Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 34


__ADS_3

Zafran membiarkan saja Tania memeluk tubuhnya. Meski mereka belum begitu kenal, tetapi Zafran dapat memahami betapa trauma nya Tania saat ini. Apalagi saat ini kondisi Tania sedang sendiri di rumah dalam lingkungan yang asing pula, jadi wajar saja jika Tania ketakutan seperti ini.


Setelah di rasa Tania sedikit tenang, Zafran merangkum pundak Tania dan melerai pelukannya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


Tania buru-buru menyusut air matanya hingga bersih. Seketika itu langsung menundukkan wajahnya malu, tersadar betapa lancang nya dirinya telah memeluk Zafran. Meski tiada raut kemarahan dari Zafran, tetapi Tania sadar diri siapa dirinya.


"Ma-maaf, Tuan," ucap Tania sambil mundur selangkah dari tempatnya.


Zafran hanya bergeming dengan sorot datarnya.


Lalu Zafran masuk begitu saja ke rumahnya, di ikuti Tania yang melangkah ragu menyusul ke dalam.


Pria itu terlihat mondar-mandir mengelilingi setiap ruangan di rumah itu. Sesekali mengecek engsel jendela rumahnya. Sejujurnya Zafran mulai ikut cemas, merasa keberadaan Tania di sini rupanya tidak aman.


"Apakah lebih baik kamu pindah lagi?" tawar Zafran sambil mendudukkan diri di sofa dalam ruang tamu itu.


Tania hanya bergeming. Sebenarnya wanita itu bingung mau menjawab apa. Hidupnya yang mulai tak tenang setelah kejadian kemarin, membuatnya buntu untuk berpikir lebih jauh. Di tambah lagi terhalang oleh biaya hidup, yang membuatnya terkesan pasrah saja dengan hidupnya.


Terlihat Zafran juga sedang berpikir keras. Tetapi seketika menggelengkan kepalanya sendiri, setelah ingat jika apa urusannya memikirkan Tania sejauh ini. Setidaknya ia sudah membantunya atas dasar rasa kemanusiaan saja. Jadi untuk ke belakangnya seharusnya itu bukan urusannya lagi.


Hembusan nafas pria itu keluar dengan kasar. Sekilas menoleh kepada Tania yang masih berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang tertunduk dalam.


"Di mana Siska?" tanya Zafran lagi.


"Siska belum datang. Aku tidak tahu malam ini Siska pulang atau tidak," jelas Tania.


"Dia tidak ngabari kamu?" tanyanya tak percaya, bagaimana mungkin Siska bisa tidak mengabari Tania menurut Zafran.


Tania hanya menggeleng kepala. Sedangkan Zafran mulai meraih ponselnya dan setelah itu menunggu jawaban dari Siska yang di telpon olehnya.


"Kamu di mana?" tanya Zafran langsung setelah sambungan telponnya di jawab oleh Siska.

__ADS_1


"Saya di klinik, Tuan. Kenapa, Tuan?" Siska balik tanya agak cemas. Karena suara Zafran terdengar kurang ramah.


"Pulang jam berapa?"


"Mungkin besok sore. Karena malam ini saya ada jam tambahan. Di sambung sama besok jam pagi," jelas Siska.


"Tata tahu hal ini?" selidik Zafran.


Sebenarnya agak kesal karena merasa Siska seperti teman yang tidak bisa di tangguhkan untuk menemani Tania. Awalnya saja merengek-rengek meminta ikut Tania, nyatanya wanita itu malah di tinggal tanpa pesan oleh Siska.


"Tidak, Tuan. Mana bisa aku kasi tahu, Tata aja nggak punya handphone, Tuan."


"Ck!" Zafran hanya berdecak kecewa.


Pantas saja Siska tidak memberitahu Tania, jadi karena handphone masalah utamanya.


Setelah itu Zafran memutus panggilannya begitu saja. Sekilas menoleh lagi kepada Tania yang masih di tempatnya. Dan lagi-lagi pria itu menghela nafas panjang, lalu kemudian berdiri dari tempatnya.


Sebenarnya Tania sendiri merasa antara tenang tetapi juga agak was-was. Tenang karena ada Zafran yang bisa menemaninya, tetapi was-was diri karena lelaki dan wanita tanpa ikatan muhrim berdua saja di rumah itu tidak baik. Timbulnya fitnah itu yang di takutkan oleh Tania saat ini.


"Kamu sudah sholat?" tanya Zafran tiba-tiba.


Tania merespon dengan gelengan kepalanya.


Zafran mulai menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Dilihatnya Tania belum beranjak membuatnya menjadi gemas sendiri.


"Tata," sapanya lagi.


Tania mengangkat wajahnya.


"Kamu tidak mau sholat?"


"Iya, setelah ini, Tuan. Ee... Apa Tuan mengajak ku sholat jamaah?" Setelah berkata itu tiba-tiba saja Tania membungkam mulutnya sendiri, merasa salah omong.

__ADS_1


"Dasar mulut! Semoga dia tidak marah," batin Tania mulai cemas melihat reaksi Zafran yang sulit di artikan.


Zafran tak menyahut, pun tidak protes apa-apa. Pria itu terus saja melesat ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Setelah selesai berwudhu, Zafran menyuruh Tania untuk segera berwudhu juga.


Wanita itu menurut saja dan segera beranjak ke kamar mandi. Tania kira Zafran akan sholat lebih dulu, rupanya pria itu sengaja menunggu dirinya. Dan tentu hal ini membuat Tania tambah canggung. Tetapi demi ajakan kebaikan itu akhirnya dua anak manusia tanpa ikatan apa-apa itu melaksanakan tiga rakaatnya dengan berjamaah.


Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menenangkan. Hingga seseorang yang diam-diam mengambil gambar Zafran dan Tania itu ikut senyum-senyum sendiri melihatnya.


Usai salam terakhir Tania beranjak lebih dulu karena mendengar ketukan pintu di luar. Ucapan salam yang menggema di luar sana menandakan jika yang datang itu adalah bukan orang yang tadi. Sedangkan Zafran belum beranjak sama sekali. Entahlah, pria itu terlihat khusyuk dan sangat tenang bersimpuh di atas sajadahnya. Dan hal itu seketika membuat Tania terpesona. Sebab sebelumnya ia tak pernah merasakan momen seperti ini bersama Doni dahulu.


"Assalamu'alaikum," suara orang di luar sana mengucap salam lagi.


Buru-buru Tania berjalan ke ruang depan, tetap dengan mengenakan mukenah di badannya.


"Wa'alaikum salam." Tania menjawab salam orang itu.


Handle pintu itu Tania buka perlahan. Dan ketika pintu itu terbuka Tania langsung tercengang di tempat.


"Di mana Zafran?" tanya pak Lukman yang datang kembali bersama Tri.


"A-ada di dalam, Pak," sahut Tania gugup, karena masih kaget dengan kedatangan pak Lukman.


Pak Lukman diam saja. Pria itu meneliti tampilan Tania dari ujung ke ujung. Terasa menegangkan bagi Tania mendapat sorotan tajam dari ayahnya Zafran.


Sebenarnya pak Lukman tadi menyuruh pak Joko untuk mengetes bagaimana reaksi Zafran jika tahu Tania di goda orang. Hal itu sukses di lakukan oleh pak Joko. Dan berhasil memancing Zafran untuk datang ke sini berkat pak Joko yang mengatakan jika ada orang mencurigakan di sekitar rumah Tania.


Pemuda yang bersekongkol dengan pak Joko itu sengaja beraksi ketika di perkirakan Zafran akan datang di jam itu. Sungguh sebuah rencana yang sudah di susun rapi oleh pak Joko atas perintah pak Lukman. Dengan iming-iming yang lumayan besar itu yang membuat pak Joko mau menerima kerja sama dengan pak Lukman. Di tambah kondisi istri pak Joko yang kurang sehat, membuat pria itu mau menerima tawaran pak Lukman.


Sebenarnya pak Lukman dan pak Joko adalah orang baik. Jadi meski telah merencanakan itu, mereka jamin tidak akan ada kekerasan dalam rencana itu. Pak Lukman sendiri bertujuan seperti itu karena masih mencurigai siapa sebenarnya Tania bagi Zafran. Dan setelah mendapatkan kiriman foto Zafran dan Tania yang sedang melaksanakan sholat berjamaah itu, pak Lukman yang sebelumnya sudah ada di tempat yang tak jauh dari rumah itu langsung melesat untuk menemui Zafran dan Tania.


Mendapati Tania yang tak kunjung masuk lagi ke rumah, membuat Zafran memilih menyudahi bacaan dzikirnya. Pria itu menyusul ke ruang depan. Dan sama halnya dengan Tania, Zafran tertegun heran setelah melihat kedatangan ayahnya ke rumah ini.


*

__ADS_1


__ADS_2