
Pak Lukman dan ibu Diana sudah berada dalam mobilnya. Mereka pulang tanpa berpamitan kepada Zafran setelah mencurigai wanita yang di bawa putra semata wayangnya itu.
Ibu Diana nampak sangat gelisah, tetapi pak Lukman segera menenangkannya mengingat sang istri memiliki riwayat penyakit asam lambung yang sewaktu-waktu bisa kambuh jika sedang stress.
"Tri, di mana kamu tadi menjemput wanita itu?" selidik pak Lukman kepada Tri.
Tri nampak gugup. Karena ia tidak menyangka akan di bawa pak Lukman. Sebenarnya Tri adalah sopir pribadi pak Lukman, hanya beberapa hari belakangan ini kebetulan sering mengantar Zafran.
Dan tujuan pak Lukman memerintah Tri untuk ikut dengannya tentu karena ingin menyelidiki wanita itu. Karena memang Tri lah yang malam ini mengantar Zafran ke restoran.
"Apakah ada sesuatu yang tidak aku tahu, Tri?" pak Lukman semakin curiga dengan diamnya Tri.
Tri semakin gelisah. Untuk menjawabnya bagai simalakama bagi Tri. Karena sebelumnya Zafran telah memintanya tutup mulut tentang apa yang terjadi malam ini kepada siapapun, terlebih kepada kedua orang tuanya. Di sisi lain pak Lukman meminta penjelasannya. Jika tidak mengaku, entah akan bernasib bagaimana dirinya setelah ini.
"Baiklah! Dengan kamu begini, semakin jelas kalau memang ada yang kalian sembunyikan dari kami," ujar pak Lukman. Nampak pasrah melihat Tri terdiam, tetapi sebenarnya ia sudah bertekad akan menyelidiki siapa wanita itu sebenarnya.
Beralih pak Lukman menatap kepada istrinya yang masih kentara cemasnya. Pria itu kemudian mengusap punggung tangan istrinya sebagai penyemangat agar tetap tenang.
"Jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin dia bukan orang yang sama. Apa kamu tadi tidak mencermati suara wanita itu?"
Ibu Diana masih bergeming. Tetapi helaan nafasnya perlahan berhembus keluar dari rongga dadanya yang berangsur sedikit tenang.
"Suara wanita itu lebih lembut dan terkesan lugu. Aku sangat yakin dia itu bukan Tata. Mungkin hanya namanya yang mirip. Dan kamu tahu kan, di dunia ini ada banyak wajah yang mirip," ucap pak Lukman lagi.
Lalu ibu Diana menatap tajam kepada suaminya. "Kalau ternyata dia adalah wanita yang sama, sampai mati aku tidak akan merestui mereka!" ucapnya dengan lantang.
Pak Lukman menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu pria itu merangkul pundak istrinya dengan sayang. Memaklumi apa yang sedang di rasa oleh istrinya saat ini.
Kejadian tiga tahun silam, sungguh membuat ibu Diana shock dan drop hingga terpaksa menjalani perawatan intensif cukup lama. Bagaimana tidak, rencana pernikahan Zafran yang telah di depan mata, harus gagal lantaran menghilangnya calon menantunya itu. Dan kejadian itu benar-benar telah membuat ibu Diana kehilangan muka di depan kerabat dan keluarganya. Lantaran terlanjur menyebar undangan tetapi urung karena kepergian wanita itu. Sungguh hal itu hingga detik ini membuatnya kembali merasa sakit hati.
Memang tadi saat pertama bertemu Tania, ibu Diana nampak baik dan biasa saja. Meski melihat ada kemiripan di wajah itu, tetapi ibu Diana tak mau berburuk sangka dahulu, lantaran meyakini manusia berwajah mirip dengan orang lain itu memang ada. Tetapi setelah mendengar nama itu di sebut, dari situlah ibu Diana merasa tak tenang. Hingga terpaksa berpura-pura pergi ke toilet, yang nyatanya kabur dari tempat itu melalui pintu belakang.
__ADS_1
"Kamu tenang, Diya, kontrol emosi biar tidak drop lagi. Aku pasti akan menyelidiki siapa wanita itu. Karena aku yakin, dia bukan Tata yang itu."
Sekilas pak Lukman melirik kepada Tri. Senyum liciknya seketika terbit. Meyakini jika apa yang di ucapkan barusan pasti akan sampai ke telinga Zafran, karena ia yakin setelah ini Tri pasti melaporkannya kepada Zafran.
Sedangkan keadaan di luar restoran itu, Zafran nampak kebingungan mencari Tri yang tiba-tiba menghilang. Sudah beberapa panggilan telpon pria itu lakukan, ternyata tiada jawaban balik dari Tri.
Kemudian seorang security nampak mendekati Zafran, lalu menyerahkan kunci mobil miliknya yang di titipkan Tri kepada security itu.
"Di mana orang yang tadi kasi kunci ini?" tanya Zafran mulai merasa kesal kepada Tri yang ketahuan sengaja pergi meninggalkannya.
"Orangnya pergi. Tadi naik mobil lain, bareng sama dua orang, laki-laki dan perempuan," jelas security itu.
"Orang yang bawa muda apa tua?" tanya Zafran lagi. Karena jika security itu menjawab tua, sudah pasti itu ayah dan ibunya yang membawa Tri. Karena Zafran melihat mobil orang tuanya sudah tak nampak lagi di parkiran itu.
"Lumayan tua," sahut security itu yang kemudian pergi dari tempat itu untuk kembali menjalankan tugasnya.
Zafran menghembus nafasnya cukup lama. Terus terang ia mulai ketar-ketir takut orang tuanya kembali menjodohkannya setelah tahu tadi itu hanya sekedar akting.
Zafran tidak merespon apa-apa, tetapi pria itu kemudian membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Tania masuk ke dalamnya.
Saat dalam perjalanan pulang itu mereka masih sama-sama diam. Sama-sama berkutat dengan pikirannya masing-masing. Hingga sampai mobil itu telah berhenti di depan rumah Tania, mereka masih betah saling diam.
"Mm... Tuan, masalah yang tadi tuan bilang akan memberi apapun asal ini selesai apa masih berlaku?" tanya Tania memberanikan diri.
Karena dari tadi Tania sempat kepikiran dengan ucapan Zafran, yang mengatakan akan menyanggupi permintaan Tania. Berhubung Tania sangat butuh pekerjaan, maka tidak salah jika ia mencoba meminta itu. Setidaknya di bantu melamarkan dirinya bekerja di toko itu sangat lumayan bagi dirinya yang sangat membutuhkan uang.
"Kamu mau minta apa?" tanya Zafran kemudian.
Padahal dalam hati pria itu timbul heran, karena tidak menyangka wanita yang ia anggap aman tidak akan berani meminta-minta padanya, ternyata dugaan itu salah.
"Ee... Tolong bantu saya agar saya bisa di terima bekerja di toko tempat tuan kerja tadi," ucap Tania yang langsung membuat Zafran tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya permintaan wanita itu mudah, tetapi tidak mungkin ia menerima Tania bekerja di tempatnya karena itu akan berbahaya jika kemudian ibu Diana atau pak Lukman main-main ke sana. Sedangkan untuk membantu melamarkan pekerjaan di pabrik milik keluarganya itu juga lebih sangat berbahaya, karena akan semakin sering bertemu dengan pak Lukman.
"Jangan bekerja di toko itu," sahut Zafran kemudian.
"Di sana karyawannya nggak asyik. Bos nya juga tidak terlalu suka ada karyawan wanita," lanjut Zafran yang tentunya pernyataannya itu ngadi-ngadi sekali.
"Tapi tadi aku lihat di papan pengumuman itu butuh karyawan wanita?" kilah Tania.
"Ah, jangan percaya itu. Itu cuma modus toko itu biar banyak cewek-cewek ABG yang datang melamar."
Seketika nyali Tania menciut setelah mendengar istilah ABG yang di ucapkan Zafran barusan. Kalau ternyata toko itu lebih mengutamakan cewek ABG yang datang melamar, apa kabarnya dirinya yang sudah berumur 22 tahun, yang sudah tidak pantas dengan sebutan ABG.
Lalu Tania melihat Zafran tengah merogoh dompetnya. Kemudian pria itu menyerahkan semua lembar uang merah yang ada di dompetnya itu kepada Tania.
"Ambillah," seru Zafran meletakkan uang itu di atas pangkuan Tania.
Tania tak langsung mengambilnya. Karena kedua matanya terlanjur mellek melihat uang sebanyak itu di pangkuannya.
"Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih dariku. Ambillah, karena setelah ini kita sudah tidak ada urusan lagi."
Zafran mengambil uang itu dan langsung meletakkan pada tangan Tania.
"Mm... Terimakasih, Tuan. Tapi ini terlalu banyak."
Jika tidak salah hitung uang itu ada satu juta lebih. Karena adanya uang cash di dompet Zafran hanya segitu.
"Ambil saja! Buat pegangan kamu juga, selama belum dapat pekerjaan. Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa membantumu masuk di toko itu."
Tania tertunduk. Masih bingung mau menerimanya atau tidak. Tetapi saat Zafran dengan lancang nya memasukkan uang itu ke dalam tas Tania, maka akhirnya wanita itu hanya bisa pasrah dan menganggapnya sebagai rejeki nomplok.
Kemudian Tania keluar dari mobil itu. Tangannya terangkat untuk melambai sebelum Zafran pergi. Dan baru masuk kembali setelah Zafran pergi jauh dari pandangannya. Tanpa mereka sadari sebelumnya, ada sorot mata nanar melihat kepadanya dari arah yang cukup jauh dari keberadaan mereka barusan.
__ADS_1
*