
Zafran membuka pintu mobilnya mempersilahkan Tania duduk di depan, tetapi wanita itu menolaknya karena sungkan harus duduk bersebelahan dengan pria itu.
"Saya duduk di belakang saja, Tuan," ucap Tania sambil akan membuka pintu mobil yang di belakang.
"Nggak bisa!" sahut Zafran tegas.
"Kamu pikir aku sopir kamu? Ayo duduk depan!" ucap Zafran membuat Tania yang memang sangat butuh tumpangan tidak bisa menolaknya lagi.
Saat ini mereka berdua sudah sama-sama duduk di kursi depan. Dan Zafran menoleh kepada Tania yang belum menggunakan seatbelt.
"Pasang sabuknya," titahnya dingin.
Tania yang memang sebelumnya tidak pernah menaiki mobil mewah jadi kebingungan cara memakai seatbelt itu.
"Caranya gimana, Tuan?" tanya Tania polos.
"Apa kamu meminta ku yang memakaikan?" Nada bicara Zafran kentara kesal.
"Ah, tidak, Tuan. Tuan cukup kasih tau caranya saja. Maaf kalau saya merepotkan. Sebelumnya saya tidak pernah naik mobil seperti ini," terang Tania mulai takut melihat reaksi Zafran yang menurutnya pasti marah kepadanya.
Zafran menghembus nafas kasarnya. Apa wanita ini berasal dari kampung pedalaman sehingga mengaku tidak pernah naik mobil? Jawabannya Tania memang berasal dari desa yang hanya naik angkot jika akan ke kota dari desanya. Jadi wajar jika Tania kebingungan cara memakai sabuk pengaman itu.
"Pindah belakang sana," ucap Zafran pada akhirnya.
Dari pada harus di repotkan menjelaskan cara memakai seatbelt padahal itu mudah cara memakainya, lebih baik Zafran menyuruh Tania pindah duduk di kursi belakang saja. Biarlah mau di kata dirinya seperti seorang sopir, pakaiannya saja sudah pas untuk jadi sopir. Ah, Sial!
Setelah Tania duduk tenang di kursi belakang, barulah Zafran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum mengantar Tania ke rumah yang semalam ia mengantarnya, Zafran akan ke toko dulu untuk mengganti pakaiannya. Tubuhnya sedari tadi merasa tidak nyaman memakai baju milik Yoga. Kalau perlu ia harus mandi lagi agar tubuhnya merasa nyaman lagi.
"Ee... Ini mau ke mana, Tuan?" tanya Tania karena merasa pria itu membawanya ke lain arah dari jalan menuju rumahnya.
"Mampir ke toko dulu sebentar," sahut Zafran.
Tania diam saja. Menurutnya Zafran mungkin akan membeli sesuatu di toko dan itu tidak akan lama.
Tak lama kemudian mobil itu sudah berhenti di depan toko besar bernama Surya Agung. Zafran menyuruh Tania diam di dalam mobil saja. Dan pria itu pun akhirnya masuk ke toko itu.
__ADS_1
Anggapan Tania mungkin Zafran bekerja di sana karena melihat beberapa orang berpakaian seperti pakaian yang di pakai Zafran barusan. Sambil menunggu Tania mengedarkan pandangannya ke sebuah tulisan yang di tempel di kaca toko itu. Terlihat tulisan lowongan pekerjaan, tetapi untuk persyaratannya Tania tidak bisa membaca dengan jelas karena tulisannya terlalu kecil jika di lihat dari dalam mobil.
Senyum kecil Tania mengulas senang. Mungkin setelah ini lebih baik ia mencoba melamar pekerjaan di sini. Apa sebaiknya ia tanya-tanya kepada Zafran, bukankah pria itu juga bekerja di toko ini?
Ternyata Zafran berada di toko itu cukup lama. Membuat Tania merasa jenuh menunggu terkurung sendirian di mobil itu. Untuk sekedar keluar dari mobil itu, Zafran sudah berpesan agar Tania tidak ke mana-mana. Yang akhirnya Tania hanya bisa pasrah menunggu yang entah sampai kapan.
Mata Tania terpatri pada sebuah paperbag yang teronggok di sampingnya. Merasa penasaran, apalagi juga tidak ada kerjaan, tidak salah kan mengintip apa isi dalam paperbag itu.
Meski tahu itu tidak di benarkan, nyatanya Tania tetap mengintip isi dari paperbag itu.
"Gaun?" gumam Tania.
Wanita itu menduga gaun itu pasti milik kekasih Zafran. Lalu ia meletakkan paperbag itu ke tempat semula. Karena juga sudah tahu apa isinya.
Sedangkan di dalam toko itu, lebih tepatnya di dalam ruang kerja Zafran, pria itu sudah terlihat segar setelah selesai mandi lagi di kamar mandi yang juga tersedia dalam ruang kerjanya. Pakaian yang di pakainya pun sudah berganti dengan miliknya sendiri. Dan Yoga yang mengetahui Zafran sudah selesai dengan kegiatannya mengetuk pintu ruang itu untuk melaporkan orderan barang yang datang hari ini.
"Masuk," sahut Zafran, dan Yoga pun masuk kemudian langsung duduk berhadapan dengan Zafran.
"Saya sudah cek barang yang datang, semuanya sesuai dengan permintaan," lapor Yoga.
"Oh, iya, bagaimana orang tadi?" tanya Zafran perihal Doni.
"Dia ke sini mau mencari pekerjaan," jawab Yoga.
"Kamu terima?"
Yoga menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Zafran penasaran alasan Yoga menolaknya.
Zafran sebenarnya sedikit kasihan saat Doni mengatakan istrinya sedang hamil dan dia membutuhkan pekerjaan waktu itu. Tetapi kalau memang Yoga sudah menolaknya, itu berarti Doni tidak memenuhi syarat yang di butuhkan. Karena urusan menyaring karyawan itu Zafran sudah memasrahkan sepenuhnya kepada Yoga.
"Saya tolak karena kita butuh karyawan perempuan, Pak," jelas Yoga sambil cengengesan.
Zafran tercengang sesaat.
__ADS_1
"Jangan bilang anda lupa kalau saya pernah ACC ini sama anda," ucap Yoga demi melihat wajah Zafran yang sedang berpikir.
"Benarkah?"
Yoga mengangguk yakin.
"Tidak bisa di ganti laki-laki gitu?"
Jangan bilang Zafran berubah pikiran, karena pasti seluruh karyawan di sini akan kecewa. Toko Surya Agung milik Zafran itu memang hanya mempekerjakan laki-laki saja. Dan sebenarnya ajuan membutuhkan karyawan perempuan itu hanya akal-akalan Yoga yang merasa jenuh bekerja tanpa melihat yang bening-bening. Kalau bos nya betah melajang, jangan sampai itu juga tertular kepada karyawan di toko ini.
"Tidak bisa, Pak. Anda tahu sendiri kan kalau mencari SPG (*Sales promotion girl) itu baiknya memang perempuan muda yang menarik, agar menarik minat pembeli di toko ini," terang Yoga, pokok harus tetap deal sesuai kesepakatan di awal.
"Ah, terserah kamu lah," pasrah Zafran akhirnya.
Yoga menyeringai puas. Pria jomlo itu bersorak yes dalam hati. Setelah itu Yoga pamit keluar dari ruangan itu.
Kali ini Zafran seorang diri dalam ruang kerjanya. Pria itu kembali teringat dengan tuntutan ayahnya yang harus membawa perempuan yang Zafran mengaku sudah punya pacar malam ini juga. Apalagi pak Lukman tadi memintanya datang ke pabrik hanya untuk memberi Zafran gaun agar bisa di pakai calon mantu keluarga Lukman Hakim. Masalahnya saat ini ia harus membawa perempuan mana?
"Aah.... Kenapa jadi ribet gini sih!" kesal Zafran sambil mengepalkan tangannya kebingungan.
"Apa aku terlalu tua sampai di tuntut harus secepatnya menikah?" ucapnya seorang diri.
Pria berumur 28 tahun itu mulai berkaca melalui kamera ponselnya. Wajah rupawan yang ia miliki sebenarnya tidak tampak jika ia sudah cukup matang usianya. Apalagi kondisi hatinya yang belum sepenuhnya move on membuatnya masih enggan mencari pengganti penghuni hatinya yang kosong.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat lamunan pria itu bubar.
"Pak," Yoga menongolkan kepalanya dari balik pintu itu.
"Di luar ada cewek cari anda," ucap Yoga dengan sorot matanya yang berbinar.
Zafran seketika berdiri dari tempatnya. Ia pun penasaran perempuan mana yang mencarinya hingga datang ke sini. Dengan langkah lebar Zafran keluar dari ruangannya menuju lobi depan.
"Astaga!" gumam pria itu penuh sesal begitu tahu siapa perempuan yang mencarinya itu.
__ADS_1
*