
Mobil yang membawa pak Lukman dan ibu Diana akhirnya tiba di depan rumah yang saat ini di tempati oleh Tania. Setelah tadi mereka juga mendapatkan laporan lagi dari orang bayaran pak Lukman itu yang menjelaskan jika rumah yang mereka tuju itu adalah sebenarnya milik Zafran, tentu pak Lukman dan ibu Diana semakin bertambah penasaran tentang siapa sebenarnya Tania bagi Zafran.
Tepat di siang hari saat pak Lukman dan ibu Diana tiba di rumah itu, dan kondisi sekitar rumah itu terbilang sepi dari pelintas di jalan depan rumah itu.
Tok tok tok
Suara ketukan itu mulai bertaut. Tetapi hingga ketukan yang ke tiga pintu itu masih belum di buka.
"Mungkin keluar ya, Mas?" ibu Diana berkata sambil mendudukkan diri di kursi yang ada di teras rumah itu. Kondisi cuaca yang terik membuat wanita yang tak lagi muda itu sedikit kelelahan.
Pak Lukman tak menyahut. Lelaki itu terus saja mengetuk pintu itu semakin keras. Bisa jadi wanita penghuni rumah ini sedang tidur menurut pak Lukman. Biar saja akan di katakan kurang sopan. Pokoknya saat ini juga mereka harus bertemu dengan Tania.
Sedangkan Tania yang saat itu sedang menunaikan sholat Dzuhur, lekas turun dari tempatnya setelah salam akhir itu selesai. Buru-buru wanita itu berlari kecil untuk membukakan pintu rumahnya.
Suara ketukan itu terdengar semakin keras, membuat Tania seketika menghentikan langkahnya di saat tepat berada di balik pintu itu. Pikirannya kembali teringat dengan Doni, mantan suaminya. Ia takut kalau orang yang datang itu adalah Doni.
"Sudahlah, Mas, duduk dulu. Bisa jadi orangnya lagi ngapain di dalam, atau lagi keluar, iya kan?"
"Apa mas Doni datang ke sini sama Sari?" batin Tania semakin curiga. Setelah barusan mendengar ada suara wanita yang berbicara.
"Kita sudah jauh-jauh sampai di sini. Pokoknya hari ini juga kita harus selidiki wanita itu. Sebelum bertemu langsung, kita jangan pulang," ucap pak Lukman menegaskan dengan tujuannya datang ke rumah itu.
"Itu bukan suara mas Doni," batin Tania sedikit lebih tenang, setelah mendengar dengan jelas suara laki-laki yang berbicara itu.
Tetapi kali ini yang membuatnya galau ialah tentang kalimat menyelidiki dirinya yang di ucapkan oleh lelaki di luar itu.
"Apa yang akan mereka selidiki dariku?" gumam Tania seorang diri.
Tok tok tok
Pintu kayu itu kembali di gedor. Membuat Tania akhirnya membukakan pintu itu, yang sebelumnya terlebih dulu menghela nafas dalam-dalam agar bisa sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Bapak? Ibu?" Tania langsung tercengang, begitu melihat kedua orang tua Zafran berdiri di depannya.
"Ehem!" pak Lukman berdeham dengan nyaring, kentara di buat-buat.
"E-e... Silahkan masuk, Pak, Buk," ujar Tania dengan hormat sembari mempersilahkan pak Lukman dan ibu Diana masuk ke dalam.
Kedua orang tua Zafran akhirnya masuk ke ruang tamu itu. Mata mereka langsung meneliti ke setiap inci semua yang ada di ruangan itu. Membuat Tania yang sebatas menumpang di rumah itu menjadi takut. Belum lagi saat dengan sengaja ibu Diana langsung nyelonong masuk lebih dalam ke setiap ruangan yang ada di rumah itu. Sedangkan pak Lukman sendiri memilih duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu sambil mencermati phigora kosong yang terpasang di dinding ruang tamu itu.
Cukup lama ibu Diana berada dalam kamar yang saat ini di tempati oleh Tania. Entah apa yang di lakukannya di sana. Tania hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja ini bukan pertanda buruk baginya. Sebab jika hari ini dirinya harus terusir dari rumah ini, terus terang Tania tak lagi memiliki tujuan mau ke mana.
Setelah di tunggu akhirnya ibu Diana keluar dari kamar itu. Wajahnya terlihat datar, entah sedang marah atau apa, sulit di artikan oleh Tania. Di saat ibu Diana akan masuk ke kamar yang di larang oleh Zafran untuk masuk ke kamar itu, Tania mencegahnya dengan sapaan lembutnya kepada ibu Diana.
"Maaf, Ibu, Zafran berpesan untuk tidak masuk ke kamar itu," tutur Tania.
Ibu Diana menoleh kepada Tania. Ia pun langsung menurut dan mengurungkan niatnya masuk ke kamar itu. Tetapi kemudian ibu Diana melangkah mendekat kepada Tania. Tak di sangka ibu Diana merangkul pundak Tania saat sudah berada di dekatnya, menuntunnya untuk duduk bersama di sofa itu.
Sejenak mereka masih memandangi Tania yang saat ini masih berbalut kain sholat. Terasa sejuk di pandang, tetapi tak membuat kecurigaan kedua orang tua itu menyurut.
"Berapa Zafran bayar kamu untuk jadi pacar sewaan?" tanya pak Lukman to the point. Sangat nyelekit, tetapi pak Lukman sangat penasaran hal itu.
Lalu setelah itu Tania hanya menggelengkan kepalanya. Karena ia memang tidak di bayar sepeserpun untuk menjadi pacar bohongan Zafran.
"Tidak di bayar maksudnya? Atau kamu takut bilang jujur, takut ketahuan Zafran membayarmu dengan uang yang banyak?"
"Bu-bukan begitu, Pak," Tania akhirnya menyahut.
"Katakan saja, Ta. Kami lebih suka dengan orang yang jujur." Ibu Diana ikut bersuara, tetapi dengan nada yang lembut di dengar.
Entah mengapa setelah sampai di rumah ini dan melihat Tania yang sepertinya memang wanita yang baik-baik, membuat ibu Diana sedikit lebih tenang perihal siapa Tania sebenarnya.
"A-aku tidak di bayar," jelas Tania singkat.
__ADS_1
"Gratis maksudnya?" pak Lukman bertanya tak percaya.
Tania mengangguk.
"Cih! Mustahil!"
"Saya sudah berkata jujur, Pak, Buk," ucap Tania lagi berusaha meyakinkan.
"Kenapa kamu mau kalau tidak di bayar? Wanita sekarang mustahil kalau tidak matre, apalagi kamu--"
Pak Lukman menjeda bicaranya. Matanya menyorot tajam pada wajah Tania yang cukup bening, syarat perawatan skincare yang sangat mahal menurut nya. Jadi masih tidak masuk di akal bagi pak Lukman, walau Tania sudah mengaku tidak di bayar apa-apa oleh Zafran.
Padahal kulit mulus wajah Tania terbantu oleh oplas. Walau semalam ibu Diana sudah cerita jika wajah Tania itu bukanlah wajah aslinya, tetap saja pak Lukman curiga.
Seorang ayah yang sangat mencintai putra semata wayangnya itu tentu harus obyektif untuk tahu seperti apa orang yang saat ini dekat dengan putranya. Di tambah lagi dengan status Zafran yang masih single, membuat pak Lukman was-was sendiri, takut Zafran hanya akan menjadi mainan bagi wanita matre di luar sana.
"Ehem!" Kali ini ibu Diana yang berdeham.
"Mm, Ta, ada air minum kan? Saya haus," ucap ibu Diana kepada Tania. Sebenarnya itu hanya alasan agar Tania pergi dulu, karena ada sesuatu hal yang ingin di bicarakan berdua dengan suaminya.
"Ada, Bu. Maaf sebelumnya. Saya ambilkan dulu," sahut Tania dan langsung melipir ke dapur untuk mengambil air minum untuk mereka.
"Mas," sapa ibu Diana kepada suaminya, sambil duduk lebih merapat agar suaranya tidak terdengar kepada Tania saat berbicara nanti.
"Menurutku kita stop jangan tanya ini itu sama dia. Aku sudah feeling kalau dia itu anaknya baik, polos dan lugu. Jadi tidak mungkin dia seperti yang kamu tuduhkan." ucap ibu Diana.
Pak Lukman seketika menyorot heran kepada istrinya itu. "Kamu gimana sih, Diya! Nggak bisa semudah itu percaya sama orang. Jangan hanya karena luarnya bagus, isinya juga akan bagus. Paham kan maksudku?"
"Iya, aku paham itu, Mas. Tapi--" ibu Diana sengaja menjeda bicaranya. Sejujurnya ia agak takut membicarakan uneg-unegnya itu, tetapi bila tidak di coba tentu akan mengganjal pikirannya.
"Kok aku jadi pingin dia jadi istrinya Zafran ya, Mas?"
__ADS_1
"Hah!"
*