
"Zafran," panggil ibu Diana begitu pak Hadi dan Dinda pulang dari rumah mereka.
Zafran yang saat itu bersiap menapaki undakan tangga mau menuju kamarnya, menoleh ke ibunya.
"Jangan langsung tidur. Kamu pasti masih belum makan kan? Setelah ini kita makan malam," ucap ibu Diana.
Sebelumnya mereka akan makan malam bersama keluarga pak Hadi juga. Akan tetapi karena Zafran menolak perjodohan itu, akhirnya pak Hadi pamit pulang sebelum menikmati sajian makan malam yang telah di siapkan.
"Ibu tunggu ya, Nak." sambungnya.
"Hem." Zafran hanya menyahut tak minat.
Lalu pria itu segera menuju kamarnya. Malam ini ia memang masih belum makan, tetapi karena hal barusan mendadak membuatnya hilang selera makan.
Sedangkan pak Lukman yang masih betah duduk di ruang tamu itu, terlihat berpikir keras. Sebenarnya ia merasa lega jika memang Zafran sudah move on dan mengaku telah memiliki kekasih. Tetapi yang menjadi pikirannya saat ini ialah perasaan pak Hadi. Terus terang pak Lukman takut setelah gagalnya rencana perjodohan ini pak Hadi akan tersinggung dan memutuskan untuk tidak bekerjasama lagi dengannya. Jika nanti benar begitu, akan sulit bagi pak Lukman mencari rekan bisnis yang cocok seperti Pak Hadi.
Ibu Diana mendekat dan kemudian duduk tepat di samping suaminya. Mengusap pelan lengan suaminya itu agar tidak terlalu banyak pikiran.
"Jangan terlalu di pikirkan, Mas. Perlahan nanti kita jelaskan baik-baik sama keluarga pak Hadi. Semoga saja mereka mau mengerti," ucap ibu Diana.
Pak Lukman menghembus nafas beratnya. Sekilas wajah keriput itu menatap istrinya yang selalu menjadi penenang manakala dirinya sedang gelisah seperti ini.
"Aku hanya takut itu cuma alasan Zafran untuk menghindari perjodohan ini," ucap pak Lukman mengeluarkan uneg-uneg keraguannya kepada Zafran.
"Iya sih, Mas." Ibu Diana ikutan bimbang.
"Kalau Zafran bawa bukti, kita bisa pede jelaskan sama pak Hadi. Tapi kalau ternyata Zafran cuma bohong, apa kata pak Hadi nanti, pasti kita yang di anggap nggak becus dan mengentengkan rencana yang kita sepakati," ujar pak Lukman.
Memang di balik perjodohan itu ada investasi besar yang menunggu. Yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak tentunya.
"Tetapi yang paling penting itu perasaan anak kita sendiri, Mas. Kamu berencana menjodohkannya dengan Dinda, tapi kalau akhirnya hanya akan menekan kebahagiaan anak kita apa tidak kasihan?"
"Untuk lelaki yang tidak mudah move on seperti Zafran itu memang harus di dorong, Diya. Kalau kita hanya diam menunggu Zafran move on sendiri, sampai gigi kita rontok rasanya Zafran nggak akan sudi menikah."
"Ah, mas Lukman, jangan berdoa gitu lah. Mending kita do'akan yang baik-baik buat Zafran, biar bisa cepat nemu jodoh. Maksimal tahun ini lah dia harus menikah. Aku nggak mau Zafran nikah kayak usia kamu. Umur 35 baru nikah. Lihat sekarang, sudah umur 64 telat punya cucu," seloroh ibu Diana yang sebenarnya hanya ingin mengajak bercanda agar suaminya itu teralih pikirannya dari masalah perjodohan tadi.
"Eh, kok aku yang kena?" pak Lukman menyorot gemas kepada istrinya.
Jarak usia pak Lukman dan ibu Diana memang cukup jauh, sekitar 13 tahun. Tetapi pak Lukman menikah di usia itu dulu bukan karena trauma karena cinta, melainkan karena gila kerja sampai lupa umur mau menikah. Sedangkan waktu itu ibu Diana baru lulus kuliah yang di nikahi oleh pak Lukman.
__ADS_1
"Tauk ah, Mas. Aku susul Zafran ke kamarnya. Tuh anak di tunggu-tunggu kok nggak turun."
Ibu Diana beranjak berdiri, tetapi langsung di tahan oleh suaminya.
"Biar aku yang panggil," ujarnya yang kemudian beranjak untuk menyusul Zafran ke kamarnya.
"Eh, tumben-tumbenan?" batin ibu Diana sedikit curiga.
Pak Lukman sudah berdiri di depan pintu kamar anak semata wayangnya itu. Lalu mengetuk pintunya berulang-ulang agar Zafran mau membukanya.
Zafran yang mendengar ketukan pintu yang tak biasanya sedikit curiga. Biasanya kalau ibunya yang mengetuk, cukup sekali lalu masuk. Dan kalau mbak ART yang mengetuk, ketukannya pasti pelan.
"Zafran..."
Samar-samar terdengar suara ayahnya yang memanggil dari luar kamar. Meski agak heran karena tumben, tetapi kemudian pria itu membuka pintunya.
"Masih mau sholat?" tanya pak Lukman begitu melihat Zafran masih mengenakan sarung dan baju koko.
Zafran mengangguk saja.
"Ibumu nunggu di bawah, dari tadi ibumu sudah uring-uringan nunggu kamu," ujarnya yang pasti dusta.
"Ee... Maaf, Yah. Aku malam ini tidak makan, masih agak kenyang, tadi sore habis makan bareng karyawan toko di cafe," Zafran balas berbohong.
"Baiklah," ucap pak Lukman kemudian.
"Oh ya, Zaf. Besok malam ayah tunggu kamu bawa pacar kamu ke sini. Perkenalkan sama ayah dan ibu."
Setelah mengucapkan itu pak Lukman segera pergi. Meninggalkan Zafran yang panik sendiri karena merasa mati kutu. Padahal tadi ia hanya pasang alasan, tetapi kenapa malah di serius kan? Jika begini perempuan mana yang akan ia gandeng besok.
"Huuft...."
Berulang kali Zafran menghela nafasnya, mencoba untuk tidak panik agar menemukan solusi untuk besok, yang nyatanya tetap buntu. Hingga kemudian pria itu pergi menunaikan solat isya, di situlah nanti ia hanya bisa memohon dalam do'a agar besok Tuhan akan memberinya petunjuk yang terbaik untuknya.
***
Pagi kembali menyapa bumi. Zafran sudah bersiap berangkat ke toko miliknya lebih awal dari biasanya. Bahkan pria itu menghindari waktu sarapannya bersama keluarga, demi terbebas dari segala macam pertanyaan dari orang tuanya mengenai pacar bohongannya itu.
Kali ini pria itu tiba di tokonya dan langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Beruntung tadi saat di perjalanan ia mampir membeli roti di toko langganannya sebagai pengganjal sarapannya hari ini.
__ADS_1
Saat pria itu masih asyik menikmati roti sarapannya, tiba-tiba seorang karyawan toko mengetuk pintu. Begitu di persilahkan masuk, rupanya karyawan itu menyampaikan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya di depan.
"Seperti apa orangnya?" tanya Zafran karena sebenarnya ia sangat malas untuk menemui siapa pun hari ini.
"Mm... Apa perlu saya fotokan orangnya, Pak?" usul karyawan itu.
"Boleh."
Lalu Zafran kembali menikmati rotinya dengan lahap.
Tak lama kemudian karyawan itu kembali datang dan menunjukkan foto hasil tangkapannya kepada Zafran. Begitu Zafran meneliti pria yang ada di foto itu, ia pun teringat siapa orang itu.
"Kamu bilang saja sama orang itu untuk langsung menemui Yoga," ucap Zafran sambil meletakkan ponsel milik karyawan itu ke atas mejanya.
"Tetapi dia memaksa ingin bertemu langsung dengan anda," ujar karyawan itu gugup, takut memancing kemarahan Zafran karena sedikit ngeyel menyampaikan pesan pria di depan itu.
Zafran mendengus kesal. Dari mana Doni tahu kalau dirinya ada di sini. Padahal seingatnya pria itu hanya menyuruh Doni datang ke sini jika memang membutuhkan pekerjaan.
"Apa tidak bisa alasan kalau aku tidak sedang di sini?"
"Sudah, Pak. Malah orang itu bilang kalau dia melihat sendiri anda masuk ke sini."
"Huh!" Zafran menghentak nafasnya sekali lagi.
"Baiklah, kamu boleh keluar," titah Zafran pada karyawannya itu.
Saat karyawan itu keluar, Zafran berpikir keras mencari cara agar pria yang menunggunya itu tidak memanfaatkan dirinya untuk bisa melamar kerja di tempat ini. Semua orang yang masuk kerja di sini semuanya harus di saring demi nyamannya kualitas kerja dan citra toko ini.
Sepintas Zafran melihat Yoga lewat di depan ruangannya.
"Yoga!" panggilnya yang kemudian Yoga menoleh dan mendekat kepadanya.
"Pinjem bajunya." Zafran menarik baju yang di pakai Yoga.
"Eh, buat apa, Pak?" tanya Yoga penasaran, sambil berusaha menahan bajunya dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Sini aku pinjem baju kamu. Mulai sekarang kita gantian berperan. Aku jadi kamu, kamu jadi aku. Paham!"
Yoga tercengang, memikirkan maksud dari Zafran. Tetapi karena Zafran yang sudah terburu-buru ia menarik Yoga masuk ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Iya, Pak, sabar... Ini aku buka dulu bajuku," pasrah Yoga akhirnya.
*