
Seorang pria yang menggunakan helm teropong itu kembali melajukan motornya, begitu melihat mobil yang di naiki Zafran keluar dari kawasan perumahan subsidi itu.
Tatapan pria itu penuh kobaran api dendam. Merasa tersakiti oleh sosok Zafran yang terkesan menyepelekannya. Merasa di remehkan dengan nyata, setelah tahu kalau Zafran hanya berpura-pura menjadi karyawan biasa di toko yang sebenarnya adalah miliknya saat bertemu dengannya tadi siang.
Pria itu tak habis pikir apa tujuan Zafran membohonginya. Tetapi bukan hanya itu yang memicu gemuruh itu menyala, tatkala lamaran dirinya yang ingin bekerja di toko itu di tolak oleh orang yang telah di suruh Zafran berpura-pura menjadi pengganti kedudukan Zafran tadi.
Laju motor itu semakin kencang. Tak lagi mempedulikan keselamatan pengendara lain yang melintas di jalan raya itu. Pria itu hanya ingin mengejar mobil Zafran. Itu saja.
Begitu berhasil mendahului mobil mewah berwarna hitam metallic itu, pria misterius itu langsung mengacungkan jari tengahnya kepada Zafran.
Zafran yang melihat itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak marah, karena ia tidak merasa memiliki musuh. Ia mengira orang itu mungkin hanya komplotan perampok saja. Tetap berusaha tenang mana kala di hadapkan dengan hal berbahaya, itulah kunci Zafran untuk bisa mencari ide agar pikirannya tidak jadi buntu bila sudah terdesak.
Dan lagi yang membuat Zafran tenang karena di mobil itu Zafran diam-diam menyimpan pistol sebagai jaga-jaga keamanan dirinya yang tidak terlalu suka di temani sopir saat mengendarai mobilnya. Apabila nanti pria misterius itu benar-benar mengancamnya, maka lihat saja nanti.
Pria berhelm full face itu masih tak mau menghindar dari depan mobil Zafran, seperti sengaja mencari gara-gara memancing Zafran untuk keluar dari mobilnya. Membuat Zafran akhirnya terpancing emosi. Dan seketika membuka kaca mobilnya, lalu menodongkan pistol yang di pegangnya itu mengarah tepat ke pria misterius di depannya.
"Sial!" umpat pria yang menaiki motor itu.
Merasa nyawanya terancam karena memang ia sedang tidak membawa kawan maupun senjata lainnya, maka pria misterius itu akhirnya pergi melesat jauh lurus ke arah depan. Tak lupa sekali lagi mengacungkan jari tengahnya kepada Zafran, pertanda ini tidak akan selesai di sini.
"Heh, cemen!" umpat Zafran dengan senyum getirnya, ketika melihat pria itu kabur setelah di acungi pistol olehnya.
Lalu buru-buru Zafran menutup kaca mobilnya lagi, dan kembali meletakkan pistol itu di tempat yang aman, yang tidak akan di ketahui oleh siapapun, karena Zafran memiliki pistol itu dengan cara ilegal.
Dan akhirnya mobil yang di bawa Zafran bisa melaju dengan santai.
__ADS_1
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam, saat Zafran sudah tiba di rumahnya. Tetapi meski begitu, Zafran hanya sampai sebatas luar pagar tinggi kediamannya. Tiba-tiba merasa malas pulang, takut di tanya-tanya tentang Tania, pacar pura-pura yang ia pinjam hanya malam ini saja.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Zafran memutuskan untuk putar arah. Menumpang menginap di rumah Yudha, sahabatnya, adalah solusi yang memungkinkan malam ini.
Sedangkan pria yang tadi mengancam Zafran itu, kini telah berkumpul lagi dengan teman sejawatnya. Wajahnya yang murung dan kentara sedang marah, membuat teman-temannya itu bertanya penasaran.
"Kenapa kau? Muka kau tekuk terus seperti kanibo kering yang tak pernah terpakai?" seloroh salah satu teman pria itu.
"Lagi mikir pingin cepat kaya!" sergah pria bernama Doni itu.
Hampir keseluruhan teman-temannya Doni itu tertawa mengejek saat mendengar pengakuan Doni.
"Pingin cepat kaya kerja mas Bro!" seloroh pria bertubuh pendek yang di tubuhnya hampir di penuhi dengan tatto.
"Ya maka itu aku ke sini tuh buat ngajakin kalian kaya bareng. Ada yang mau nggak?" sahut Doni, membuat semua temannya tiba-tiba terdiam penasaran dengan apa yang akan di bicarakan Doni setelah ini.
Lalu Doni berbisik dengan serius kepada teman-temannya yang berminat membantunya. Setelah paham dengan apa maksud ucapan Doni itu, akhirnya semua orang pengangguran itu tersenyum smirk.
"Boleh juga tuh," ucap salah satu teman Doni yang lain.
Setelah merencanakan itu mereka semua kembali berpesta miras oplosan seperti yang sering mereka lakukan. Sebagai wujud pesta mereka karena akan memiliki uang bejibun, begitulah bayangan mereka ke depannya.
Waktu merambat semakin malam. Akhirnya Doni memutuskan pulang tepat saat jam hampir di angka dua dini hari. Saat pria itu tiba di rumahnya, ia melihat Sari yang sudah terlelap di kasurnya dengan pakaiannya yang tersingkap sehingga memamerkan pahanya yang mulus. Tetapi meski begitu Doni hanya meliriknya tanpa minat menyentuh. Tak seperti sebelumnya yang selalu bernafsu kalau di suguhkan pemandangan menggiurkan dari tubuh bening Sari.
Di tambah lagi saat ini kandungan Sari sudah semakin membesar, dan itu membuat bentuk badan Sari perlahan berubah tak menarik gairah Doni lagi.
__ADS_1
Pria itu kembali keluar kamar sambil berjalan terseok-seok efek kepala berdenyut akibat kebanyakan minum. Lalu memilih berbaring di kursi panjang yang ada di rumah itu, sembari menatap plafon rumah. Tiba-tiba terbesit dalam pikirannya sosok wanita cantik yang tadi bersama Zafran. Senyum devil nya kembali tersungging. Otak jahatnya semakin bergerilya dengan wanita itu.
Tanpa di sadari oleh Doni rupanya Sari sedang melihatnya dari belakang. Tahu betul jika pria yang belum sah menjadi suaminya itu sedang tersenyum-senyum sendiri. Dan itu tentu sangat membuat perasaan Sari resah. Takut tiba-tiba pria itu kepincut dengan wanita lain, dan akan meninggalkannya di saat dirinya sedang berbadan dua seperti ini.
Sejenak Sari menepis pikiran buruknya kepada pria itu. Lalu perlahan mendekat dan kemudian dengan sengaja menaiki tubuh Doni, berniat akan berbaring di atas tubuh Doni seperti yang biasa mereka lakukan sebelumnya.
Tetapi boro-boro Sari mau berbaring, Doni lebih dulu menahan pundak Sari dengan tatapannya yang seperti tak suka.
"Jangan tidur begini. Berat!" sergah Doni tanpa memikirkan perasaan Sari akan bagaimana.
Sari mundur perlahan. Tetapi ia tidak mau diam saja. Dulu ia berhasil merebut Doni dari Tania berkat goyangan ranjangnya yang handal. Kali ini Sari akan memberinya kepuasan itu lagi, bila perlu sampai pagi, agar Doni tak berpaling darinya.
"Mas Doni," sapa Sari sambil membelai manja pipi brewok Doni.
Doni bergeming saja. Sama sekali tak merespon apapun untuk membalas kode dari Sari.
"Aku kangen, Mas," ucap Sari lagi sambil semakin merapatkan tubuhnya. Memeluk dengan seduktif.
"Aaargh!!" Tetiba Doni menangkis tangan Sari yang melingkar di lehernya. Membuat wanita itu seketika pias, tetapi masih mencoba menekan kesabarannya.
Lantas Doni beranjak dari tempatnya itu. Lalu ia berjalan masuk ke kamarnya, sama sekali tak menghiraukan bagaimana wajah Sari yang sudah memerah tersulut amarah.
Brakk!!
Pintu kamar yang hanya terbuat dari bahan triplek itu Doni tutup dengan membanting nya. Hingga membuat perasaan Sari semakin berasumsi kalau Doni telah memiliki wanita idaman lain di luar sana.
__ADS_1
"Awas kau wanita jallang!" umpat Sari sangat kesal. Benar-benar tidak akan memberi ampun kepada wanita yang telah menggoda pria yang di cintainya itu.
*