
"Maaf, Tuan, sedikit terlambat menjemput Tuan," ucap sopir bernama Tri yang saat itu menunggu Zafran keluar dari tokonya.
"Tidak apa-apa, Tri," sahut Zafran ramah.
Mereka berdua berjalan perlahan menuju mobil yang terparkir agak jauh dari tempat biasanya.
"Ee... Begini, tuan Zafran." Tri menghentikan langkahnya, Zafran pun mengikuti diam di tempat.
"Di dalam mobil masih ada teman Tuan yang belum saya antar pulang," ujarnya yang seketika kening Zafran berkerut.
"Teman? Teman siapa?" tanyanya penasaran.
"Itu-- Tadi yang Tuan nyuruh saya jemput di bandara," jelas sopir itu.
"Ooh... Itu bukan temanku, Tri," jawab Zafran dengan santai.
"Loh, jadi saya apa salah bawa orang, Tuan? Duh, maafkan saya Tuan. Tolong maafkan," mohon Tri penuh penyesalan.
Zafran mengangkat bahu Tri yang semula tertunduk di depannya. Pria itu lantas mengulas senyum hangatnya.
"Mereka ada dua orang kan?" tanya Zafran memastikan.
"Tadinya sih iya. Tapi tadi yang satu minta turun di klinik, yang satu masih mau saya antar ke rumahnya."
Zafran merespon hanya dengan anggukan kecilnya. Setidaknya sopirnya itu tidak salah angkut orang. Meski memang sopirnya itu ada keterlambatan menjemputnya, tetapi itu bukan masalah besar bagi Zafran.
Lalu mereka berdua kembali melangkah menuju mobilnya. Sedangkan Tania sendiri sedari tadi hanya bisa mengintai dari dalam mobil percakapan antara sopir dan seorang pria yang Tania yakini pasti itu yang bernama Zafran.
Melihat Zafran akan membuka pintu mobil di sebelahnya, wanita itu segera menggeser duduknya ke samping agar Zafran bisa langsung duduk begitu pintu itu terbuka.
Namun ketika pintu mobil itu terbuka lebar, Zafran di buat kaget dan terdiam di tempat. Wajah cantik perempuan yang ada di mobil itu mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.
Hingga sampai Tri sudah duduk siap mengemudi lagi, Zafran masih belum juga masuk ke mobilnya. Masih menatap lekat pada wanita yang saat ini tersenyum manis kepadanya.
"Hai, tuan Zafran," sapa Tania memberanikan diri.
Walau awalnya sangat takut menyapa Zafran duluan, tetapi demi mengingat kebaikan pria itu Tania rasa ia harus menyapa ramah terlebih dahulu kepada Zafran.
__ADS_1
Zafran masih terpaku di tempat. Pria itu tidak menyangka akan di pertemukan lagi dengan Tania. Tetapi benarkah itu Tania miliknya? Karena setelah meneliti barusan ada perbedaan vibra suara antara Tania miliknya dan wanita ini.
"Ee... Tuan, jadi naik?" tanya Tri kepada Zafran yang ketahuan melamun.
Zafran menoleh gugup. Sebelumnya ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghentak nafasnya. Kemudian pria itu memilih masuk ke mobilnya dengan sikap dinginnya. Duduk di sebelah Tania tanpa mau menyapa.
"Ternyata tuan Zafran seperti ini. Cakep sih iya, tapi kok sombong ya? Padahal kalau lihat tanggungjawab nya sama aku, rasa-rasanya kayak nggak pantes sombong," batin Tania bermonolog.
Hingga sampai mobil itu melaju di jalanan, keduanya masih saling diam. Terlihat Zafran begitu fokus menatap ke depan. Sedangkan Tania dengan lancang nya mencuri-curi pandang pada pria tampan di sebelahnya.
Rasanya mubadzir kalau harus mengabaikan sosok tampan di sampingnya itu. Karena seumur-umur baru kali inilah Tania bisa duduk bersebelahan dengan pria tampan seperti tuan Zafran.
"Ehem!!" Zafran sengaja berdeham keras setelah tahu kalau wanita itu lagi curi-curi pandang kepadanya.
"Astaghfirullah...." lirih Tania dalam hati.
Seketika wanita itu menundukkan kepalanya. Sudah tak berani lagi mengangkat wajahnya setelah merasa di tegur oleh keadaan agar tidak terpesona oleh ketampanan pria di sampingnya itu. Setidaknya ia harus sadar diri siapa dirinya. Meski sudah berwajah rupawan, tetap tidak akan merubah status dirinya yang memang bukan dari kalangan elite manapun.
"Ee... Non, tadi turun di mana, maaf Non saya lupa," ucap sopir itu yang seketika Tania berani menatap ke depan lagi.
"Coba Non telpon temen Non dulu," usul sopir itu.
"Ee... Aku-- Nggak punya hape," aku Cinta.
Dua pria itu seketika langsung melirik heran kepada Tania. Di jaman serba modern seperti sekarang masih ada manusia yang tidak memiliki hape.
"Hilang apa gimana, Non?" Tri berusaha membangun komunikasi agaf tidak canggung seperti tadi.
"Tidak hilang, tapi memang nggak punya hape. Dulu ada tertinggal di rumahku, nggak tahu sekarang masih ada apa tidak," jelas Tania.
Zafran yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan sopir dan wanita itu, semakin meyakini jika itu bukan suara Tania yang ia kenal. Mungkin saja karena operasi wajahnya kelewat sukses, akhirnya terciptalah makhluk cantik itu yang kenapa harus mirip dengan mantannya itu.
"Kalau nomor telepon teman Non yang tadi hafal nggak?" tanya Tri lagi.
Tetapi Tania hanya menggeleng kecil.
Tri jelas kebingungan. Karena ia tak tahu harus mengantar ke mana wanita itu. Tetapi diam-diam Zafran mengirim pesan singkat kepada Yudha, menanyakan alamat rumah perawat yang menjaga Tania.
__ADS_1
Beruntung Yudha sedang lagi online dan sedang tidak ada pasien, maka pria itu bisa dengan cepat membalas pesan dari Zafran. Kebetulan saat Zafran mengirim pesan kepada Yudha, Siska sudah pamit pulang sekitar sepuluh menit yang lalu. Jadi Yudha tidak mencurigai apa-apa tentang Zafran yang menanyakan alamat Siska.
Setelah membaca balasan pesan dari Yudha, Zafran langsung meneruskan pesan itu ke ponsel Tri. Sopir itu yang tahu jika anak majikannya itu mengiriminya pesan singkat, buru-buru ia segera membacanya.
Setelah tahu jika itu alamat wanita yang saat ini di bawanya, maka Tri kembali melajukan mobilnya dengan cukup pesat.
Sekitar kurang dari sepuluh menit akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan rumah sederhana berwarna kuning lemon.
"Di sini rumahnya, Non?" tanya sopir itu ingin memastikan sekali lagi.
"Ee... Mungkin iya. Terimakasih ya sudah mengantarku sampai di sini," ucap Tania setulus hati.
Sopir itu mengangguk ramah, tetapi tidak dengan Zafran yang seperti enggan menatapnya.
"Ee... Tuan Zafran," sapa Tania memberanikan diri lagi.
Zafran tetap bergeming.
"Sebelumnya saya sangat berterima kasih sama Tuan Zafran karena sudah membantu saya sejauh ini. Perkenalkan, nama saya Tata, tuan Zafran. Tuan bisa menghubungi saya bila di perlukan. Dengan senang hati saya akan membantu Tuan sebagai balas budi dari saya," ucap Tania setulus hati.
"Tata? Tania? Kenapa semuanya harus sama?" batin Zafran kembali gelisah.
Karena Tri sudah selesai menurunkan semua barang bawaan Tania dan Siska, maka lebih baik Tania pamit saja. Rasanya percuma saja mengajak ngobrol dengan makhluk aneh seperti Zafran. Tetapi meski begitu Tania tetap harus hormat kepadanya. Pria itulah yang membuatnya seakan terlahir kembali seperti sekarang.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan. Permisi," ucap Tania lagi.
Pintu mobil itu kemudian di tutup oleh Tri. Tetapi hingga mobil itu melesat pergi, tak terdengar satu kata pun yang keluar dari mulut Zafran.
"Untung ganteng. Tapi siapa ya istrinya, kok bisa betah gitu sama sikap sombongnya?" gumam Tania sedikit kesal karena di acuhkan, tetapi ia bisa apa?
*
Nih... Mumpung othor masih baik hati, othor mau kasi visual buat tuan Zafran. Semoga cocok dengan bayangan readers semua. Kalau pun tidak cocok, monggo lanjut menghalu dengan visual kalian sendiri.
Siap.... 1... 2..... 3.....
__ADS_1