Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 33


__ADS_3

Setelah membuat kesepakatan yang hanya di ketahui antara pak Lukman dan lelaki bernama Joko itu, maka mereka berdua memilih untuk segera memisahkan diri. Sebelum itu pak Lukman mengirim pesan singkat kepada orang bayarannya yang saat ini sedang berjaga-jaga di sekitar toko milik Zafran. Setelah pesan singkatnya mendapatkan balasan jawaban dari orang itu, lalu pak Lukman kembali masuk ke rumah itu.


Bersamaan dengan pak Lukman yang sudah berdiri di ambang pintu masuk rumah itu, Tania juga mulai keluar dari kamarnya. Sejenak tatapan keduanya saling bersirobok, tetapi tak lama sama-sama memalingkan diri yang kemudian pak Lukman segera melangkah mendekati istrinya yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Mari kita pulang, Diya," sapa pak Lukman kepada ibu Diana dan langsung mengajaknya pulang secepat itu.


Ibu Diana hanya merespon dengan tatapan dinginnya. Tetapi wanita itu juga tidak menolak ajakan pulang suaminya. Sebelum itu ibu Diana melangkah mendekati Tania yang memandangi mereka cukup heran. Jadi tujuan utama orang tua Zafran datang ke sini mau apa, begitulah yang saat ini berada dalam benak Tania.


"Ibu mau pulang?" sapa Tania lebih dulu.


Ibu Diana hanya mengangguk kecil. Sebagai wujud rasa hormat Tania kepada orang yang lebih tua, maka tanpa sungkan Tania mengulurkan tangannya bermaksud ingin menyaliminya. Kepada pak Lukman pun Tania lakukan itu. Bukan bermaksud mencuri hati atau perhatian dua orang tua itu, tetapi benar-benar sebatas rasa menghormati saja. Bersyukurnya kedua orang tua Zafran itu menyambut uluran tangan Tania tanpa beban.


"Hati-hati di jalan, Pak, Buk," seru Tania saat orang tua Zafran itu sudah duduk tenang dalam mobilnya.


Sedangkan Tri yang saat ini bertugas menjadi sopir pak Lukman, hanya menatap sekilas kepada Tania. Dugaan Tri, Tania adalah perempuan spesial bagi Zafran. Jika tidak spesial, bagaimana mungkin kedua orang tua Zafran rela jauh-jauh minta di antar ke sini tadi. Sedangkan kepada calon istri Zafran yang dulu, Tri sangat tahu kalau ibu Diana dan pak Lukman tidak seperti ini.


Lalu setelah mobil itu melesat keluar dari halaman rumah itu, maka Tania pun segera masuk kembali ke rumahnya.


Hari sudah menjelang sore. Sebenarnya Tania ingin keluar dari rumah itu sekedar pergi ke toko untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Berhubung dirinya belum paham daerah tempat tinggalnya itu, maka Tania menunggu pak Joko saja sambil duduk santai di kursi yang berada di teras rumah itu. Beberapa orang yang kebetulan melintas di pinggir jalan turut menyapa Tania dengan ramah. Meski belum saling mengenal tetapi hidup di sebuah kampung yang syarat padat penduduk itu memang sangat berbeda dengan kehidupan di kota. Rasa sopan santun antar sesama seperti telah menjadi ciri khas penduduk kampung itu.

__ADS_1


Meski begitu tak membuat Tania jadi berani untuk keluar mencari kenalan pada tetangga sekitar. Tania sadar diri, jika keberadaannya di sini tidak untuk selamanya. Bisa di katakan sebatas tempat persembunyian sementara untuknya.


Setelah ditunggu-tunggu hingga menjelang maghrib, rupanya pak Joko belum ada muncul. Sedangkan Siska sendiri belum ada kabar apakah pulang atau tidak malam ini. Nasib tidak memiliki ponsel seperti Tania. Hanya bisa menunggu dengan pasrah.


Sebenarnya Tania sendiri agak jengah karena tidak memiliki ponsel. Setidaknya dengan memiliki ponsel ia punya sedikit hiburan dengan menonton berita-berita yang bisa ia dapat dari sosial media. Dan untuk menggunakan fasilitas seperti televisi yang ada di rumah itu, Tania terlalu sungkan bila tanpa ada ijin dari Zafran dulu.


Bersamaan dengan kumandang adzan maghrib menggema dari musholla yang tak jauh dari rumah itu, barulah Tania memilih masuk kembali ke rumahnya. Tetapi saat wanita itu akan menutup pintunya, samar-samar ia mendengar suara langkah kaki orang yang seperti sengaja mengendap-endap dari area halaman rumahnya. Seketika itu pula Tania kembali gelisah. Ia takut kalau Doni mengetahui keberadaannya itu.


Separno itu yang di rasa Tania saat ini. Ia sangat tahu bagaimana karakter Doni. Lelaki nekat dan tak jarang bertingkah semena-mena asal apa yang menjadi tujuannya bisa tercapai. Tak jarang pula Doni nekat menyakiti fisik kalau memang hal itu perlu di lakukan.


Tania segera mengunci pintunya sebelum kecurigaannya itu benar-benar terjadi. Tetapi belum juga ia melangkahkan kakinya, pintu itu ada yang menggedor dengan keras. Kentara sekali jika yang datang itu bukan orang baik-baik. Sebab jika orang baik yang datang bertamu, seharusnya ketukan itu berbunyi pelan di iringi sahutan salam. Tetapi kali ini seseorang yang datang itu sungguh sangat meresahkan hati Tania.


"Tuhan... Bantu aku. Tolong datangkan sosok penolong buatku, Tuhan," batin Tania terus berdo'a berharap datangnya seorang yang bisa menolongnya saat ini.


Suara gedoran pintu itu terus saja berbunyi keras. Sepertinya di luar sana bukan hanya satu orang, karena sekarang kaca jendela rumah itu yang turut di gedor dengan nyaring. Sedangkan Tania saat ini hanya bisa duduk bersimpuh di balik pintu itu. Tubuhnya gemetar ketakutan, sehingga berdiam diri di tempat itu yang saat ini sepertinya aman buatnya.


"Hei, siapa kalian!" Suara seorang pria terdengar di luar sana.


Setelah itu Tania mendengar hentakan kaki yang seperti berlari. Mungkinkah orang yang bersuara itu adalah orang yang Tuhan kirim sebagai penolongnya?

__ADS_1


Sesaat suasana seketika hening. Tetapi Tania masih belum berani beranjak dari tempatnya. Deru nafasnya tersengal-sengal efek ketakutan. Hingga sampai suara ketukan di pintu itu kembali berbunyi, Tania kaget lagi.


"Tata, ini aku Zafran."


Suara itu terdengar jelas bersamaan dengan ketukan di pintu itu.


"Tu-tuan Zafran," gumam Tania merasa yakin dengan suara Zafran yang datang.


Segera Tania berdiri dari tempatnya. Sebelum itu Tania menyusut air matanya hingga bersih. Lalu kemudian memutar kuncinya untuk kemudian membuka pintu itu dengan pelan.


"Tuan," sambut Tania kepada pria itu.


Mata wanita itu sangat sembab. Zafran dapat melihat jika Tania mungkin agak trauma dengan kejadian tempo hari.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zafran sambil melangkah mendekat kepada Tania.


Tania hanya menggelengkan kepalanya. Tak di sangka saat itu pula Tania menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Zafran. Isak tangisnya kembali keluar. Bahkan semakin menjadi. Sungguh benar-benar takut yang Tania rasakan sekarang.


*

__ADS_1


__ADS_2