Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 27


__ADS_3

Di saat Zafran melewati sebuah cafe yang tak jauh dari tokonya, ia tak sengaja melihat Tania yang bersiap menaiki motornya. Dan seketika pria itu menepikan mobilnya di bahu jalan, tetapi seketika urung keluar saat melihat ibunya masih berada di sana.


Kemudian Tania akhirnya pergi sambil melajukan motornya. Sepertinya wanita itu tidak ngeh dengan keberadaan Zafran yang mengintainya diam-diam. Tak lama setelah itu ia melihat mobil taksi yang membawa ibunya pergi dari cafe itu.


Sejenak pria itu berpikir, harus siapa dulu yang harus ia hampiri. Jika mengejar ibunya, ia sendiri tidak siap dengan cercaan segala pertanyaan yang mungkin akan menimpanya. Mungkin lebih baik menyusul Tania saja, karena dengan begini ia bisa tahu apa saja yang di bahas oleh mereka barusan.


Dan akhirnya mobil yang di bawa Zafran itu melesat ke arah kediaman Tania. Tetapi begitu Zafran hampir tiba di depan rumah Tania, ia melihat adanya seorang pria masuk ke rumah itu juga. Gelagatnya sungguh mencurigakan, karena sepertinya Zafran sudah tidak asing lagi dengan pria tersebut.


"Jangan-jangan?" gumam Zafran mendadak resah, begitu sudah yakin jika pria itu adalah orang yang dari kemarin berniat mencelakai nya.


Buru-buru Zafran keluar dari mobilnya, dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Perasaannya bertambah kacau, ketika mendengar suara jeritan yang berasal dari dalam rumah Tania.


Zafran berlari cepat masuk ke dalam rumah Tania. Ia mendapati Tania sudah berada dalam kungkungan tubuh pria asing itu. Sedangkan mulut Tania sudah di bungkam dengan lakban yang sepertinya sengaja di bawa oleh pria jahat itu.


BUG!


Satu pukulan telak mendarat di wajah pria bermasker itu. Zafran memukulnya dengan kencang, hingga tubuh pria itu tersungkur ke lantai cukup keras.


"Hei, siapa kamu!" Zafran mengacungkan kepalan tangannya kepada pria tersebut yang kebingungan mengusap bibirnya yang mengeluarkan setetes darah segar.


Sedangkan Tania yang merasa terbebas dari kungkungan pria asing itu memilih langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.


Pria berjaket hitam itu akhirnya membuka masker yang di pakainya. Seketika Zafran terkaget sendiri. Rupanya orang yang selama ini mengancam keamanannya adalah Doni.


"Kamu!" tunjuk Zafran masih tidak percaya atas motif apa Doni melakukan semua ini kepadanya.


Doni tersenyum smirk. Lalu pria itu berlalu begitu saja, tetapi dalam hatinya berkata bahwa ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Meskipun Zafran sudah tahu siapa dirinya yang selama ini berlindung di balik masker yang di pakainya, sungguh Doni tidak gencar sama sekali untuk menuntaskan rasa sakit hatinya kepada Zafran.


Sengaja Zafran tidak mengejar Doni. Karena saat ini yang di perlukan adalah keamanan Tania. Mendadak Zafran takut jika ia mengejar Doni, akan ada orang lain yang bisa jadi itu teman Doni, yang datang untuk mencelakai Tania lagi.

__ADS_1


Apalagi menurut Zafran berurusan dengan Doni itu terlalu receh baginya. Doni hanya butuh uang. Dan akan berhenti dengan sendirinya bila di sogok dengan uang.


"Tata," panggil Zafran kepada Tania yang mengurung diri dalam kamarnya.


"Ta," panggilnya sekali lagi, tetapi tidak ada sahutan dari Tania.


Wajar saja jika Tania merasa sangat shock. Dan Zafran sama sekali tidak menyangka jika Doni melibatkan Tania. Mungkin Doni mengira dirinya ada sesuatu hubungan spesial dengan Tania, hingga melibatkan Tania sebagai jalan lain demi menyalurkan rasa dendamnya kepada Zafran.


"Ta, ini aku, Zafran," ucap Zafran kemudian.


Tak lama akhirnya pintu kamar itu terbuka. Muncul wajah Tania yang sudah sembab efek menangis. Membuat Zafran semakin merasa tak enak hati, karena telah membuat Tania jadi begini hanya karena ulah Doni yang tak tahu mengapa tiba-tiba begitu membencinya.


"Siska di mana?" tanya Zafran karena tidak menemukan keberadaan Siska di rumah itu.


Tania hanya mengangkat kedua bahunya pertanda entah. Padahal sore tadi Siska bilang ingin seharian mager di rumah, nggak tahunya saat ini tiba-tiba menghilang.


"Kamu tidak kenapa-napa kan?" Zafran memberanikan diri memegang pundak Tania.


"Sepertinya kamu di sini tidak aman. Lebih baik kamu pindah rumah. Aku takut orang itu akan datang lagi untuk mencelakai kamu," ucap Zafran mengungkapkan rasa kekhawatirannya.


"Aku tidak punya tempat tinggal selain menumpang di rumah Siska, Tuan," sahut Tania pada akhirnya.


"Jangan panggil aku tuan. Zafran saja," seru Zafran selalu merasa keberatan tiap kali ada yang memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Tetapi urusan kita sudah selesai semalam. Jadi aku akan kembali di awal, memanggil anda tuan Zafran."


Sisi trauma Tania lekas membaik. Wanita itu bisa dengan mudahnya berbicara, selepas merasa benar-benar aman berada dalam perlindungan Zafran.


"Ah, lupakan hal itu. Yang penting sekarang juga kamu harus pindah rumah."

__ADS_1


"Siapa yang mau pindah?" Siska tiba-tiba muncul dari arah pintu depan.


Zafran dan Tania menoleh kepada Siska yang datang sambil menenteng sebungkus cilok di tangannya.


"Aku pergi buat beli ini, nebeng tetangga depan belinya di gang sebelah," jelas Siska tanpa di minta peka sendiri.


Tania tersenyum simpul dengan helaan nafasnya yang kadang masih ngos-ngosan. Sedangkan Zafran tetap dengan wajahnya yang bereaksi datar.


"Oh, ya, tadi siapa yang mau pindah rumah? Kamu, Ta?" Bergantian Siska menatap kepada Tania dan Zafran.


"Barusan ada orang jahat yang masuk ke sini. Sepertinya orang itu ada dendam sama aku, makanya ia melibatkan Tata sebagai pancingan demi menyalurkan dendamnya," terang Zafran kepada Siska.


"Apa hubungannya orang itu dengan Tata? Itu kan urusan anda, Tuan."


"Maka itu Tata harus aman dari orang itu. Sepertinya orang itu salah paham. Sebelum semuanya aman, lebih baik Tata pergi dulu dari sini," jelas Zafran meminta pengertian Siska yang sangat keberatan melihat Tania harus pindah dari rumahnya. Padahal selama ini Siska sangat terhibur dengan keberadaan Tania yang bisa menemani kesendiriannya di rumah.


Kemudian Siska menatap kepada Tania. Ia yakin kejadian yang menimpa Tania ini ada kaitannya dengan keputusan Tania yang mau menjadi pacar pura-pura Zafran semalam. Apalagi setelah mencermati mata Tania yang sembab, semakin meyakinkan jika yang menimpanya barusan benar-benar fatal.


"Kalau Tata tidak tinggal di sini, trus dia akan tinggal di mana?" Akhirnya Siska bertanya itu, walau sebenarnya hatinya tak rela berjauhan dengan Tania.


"Alangkah baiknya kamu segera berkemas dari sini." Zafran memilih tidak menyahuti pertanyaan Siska.


Bahkan pria itu melangkah keluar teras depan, lalu toleh kanan kiri, demi memastikan ada tidaknya komplotan orang-orang yang berteman dengan Doni di sekitaran situ.


"Lekas, Ta. Mumpung aman!" titah Zafran, tiba-tiba menjadi gemas sendiri karena melihat Tania masih betah berdiri belum juga mengemasi barang-barang miliknya. Biarlah akan di katakan sebagai pria pemaksa. Yang terpenting sekarang semua aman dulu menurutnya.


"Tuan mau bawa Tata tinggal di mana?" selidik Siska, harus tahu di mana Tania akan tinggal setelah ini.


"Yang penting ikut aku dulu, di sana In sya Allah aman," jawab Zafran dengan tegas.

__ADS_1


*


__ADS_2