
Hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Zafran terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan yang berasal dari luar kaca mobilnya. Pria itu mengerjapkan matanya berulang-ulang, terhenyak seketika begitu sadar kalau dirinya tertidur di mobilnya cukup lama.
Zafran menoleh pada seorang lelaki yang berdiri di luar mobilnya itu, tetapi belum juga Zafran membuka kaca mobilnya lelaki itu lekas pergi sambil menaiki motornya.
Menganggap lelaki itu hanya sekedar ingin membangunkannya, mungkin, lantas kemudian Zafran menghembus nafasnya dengan lega. Setidaknya bukan komplotan orang-orang asing yang berniat mencelakainya tadi. Sekilas pria itu melirik pada jam mahalnya yang terpasang di pergelangan tangannya, seketika terjengkit kaget begitu tahu kalau ia hampir melewatkan kewajiban empat rakaatnya siang ini. Lalu buru-buru Zafran menyalakan mobilnya untuk mencari masjid di sekitar tempat itu.
Hingga lewat waktu ashar, Zafran masih betah berdiam diri di masjid itu. Selain dirinya yang memang sedang tidak ada tujuan ingin ke mana, setidaknya dengan beritikaf di sana sedikit menenangkan jiwa Zafran yang butuh ketenangan batin. Sepintas dalam do'anya terbesit kata ingin segera di pertemukan dengan jodoh hidupnya. Entahlah, tiba-tiba saja hati kecilnya ingin berdoa seperti itu.
Kekhusyukan Zafran terganggu oleh ponselnya yang bergetar, karena bunyi telponnya selalu di off kan tiap kali Zafran berada di masjid. Awalnya ia ingin mengabaikan panggilan telepon dari Yoga, tetapi setelah panggilan telepon itu cukup ngeyel bergetar, akhirnya Zafran menjawabnya tetapi lebih dulu keluar ke teras masjid dan memilih duduk di undakan teras itu.
"Bos, di mana?" sapa Yoga.
"Di luar. Ada apa?"
"Ada ibu ke sini, baru saja," tutur Yoga.
"Ooh..." Zafran hanya ber-oh, karena memang sudah menduga ibunya itu akan berkunjung ke tokonya.
"Sekarang ibu sudah pergi lagi, Bos," ucap Yoga lagi.
"Hem," Zafran hanya bergumam, mendadak tidak minat membahas info yang sudah bisa di tebak olehnya.
"Tetapi ibu perginya sama pacar anda," jelas Yoga yang seketika membuat Zafran menajamkan pendengarannya.
"Pacar?" tanyanya takut salah dengar.
"Iya, cewek yang kemarin datang ke sini cari Bos," ucap Yoga sangat yakin.
Mendadak Zafran ingat, jika satu-satunya perempuan yang datang ke tokonya kemarin hanya Tania. Mungkinkah Tania yang di bawa ibunya? Jika memang benar, buat apa juga Tania berkunjung ke tokonya? Kalau begini masalahnya akan bertambah runyam. Duh!
Seketika Zafran menekan tombol merah, mengakhiri sepihak sambungan telepon dari Yoga itu. Pria itu tentu gusar, karena tak tahu harus menghubungi siapa untuk memastikan kebenaran itu. Tetapi setelah lama-lama di pikir, ia jadi ingat jika ia memiliki nomor telpon milik Siska. Setidaknya dengan menelpon wanita itu, Zafran akan tahu Tania ada di mana saat ini.
Dua panggilan telepon nya kepada Siska tidak terjawab. Membuat pria itu semakin frustasi memikirkannya. Sebenarnya solusi yang mumpuni adalah menelpon ibunya langsung, tetapi dasar Zafran yang terlalu gengsi untuk menelponnya lebih dulu.
__ADS_1
Kali ini Zafran berusaha menelpon Tri, sopir pribadi keluarganya, tetapi jawabannya tidak membuatnya lega lantaran Tri tidak sedang mengantar ibu Diana. Dengan begini maka terpaksa Zafran menghubungi Yoga lagi.
"Iya, Bos."
"Ibu ke sana naik apa tadi?" tanya Zafran to the poin.
"Mm... Sepertinya taksi. Tapi barusan ibu perginya boncengan motor sama pacar bos," jelas Yoga, yang membuat Zafran terperangah kedua kali.
"Ah, sial!" kesal Zafran, lalu mengakhiri telponnya lagi.
"Kenapa jaman canggih begini masih ada manusia yang tidak punya hape? Aaarrgh.... Jadi ribet kan nelponnya kalau begini!" Zafran mengoceh sendiri, merutuki Tania yang memang tidak memiliki ponsel, sambil melangkah cepat masuk ke mobilnya.
Sedangkan Tania dan ibu Diana saat ini sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari sekitar toko milik Zafran itu. Tania lebih banyak diam sedari tadi. Selain merasa berdosa karena semalam membohongi ibu Diana sebagai pacar pura-pura Zafran, ia juga merasa sangat gugup karena tidak menyangka akan bertemu ibu Diana. Masih ingat semalam jika ibu Diana tiba-tiba pergi dan tak kembali lagi berkumpul dengan Zafran, dari itu yang membuat Tania semakin tak enak diri.
"Minumlah," seru ibu Diana melihat Tania yang tidak menyentuh sama sekali minuman yang sudah di pesan oleh ibu Diana barusan.
Tania mengangguk kikuk. Lantas ia pun mencicipi minuman hangat itu, hanya setengguk saja.
"Tidak suka minumannya? Kenapa hanya di cicip?" tanya ibu Diana, berbalik keadaan tidak seperti semalam yang tiba-tiba main hilang.
Ibu Diana tersenyum tipis. Apalagi setelah meneliti suara Tania, yang sama sekali tidak ada kemiripan dengan masa lalu Zafran itu.
"Soal semalam saya minta maaf," seru Tania tiba-tiba.
"Minta maaf untuk apa? Kamu tidak ada salah. Justru aku yang asal pergi semalam. Pasti kamu menganggap aku tidak merestui hubungan kalian kan?"
Tania terdiam saja. Karena memang sudah tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Zafran?" tanya ibu Diana. Sebuah pertanyaan yang sangat di takuti oleh Tania, lantaran tidak begitu mahir mengolah kata demi misi drama semalam.
"Kamu pasti tau kan tentang masa lalu Zafran?" tanyanya lagi. Entah apa tujuannya menanyakan itu kepada Tania.
Dari pada tambah bingung mau merespon seperti apa, akhirnya Tania menganggukkan kepala, anggap saja tahu. Padahal hanya jurus mode aman demi menghindari pertanyaan yang sulit untuk di jawab menurutnya. Apalagi pria tampan seperti Zafran akan mustahil jika tidak pernah memiliki pacar sebelumnya.
__ADS_1
Sesaat ibu Diana tersenyum kecil. Lalu tiba-tiba saja ibu Diana menunjukkan sebuah foto Zafran bersama seorang wanita yang wajahnya mirip dengannya. Tentu hal itu membuat Tania seketika kaget dan spontan meraih foto itu, memandangi nya cukup intens.
"Kenapa kaget begitu? Itu kan kamu," ucap ibu Diana, karena sudah yakin jika Tania adalah orang yang sama dengan orang di masa lalu Zafran dulu.
"Ah, bukan, Bu. Ini bukan saya," jawab Tania sambil meletakkan foto itu lagi di meja persis depan ibu Diana.
"Bukan kamu?" ibu Diana semakin menatapnya lekat.
"Apa jaminannya jika kamu bukan Tania?" Mendadak segala ucapan yang keluar dari mulut ibu Diana menjadi horor untuk Tania sendiri.
"S-sa-saya... Memang Tania. Tapi saya berani bersumpah jika bukan saya yang di foto itu."
Ibu Diana terdiam seketika, dengan tatapannya yang seperti akan menguliti tubuh Tania.
"Mana KTP kamu?" ibu Diana langsung mencari bukti lewat cara lain.
Dan entah mengapa Tania menyetujui permintaan ibu Diana, dan langsung menyerahkan KTP nya itu.
Mendadak kening ibu Diana berkerut lama. Merasa heran dengan wajah yang jauh berbeda dengan wajah wanita itu.
"Maafkan saya, Bu," ucap Tania pada akhirnya.
"Kenapa bisa tidak sama?" tanya ibu Diana yang mana Tania langsung paham dengan maksud pertanyaan nya itu.
Lalu Tania pun akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya itu, tentu masih merahasiakan Zafran, dalang di balik semua kejadian itu.
"Syukurlah, masih ada orang baik, setidaknya orang itu mau bertanggungjawab sehingga kamu memiliki wajah secantik ini." Ibu Diana berkata sambil menoel dagu Tania.
"Jadi, sejak kapan kalian saling kenal?" selidik ibu Diana lebih detail lagi.
Tania hanya tertunduk, tetapi jemari tangannya saling memilin isyarat sangat gugup luar biasa.
"Apa jangan-jangan kamu di sewa Zafran?" tebaknya lagi yang tepat sasaran.
__ADS_1
"Huh, sudah aku duga." ibu Diana hanya bisa menarik nafasnya, menarik kesimpulan sendiri jika itu adalah benar.
*