Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 04


__ADS_3

Tania terus saja berlari tak tentu arah hingga sudah tidak tahu lagi dirinya saat ini berada dimana. Yang ia perhatikan jalanan yang saat ini Tania berada sangat sepi pelintas. Seperti sebuah jalan raya yang baru selesai di proses, yang sama sekali wanita itu belum melewati jalan itu.


Entah malam ini sudah jam berapa, karena saat Tania pergi dari rumah tadi ia tidak membawa handphone atau yang lainnya. Wanita itu duduk meringkuk di tepi jalan dengan linangan airmata yang tiada berhenti sedari tadi. Ia menangis sepuasnya yang entah akan berhenti sampai kapan. Seonggok hatinya yang hancur berkeping-keping telah sulit untuk disatukan lagi. Sakit sekali rasanya dihianati oleh orang yang selama ini dekat dengannya.


Saat wanita itu mulai lelah untuk menangis lagi ia mencoba beranjak dari tempatnya. Matanya melihat ke sekitar, mulai bingung dirinya harus kemana lagi setelah ini. Sedangkan untuk kembali ke rumah itu sudah tidak mungkin lagi.


Hanya berdasarkan insting maka Tania kembali melangkah pelan menyusuri jalanan yang sangat sepi pelintas yang lewat di sana. Sedangkan di pinggiran jalan itu hanya berupa persawahan yang membentang luas, nyaris tidak ada gedung bangunan apa-apa di sana.


Hingga pada saat ia termenung seorang diri meratapi nasibnya, ia tidak sengaja melewati gerombolan pemuda yang sedang berpesta minuman keras di sebuah ladang kosong di pinggir jalan itu.


"Ada mangsa empuk, Bro!" celetuk salah satu pemuda di sana dengan nada suara khas orang teler.


"Cuit.... Cuit..."


Seorang lagi sengaja bersiul menyoraki Tania yang mulai ketakutan.


"Sombong amat! Sini dong temani kita." Salah seorang lagi sampai menghadang jalan Tania, sambil menarik-narik tangan Tania.


"Tolong lepaskan. Saya hanya numpang lewat. Permisi," ucap Tania dengan suaranya yang mulai gemetar.


Hahaha..... Hahaha....


Pemuda berandal yang terdiri dari lima orang itu kompak tertawa terbahak-bahak. Mereka berlima malah mengurung Tania dengan membentuk lingkaran. Senyum devil terpasang pada diri mereka masing-masing. Ada pula yang menatap Tania dengan sorot penuh nafsu. Membuat Tania semakin takut, tetapi harus bertekad agar bisa terbebas dari lima pemuda yang sedang dibawah pengaruh minuman keras.


"Kemari dong cantik, jangan takut. Kita semua tidak jahat, hanya ingin mengajakmu menikmati dinginnya malam." Seorang pemuda yang paling kurus diantara semua mulai berani membelai pipi Tania.


Tania segera menangkis tangan pria itu dari wajahnya. Yang membuat pria itu tersulut emosi dan seketika menampar pipi Tania.


Plak!!


"Masih syukur aku bilang cantik. Nggak ngaca woiiiy... Gigi tonggos kayak gitu siapa yang mau?!"

__ADS_1


Haha.... Haha....


Lagi-lagi mereka ikut tertawa mengejek kepada Tania.


Tania hanya bisa mengusap pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan pria itu. Jujur Tania sangat marah. Cuma ini bukan solusi yang tepat jika ia ikut membalasnya. Mengingat didepannya itu ada lima pemuda, tentu akan kalah telak jika harus berhadapan dengan mereka.


Saat kelima pemuda itu asyik menertawakannya, saat itu pula Tania mengambil kesempatan untuk bisa kabur dari mereka. Wanita itu mulai mengambil ancang-ancang, bersiap kabur dengan sekuat tenaganya.


Satu...


Dua....


Tiga!


Lalu Tania menerobos lewat celah gerombolan pemuda itu.


"Woiy... Dia kabur! Kejar...!!!"


Ciiiiiiiiiiiiiiiit.........


Braakk!!!


"Mampus!" umpat seorang pemuda yang ikut mengejar Tania.


Tiga pemuda yang mengejar Tania itu hanya bisa menatap dari kejauhan wujud Tania yang terpental agak jauh dengan kondisi wajah yang berlumur darah.


"Cabut! Cabut!" Intrupsi salah satu dari mereka.


Secepat kilat tiga pemuda itu lari dari tempat kejadian. Disusul teman-temannya yang lain yang juga ikut kabur karena merasa enggan untuk menjadi saksi kronologis kecelakaan yang menimpa Tania.


Saat ini Tania, si wanita malang, terbaring tak berdaya dengan kondisi wajah yang mengenaskan. Bahkan nyaris tak bisa dikenali lagi efek banyaknya lumuran darah yang keluar dari wajahnya.

__ADS_1


Sedangkan seseorang yang baru saja tak sengaja menabrak tubuh Tania masih tertegun di dalam mobilnya. Kedua tangannya mencengkram erat pada gagang setir, dengan deru nafas yang tersengal-sengal efek kaget dan juga takut.


Sebenarnya orang yang menabrak Tania itu bisa saja melarikan diri dari tempat itu. Apalagi kondisi jalan yang sepi dan minim saksi, akan mempermudah dirinya untuk menghilangkan jejak.


Tetapi akal waras orang itu bersuara lain. Jika ia diberikan kesempatan kabur dari tempat ini, tetapi tidak dengan karma yang siap-siap akan menghadang kelak.


Dengan perasaan takut dan gugup, lelaki pelaku tabrakan itu akhirnya keluar dari mobilnya. Tujuannya tak lain ingin memastikan bagaimana kondisi perempuan yang ditabrak nya itu.


Seorang pria muda sekitar usia dua puluh delapan tahun, dengan penampilannya yang menawan khas anak pengusaha, berjalan mendekat kepada Tania.


"Semoga tidak mati," gumamnya bertambah parno.


Sebelumnya pria itu menoleh ke sekeliling, sekedar memastikan jika keadaan aman. Setelah dirasa benar-benar aman, barulah pria itu melongokan wajahnya untuk melihat kondisi Tania dari arah belakang.


"Astaghfirullah!"


Pria bernama Zafran itu membuang muka. Dirinya yang sedikit phobia melihat banyaknya darah segar mengalir, spontan melepas jas yang di pakainya untuk menutupi wajah Tania yang berlumuran darah.


Setelah wajah itu tertutup dengan jas miliknya, barulah Zafran mulai berjongkok. Dengan perasaan bercampur aduk, pria itu memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan Tania. Mencoba mencari denyut nadi yang kemungkinan masih ada pada wanita itu.


"Dia masih hidup," ucapnya kaget, tetapi lebih ke rasa bersyukur karena ia tidak menjadi tersangka utama penyebab kematian orang.


Zafran masih diam di tempat, terus berpikir akan dibawa kemana wanita ini. Walau jawabannya sudah pasti harus di bawa ke rumah sakit, tetapi Zafran takut jika nanti akan ditanya banyak hal berkaitan hal ini.


Samar-samar dari kejauhan terlihat lampu pengendara motor dari ujung jalan. Membuat Zafran harus segera bertindak jika ingin lepas dari jeratan tersangka.


Karena sudah mendesak, akhirnya Zafran mengangkat tubuh Tania membawanya masuk ke dalam mobilnya. Buru-buru pria itu melajukan mobilnya. Walau masih tanpa tujuan pasti, yang terpenting sudah bisa keluar dari TKP.


Saat sedang berada diambang kebuntuan ide, baru Zafran ingat kalau ia memiliki seorang teman dokter yang membuka klinik sendiri tak jauh dari tempat saat ini dirinya berada.


"Semoga Yudha bisa membantu," pintanya dalam hati. Sambil terus melajukan mobilnya dengan pesat agar bisa segera tiba di klinik yang ia tuju.

__ADS_1


*


__ADS_2