
"Eh, mau kemana, Ta, dandan cantik begini? Wiih... bajunya keren. Dapat dari mana?" cerocos Siska saat melihat Tania sudah rapi dan bercermin di kaca dalam kamarnya.
"Aku mau keluar, ada janji tadi," jawab Tania tidak mau terus terang perihal kesepakatannya dengan Zafran kepada Siska.
"Janji? Sama siapa?" Siska mengikuti Tania yang keluar dari kamarnya. Saat ini kedua wanita itu tengah duduk di ruang tamu.
"Nanti kamu tahu sendiri."
Meski penampilan Tania jauh berbeda lebih elegan dengan gaun yang di pakainya itu, tetapi Siska bisa melihat ekpresi wajah Tania yang biasa saja. Tak nampak bahagia meski berbalut baju mahal di tubuhnya.
"Eh, sambil nunggu makan nih, aku terlanjur beli dua bungkus. Kalau kamu nggak makan, siapa yang mau makan ini?" Siska menyodorkan sebungkus nasi goreng yang ia beli di depan saat ia baru datang dari klinik barusan.
"Tidak, terimakasih, Sis," Tania menolaknya dengan lembut.
"Kenapa? Karena mau keluar dinner takut entar kenyang duluan?" goda Siska lagi.
"Bukan begitu, Sis. Beneran aku masih agak kenyang, sore tadi aku masak mie instan," dusta Tania.
Tiba-tiba terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah itu. Mereka berdua sama-sama keluar untuk menemui seseorang yang mereka kira yang akan menjemput Tania. Begitu melihat siapa yang keluar dari mobil itu, Siska langsung paham dengan mengangguk-ngangguk tersenyum menatap Tania dan pria itu.
"Nah, gitu dong, cepat move on itu lebih baik," bisik Siska berniat menggoda Tania.
Tania hanya melirik entah kepada Siska. Wanita itu memang masih belum tahu ke mana dirinya akan pergi, jadi wajar saja jika Siska salah paham terhadapnya. Tetapi sebenarnya Tania juga akan menceritakannya nanti, setelah selesai dengan kesepakatan menjadi pacar pura-pura Zafran hanya malam ini saja.
"Titip temanku ya, tolong di jaga baik-baik," ucap Siska pada pria itu saat Tania akan masuk ke mobil yang pintunya sudah di buka lebih dulu oleh pria itu.
Pria itu hanya mengangguk sembari tersenyum tipis kepada Siska. Setelah itu mobil itu pergi dan Siska kembali masuk ke rumahnya.
"Aaaah...." Siska langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kecil yang ada di ruang tamunya.
Perasaannya sangat lega melihat Tania lekas move on dari masa lalunya menurutnya. Ia pun tidak menyangka kalau lelaki yang berhasil menyembuhkan trauma Tania adalah orang yang kemarin menjemput mereka di bandara.
"Setidaknya sopir itu lebih mapan dari pada mantan suami Tata," gumam Siska seorang diri.
Setelah itu Siska menyantap nasi goreng yang ia beli di depan gang rumahnya tadi. Menyisakan satu bungkus untuk ia simpan. Karena terkadang Tania sering lapar tengah malam.
__ADS_1
Di perjalanan itu Tania memilih diam tanpa bicara satu patah pun. Meski sebenarnya penasaran kenapa bukan Zafran sendiri yang menjemputnya, tetapi ia memilih diam saja.
Hingga sampai mobil itu berhenti di sebuah butik, di situlah Tania berani bertanya kepada sopir itu.
"Di sini tempatnya?" tanya Tania sedikit tidak percaya karena tidak mungkin Zafran akan bertemu dengan kedua orang tuanya di butik ini.
Sopir itu menggeleng. Lantas keluar dari mobil itu dan kemudian membukakan pintu mobil Tania.
"Silahkan turun, Non, mari ikut saya," ucap sopir itu mempersilahkan Tania berjalan di depannya.
Tania menurut meski sebenarnya sangat canggung sekali. Ia merasa tidak enak sendiri di panggil dengan sebutan nona dari sopir itu, meski tahu mungkin ini juga bagian dari akting pendukung agar nanti semuanya bisa berjalan dengan lancar saat bertemu dengan orang tua Zafran nanti.
Tania masuk ke dalam butik itu dan langsung di sambut hangat oleh pegawai yang bekerja di butik itu. Kemudian Tania di persilahkan duduk dan hanya di tinggal seorang diri di sana. Tak lama setelah itu pegawai itu datang lagi sambil membawa hells dan tas branded sebagai pendukung penampilan Tania malam ini.
Pegawai itu membantu memakaikan pada kaki Tania, dan menyuruh Tania berdiri untuk mengecek nyaman tidaknya.
"Ada yang lebih nyaman nggak, sepertinya dia kerepotan pake yang itu," Sopir itu ikut berkomentar begitu melihat Tania sedikit kesusahan berjalan.
"Saya lebih baik pake punya saya saja. Lagi pula saya tidak terbiasa pake hells," usul Tania, tetapi seketika mendapat penolakan dari sopir itu.
"Sudah?" tanya sopir itu setelah ia selesai berbicara dengan orang yang menelponnya barusan.
Tania hanya mengangguk. Lalu setelah itu sopir itu kembali mempersilahkan Tania berjalan di depannya untuk kemudian kembali masuk ke mobil.
Saat dalam perjalanan lagi, tiba-tiba mobil itu berhenti lagi di tepian jalan. Dan ternyata seseorang yang turun dari taksi di depannya, yang ia lihat itu adalah Zafran, turut masuk ke dalam mobil yang Tania naiki.
Sesaat Zafran meneliti tampilan Tania yang duduk bersebelahan dengannya. Lalu tertegun saat melihat sandal yang di pakai Tania.
"Tri, kamu tidak belikan dia sepatu juga?" tegur Zafran kepada sopirnya.
"Ah?" Tri langsung terkesiap. Karena ia merasa barusan ia sudah membelikannya.
"Ee... Maaf, Tuan. Barusan sudah di coba, tetapi tidak nyaman saya pake, saya tidak terbiasa pake hells, takut nanti malah jatuh dan memalukan Tuan di depan bapak ibu."
Zafran hanya mendengus saat mendengar penuturan Tania. Baginya terserah lah, toh cuma buat malam ini saja.
__ADS_1
Setelah itu Zafran memerintah Tri untuk melajukan mobilnya lagi. Beberapa menit kemudian mobil itu akhirnya berhenti di sebuah restoran cukup elite, yang pastinya seumur hidup Tania baru kali ini datang ke sana.
Zafran dan Tania segera turun dari mobilnya, lalu pria itu segera mengambil tangan Tania untuk ia kaitkan di lengannya. Jangan tanya bagaimana perasaan Tania saat ini. Sudah pasti gugup luar biasa, tetapi tetap harus profesional demi membantu orang yang pernah berjasa kepadanya itu.
"Ingat, aku, bukan saya," pesan Zafran pada Tania untuk merubah gaya bicaranya agar tidak lagi formal.
"Baik, Tuan," sahut Tania dengan wajahnya yang tertunduk.
"Panggil Zafran, jangan ada embel-embel tuan. Awas keceplosan entar!"
"Iya, Tuan."
"Zafran, Tata...." Pria itu di buat gemas sendiri kepada Tania yang menurutnya agak sulit di ajak kompromi.
"I--iya, Zaf--"
"Nah, seperti itu sudah cukup." Lalu Zafran membawa Tania masuk ke dalam restoran itu dengan perasaan sedikit gugup, takut-takut Tania keceplosan lagi di depan kedua orang tuanya. Bisa-bisa hancur rencana untuk menghindari perjodohan dari kedua orang tuanya itu.
"Ingat, jangan sampai keceplosan memanggil saya tuan," bisik Zafran berlagak seperti membisiki pacar dengan mesra karena saat ini kedua orang tuanya sedang melihatnya dari tempat mereka duduk.
"Ayah ibu ku sedang melihat kita, tersenyum!" Pria itu sedikit mengangkat dagu Tania memastikan wanita itu tersenyum.
Tetapi dari sudut pandang pak Lukman dan ibu Diana terlihat anaknya itu seperti ingin mencium Tania, karena begitu dekatnya wajah antara Zafran dan Tania.
"Mm... Tuan, aku-- mau ke toilet," tiba-tiba Tania mendorong bahu Zafran dan wanita itu langsung melipir mencari toilet.
Pak Lukman dan Ibu Diana yang melihat itu langsung berdiri kaget. Mereka menduga pacar anaknya itu sedang marah karena perlakuan Zafran. Tetapi saat kedua orang tua Zafran akan mendekat, Zafran keburu menyusul Tania.
"Tata!" panggil Zafran saat melihat Tania akan masuk ke toilet.
Tania berhenti. Tetapi tidak membalik badannya karena degup jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan mengingat betapa indahnya pahatan wajah ciptaan Tuhan itu.
"Kamu boleh minta apa saja setelah ini selesai, asal kamu tidak pergi."
*
__ADS_1