
"Kamu boleh minta apa saja setelah ini selesai, asal kamu tidak pergi," ucap Zafran yang seketika Tania membalik badannya saling berhadapan dengan Zafran.
"Bantu aku, Ta. Hanya malam ini saja. Setelah ini aku jamin tidak akan melibatkan kamu lagi," mohon Zafran, karena ia menduga wanita itu akan kabur.
"Tu-tuan," sapa Tania sedikit gugup.
Zafran menatapnya dengan sendu.
"Saya bukannya mau pergi, tapi-- kebelet pipis," ucap Tania sambil menunjuk ke arah pintu toilet.
Zafran tercengang sesaat. Apa baru saja ia sedang parno, takut di tinggal pergi oleh Tania saat sandiwara itu belum juga terlaksana. Tetapi kemudian tarikan nafas pria itu berhembus lega, setelah melihat Tania benar-benar masuk ke toilet.
Zafran memutuskan untuk menunggu Tania dari luar toilet itu. Hingga lima menit kemudian ia melihat Tania keluar dari sana, lantas pria itu tersenyum kecil kepadanya.
"Ya ampun... Kenapa dia tampan sekali?" lirih hati Tania mulai terpana.
Wajar saja jika wajah tampan Zafran akan mudah menjadi daya pikat wanita mana pun. Dan itu juga normal yang di rasakan oleh Tania. Tetapi satu garis besar yang harus di tekankan oleh Tania ialah Zafran bukan lah pria yang selevel dengannya. Tania yang hanya terbantu berkat oplas di wajahnya, tetapi kondisi hidupnya jauh di bawah rata-rata jika harus di sandingkan dengan Zafran.
"Ehem!" Zafran berdeham di sengaja untuk membuyarkan lamunan wanita itu.
Dan lagi, pria itu mengaitkan tangan Tania pada lengannya. Lalu berjalan beriringan menuju meja tempat kedua orang tuanya menunggu mereka saat ini.
"Ayah, Ibu," sapa Zafran kepada pak Lukman dan ibu Diana.
Kedua orang tua Zafran berdiri di tempatnya sambil tersenyum manis menatap anaknya yang mereka kira benar-benar sudah move on dari masa lalunya. Lalu bergantian Zafran dan Tania bersalaman dengan pak Lukman dan ibu Diana. Tetapi yang membuat Tania tertegun sejenak saat ibunya Zafran mencium pipinya, istilahnya cipika-cipiki.
"Mm... Subhanallah... Cantik sekali kamu, Nak," ibu Diana berkata sambil membelai pipi mulus Tania.
"Mari duduk. Ayah sama ibu sudah lama nunggu kalian. Rasanya sudah lumayan lapar," seru pak Lukman mengajak mereka duduk di tempatnya.
Sebelum Tania duduk, Zafran lebih dulu menarik kursi yang akan di duduki Tania. Lalu tersenyum manis sambil mempersilahkan Tania duduk. Kemudian Zafran juga ikut duduk di samping Tania.
"Ibu pikir pacar kamu ini akan marah, karena tadi ibu lihat dari sini kamu main nyosor aja," seru ibu Diana memulai percakapan agar semakin hangat dan tidak terasa canggung.
Zafran dan Tania hanya tersenyum kecil. Karena mereka tak paham apa maksud yang di bicarakan ibu Diana.
Lalu pak Lukman melambaikan tangannya memanggil waiters, untuk kemudian menyajikan pesanan yang sebelumnya sudah di pesan oleh pak Lukman.
"Mm... Nama kamu siapa, Nak?" sapa ibu Diana sambil sengaja menyentuh punggung tangan Tania.
__ADS_1
"Tata," jawab Tania sambil tersenyum canggung.
Sesaat pak Lukman dan ibu Diana saling memandang. Lirikan kecil mata mereka tak lagi membuat Zafran heran, karena pasti orang tuanya itu menganggap Tania ini adalah mantan calon menantunya yang hilang.
Berbeda dengan yang di rasa oleh Tania. Wanita itu jadi bertambah canggung ketika mendapati aura yang tidak mengenakkan dari tatapan kedua orang tua Zafran. Tangan yang semula di sentuh oleh ibu Diana, Tania tarik yang kemudian tangan itu Tania turunkan. Zafran melihat kecemasan yang di rasa oleh Tania. Tetapi yang namanya sandiwara tentu kejadian seperti ini tidak membuatnya terusik.
"Mm... Sebelumnya maaf kalau saya bertanya yang tidak mengenakkan," ucap pak Lukman setelah mereka semua sempat saling diam.
Zafran menunggu dengan tenang, karena ia sudah memiliki jawaban asal yang akan ia jawab, seaneh apapun itu. Berbeda dengan Tania, wanita itu semakin gugup terbukti dengan gerakan jemarinya yang saling memilin.
"Siapa orang tua kamu, nak Tata? Dari mana asal kamu?" tanya pak Lukman sangat serius.
"Dia yatim piatu. Asalnya dari kampung. Daerah Jawa timur," sahut Zafran mengambil alih yang semestinya di jawab oleh Tania.
Tania hanya berekspresi mengangguk, layaknya membenarkan ucapan Zafran. Memang wanita itu berasal dari daerah Jawa timur, mungkin karena Zafran pernah membaca itu dari ijazah milik Tania kemarin. Tetapi soal Tania yatim piatu, tentu itu hanya jawaban asal-asalan dari Zafran saja.
Kedua orang tua Zafran saling memandang lagi. Persetan kedua orang tuanya akan menyangka Tania ini adalah Tania yang dulu. Zafran tidak terusik sama sekali.
Ibu Diana berdiri dari tempatnya.
"Ibu mau ke toilet dulu," ujarnya sambil lalu pergi begitu saja dengan menenteng tas kecilnya.
Kemudian dua orang waiters datang membawa pesanan makanan mereka, dan kemudian menyajikannya di atas meja. Setelah bergumam terimakasih lalu waiters itu pergi.
"Ee... Zaf, ayah keluar dulu sebentar," ucap pak Lukman sambil melihat ponselnya pura-pura ada pesan penting yang harus di segerakan.
Setelah itu pak Lukman benar-benar pergi sambil bertelponan entah dengan siapa. Zafran dan Tania sama-sama memandang ke arahnya, hingga pak Lukman sudah nampak ada di luar restoran.
"Minum, Ta," ucap Zafran, menawarkan Tania untuk meminum minumannya.
Lalu Zafran pun juga meminum minumannya. Tampaknya pria itu sangat tenang, padahal yang Tania lihat kedua orang tua Zafran seperti sengaja menghindar dari keberadaan mereka.
Tetapi meski merasa tak enak sendiri, itu bukan hak Tania untuk menanyakannya. Karena kedatangan mereka hanya berdasarkan sandiwara belaka.
"Jangan di pikirkan apa yang ayahku tanyakan tadi," ucap Zafran kemudian.
Tania merespon dengan anggukan kecilnya. Lagi pula ini hanya pura-pura. Apalagi wajar saja jika orang tua bertanya tentang latar belakang pacar sang anak.
"Apa ini sudah selesai?" tanya Tania kemudian.
__ADS_1
"Seharusnya begitu. Aku yakin ayah ibu tidak akan kembali ke sini."
"Benarkah?"
Zafran hanya mengangguk. Lalu pria itu mulai memakan hidangan itu dengan ekspresi yang sangat santai dan tenang. Dan Tania hanya diam saja. Terus terang wanita itu merasa sedikit kedinginan dengan gaun yang sedikit terbuka yang di pakainya itu. Zafran melirik kecil kepadanya, dan Tania tahu kalau sedang di lirik oleh Zafran. Buru-buru wanita itu mengambil gelas minumannya, lalu menenggaknya begitu saja demi mengalihkan rasa canggung yang ia rasakan di lirik seperti itu oleh Zafran.
"Uhuk!!" Spontan Tania terbatuk setelah menenggak minuman yang terasa aneh baginya.
"Minuman apa ini?" tanyanya dengan lidahnya yang di julurkan karena tidak suka dengan rasa minuman itu.
Zafran terkekeh kecil.
"Dasar kampungan!" batinnya mengumpat lucu.
"Yang kamu minum itu wine, Ta," jelas Zafran sambil memberikan Tania sebuah sapu tangan yang di ambil dari jas nya.
Tania tak lekas mengambil sapu tangan itu. Tetapi Zafran lalu meletakkannya di atas meja.
"Usap tuh, belepotan!" ujarnya menyuruh Tania mengusap bekas minuman yang sedikit belepotan di bibirnya.
Tania menyentuh bibirnya, lalu kemudian mengambil sapu tangan itu setelah memastikan benar-benar ada sisa minuman di bibirnya. Mengusap bibirnya dengan lembut, yang tanpa setahunya diam-diam Zafran mencuri pandang kepadanya.
"Ee... Maaf, sapu tangannya jadi kotor. Saya cuci dulu, Tuan," ujar Tania sambil beranjak berdiri, setelah melihat ada noda lipstiknya di sapu tangan itu.
"Buang saja. Ngapain di cuci?" ucap Zafran bersamaan pria itu menyudahi makannya.
Tania duduk lagi. Sapu tangan itu tetap di genggamnya.
"Kamu nggak mau makan?" tanya Zafran karena Tania tidak menyentuh makanannya sama sekali.
Tania langsung menggeleng. Meski ia merasa sedikit lapar, tetapi Tania sama sekali tidak tergugah seleranya melihat menu yang di sajikan yang tentu asing sekali baginya.
"Beneran?" Zafran memastikan lagi.
Tania mengangguk.
"Kalau begitu ayo pulang," ajaknya yang kemudian langsung pergi begitu saja, meninggalkan Tania yang berjalan sedikit jauh di belakangnya.
*
__ADS_1