
Tania dan Siska sama-sama tersenyum riang saat sudah kembali berpijak pada tanah kelahiran. Sudah lebih dari tiga bulan mereka berdua berada di Korea. Rasa kangen itu begitu terasa di hati mereka, hingga tiada henti mengucap syukur yang tak terhingga yang terucap dari bibir keduanya.
Saat ini mereka sudah duduk tenang di mobil mewah yang sengaja menjemput kedatangan mereka di bandara. Mereka berdua tidak terlalu memusingkan siapa orang yang menjemputnya itu, karena mereka duga itu pasti orang suruhan dokter Yudha.
"Terimakasih ya, Dok, fasilitasnya mewah banget," ucap Siska pada Yudha melalui sambungan telponnya.
"Sama-sama. Yang penting kalian kembali ke sini sehat dan selamat," jawab Yudha.
Padahal sebenarnya Yudha sendiri tidak menyiapkan fasilitas apa-apa kepada mereka. Bahkan sebelumnya pria itu berencana akan memesankan taksi untuk menjemput mereka. Tetapi sahabatnya yang baik hati itu menawarkan mobilnya, tentu Yudha langsung menerima tawaran baiknya itu.
"Setelah ini mampir ke klinik dulu, Sus," ucap Yudha kemudian.
"E... Tapi kita masih ada rencana mau mampir makan dulu, Dok. Boleh di tunggu kan?"
"Silahkan," jawab Yudha tak mau membatasi mereka.
"Baiklah, Dok. Terimakasih. Apa dokter Yudha mau kita belikan makanan yang di rekom sama Tata?" tanya Siska.
"Tata?" Yudha tercengang mendengar nama itu.
"Eh, maksud saya Tania, Dok."
"Oooh...."
"Gimana, Dok?" tanya Siska lagi.
"Boleh. Kebetulan aku sudah agak lapar," ujar Yudha.
Kemudian sambungan telepon itu berakhir. Tetapi Yudha di buat termenung dengan nama Tata yang ia dengar. Tania, Tata, adalah nama yang sama. Sebuah nama yang pernah ada dalam masa lalunya dan juga masa lalu Zafran.
Beralih pria itu memandangi foto wajah Tania setelah sukses di oplas melalui foto yang pernah di kirim Siska kepadanya. Senyum getirnya tiba-tiba terbit. Masih tidak percaya dengan kemiripan wajah baru Tania dengan seseorang di masa lalunya.
"Kamu di mana, Ta?" lirih Yudha menatap kosong pada luar jendela.
"Sekian tahun kamu menghilang tiada kabar. Kamu tahu tidak, dokter itu lancang sekali merubah wajah pasien ku jadi mirip wajah kamu."
Sejenak Yudha tertunduk dalam-dalam. Setetes air kristal itu menetes dari pelupuk matanya. Sebuah rasa yang menyesakkan dada tiba-tiba ia rasa kembali menghimpit dadanya. Kehilangan Tania bukan hanya Zafran saja yang merasakannya. Tetapi juga dirinya yang merasa sangat sangat kehilangan wanita itu.
"Maafkan aku, Zaf..." lirihnya lagi yang saat itu pula pria itu kembali menangis seorang diri.
***
Tania dan Siska sudah berada di depan warung makan milik ibu Ima. Tetapi keduanya masih betah memandang dari dalam mobil. Terutama Tania sendiri masih sedikit ragu untuk pergi ke sana. Rasa rindunya pada sosok ibu Ima membuatnya tak tega jika harus menjadi orang lain di depannya.
"Buruan yuk, dah lumayan lapar nih."
__ADS_1
Siska menarik lengan Tania agar segera keluar dari mobil.
Terlihat wanita itu mulai mengatur nafasnya. Lalu kemudian dengan mantap keluar dari mobil mewah itu.
Saat mereka berdua keluar dari mobil itu, ibu Ima langsung menatap keduanya dengan heran. Karena tumben-tumbenan ada orang kaya yang mau mampir makan di warung sederhana miliknya.
"Buk, es teh dua ya," ucap Siska begitu mereka sudah duduk di warung kecil tempat langganan Tania beli dulu.
"Ah, siap, Mbak."
Lalu ibu Ima segera membuatkan dua gelas es teh.
"Yang satu gulanya pake setengah sendok aja, Buk. Punya teman saya, nggak suka terlalu manis dia," ucap Siska lagi.
Ibu Ima menoleh dan mengangguk paham. Sejenak tatapannya terjeda saat menatap wajah ayu dari wanita yang satunya. Tetapi Tania segera berpaling lebih dulu. Ia takut tidak kuat menahan diri, rasanya sudah ingin menangis saja melihat wajah sehat ibu Ima.
"Subhanallah... Si mbak nya cantik sekali," ujar ibu Ima sambil menyuguhkan dua gelas teh dingin ke meja mereka.
Tania hanya tersenyum menanggapinya. Sedangkan Siska ikut melirik kepada Tania.
"Sayangnya teman saya ini sering cemberutnya, Buk," seloroh Siska suka ngadi-ngadi emang.
"Meski cemberut tapi tetap cantik. Apalagi di buat tersenyum, pasti tambah cantik," balas ibu Ima, yang otomatis membuat senyum kecil Tania terbit di bibirnya.
"Nah... Begitu dong."
"Buk, saya mau makan nasi pecel madiun ada?" Tania ikut berbicara.
Seketika ibu Ima tercengang di tempat. Ia mengenali suara itu. Suara itu yang ia rindukan orangnya.
"Ada nggak, Buk? Kita mampir ke sini itu karena ada temen yang rekomin warung ibu, katanya nasi pecel di sini mantul." Siska ikut bicara, demi menghentikan tatapan curiga dari ibu Ima kepada Tania.
"Eh, ada, ada, Mbak. Tunggu sebentar ya..."
"Baik, Ibu," sahut Siska.
"Ini mau di bungkus apa makan di sini, Mbak?"
"Makan di sini, Buk. Nanti bungkus lagi satu saja." Siska ingat jika ia sudah janji sama dokter Yudha akan membelikannya makanan.
"Pedas apa tidak?" tanya ibu Ima lagi.
"Punya saya tidak, Buk." Tania ikut berbicara lagi.
Ibu Ima terdiam seketika. Ia semakin yakin suara itu mirip dengan suara Tania. Meski di seluruh bumi ini banyak manusia yang memiliki suara yang sama, tetapi kali ini mampu meluluhkan hati ibu Ima yang begitu merindukan Tania. Dalam diam ibu itu menangis. Merasa sangat kesepian dan juga kehilangan setelah Tania tidak lagi muncul di sekitarnya.
__ADS_1
"Ini nasi pecel nya, Mbak."
Ibu Ima meletakkan dua piring nasi yang mereka pesan. Terlihat mata wanita tua itu sembab, seperti habis menangis.
"Ibu nangis?" Dengan lancangnya Siska bertanya kepada ibu Ima.
Ibu Ima menggosok-gosok matanya.
"Maaf, Mbak, ibu lagi kangen sama anak ibu," sahutnya lalu kemudian pergi menuju dapur.
"Ya Allah... Kenapa suara wanita itu mirip dengan Tania. Nak Tania, sebenarnya kamu sekarang di mana, Nak?" lirih ibu Ima sambil menangis kecil di dapurnya.
Sedangkan Siska sendiri sudah sangat lahap menikmati nasi pecel yang benar adanya sangat mantul di lidah. Dan Tania sendiri masih terbawa lamunannya. Ingin sekali wanita itu menyapa ibu Ima, walau sekedar menanyakan bagaimana kabarnya. Tetapi rasanya tidak mungkin jika ia harus berterus terang siapa dirinya saat ini kepada ibu Ima.
"Makan, Ta. Untuk melakoni drama itu juga butuh tenaga," seru Siska.
Tania hanya tersenyum tipis. Lalu ia pun ikut melahap masakan kesukaan dari menu yang di sediakan di warung makan milik ibu Ima.
"Bu Ima!"
Seorang pria tiba-tiba masuk ke warung itu dengan suaranya yang lantang.
"Eh, iya. Tunggu," sahut ibu Ima dari dalam dapur.
Setelah itu ibu Ima keluar. Dan seketika menatap sengit pada pria yang datang ke warungnya itu.
"Mau apa?" tanya ibu Ima kentara tak suka pada pria itu.
"Kalau datang ke sini ya mau makan lah, masa mau kencing?" sahut pria itu tiada akhlak.
Ibu Ima segera mengambil piring dan mengisi piringnya untuk kemudian ia berikan kepada pria itu.
"Nih!" Ibu Ima meletakkan pesanan pria itu di meja cukup kasar.
Tetapi pria itu tidak peduli dengan perlakuan ibu Ima yang begitu. Ia hanya terpana pada dua wanita cantik yang makan dengan nikmat di warung ini.
Dengan lancangnya pria itu mendekat pada Tania dan Siska.
"Hei, cantik," sapanya sambil menoel dagu Siska dengan jarinya.
"Iih... Apaan sih nggak sopan banget!"
Siska langsung menangkis tangan jail pria itu dari dagunya. Tania pun ikut menoleh pada pria usil yang begitu kurang ajarnya kepada Siska.
Tetapi......
__ADS_1
*