
"Astaga!" gumam Zafran saat tahu siapa perempuan yang mencarinya itu.
Pria itu sungguh benar-benar lupa jika ia tadi membawa Tania. Mungkin karena wanita itu merasa gundah yang membuatnya nekat mencari Zafran ke toko itu.
"Tuan Zafran," sapa Tania dengan wajahnya yang tersenyum lega.
"Saya pikir Tuan sudah meninggalkan saya. Saya nunggu Tuan, sampai tenggorokan saya rasanya kering," ujar Tania sejujur-jujurnya.
Menunggu Zafran di dalam mobil sekitar hampir satu jam, sangat membuat Tania dehidrasi dan kehausan. Tetapi reaksi Zafran saat itu langsung menarik tangan Tania menuntunnya keluar dari toko itu.
Pria itu kembali membawa Tania masuk ke mobilnya, tetapi Zafran juga ikut masuk ke mobilnya.
"Maaf, aku tadi benar-benar lupa," sesal Zafran.
Tania tak menyahut. Wajahnya tertunduk dalam, tiba-tiba merasa bersalah kepada pria itu lantaran telah melanggar keluar dari mobil itu. Buktinya saja Zafran membawanya masuk lagi ke mobilnya.
"Mm... Apa kamu lapar?" tanya Zafran mencoba menebus kesalahannya.
Tania menggeleng lemah. Sebenarnya ia merasa haus, cuma tidak mau merepotkan akhirnya diam saja.
Karena Tania hanya diam, Zafran membawa mobil itu keluar dari area tokonya. Tania kira pria itu akan langsung mengantarnya pulang, rupanya mobil itu masih berhenti di depan rumah makan masakan padang yang tak jauh dari toko tadi.
Zafran langsung membuka pintu mobil samping Tania duduk. Meski tidak berkata apa-apa sudah jelas itu artinya perintah untuk keluar.
"Temani saya makan," ucap Zafran yang seketika membuat Tania melongo di tempat.
Hingga sampai Zafran masuk ke rumah makan itu, Tania masih membeku di tempat. Wanita itu baru beranjak saat Zafran kembali menatapnya isyarat menunggu Tania masuk juga.
Walau sangat aneh, tetapi akhirnya Tania menuruti permintaan Zafran. Karena ia teringat betapa besar hutang budinya kepada pria itu.
"Duduk lah." Zafran menarik kursi mempersilahkan Tania duduk.
"Ee... Biar saya saja, Tuan." Tania menahan kursi itu. Merasa sangat sungkan di perlakukan seperti itu oleh orang yang ia panggil tuan.
Reaksi Zafran tetap datar. Lantas ia duduk di kursi bagiannya, sedangkan Tania duduk tepat berhadapan dengannya.
Sambil menunggu pesanan mereka selesai, diam-diam Zafran mencermati wajah Tania.
"Ee... Seharusnya lebih baik saya pulang, Tuan," ucap Tania tak enak sendiri.
"Apa kamu ada acara lain?" selidik Zafran.
__ADS_1
Tania menggeleng.
"Kalau begitu temani saya makan," ucap Zafran enteng sekali.
Tania terdiam lagi. Dengan pria itu baru kemarin mereka saling tahu. Tetapi tidak di sangka kalau akan ada cerita seperti ini antara mereka. Jujur Tania sangat sungkan bercampur takut. Sungkan karena Tania menghormatinya sebagai pahlawan penolong, takut jika nanti kepergok kekasih Zafran bagaimana?
"Terimakasih," ucap Zafran saat pelayan di rumah makan itu menyajikan pesanannya di meja mereka.
Setelah selesai tertata, Zafran lekas mengambil nasi ke piringnya. Sudah merasa cukup lapar karena pagi tadi melewati sarapan paginya.
"Makan lah," titah Zafran pada Tania.
Dan Tania akhirnya mengambil nasi dan juga lauknya. Kemudian ikut memakan makanan itu dengan perasaan campur aduk. Sedangkan pria itu terlihat sangat lahap menikmati makanannya.
"Mm... Tuan, apa kira-kira nanti nggak ada yang salah paham kalau ada yang melihat kita di sini?" tanya Tania memberanikan diri.
Dan Zafran hanya menghedikkan kedua bahunya.
"Saya takut pacar Tuan akan salah paham."
"Saya nggak punya pacar," sahut Zafran sambil asyik menikmati makanannya.
"Trus gaun di mobil itu?" Seketika Tania membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, karena keceplosan memberitahu kalau ia tadi mengintip paperbag yang ada di mobil itu.
"Maaf, Tuan. Saya sudah lancang melihat barang Tuan." Tania mengucapkan dengan wajah tertunduk.
"Hem," Zafran menyahut hanya dengan bergumam.
Lalu pria itu kembali menikmati makanannya. Tidak ada reaksi marah yang di lihat dari wajah Zafran. Entahlah kenapa ada manusia sedatar itu menurut Tania.
Selesai Zafran menghabiskan makanannya, pria itu dengan sabarnya menunggu Tania menghabiskan makanannya. Senyum tipis pria itu tiba-tiba mengembang, mana kala memperhatikan Tania yang makan tidak seperti kebanyakan wanita kota yang gemar mengurangi porsi makannya dengan alasan diet. Tetapi yang di lihat Zafran berbeda. Tania menghabiskan makanannya juga.
"Nanti malam ada acara?" tanya Zafran setelah Tania selesai minum.
Tania menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Nanti jam tujuh saya jemput," ucap Zafran.
"Untuk?" Tania bertanya penasaran.
"Ikut saya."
__ADS_1
"Ke mana?"
"Jadi pacar pura-pura saya nanti malam saja," jelas Zafran enteng sekali.
"Hah?"
Siapa yang tidak kaget coba? Kenapa Zafran tiba-tiba meminta itu? Atas dasar apa?
"Bukankah katanya kamu sudah bercerai dengan suami kamu?" tanya Zafran memastikan. Buat jaga-jaga keamanan takut di katakan perusak rumah tangga orang jika Tania masih belum resmi bercerai.
Tania terdiam tak bisa menjawab. Nyatanya ia masih terikat pernikahan yang sah di catatan hukum karena memang belum memiliki akta cerai, walau kenyataannya Doni telah meninggalkannya demi bersama wanita lain.
"Mm.... Saya--"
"Plis... Aku minta tolong. Hanya nanti malam saja. Setelah itu urusan saya dengan orang tua saya," mohon Zafran. Pria itu sudah berada di titik keputus asaan dengan tuntutan ayahnya yang meminta membawa pacarnya malam ini juga.
Tania masih tampak bingung. Sejujurnya ia sangat ingin membantu mengingat betapa besar jasa pria itu pernah menolongnya, tetapi tidak dengan begini caranya. Dari sini jelas jika Zafran akan membohongi kedua orang tuanya.
"Kenapa harus saya, Tuan?" tanya Tania pada akhirnya.
"Karena saya pikir kamu pasti mau membantu," jawab Zafran yakin sekali.
Apakah ini bentuk dari meminta balasan budi?
"Saya bingung, Tuan," ucap Tania.
"Tidak perlu bingung. Kamu cukup diam saja, kalau ayah ibu saya bertanya, saya yang akan bantu menjawab. Hanya nanti malam saja."
Akhirnya Tania mengangguk, walau sebenarnya ia masih ragu. Paling tidak ia tidak mengecewakan orang yang sudah membantunya, walau harus dengan membohongi orang lain.
Zafran tersenyum simpul. Kemudian pria itu berdiri dan beranjak keluar dari rumah makan itu, di ikuti Tania yang berjalan di belakangnya.
"Pakai ini nanti malam." Zafran menyerahkan paperbag berisi gaun itu saat mereka berdua sudah sama-sama berada dalam mobil.
Tania menerimanya dengan perasaan entah. Lalu mobil itu kembali melaju di jalanan menuju rumah Tania.
Dalam perjalanan itu mereka sama-sama diam, tidak ada yang Zafran bahas lagi setelah wanita itu menyetujui permintaannya. Hingga sampai mobil itu berhenti di depan rumah Tania, pria itu masih membungkam.
"Terimakasih, Tuan, sudah memberi saya tumpangan," ucap Tania sebelum dirinya keluar dari mobil itu.
Zafran hanya mengangguk.
__ADS_1
Lalu setelah Tania turun dari mobilnya, pria itu kembali melajukannya tanpa berucap sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
*