Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 09


__ADS_3

Sambil menunggu Doni selesai mengganti ban mobil Zafran yang bermasalah, sesekali mereka terlibat obrolan kecil sebagai penghilang kejenuhan. Tetapi obrolan itu lebih dominan tentang curhatan Doni. Pria itu pandai sekali berdrama sedih di depan Zafran, seakan hidupnya sangat terpuruk dan membutuhkan biaya banyak untuk istrinya yang sedang mengandung.


Tak menunggu lama akhirnya Doni selesai dengan kegiatannya. Terlihat Zafran mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang merah yang kemudian ia berikan kepada Doni.


"Ah, ini terlalu banyak, Tuan." Doni berpura-pura segan menerimanya, padahal dalam hati mulai bersorak senang.


"Ambil saja. Anggap ini rejeki buat istri sama bayi kamu. Dan aku terimakasih sekali sudah di bantu," ucap Zafran setulus hati.


Lalu Doni menerima uang pemberian Zafran itu sambil mencium lembaran uang merah itu di depan Zafran.


"Alhamdulillah... Terimakasih banyak, Tuan. Uang ini akan saya gunakan untuk memeriksakan kandungan istri saya. Mulai dari hamil istri saya belum pernah periksa kandungan," seru Doni. Kali ini ada benarnya yang di katakannya.


Memang setelah Sari di ketahui berbadan dua, wanita itu enggan untuk memeriksakan kandungannya. Apalagi status hubungan mereka yang masih belum ada ikatan pernikahan itu yang membuat wanita itu malu jika nanti di tanya siapa suaminya.


"Tunggu, saya belikan kamu minum," ucap Zafran lagi yang kemudian langsung melesat pergi ke warung klontong di seberang jalan.


Doni menatap Zafran sambil tersenyum licik. Apakah jika ia mengadu jika saat ini ia membutuhkan pekerjaan akan di bantu olehnya? Tetapi coba saja, siapa tahu kali ini hari keberuntungannya.


Zafran terlihat kembali lagi sambil membawa dua botol air mineral di tangannya. Setelah sampai di tempat semula, pria itu langsung menyerahkan sebotol air mineral itu kepada Doni, dan ia pun mulai meminum air mineral miliknya karena juga merasa haus.


"Kenapa tidak di minum?" tanya Zafran karena sedari tadi Doni hanya memperhatikannya.


Doni menggeleng saja. Wajahnya mulai di buat memelas, dengan memilin jari-jarinya terlihat seperti orang yang kebingungan.


"Mm... Begini, Tuan."


"Ah, jangan panggil aku tuan. Berasa sudah tua aja. Haha..."


Zafran terkekeh kecil. Selama ini ia selalu keberatan di panggil sebutan tuan walau oleh pembantu yang bekerja di rumahnya sekalipun. Pria itu merasa dirinya tidak pantas di sebut tuan, karena merasa masih terlalu jauh untuk berada di level itu.


Memang Zafran adalah satu-satunya pewaris dari perusahaan yang di miliki orang tuanya. Karena itulah Zafran tidak terlalu pede dengan sebutan pewaris. Ia lebih suka berdiri di kaki sendiri, dengan hasil jerih payah sendiri.

__ADS_1


Saat ini pria itu sedang belajar membuka bisnis baru yang berhubungan dengan otomotif. Zafran suka dunia itu, walau sebenarnya ia tidak terlalu paham dengan ilmu otomotif tetapi apa salahnya di coba. Apalagi ia memiliki modal banyak untuk mengembangkannya.


"Eh, iya, ada apa? Tadi mau ngomong apa?" ucap Zafran, merasa bersalah karena sudah menyela omongannya tadi.


"Mm... Gimana ngomongnya ya.." Doni berlagak sungkan untuk menyampaikannya.


"Ngomong saja. Siapa tahu aku bisa bantu."


Zafran mengatakan itu karena tadi Doni sempat bilang jika saat ini dirinya butuh pekerjaan.


"Saya butuh pekerjaan, Tuan," ucap Doni tanpa ragu lagi.


Zafran manggut-manggut. Sejenak ia berpikir sambil meneliti kepada Doni yang menundukkan kepala.


"Kalau kamu butuh pekerjaan, coba datang ke toko Surya Agung di jalan Tamrin sana. Kemarin aku lihat sepertinya di sana lagi butuh karyawan. Coba saja ke sana," ucap Zafran memberi solusi yang di butuhkan pria itu.


Sebenarnya toko yang di tunjuk oleh Zafran itu adalah miliknya. Tetapi ia tidak mau mengatakan itu kepada Doni. Takut nanti pria itu benar-benar datang dan mengatasnamakan Zafran sebagai alasan agar di terima kerja di sana.


Zafran juga butuh pekerja yang bisa di andalkan sesuai bidangnya masing-masing dan juga yang sesuai kriteria dari standart pekerja yang di butuhkannya. Dan untuk urusan itu Zafran sudah menyiapkan orang kepercayaan untuk menyeleksinya.


Sebenarnya Doni lebih mengharapkan Zafran mengangkatnya sebagai sopir pribadinya. Karena itu pekerjaan yang tidak membuat Doni merasa jenuh. Jika menjadi sopir pribadi, pria itu akan sering berada di jalan dan hitung-hitung bisa cuci mata plus bawa mobil mewah. Bayangannya menjadi sopir pribadi dirinya akan di bawa healing kemana-mana. Tetapi apa yang di rekomendasikan Zafran itu sungguh tidak sesuai ekspektasi Doni.


"Bagaimana?" tanya Zafran lagi.


"E... Nanti akan saya coba, Tuan. Sebelumnya terimakasih," sahut Doni.


"Mm... Aku harus segera pergi. Terimakasih ya, sudah bantu tadi," seru Zafran lagi sambil menepuk pundak Doni.


Lalu kemudian Zafran masuk ke mobilnya dan segera melanjutkan kembali perjalanan pulangnya.


Doni menatap kepergian Zafran hingga mobil yang di bawanya sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Tapi lumayan lah, modal ganti ban sudah dapat lima ratus," ucap Doni sambil mengipaskan uangnya ke mukanya.


Lalu pria itu segera pergi dari tempat itu. Rasanya ingin segera pulang setelah mendapatkan uang semudah itu. Sebelum itu Doni mampir dulu ke penjual nasi goreng dan terang bulan seperti yang di minta Sari tadi.


Sekitar dua puluh menit berlalu. Doni kembali tiba di kontrakan Sari. Pria itu masuk begitu saja ke rumah itu dan mendapati wanita pujaannya sedang berbaring santai di kasur sambil memainkan ponselnya.


"Sayang..."


Doni mendekat sambil menunjukkan dua kantong kresek berisi nasi goreng dan terang bulan khusus Sari.


Sari beranjak duduk dari kasurnya. Wajahnya langsung sumringah karena pria itu selalu saja menuruti apa maunya.


"Aku kira tadi kamu nggak dengerin omongan aku," ucap Sari sambil membuka kotak terang bulan.


"Demi kamu, apapun aku belikan," ujar Doni sambil mengecup pipi Sari.


"Waah... Ini terbul spesial. Komplit sama keju." Lalu Sari mulai melahapnya dengan nikmat.


"Kok kamu cuma ngelihatin, nggak mau cicip?" tawar Sari kepada Doni.


Doni menggeleng, tetapi sorot matanya menatap nakal kepada Sari.


"Aku mau makan kamu saja. Rasanya lebih candu daripada ini."


Doni menyingkirkan jajanan terbul itu dari pangkuan Sari. Dengan sigap pria itu membungkam mulut Sari yang masih mengunyah terbul di mulutnya. Menciumnya dengan penuh haasrat. Sehingga terjadilah penyatuan tubuh antara mereka.


"Ah, mas Doni pelan-pelan. Ahhh....."


Sari mendessah panjang saat pria itu menggoyang tubuhnya tanpa jeda.


"Kamu terlalu nikmat untuk tidak ku sentuh, Sayang."

__ADS_1


"Aaaaahhh..... Mas......."


*


__ADS_2