
Pagi kembali menyapa peraduan bumi. Saat itu pula Tania mulai sadarkan diri. Seorang perawat yang kebetulan ditugaskan menjaganya secara privacy oleh Yudha, langsung mengontrol keadaan Tania lebih detail, sembari menyapa lembut kepada Tania.
"Kakak ada keluhan lain?" tanya suster itu saat sudah selesai memeriksa kondisi tubuh Tania.
Tania hanya menggeleng. Terus terang ia masih bingung dengan keberadaannya di rumah sakit. Seharusnya dirinya sudah mati. Itu harapan Tania saat semalam dirinya tertabrak oleh sebuah mobil.
Ingatannya masih jelas saat memergoki suami dan sahabatnya sedang bercinta semalam. Wanita itu nyaris putus asa dibuatnya. Bersamaan dengan musibah yang menimpanya, sejujurnya ia sudah pasrah dan lebih berharap mati dari pada nanti akan berhadapan lagi dengan Doni dan, Aah... Rasanya Tania sudah tidak sudi lagi menyebut nama wanita yang merebut suaminya itu.
"Boleh saya tahu nama kakak siapa?" tanya suster itu lagi.
Tania terdiam, tidak bisa menjawab. Kondisi wajahnya yang hampir tertutup rapat oleh perban otomatis membuatnya kesulitan berbicara. Apalagi yang dirasanya saat ini mulutnya terasa sangat sakit dibanding kondisi tubuh lainnya.
"Ah, maaf, Kak," ucap suster itu setelah menyadari kondisi Tania.
"Apa kakak butuh kertas dan bulpoint?"
Tania mengangguk kecil.
Baru saja suster itu memberikan Tania secarik kertas dan juga bulpoint, dokter Yudha masuk ke ruangan itu.
"Bagaimana kondisinya, Sus?" tanya Yudha, yang sebelumnya sudah dengar kabar dari suster itu jika pasien yang masih misterius ini sudah sadarkan diri.
"Alhamdulillah sudah bisa diajak berinteraksi dengan baik, Dok," tutur suster itu.
Yudha tersenyum. Lalu beralih menatap kepada Tania.
"Boleh saya tahu siapa nama anda?" tanya Yudha.
Tania mengangguk. Lalu segera wanita itu menulis namanya pada secarik kertas yang diberikan suster itu kepadanya.
[Tania]
Yudha membacanya sedikit kaget. Semalam saat ia membersihkan luka di wajah Tania, ia memang sedikit curiga. Tetapi ia harus memastikan dulu sebelum mengira wanita ini adalah Tania yang sama yang ia kenal sebelumnya.
[Kenapa saya bisa ada di sini. Siapa yang membawaku ke sini.]
Tania menulis lagi yang ingin ditanyakannya.
Yudha membacanya lagi. Berpikir sejenak, lalu mengulas senyum kecil kepada Tania.
__ADS_1
"Seseorang telah menolong anda semalam. Bersyukur sekali anda masih selamat. Mm... Anda masih ingat apa yang menimpa Anda semalam?"
Sejujurnya Yudha sedikit was-was menanyakan pertanyaan terakhirnya. Takut-takut wanita itu menuntut atas peristiwa yang menimpanya. Dan Zafran lah yang akan terancam.
[Saya ingin mati saja!]
Tulis Tania lagi, yang sangat membuat Yudha juga suster yang menjaganya shocked saat membacanya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu, Yudha belum tahu pasti. Tetapi jika dilihat dari sorot matanya sepertinya wanita itu sedang berada dalam tekanan batin dan titik keputus asaannya.
Lalu Yudha melirik kepada suster itu. Seperti sebuah kode yang kemudian suster itu paham apa maksud Yudha.
"Anda istirahat dulu. Saya harus memeriksa pasien yang lain," pamitnya sambil mengangguk kode kepada suster di samping Tania.
"Kakak, permisi saya suntik vitamin dulu ya?" ucap suster itu yang kemudian menyuntikkan cairan vitamin di selang infus Tania.
Saat berada dalam kelemahannya itu Tania hanya bisa pasrah. Tubuhnya yang tidak sepenuhnya fit membuatnya terasa lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam diam wanita itu merenung, meratapi nasib diri yang sedang tidak memihak kepadanya.
Seandainya ia masih di takdirkan hidup, ia berharap setelah ini ia tidak akan di pertemukan lagi dengan dua manusia penghianat seperti Doni dan Sari. Walau setelah ini ia tak tahu harus tinggal di mana, yang pasti Tania harus menjauh atau bila perlu menghilang dari mereka.
Sayup-sayup mata Tania mulai terpejam lagi. Terbawa dalam peraduan mimpi indah yang tidak akan sama dengan kehidupannya yang nyata.
"Iya, Yud, ada kabar apa?" Zafran langsung bertanya perihal kejadian semalam.
"Sepertinya nasib baik masih ada di tanganmu," ucap Yudha.
"Maksudnya? Dia nggak nuntut apa-apa gitu?"
Mendadak pikiran Zafran menjadi riang. Sudah senang duluan.
"Bukan," sahut Yudha yang membuat Zafran seketika ciut.
"Jadi apa?" tanyanya sudah tak bergairah.
"Sepertinya perempuan yang kamu tabrak itu memang ada rencana bunuh diri," terka Yudha, mengingat tulisan terakhir dari wanita itu.
Zafran masih terdiam sembari mengingat-ingat kronologi semalam. Wanita itu semalam lari di kejar-kejar oleh beberapa orang yang mirip seperti preman, lalu ketika berusaha menyebrang jalan tak sengaja tertabrak mobilnya, itu pun karena wanita itu menyebrang tanpa tolah-toleh dulu. Agak mustahil jika Yudha bilang kalau wanita itu ada niat mau bunuh diri.
"Kamu sudah tanya di mana rumahnya?" tanya Zafran mengalihkan ke hal lain.
__ADS_1
"Belum. Lupa," sahut Yudha.
"Trus bagaimana rencana mau bawa dia ke Korea? Jadi?"
"Masih belum aku bicarakan sama dia. Tetapi aku yakin dia pasti mau."
"Kalau pun tidak mau jangan dipaksa, Yud," ucap Zafran yang seketika membuat Yudha tergelak heran.
"Takut bangkrut, Bos?"
"Bukan. Dari semalam aku terus mikir gimana caranya nutupin pengeluaran itu agar tidak diketahui ayah ibu. Mungkin kalau hanya biaya operasinya aku bisa pakai uang pribadiku. Tapi untuk biaya hidupnya setelah proses penyembuhan itu juga tidak sedikit."
Yudha hanya terdiam. Ia sangat respect dengan keputusan sahabatnya itu untuk bertanggungjawab sepenuhnya kepada wanita yang bernama Tania itu.
Tiba-tiba Yudha ingat kalau ia belum memberitahu Zafran tentang nama wanita itu. Semoga saja Zafran tidak akan shocked saat mendengarnya.
"Zaf, kamu nggak mau tahu siapa nama wanita semalam?"
"Siapa namanya?"
"Tania," tutur Yudha sangat jelas.
Deg.
Denyut jantung Zafran mendadak nyeri mendengar nama itu. Sebuah nama yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupnya, yang pernah menjadi calon istrinya, namun ternyata harus kandas karena kekasihnya itu tiba-tiba hilang tiada kabar.
Rasanya mulut pria itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terasa sesak di dada, tiba-tiba teringat akan masa lalunya yang menyedihkan.
"Zafran," sapa Yudha lagi.
Zafran mendengarnya, tetapi sudah tidak bersemangat menjawabnya.
"Kamu masih on nggak nih?" tanyanya lagi, berasa ngomong sendirian rasanya.
Karena tak kunjung mendapat respon dari Zafran, maka Yudha mengakhiri panggilan telponnya.
Zafran menjatuhkan ponselnya ke pangkuannya. Sekujur tubuhnya rasanya sangat lemas tak bertenaga. Sorot matanya menatap entah. Sekian lama berusaha menyembuhkan diri dari luka lama, terpaksa teringat kembali hanya karena sebuah nama yang mirip dengan seseorang di masa lalunya.
*
__ADS_1