadi, merasa terpesona dengan kecantikan Tania, hingga pria itu sengaja mengulur-ulur bicaranya agar Tania tidak lekas pergi.


"Kenapa kamu tidak mengaku kalau kamu--" ucapan Zafran tercekat karena hampir keceplosan mengungkit wajah baru Tania.


Tania menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia maksud apa yang akan dikatakan oleh Zafran. Tetapi keputusannya untuk membuang identitas lamanya sudah bulat. Ia sudah bertekad akan mengubur masalalunya, pura-pura tidak akan mengenal orang-orang yang dulu ia kenal. Biar saja orang lain akan mengenalnya sebagai Tata, bukan Tania lagi.


Melihat Tania yang hanya diam, Zafran ikut diam juga. Seperti sudah kehabisan topik untuk mereka bicarakan.


Tak lama setelah itu pesanan makanan mereka sudah datang. Abang penjual itu datang sambil senyum-senyum gaje kepada Tania.


"Silahkan, Neng cantik," ucap pria itu sambil mengerlingkan sebelah matanya menatap Tania.


Tania hanya mengangguk kikuk. Rasanya pingin ketawa melihat teman jaman SD dulu kini menggodanya. Dulu saat Tania kecil, boro-boro ada yang bilang dirinya cantik. Justru banyak teman di kampungnya dulu menghindarinya, karena wajahnya yang buruk rupa bagi mereka.


Tetiba Zafran berdeham agak nyaring. Bukan kode agar abang penjual itu lekas pergi, tetapi memang tenggorokannya yang tiba-tiba merasa gatal. Buru-buru Zafran mengambil minuman teh hangat yang dibawa pria itu, lalu meminumnya agak cepat.


Si abang penjual itu langsung salah tingkah. Buru-buru menata dua porsi gurami goreng lengkap dengan nasi dan sayurnya. Mengira Zafran adalah suami Tania. Terus terang ia takut akan ada huru-hara karena ulah isengnya.


"Bilang dong neng cantik, kalau sudah punya suami. Abang kan gak ngarep sama neng cantik," kata abang itu, tatapannya sudah tidak berani menatap Zafran.


Zafran bedecih melihat perilaku abang penjual itu. Dasar lelaki cap buaya buntung!


Sedangkan Tania langsung terkekeh kecil melihat abang itu mulutnya manyun. Terasa lucu saja. Zafran yang tidak pernah melihat Tania tersenyum seperti itu, tiba-tiba merasa ada yang berbeda. Darahnya seperti berdesir aneh. Tidak ditampik lagi, jika wanita yang duduk didepannya itu benar-benar cantik.


"Ee... Tuan Zafran," sapa Tania, mengagetkan Zafran yang sedang melamun menatapnya.


"Ah!" Zafran langsung tolah-toleh ke sekitar, merutuki diri sendiri karena ketahuan menatap Tania.


"Ee... Mari makan, Ta," ucap Zafran, kemudian langsung menyantap makanannya.


Tania hanya mengangguk. Ia pun juga lekas memakan makanannya.


"Auww!" desis Tania saat satu jarinya tidak sengaja tertusuk duri ikan.


Zafran langsung menatapnya lagi.


"Kenapa, Ta?" tanyanya, melihat Tania mengibaskan tangan kanannya.

__ADS_1


"Tertusuk duri ikan, Tuan," seru Tania.


"Kok bisa?" Spontan Zafran meraih tangan Tania, melihat jari telunjuknya yang mengeluarkan setitik darah.


Tania langsung menarik tangannya. Dipegang seperti itu rasanya mendadak kikuk.


"Ada apa denganku?" batin Tania bersuara. Apakah dirinya sudah mulai terpesona dengan Zafran. Kenapa detak jantungnya memacu dengan cepat?


Zafran memalingkan wajahnya lagi. Dalam sejenak keduanya sama-sama saling diam. Tetapi kemudian Zafran yang lebih dulu makan lagi. Pria itu mulai membersihkan daging ikan itu dari durinya. Kemudian tanpa ragu langsung menukar ikan miliknya dengan milik Tania.


"Makanlah!" ucap Zafran. Kemudian pria itu kembali makan dengan santainya.


Tania yang melihat perlakuan Zafran seperti itu semakin tercengang. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat ada pria yang memperlakukannya seperti ini.


"Kalau cuma dilihat nggak mungkin kenyang, Ta," seru Zafran mengagetkan lamunan Tania.


Lalu Tania kembali menikmati makanannya.


Tak lama kemudian mereka sudah selesai makan. Zafran beranjak untuk membayar makanannya. Setelah selesai, Zafran hanya melambaikan tangannya memanggil Tania untuk keluar dari warung itu.


"Ayo beli sembako," ucap Zafran. Pria itu sudah duduk anteng di atas motornya yang sudah menyala.


Tania mengangguk saja. Laju motor itu berjalan sedang, sehingga Tania tidak harus berpegangan lagi dengan Zafran. Lagi, motor itu berhenti di depan toko swalayan yang menjual aneka keperluan sehari-hari. Mereka berdua masuk ke dalam toko tersebut. Zafran langsung sigap mengambil sebuah keranjang plastik untuk tempat barang yang akan dibelinya. Dan Tania hanya bisa mengekor dibelakangnya dengan mulut yang terkunci rapat.


Keranjang belanja itu sudah terisi penuh. Keduanya kembali berjalan menuju kasir. Tetapi tiba-tiba Zafran berhenti saat matanya melihat plester di rak obat. Ia mengambilnya, lalu menyerahkan plester juga obat merah itu kepada Tania.


"Obati jarinya, takut infeksi," katanya singkat, tetapi mampu membuat Tania tercengang lagi atas sikap Zafran kepadanya.


"Ayo, Ta!" Zafran sampai menoleh kepada Tania yang masih mematung di tempat.


Tania berjalan lagi dibelakang Zafran.


"Jangan seperti ini jalannya. Orang akan mengira kamu itu pembantuku," celetuk Zafran yang kemudian mensejajarkan langkahnya dengan Tania.


"Karena kamu terlalu cantik untuk menjadi pembantu." batin Zafran bersuara.


*

__ADS_1


__ADS_2