
Tania tertegun di tempat nya setelah tak sengaja mendengar obrolan ibu Diana kepada suaminya. Tidak mungkin ia salah dengar. Tetapi ia tidak mau geer meski mendengar dengan telinga sendiri apa yang di ucapkan oleh ibu Diana itu.
"Jangan asal ngomong kamu, Diya!" Suara pak Lukman terkesan menantang usulan istrinya itu.
"Loh, aku nggak asal omong, Mas. Kemarin aku lihat sendiri identitas asli dia. Cuma--"
Tiba-tiba ibu Diana terdiam lagi. Ia teringat jika di KTP Tania statusnya masih tercatat kawin. Dan hal itu yang membuat ibu Diana kepikiran lagi.
"Cuma apa, Diya?" Pak Lukman penasaran juga lanjutannya.
"Ah, tidak jadi, Mas."
Ibu Diana langsung bungkam. Akan lebih baik jika ia bertanya langsung kepada Zafran saja. Karena ia yakin Zafran pasti mengenal lebih jauh siapa dan bagaimana Tania. Karena jika tidak, bagaimana mungkin Tania akan di ijinkan tinggal di rumah milik Zafran.
"Ck!" Pak Lukman hanya bereaksi dengan decakan kesal kepada istrinya.
Sesaat kedua orang tua Zafran itu kembali saling diam. Mereka sama-sama tersita oleh adanya phigora yang ada di depannya.
"Mas, apa rumah ini Zafran beli khusus buat Tata?" tanya ibu Diana sesuai apa yang melintas di benaknya saat ini.
Pak Lukman hanya mengangkat kedua bahunya, berarti entah.
"Bisa jadi phigora sebesar ini Zafran siapkan untuk memajang foto pernikahannya dengan Tata," ucap ibu Diana lagi.
"Sudah lah, jangan bahas itu!" tepis pak Lukman. Mengungkit masalalu Zafran bersama calon istrinya dulu, membuat mood pak Lukman langsung jelek.
Baru saja pria tua itu beranjak berdiri dari tempatnya, ia melihat Tania berjalan sambil membawa dua gelas air minum dalam nampan.
"Airnya, Pak, Buk," ucap Tania sambil meletakkan dua gelas itu ke atas meja di depan pak Lukman dan ibu Diana.
Wajah Tania terus saja menunduk. Rasanya sangat malu dan merasa tak pantas diri berada bersama dua orang yang jauh berbeda kasta dengan dirinya.
"Terimakasih, Ta," balas ibu Diana yang kemudian langsung meminum air itu hingga tersisa separuhnya.
Tetapi pak Lukman tetap memilih beranjak, dan terhenti di dekat jendela. Berdiri menatap ke luar rumah.
__ADS_1
"Sini duduk, Ta," ajak ibu Diana sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.
Tania langsung menggeleng. Jujur ia gugup. Apalagi jika ingat ucapan ibu Diana beberapa menit yang lalu, membuatnya semakin minder berdekatan dengan keluarga Zafran.
"Mm... Saya permisi ke kamar, Bu. Mau ganti ini," pamit Tania yang beralasan akan mengganti mukenahnya.
Ibu Diana mengangguk. Dan setelah melihat Tania masuk ke kamarnya, Ibu Diana langsung mendekati suaminya berdiri.
"Mas, apa masih ada yang ingin kamu tanyakan sama dia? Mumpung masih di sini. Kalau sudah tidak ada, ayo pulang. Aku ingin bertemu Zafran," seru ibu Diana.
Pak Lukman langsung menoleh dengan tatapan curiga kepada istrinya. Setelah tadi sempat usul ingin menjadikan wanita yang baru dikenalnya itu sebagai istri Zafran, membuat pak Lukman sangat curiga dengan gelagat istrinya yang mendadak ingin menemui Zafran.
"Kamu mau apa bertemu Zafran?"
"Loh, emang nggak boleh? Aku ibunya."
"Iya tahu. Yang bilang kamu bibinya Zafran siapa?"
"Iikh, Mas, aku nggak mau gurau nih! Nggak tau orang lagi serius apa?"
"Su'udzon terus. Heran deh!" Setelah itu ibu Diana langsung beranjak ke sofa lagi, dan langsung mendudukkan diri dengan wajah cemberut nya.
"Ngambek terus. Tambah tua entar," seloroh pak Lukman dengan santainya, yang sebenarnya hanya ingin menggoda istrinya agar tidak merajuk di rumah orang.
Ibu Diana hanya melirik sengit. "Yang tua itu kamu!" umpatnya dengan sengaja.
Tetapi sungguh seperti itu tidak membuat pak Lukman marah atau kesal. Biasanya kalau istrinya sudah bawa kata-kata tua pertanda sedang merajuk saja. Merajuk yang masih di bawah rata-rata.
Pak Lukman langsung beranjak dari tempatnya berdiri di saat melihat ada orang lain yang masuk ke halaman rumah ini. Ibu Diana yang lagi drama merajuk hanya melihat saja, tanpa mau kepo akan ke mana suaminya itu.
"Loh, Anda?" tanya seorang lelaki berumur tak jauh berbeda dengan usia pak Lukman, di saat melihat pak Lukman keluar dari rumah itu.
"Anda siapa? Apakah anda kenal dengan pemilik rumah ini?" pak Lukman bertanya balik. Aura wajahnya terlihat tegas dan berwibawa, membuat bapak yang sebelumnya di pekerjakan untuk menjaga rumah ini mendadak ciut.
Bapak itu langsung mengangguk.
__ADS_1
"Berarti kamu kenal dengan Zafran?" Pak Lukman tak mau membuang kesempatan untuk mencari tahu semua hal yang tidak ia tahu tentang rahasia yang di sembunyikan Zafran selama ini.
Bapak itu mengangguk lagi. Karena melihat wajah bapak itu yang seperti ketakutan, akhirnya pak Lukman mendekatinya, dan menepuk pelan pada lengannya sembari tersenyum hangat kepadanya.
"Bisa kita bicara sebentar? Oh iya, saya ayahnya Zafran."
Pak Lukman dan bapak itu saling berjabat tangan.
"Saya Joko. Saya di sini di bayar sebagai penjaga rumah ini oleh Den Zafran," terang bapak itu juga saling memperkenalkan diri.
Setelah itu pak Lukman dan lelaki bernama Joko itu beranjak menuju dipan yang berada di bawah pohon mangga. Di sana pak Joko dengan santai menceritakan semua yang ia tahu tentang asal muasal rumah ini. Dan pak Lukman yang sebatas menjadi pendengar hanya bisa manggut-manggut kepala. Walau sebenarnya hatinya sedikit kecewa kepada Zafran karena telah merahasiakan rumah ini selama tiga tahun lebih lamanya, tetapi pak Lukman memutuskan untuk tidak memperkarainya kepada Zafran. Karena jika pak Lukman menanyakannya lagi, itu sama halnya pak Lukman membuka luka lama hati Zafran.
"Bisakah kita bekerjasama?" tanya pak Lukman kepada pak Joko, setelah cukup lama mereka saling diam usai mendengarkan cerita dari pak Joko.
"Bekerjasama tentang apa, Tuan?"
"Eh, jangan panggil aku tuan, cukup pak Lukman saja."
"Ee... Tapi?"
"Yang gaji kamu selama ini kan Zafran. Jadi sama aku kamu bisa santai saja." Pak Lukman mengulas senyumnya setelah berkata itu.
Pak Joko yang mendengarnya hanya bisa berbalas tersenyum juga. Menurutnya pak Lukman dan Zafran adalah pribadi yang tidak sombong. Karena sama-sama mau bergaul dengan orang dari kalangan biasa seperti dirinya.
Setelah itu pak Lukman berbisik sesuatu kepada pak Joko.
"Serius, Pak?" pak Joko bertanya agak tak percaya.
Pak Lukman mengangguk sambil tersenyum.
"Nanti kalau Den Zafran marah sama aku?"
"Itu harus pintar-pintar kamu lah."
"Mmm....."
__ADS_1
*