
Tania dan Siska pulang dari rumah kontrakan itu dengan perasaan lega. Ijazah, KTP, dan juga buku nikah sudah Tania bawa. Selebihnya dari tiga benda itu Tania tidak peduli. Bahkan tadi ia tidak melihat ponsel dan ATM miliknya, mungkin sudah di ambil oleh Doni.
Di perjalanan pulang itu mereka masih mampir sejenak untuk membeli minuman dingin di pinggiran jalan.
"Aaah.... Lega rasanya," seru Siska setelah menyeruput es kelapa muda, lalu melepas kerudung panjang yang di kenakannya sedari tadi.
Sedangkan Tania sendiri tidak banyak bicara, tetapi jelas dari rona wajahnya kelegaan itu terpancar di sana.
"Siska, setelah ini bantu aku cari pekerjaan ya?" ucap Tania.
Siska hanya mengangguk sambil menikmati minumannya.
"Aku terimakasih sekali sudah kamu bantu hari ini. Setelah ini aku harus bangkit lagi, harus semangat cari cuan, biar nggak numpang hidup sama kamu terus."
"Jangan bilang kamu nggak mau tinggal bareng aku lagi?" Mendadak Siska memiliki perasaan seperti itu setelah mendengar kalimat Tania di terakhir ucapannya.
"Nggak! Nggak! Aku nggak ijinin kamu pergi dari rumah," ucap Siska sambil menggeleng-geleng kepala.
"Masalah kamu mau cari kerja nggak pa-pa, tapi plis jangan pergi dari rumahku ya? Aku sudah nyaman di rumahku ada temannya. Sebelumnya aku selalu sendiri. Aku senang sekali pas kamu setuju aku ajak tinggal di rumahku," mohon Siska pada Tania.
"Iya, aku nggak pergi ke mana-mana, aku temenin, mau pindah juga aku nggak punya uang buat bayar kontrakan. Tapi setelah kamu entar nikah aku harus tetap pindah kan?
Siska terkekeh sendiri.
"Bicaramu kejauhan, Ta. Mau nikah sama siapa, calon aja belum ada." Siska mulai curhat.
"Masa sih?"
Siska mengangguk lemah.
Tania berpikir sejenak. Perempuan cantik seperti Siska yang sudah jelas memiliki pekerjaan tetap sebagai perawat di rumah sakit belum ada yang melirik, apa lagi dengannya yang pengangguran juga cantiknya hasil oplas?
"Ta, kok ngelamun?" tegur Siska dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Tania.
"Jadi benar kamu masih belum punya pacar, Sis?" Tania langsung bertanya.
Siska mengangguk. Tetapi senyum di wajahnya tetap mengembang.
"Aah, apalah aku yang cuma begini." Tania berubah murung.
"Eh, kenapa kamu ikutan sedih? Udah cantik begini malah minder." Siska menangkup wajah Tania, mencoba menghiburnya.
Tania terdiam. Walaupun sebenarnya ia sudah tidak bergairah lagi untuk mencari tambatan hati, tetapi jika di kemudian hari Tuhan masih memberinya jodoh, sejujurnya ia takut orang itu tidak akan menerima dengan keadaannya yang asli.
"Sebenarnya ada yang aku taksir sih," seru Siska mengalihkan kesedihan Tania dengan sesi curhatannya.
"Kalau kamu tahu aku naksir siapa, pasti kamu tertawa karena mimpiku kejauhan." Siska berkata sambil terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Teman di rumah sakit?" tanya Tania mulai kepo.
"Dokter Yudha." Setelah menyebut nama dokter Yudha, Siska tertawa cekakakan. Membuat Tania ikut tertawa karena merasa di kerjai oleh Siska.
"Mimpiku kejauhan kan berani naksir dokter Yudha," Siska masih tertawa terpingkal-pingkal.
Hingga tiada sadar Siska membuang plastik bungkus minumannya, melempar ke sembarang tempat dan kebetulan mengenai mobil yang sedang melintas pelan di depannya.
Ciiiiiiiitt.....
Mobil itu berhenti mendadak dengan menekan rem nya hingga berbunyi cukup bising dan mengagetkan kedua wanita itu.
"Bikin kaget aja, kirain ada kecelakaan," ucap Siska sambil mengelus dada setelah memperhatikan mobil yang berhenti itu tidak kenapa-napa.
"Mbak, kalo buang sampah kira-kira dong. Tuh orang pasti mau marah sama Mbak," ucap si pedagang es kelapa muda itu kepada Siska.
Siska yang masih belum paham dengan kesalahannya hanya melongo mendengar ucapan pedagang itu. Dan benar saja, pemilik mobil itu akhirnya keluar sambil menenteng plastik es yang masih ada pecahan es baloknya. Bagaimana pemilik mobil itu tidak geram, sampah yang di lempar Siska langsung nyangkut di kap depan mobilnya.
"Siska, itu tadi kamu yang ngelempar kan?" Tania bertanya, dan Siska baru sadar dengan kecerobohan yang di lakukannya.
Siska menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. Bukan karena kaget akibat berbuat kesalahan, tetapi merasa terpesona dengan ketampanan pria yang saat ini melangkah mendekat dengan sorotan matanya yang tajam.
Sedangkan Tania yang sudah tahu pria itu siapa hanya bisa tertunduk sungkan, merasa malu temannya itu berbuat ceroboh dan mengenai orang yang sangat berjasa kepadanya.
"Sumpah ganteng banget, Ta...." Siska masih sempat-sempatnya memuji ketampanan pria itu.
"E... e... Tuan Zafran," sapa Tania kepada lelaki yang sudah berdiri menatapnya.
Wanita itu sering mendengar nama tuan Zafran dari dokter Yudha, tetapi baru kali ini ia di pertemukan dengan sahabat dokter Yudha itu.
Siska meneliti tampilan Zafran dari ujung rambut hingga kaki. Kalau benar dia yang membiayai Tania, kenapa tampilannya hanya seperti karyawan toko?
"Siapa yang melempar ini?" Zafran mengangkat sampah plastik itu di tangannya.
"Dia, Mas. Sudah di bilangin tadi jangan buang sampah sembarangan." Pedagang itu langsung menunjuk pada Siska.
Dan Siska hanya nyengir sambil mengambil sampah plastik itu dari tangan Zafran.
"Maaf," ucapnya sambil lalu membuang sampah pada keranjang sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Selamat siang, Tuan," sapa Tania kepada Zafran.
Zafran hanya melirik sekilas. Bukan tidak mau menjawab sapaannya, tetapi entah mengapa degup jantungnya mendadak gugup bertemu lagi dengan Tania yang memiliki kemiripan wajah dengan wanita masa lalunya.
Seketika mata pria itu tersita dengan map yang di pegang wanita itu. Karena penasaran diam-diam Zafran membaca nama sekolah yang ada di map itu, dari sini semakin jelas jika wanita itu bukan jelmaan kekasihnya yang mendadak menghilang tiga tahun silam. Karena nama sekolah itu bukan tempat sekolah kekasihnya dulu.
"Itu punya kamu?" tanya Zafran hanya ingin memastikan.
__ADS_1
Tania mengangguk sambil mendekap ijazah itu di dadanya.
"Boleh aku lihat?" Sumpah! Zafran benar-benar penasaran tingkat tinggi.
Tania langsung menyerahkan begitu saja. Sedangkan Siska yang sedari tadi berdiri di sampingnya hanya berperan sebagai penonton.
Zafran membuka map yang berisi ijazah itu. Rupanya bukan hanya ijazah yang wanita itu simpan di dalamnya. Juga ada buku nikah milik Tania. Dengan lancang nya Zafran membuka buku nikah itu. Membaca identitas Tania. Sesingkat itu nama wanita itu. Hanya Tania, tanpa ada embel-embel lain di belakangnya.
Ada kelegaan yang terselip di hati Zafran begitu melihat sendiri jika Tania ini bukanlah Tania mantan kekasihnya. Tetapi ia di buat kaget setelah melihat siapa suami wanita itu. Lelaki itu yang tadi datang ke tokonya.
"Ini suami kamu?" tanya Zafran. Sebetulnya tidak perlu di tanyakan, karena sudah jelas tertulis di buku itu.
"Akan jadi mantan suami," Siska ikut nimbrung dengan mempertegas status Tania.
Dan Tania sendiri hanya tertunduk saja. Memang itu sudah kenyataannya, meski dalam catatan hukum mereka masih belum resmi bercerai.
Zafran hanya manggut-manggut sambil lalu menyerahkan ijazah itu lagi kepada Tania.
"Saya tidak menyangka akan bertemu tuan Zafran di sini. Saya Siska, Tuan. Perawat yang di bayar tuan," ucap Siska memperkenalkan diri kepada Zafran.
"Ehem!" Zafran merespon dengan dehamannya.
"Kamu harus tanggung jawab," ucap Zafran kemudian.
"Soal?"
"Mobilku kotor karena kamu." Zafran menunjuk ke arah mobilnya.
"Maksudnya saya suruh cuci mobil tuan gitu?"
Belum juga Zafran menyahut, dering ponsel Siska keburu berbunyi.
"Maaf, Tuan, saya jawab telpon dokter Yudha," ujar Siska sambil bergeser menjauh dari Zafran dan Tania.
Tak lama setelah itu Siska mendekat lagi dengan wajahnya yang panik. Wanita itu langsung naik ke motornya begitu saja.
"Sis, mau ke mana?" tanya Tania penasaran, dan lagi takut di tinggal sendiri di tempat itu.
"Urgen, Ta. Di klinik ada korban keracunan massal. Dokter Yudha kekurangan personil," seru Siska lalu kemudian melajukan motornya pergi dari tempat itu.
"Loh, trus aku gimana?" gumam Tania gelisah sendiri.
Zafran hanya bisa menarik nafas sepenuh dada melihat Siska yang pergi begitu saja. Tetapi merasa kasihan juga kalau Tania di tinggal sendiri.
"Boleh aku ikut, Tuan?" mohon Tania, padahal Zafran juga ingin menawari tumpangan tapi keduluan wanita itu yang bicara.
*
__ADS_1
Bonus visual Doni