Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 30


__ADS_3

Suasana pagi di kediaman pak Lukman terkesan hening, walau mereka semua sudah berkumpul dalam meja makan bersama menikmati sarapan paginya. Pria tua itu sengaja membungkam mulut walau sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Zafran mengenai wanita itu. Pun juga begitu yang di rasa oleh ibu Diana, wanita itu juga banyak diamnya, hanya sesekali menyapa Zafran sesaat sebelum sarapan di mulai.


Zafran sebenarnya sadar dengan perubahan sikap kedua orang tuanya itu, tetapi ia memilih untuk tetap tenang. Setidaknya dengan begini hari ini ia akan terhindar dari segala pertanyaan yang tak ingin ia dengar. Biarlah di katakan tidak dewasa karena memilih diam dan bermain tidak jujur kepada orang tuanya, yang terpenting hari ini aman dulu.


"Ayah, Ibu, aku berangkat dulu," pamit Zafran menyudahi sarapannya lebih dulu.


Pak Lukman hanya menganggukkan kepala. Lalu menyambut uluran tangan Zafran yang akan menyaliminya. Dan ibu Diana tersenyum hangat melepas kepergian Zafran untuk berangkat kerja seperti biasanya.


Seperti biasa ibu Diana selalu mengantar putranya itu sampai ke teras depan. Di sana ibu Diana melihat motor milik Zafran yang sudah lama tidak di pakai sedang di siapkan oleh Tri.


"Tumben bawa motor?" tanya ibu Diana.


"Iya, Bu, lagi pingin aja," sahut Zafran, seketika ibu Diana curiga jika ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan sehingga Zafran menaiki motor.


Lalu Zafran memasang jaket yang sebelumnya ia siapkan. Kemudian bersalaman dengan ibunya setelahnya bersiap menyalakan motor keluaran kekinian yang siap mengantarnya ke toko.


"Hati-hati, Zaf," pesan ibu Diana sambil melambaikan tangannya saat anaknya itu akan melajukan motornya.


Zafran mengangguk sembari tersenyum yang tentu terhalang oleh helm fullface yang di pakainya.


"Assalamu'alaikum, Ibu," pamit Zafran yang kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Wa'alaikum salam," jawab ibu Diana, lalu kemudian muncullah pak Lukman yang keluar dari rumah itu.


"Tumben?" ucap pak Lukman yang ibu Diana langsung paham pertanyaannya itu tertuju untuk Zafran.


Ibu Diana mengangkat kedua bahunya. "Katanya lagi pingin," terangnya sambil mengerucutkan bibir.


"Mencurigakan!"


"Iya, Mas, aku juga merasa gitu. Tapi orang kamu itu tetap ngikutin Zafran kan?"


Pak Lukman mengangguk lagi.

__ADS_1


"Ayo, Diya," ajak pak Lukman tiba-tiba.


"Ayo ke mana?"


"Kita susul wanita itu. Dari semalam aku di buat nggak nyenyak tidur gara-gara mikirin wanita itu," seloroh pak Lukman sambil memijit kepalanya yang sedikit pening.


Meski sebelumnya sudah di jelaskan oleh istrinya mengenai siapa Tania, termasuk insiden yang membuatnya harus oplas, tetap saja pak Lukman merasa resah sebelum tahu sendiri siapa Tania yang sebenarnya. Pria tua itu paling takut putranya akan terkena rayuan perempuan matrealistis. Apalagi jaman sekarang sudah banyak perempuan yang sangat nekat bila menyangkut harta dan jabatan.


"Iya, Mas, tunggu sebentar. Aku mau siap-siap dulu."


Lalu ibu Diana beranjak masuk ke rumahnya, yang kemudian langsung menuju kamarnya untuk mengambil beberapa keperluan seperti dompet, obat-obatan, dan juga ponsel yang kemudian ia masukkan ke dalam tas kecil yang akan ia bawa. Setelah selesai barulah ia segera menyusul suaminya yang rupanya sudah siap duduk dalam mobilnya, yang tentu perjalanannya hari ini akan di sopiri oleh Tri.


Tidak sulit bagi pak Lukman mencari alamat tempat tinggal wanita itu, sebab orang suruhannya itu sudah memberinya petunjuk dengan jelas di mana alamat wanita itu.


Sedangkan Zafran sengaja menaiki motor itu tentu dengan alasan yang kuat. Pertama karena ia ingin perjalanannya tidak terhalang kemacetan, juga karena ingin menyamar diri dari ancaman Doni, yaa... Walaupun yang namanya orang jahat itu lebih licik meskipun Zafran sudah berusaha menyamar diri.


Beruntung saja selama perjalanan menuju tokonya berjalan aman. Sehingga Zafran bisa dengan fokus mengerjakan pekerjaannya yang cukup melelahkan otaknya seharian ini.


***


Siska seketika menghentikan langkah kakinya saat suara dehaman itu bertandang keras di telinganya.


"Sudah jam berapa?" tanya dokter Yudha dengan tatapannya yang seketika horor bagi Siska.


"Maaf, Dokter," ucap Siska dengan menundukkan kepala.


Perjalanannya tadi yang di selingi dengan drama kehabisan bahan bakar, membuat Siska terlambat datang ke klinik milik Yudha sampai lebih dari setengah jam.


"Jangan karena sudah saya beri cuti, kamu tambah seenaknya."


Siska menggeleng cemas. "Maaf, Dokter. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi."


Lalu Siska langsung masuk ke ruang kerjanya untuk meletakkan tasnya, yang kemudian langsung bergerak mengerjakan tugasnya di klinik itu.

__ADS_1


Yudha kembali masuk ke ruang kerjanya juga. Pria itu terduduk merenung seorang diri. Akibat mimpi semalam, yang tak pernah ia sangka akan memimpikan itu, membuatnya tidak bisa fokus bekerja hari ini.


Dalam ketermenungannya itu tanpa sadar Yudha meneteskan air matanya. Menangis dalam diam. Menyesali dosa yang pernah ia lakukan. Dosa besar. Walau semua itu terjadi tanpa kesengajaan, tetapi hingga detik ini hal itu terus saja menghantui pikirannya.


"Ya Allah....." lirih Yudha, menyebut asma Allah berulang-ulang sambil mencengkram rambutnya dengan keras. Rasanya ingin berteriak saja, tetapi masih sadar di mana dirinya kini berada.


"Astaghfirullah...."


"Astaghfirullah...."


Tak henti-hentinya mulut Yudha menggumamkan kalimat mohon pengampunan itu, dengan linangan air matanya yang semakin sulit di bendung.


Gemuruh di hatinya terus saja bergejolak. Merutuki diri sendiri yang selalu menjadi lelaki pengecut, yang tak pernah berani mengakui kesalahannya. Baik itu kepada orang tuanya sekali pun, terlebih kepada Zafran. Sungguh Yudha tidak pernah berani mengakui apa yang pernah di lakukannya dahulu bersama seseorang yang sudah tahu jika orang itu adalah kekasih sahabatnya sendiri.


"Di mana kamu, Ta? Tolong maafkan aku. Kamu di mana? Aku ingin bertemu, Ta," seru Yudha seorang diri.


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruang kerja Yudha terbuka dari luar, muncul Siska yang akan menyapa pria berprofesi dokter itu.


"Ee... Maaf, Dok," ucap Siska yang kemudian langsung menutup pintunya kembali setelah melihat dengan jelas dokter Yudha sedang menangis.


Padahal Siska sudah mengetuk pintu itu sebelumnya, tetapi karena seperti mendengar gumaman dari dalam makanya Siska membukanya, karena ia kira itu adalah sahutan dari dokter Yudha.


Yudha segera mengusut air matanya. Berulang-ulang mengatur nafasnya agar bisa tenang kembali. Kedatangan Siska baru saja mungkin karena dirinya sedang di butuhkan segera. Maka setelah itu Yudha pun akhirnya keluar dari ruangannya untuk menemui Siska, menanyakan keperluannya barusan ada apa.


"Itu dokter Yudha," tunjuk salah satu perawat yang lain saat melihat Yudha menghampiri mereka.


Sedangkan Siska yang tanpa sengaja tahu bagaimana kondisi dokter Yudha itu, hanya lebih banyak diam, dengan perasaan yang di liputi tanda tanya besar.


"Apa yang terjadi sama kamu, Dok?" gumam Siska dalam hatinya bertanya-tanya.


Bonus visual Yudha

__ADS_1



__ADS_2