Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 25


__ADS_3

"Apa kamu jadi nyuruh orang untuk ngikuti Zafran, Mas?" tanya ibu Diana ketika pagi itu sedang sarapan bersama suaminya, pak Lukman.


Pak Lukman mengangguk mengiyakan. Bahkan orang suruhannya itu saat ini sudah stand by di sekitar rumah Yudha, setelah tahu kalau Zafran semalam menginap di sana. Tujuan menyewa orang suruhan itu tak lain ialah untuk menyelidiki siapa sebenarnya wanita semalam yang di bawa Zafran. Wajah wanita itu yang mirip dengan seseorang di masa lalu Zafran membuat ibu Diana gelisah. Dan karena itulah yang membuat pak Lukman memutuskan untuk menyewa orang bayaran untuk mengikuti ke mana Zafran pergi.


Ibu Diana tersenyum lega mendengarnya. Setidaknya dengan begini orang bayaran itu juga bisa bekerja doble, kalau tiba-tiba ada orang lain yang berniat jahat kepada Zafran setidaknya orang itu bisa membantu melindungi. Seandainya kedua orang tua Zafran tahu apa yang terjadi semalam dengan anak mereka, mungkin orang suruhan itu akan selalu di pekerjakan oleh mereka untuk menjaga keamanan Zafran.


Sedangkan Zafran sendiri saat sudah selesai sarapan bersama di rumah Yudha, ia dan Yudha memilih berangkat bersama pagi ini. Yudha yang menumpang di mobil Zafran, karena sedang malas menyetir akibat semalam tidur hampir pagi karena keasyikan mengobrol.


Baru tiba di jalan yang sama saat semalam Zafran di ancam oleh orang yang berniat jahat kepadanya, kejadian itu terulang lagi pagi ini. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sepertinya orang semalam itu membawa teman yang lainnya juga untuk mencelakai Zafran.


"Ah, Sial!" umpat Zafran sangat kesal. Tangannya yang memukul setir itu membuat Yudha yang ketiduran terbangun kaget.


"Ada apa?" Yudha terbangun malas dengan mengucek-ngucek matanya.


"Ada orang cari gara-gara sama aku. Sepertinya orang itu niat sekali ingin mencelakaiku," seru Zafran sambil terus fokus menyetir untuk bisa menyelamatkan diri dari dua pemotor yang mulai tadi ingin menghadangnya tetapi Zafran selalu berhasil lolos.


Yudha melongo melihat dua pemotor yang berjumlah empat orang itu. Satu di antara empat orang itu sedari tadi terus saja mengacungkan jari tengahnya ke arah mobil mereka. Kentara sekali jika orang itu memang sedang mengancam Zafran.


"Kamu punya musuh?" tanya Yudha mulai panik, lantaran komplotan mereka sepertinya menyembunyikan sajam di balik jaketnya.


Zafran menggeleng yakin. Pria itu tetap fokus ke arah jalan agar dua pemotor itu tidak berhasil memepetnya. Seandainya saat ini ia tidak bersama Yudha, sudah pasti Zafran akan mengeluarkan pistolnya untuk mengancam balik orang itu seperti semalam.


"Hati-hati, Zaf!" pekik Yudha, saat laju mobil yang mereka naiki sempat berliuk-liuk akibat menghindari dua pemotor itu.


Zafran tak menyahut apa-apa. Senyum devil nya terukir mana kala berhasil menghindari komplotan orang itu lagi.


Tiba-tiba Yudha menoleh ke arah belakang, dan melihat satu pemotor lain juga menyalip mobil mereka.


"Astaga! Fix! Beneran kamu ini punya musuh. Nggak aman hidup kau, Zaf!" seru Yudha menggeleng ngeri menatap Zafran yang masih fokus menyetir.

__ADS_1


Tetapi satu pemotor yang tadi berada di belakang mobil Zafran rupanya memepet dua pemotor yang ada di depan mobil mereka. Melihat ada kesempatan untuk kabur, maka Zafran pun segera menekan pedal gasnya untuk pergi dari komplotan orang-orang tak jelas itu.


Tak lama kemudian akhirnya Zafran tiba di depan klinik milik Yudha.


"Hati-hati, Zaf," pesan Yudha sesaat sebelum keluar dari mobil Zafran.


Zafran hanya mengangguk sembari tersenyum simpul. Tak terlihat panik, tak seperti Yudha yang wajahnya sedikit pucat karena insiden barusan.


Setelah melihat Yudha masuk ke kliniknya, lalu Zafran memilih pergi dari area itu. Tepat saat menemukan tempat sepi di perjalanan itu, kemudian Zafran menepikan mobilnya. Sejujurnya pria itu sedang tidak ada tujuan akan ke mana. Kembali ke rumah bukan solusi baik saat ini. Sedangkan untuk pergi ke tokonya rasanya terlalu malas, takut nanti ibunya akan menyusulnya ke sana.


Hingga kemudian perlahan mata itu turut terpejam lantaran gabut tak ada yang minat di kerjakan. Zafran tertidur di mobilnya dengan lelap.


"Lapor, Pak. Target saat ini sedang tertidur di mobilnya," lapor seorang yang telah di sewa pak Lukman itu, begitu melihat mobil Zafran menepi cukup lama.


***


Doni sangat marah ketika tadi di hadang oleh orang tidak di kenalnya agar tidak jadi mencelakai Zafran. Yang karena itu Doni tahu kalau orang yang mencegatnya itu adalah orang yang bertugas melindungi Zafran.


"Tenang, Bro! Masih ada opsi kedua," timpal satu teman Doni.


Senyum licik Doni terbit saat itu juga. Bayangan wajah cantik wanita yang semalam bersama Zafran tiba-tiba melintas di otak mesumnya.


"Jadi kapan kita mau beraksi?" tanya seorang teman Doni lagi yang terlihat sangat tak sabar, ingin buru-buru memegang uang segepok dalam bayangannya.


Doni dan kawan-kawan memang tengah merencanakan ingin memeras Zafran. Tetapi bila itu tidak berhasil, maka wanita yang Doni kira adalah kekasih Zafran itulah yang akan menjadi target berikutnya.


***


"Mau ke mana, Ta?" tanya Siska begitu melihat Tania mengemas baju dan tas ke dalam paper bag sore itu.

__ADS_1


"Mau aku kembalikan ke yang punya," sahut Tania.


Saat ini wanita itu terlihat rapih dan sudah bersiap keluar rumah.


"Kenapa nggak kamu ambil aja sih. Aku rasa tuan Zafran pasti nggak mau menerima itu lagi."


"Barang ini belinya pasti mahal. Di terima atau tidak, yang penting aku sudah mengembalikan."


"Entar kalau tuan Zafran nolak, kamu ambil aja. Kalau nggak mau makenya, buat aku aja. Hehe...."


Tania hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Kamu mau ikut nggak?" ajak Tania kepada Siska untuk menemaninya menemui Zafran.


"Mager! Besok sudah mulai masuk kerja. Rasanya seharian ini pingin puas-puasin rebahan sebelum kerja lagi. Sorry ya..."


"Iya deh paham. Kalau gitu aku pinjam motornya dong, kamu nggak akan keluar ke mana-mana kan?"


"Tuh, ambil di gantungan," tunjuk Siska pada paku yang sengaja di tancapkan di dinding kamarnya sebagai tempat menaruh kunci.


Tania segera mengambil kunci itu. Karena ia harus buru-buru sampai ke toko Zafran sebelum petang.


"Aku pamit ya, Sis," ucap Tania kemudian.


"Hem, hati-hati di jalan, Ta," seru Siska sambil turut mengantar Tania hingga teras depan.


Tak lupa Tania memakai masker untuk menyamarkan wajahnya dari orang lain. Dalam hati ia tak lupa berdoa semoga ia tak lagi di pertemukan dengan orang yang sangat ingin dia hindari, yaitu Doni.


*

__ADS_1


__ADS_2