
"Ayah!" Zafran menyapa ayahnya yang tengah berdiri dengan tatapan aneh kepada Zafran.
"Apakah aku tidak boleh masuk?" tanya pak Lukman karena sedari tadi Zafran dan Tania sama-sama tak ada yang mempersilahkan masuk.
"Ee... Silahkan masuk, Pak," seru Tania sudah bisa sedikit tenang dengan kedatangan pak Lukman yang tiba-tiba.
Sedangkan Zafran sendiri tetap tercengang di tempatnya berdiri walau ayahnya itu sudah melewatinya. Pria tua itu terlihat berjalan menuju kamar mandi tanpa kebingungan harus ke mana arahnya. Dari itu membuat Zafran semakin heran, karena pak Lukman seperti sudah hafal setiap ruang yang ada di rumah ini.
Pak Lukman sengaja nyelonong begitu karena memang menunggu omongan Zafran. Jika anaknya itu menegur atau protes dari mana dirinya tahu rumah ini, maka pak Lukman tinggal menjawabnya dengan jawaban yang sudah ia susun dari tadi. Apalagi pak Lukman sendiri juga belum melaksanakan kewajiban tiga rakaatnya, makanya pria itu langsung melipir ke ruang sholat setelah keluar dari kamar mandi.
Melihat Zafran yang hanya diam, maka Tania mendekat kepadanya.
"Sebenarnya tadi pak Lukman dan ibu Diana datang ke sini," ujarnya pelan yang langsung membuat Zafran menoleh kepadanya.
"Ayah ibu ke sini?" tanya Zafran memastikan lagi karena tak percaya saja.
Tania hanya mengangguk.
"Buat apa mereka ke sini?" selidik Zafran.
Tania menggeleng kepala entah.
"Dari mana mereka tahu rumah ini?" pikir Zafran penuh tanda tanya.
Sejenak pria itu mulai curiga dengan pak Joko yang mungkin memberitahu kedua orang tuanya, karena satu-satunya orang yang tahu tentang rumah ini hanya pak Joko. Tetapi prasangka itu segera di tepis lagi lantaran tidak mungkin pak Joko kenal dengan orang tuanya. Selama ini pak Joko disiplin tutup mulut tentang rumah ini hingga tiga tahun lebih lamanya. Jadi siapa sebenarnya orang yang telah memberitahu rumah ini kepada ayah ibunya?
Zafran mulai nampak resah, sang ayah bisa jadi setelah ini mencerca nya dengan berbagai pertanyaan kepadanya. Sedangkan Tania sendiri masuk ke kamarnya untuk melepas mukenah nya dan kemudian keluar lagi karena bermaksud ingin membuatkan minuman untuk pak Lukman.
Pak Lukman telah selesai dari sholatnya, pria tua itu langsung memilih duduk di sofa yang ada di ruang tamu, tentu Zafran juga ikut menemani duduk di sana.
__ADS_1
Sorot mata pak Lukman mengitari ke seluruh ruang yang ada di rumah itu, membuat Zafran sudah tak sabar untuk bertanya dari mana ayahnya itu tahu rumah ini.
"Dari mana ayah tahu rumah ini?" tanya Zafran to the point.
Pak Lukman tersenyum tipis memandang Zafran.
"Itu mudah buat ayah. Kamu itu anakku," jawabnya singkat tanpa mau mengaku siapa orang yang telah memberi info tentang rumah ini.
"Kopinya, Pak." Tetiba Tania muncul sambil membawa dua cangkir kopi hitam untuk Pak Lukman dan Zafran.
"Terimakasih, Ta," sahut pak Lukman dengan ramah. Sedangkan Zafran hanya bisa melirik penasaran, kenapa ayahnya seperti sudah akrab dengan Tania, padahal ketika pertemuan pertama tempo hari pak Lukman terkesan biasa saja kepada Tania.
"Sini duduk, Ta, ada yang ingin saya bicarakan sama kalian," seru pak Lukman saat melihat Tania akan beranjak.
Tania masih tercengang di tempat. Wanita itu juga merasa bingung, apalagi setelah mendapati sorot Zafran yang seperti mengisyaratkan jangan mau dengan gelengan kecilnya.
Sesaat keadaan menjadi hening. Tania menundukkan wajahnya sambil mengapit nampan yang di pegangnya, sedangkan Zafran mulai menyenderkan punggungnya pada sofa, wajahnya nampak kusut, gelisah tentunya.
Pak Lukman yang melihat keduanya begitu hanya tersenyum saja. Pria itu sudah tak mau banyak tanya lagi selain hanya satu pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Zafran dan Tania.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya pak Lukman langsung, tanpa ragu sama sekali.
Bersamaan Zafran dan Tania mengangkat wajahnya menatap pak Lukman. Sangat kaget yang di rasa keduanya setelah mendengar pertanyaan tak masuk akal itu bagi Zafran dan Tania.
Meski pak Lukman sudah tahu kalau Tania hanyalah pacar pura-pura Zafran, tetapi hanya karena melihat foto mereka yang melaksanakan ibadah dengan bersama, entah mengapa membuat hati pak Lukman terenyuh dan tiba-tiba yakin saja dengan Tania untuk menjadi calon istri yang baik untuk Zafran.
Dan perkara ini memang masih belum di ketahui oleh ibu Diana. Tetapi pak Lukman sangat yakin jika istrinya itu akan setuju dengan Tania, walau tanpa harus berembuk dulu dengannya.
"Kenapa malah menatapku seperti itu? Apakah kalian tidak ada niat untuk serius dengan hubungan kalian?" tanya pak Lukman lagi. Sudah tahu kalau hubungan mereka hanya pura-pura, tetapi pak Lukman memilih pura-pura tidak tahu dengan hal itu.
__ADS_1
"Ayah..." Zafran kebingungan mau berkata apa. Pria itu terpaksa berpikir lagi agar hubungannya dengan Tania tidak terbongkar, padahal nyatanya kedua orang tuanya sudah tahu hal itu.
"Ee... Masalah itu-- Beri kami waktu untuk berpikir," serunya kemudian.
Terpaksa Zafran berkata seperti itu agar ayahnya mendapatkan jawaban yang di inginkan. Setidaknya dengan begini Zafran masih bisa memiliki waktu untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri. Sedangkan Tania sedari tadi tetap menundukkan wajahnya. Apa yang sedang di katakan Zafran barusan biarlah itu menjadi urusan Zafran dengan orang tuanya. Sadar diri jika dirinya di sini hanya sewaan bagi Zafran, Tania tidak mau terlalu memusingkan hal itu.
Sebenarnya Tania ingin sekali menegaskan lagi kepada pak Lukman tentang hubungannya dengan Zafran. Tetapi melihat Zafran yang ternyata tidak mengakuinya meski ayahnya menyinggung masalah pernikahan barusan, maka Tania mengembalikan lagi kepada Zafran si pembuat drama ini. Tetapi jika akhirnya Zafran mengajaknya menikah beneran, aah... Kenapa jadi geer?
Diam-diam Tania merutuki hatinya yang mulai mengagumi sosok Zafran. Dirinya yang selama ini tidak pernah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin saat bersama Doni, tentu sedikit baper jika di hadapkan dengan sosok pria baik seperti Zafran. Apalagi kedua orang tua Zafran juga cukup baik kepadanya.
"Tata, kenapa kamu diam saja?" Pak Lukman menyapa Tania yang terbawa dengan pikirannya sendiri.
"Ah, iya, Pak." Wanita itu terkesiap menatap kepada pak Lukman.
"Ah, sudahlah! Sepertinya kedatangan ku di sini mengganggu kenyamanan kalian," ucap pak Lukman sambil mulai berdiri dari tempatnya.
Zafran dan Tania refleks ikut berdiri juga.
"Ayah pulang, Zaf," pamitnya sambil menepuk pundak Zafran.
Zafran tak bisa menyahut lagi. Pria itu kepalang bingung berpikir keras dari mana ayahnya bisa tahu rumah ini. Tiba-tiba kepikiran dengan kejadian yang menimpa Tania sore tadi. Serasa memang sengaja di jebak, tetapi belum tahu siapa orang di baliknya.
Hingga pak Lukman telah masuk ke mobilnya, barulah Zafran sedikit curiga dengan Tri. Mungkinkah Tri orangnya?
Tepat saat mobil yang membawa pak Lukman itu hampir keluar dari halaman rumah itu, muncullah pak Joko yang kebetulan datang. Terlihat pak Joko membungkukkan badan seperti menyapa pak Lukman. Mungkinkah pak Joko orangnya?
"Ah, kenapa banyak orang yang mencurigakan di sekitarku?" batin Zafran jadi resah sendiri.
*
__ADS_1