
"Den Zafran," pak Joko menyapa Zafran begitu mobil milik pak Lukman sudah melesat pergi.
Zafran tersenyum melihat pak Joko berjalan mendekatinya.
"Kalau begitu saya balik pulang, toh mbak Tata sudah ada yang nemenin, sudah aman kan, Den?" seru pak Joko lebih baik beralasan pamit pulang dari pada nanti dirinya akan ditanya soal kejadian yang menimpa Tania.
"Tunggu dulu, Pak." Benar saja Zafran langsung mencegahnya pergi, karena memang pria itu ingin bertanya banyak soal kejadian yang menimpa Tania.
"Kok keburu pulang, itu gimana kejadiannya kok bisa ada orang yang ganggu Tata?" Zafran bertanya sedikit emosi. Ia butuh sekali kejelasan itu, malah pak Joko terkesan ingin lepas tangan, padahal yang menelpon dirinya tadi adalah pak Joko.
"Iya, Den," pak Joko terpaksa balik badan. Pria tua itu menundukkan wajahnya, demi menutupi rasa gugup yang tiba-tiba mendera dirinya. Kali pertama ini pak Joko berbohong kepada Zafran, jadi wajar saja jika saat ini pak Joko merasa tak enak sendiri.
"Jadi tadi tuh saya kebetulan lewat karena mau ke apotik. Saya lihat ada dua cowok nangkring di atas motor di sana," Pak Joko menunjuk ke arah sekitar pohon mangga yang berada di sudut halaman rumah itu.
"Awalnya saya tidak curiga, karena saya pikir mungkin orang lewat yang lagi istirahat perjalanan jauh. Tapi pas saya balik dari apotik, kok dua orang itu malah kayak ngendap-ngendap gitu lihat ke sini," jelasnya lancar tanpa hambatan. Sebuah skenario yang sudah di susun rapi oleh pak Joko sebelumnya.
Saat menjelaskan itu Tania juga mendengarnya, karena wanita itu juga ada di antara mereka.
"Terimakasih, pak Joko, anda sudah peduli sama saya," ucap Tania dengan tulus.
"Beruntungnya tuan Zafran kebetulan datang, kalau tidak, mungkin--" Tania tidak melanjutkan perkataannya. Ia tidak bisa membayangkan andai saat itu Zafran tidak datang.
Sedangkan Zafran diam saja memandangi pak Joko yang menurutnya sedikit aneh.
"Den Zafran, saya pamit pulang, istri saya di rumah lagi sakit," ucap pak Joko apa adanya.
"Ibu Lastri sakit? Sakit apa?" tanya Zafran.
"Stroke, Den," kata pak Joko.
Zafran kaget mendengarnya, karena ia baru tahu kalau ibu Lastri, istri pak Joko rupanya sedang sakit.
"Sudah lama?" tanya Zafran lagi.
Pak Joko mengangguk. "Sudah mau tiga bulanan," jelasnya kemudian.
Zafran langsung menghembus nafas beratnya. Sekilas ia menoleh kepada Tania yang berdiri di sampingnya.
"Kamu mau ikut?" ajaknya tiba-tiba.
"Kemana, Tuan?"
__ADS_1
"Lihat ibu Lastri," jelas Zafran.
Tania langsung mengangguk. Jujur saja, wanita itu masih takut jika harus berada sendiri di rumah. Takut-takut dua orang yang tadi tiba-tiba datang lagi. Dan tujuan Zafran mengajak Tania ikut juga karena mengkhawatirkan Tania.
Setelah itu Zafran dan Tania berjalan kaki menuju rumah pak Joko yang jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah Zafran. Sesampainya di sana mereka berdua di sambut ramah oleh anak pak Joko yang kebetulan datang untuk menengok ibu Lastri, karena anak pak Joko itu sudah menikah dan ikut tinggal bersama suaminya di kampung sebelah.
Ibu Lastri tersenyum riang begitu tahu yang datang menjenguknya adalah Zafran.
"Bagaimana kabarnya, Bu?" sapa Zafran yang kemudian menyalimi tangan ibu Lastri.
"Ya beginilah, Den. Badan ibu sudah mati separuh, jadi ibu nggak bisa ke mana-mana. Bersyukurnya Den Zafran sudah menikah, jadinya kalau datang ke sini meski ibu nggak masakin kan sudah ada yang masakin buat Den Zafran," ucap Ibu Lastri, salah paham mengira Tania adalah istri Zafran.
Zafran yang mendengar itu langsung menoleh kepada Tania. Sedangkan wanita itu sedari tadi hanya menundukkan wajahnya, benar-benar canggung yang di rasa Tania saat ini. Mengapa mereka mengira dirinya dan Zafran adalah pasangan suami istri? Dan lagi saat teringat ucapan pak Lukman soal seruannya yang menyuruh mereka segera menikah, membuat Tania semakin tak enak sendiri.
Rasanya seperti terjebak oleh keadaan, tetapi Tania sadar diri jika ia tidak boleh terlena dengan semua ini. Tetapi kenapa Zafran terkesan biasa saja meski ibu Lastri mengira dirinya adalah istrinya? Kenapa pria itu tidak meralatnya coba?
"Buk, dia bukan istrinya Den Zafran," pak Joko ikut bersuara, menjelaskan kesalahpahaman istrinya terhadap Tania dan Zafran.
"Oh, maaf, Den, ibu tidak tahu." Ibu Lastri sampai mengangkat satu tangannya yang masih aktif bergerak, demi bisa menyentuh lengan Zafran.
Dan lagi, Zafran hanya tersenyum tanpa bicara apapun untuk sekedar ikut menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Ibu istirahat ya, saya pamit, semoga lekas sembuh," ucap Zafran merasa tidak enak telah mengganggu waktu istirahat ibu Lastri.
"Loh, kok buru-buru, Den, ini saya sudah terlanjur buatkan kopi." Anak perempuan pak Joko menyapa Zafran, saat pria itu sudah bersiap keluar dari rumah itu.
"Karena sudah terlanjur dibuat, boleh saya bawa ke rumah saja?" Terpaksa Zafran berkata seperti itu, karena memang tujuannya keburu balik rumah ada sesuatu yang ingin ia ambil di sana.
Anak perempuan pak Joko itu lantas tersenyum mengiyakan. Setidaknya kopi buatannya tidak akan mubadzir.
"Pak, mari ikut saya," ajak Zafran kepada pak Joko.
Lalu mereka bersama berjalan beriringan menuju rumah Zafran. Setelah anak perempuan pak Joko meletakkan kopi yang dibawanya, ia langsung balik pulang. Sedangkan pak Joko tetap di sana karena Zafran menyuruhnya menunggu.
Dan Tania sendiri memilih masuk ke kamarnya. Karena sepertinya apa yang akan dibicarakan antara pak Joko dan Zafran cukup intens.
Setelah itu Zafran keluar dari kamar pribadinya yang tidak boleh sembarang orang masuk ke sana, tidak terkecuali Tania dan pak Joko. Pria itu mendekat kepada pak Joko, dan lalu menyodorkan sebuah amplop coklat kepada pak Joko.
"Apa ini, Den?" pak Joko bertanya, tetapi amplop coklat itu sudah berada di tangannya.
"Buat berobat ibu," jawab Zafran.
__ADS_1
Pak Joko tertegun. Rasanya ia sangat tidak tahu diri jika menerima uang itu, sekalipun sedang membutuhkan. Sedangkan dirinya baru saja bersekongkol dengan pak Lukman untuk memancing Zafran datang ke sini.
"Tidak perlu, Den, terimakasih," tolak pak Joko dengan sopan. Tetapi penolakannya itu tentu tidak diterima oleh Zafran.
Melihat Zafran yang tetap angkuh ingin membantu istri pak Joko, maka terpaksa pula pak Joko menerima bantuannya itu. Setelah itu pak Joko langsung pamit pulang.
Zafran mulai duduk di sofa ruang tamu. Pria itu kembali kepikiran permintaan ayahnya soal menikahi Tania. Berusaha berpikir keras untuk mencari solusi yang pas, tetapi perut yang terasa lapar membuatnya tidak bisa menemukan solusi itu.
Pria itu menoleh ke kamar Tania yang pintunya sedang tertutup. Dirinya yang sama sekali tidak tahu dunia perdapuran, tentu sangat membutuhkan bantuan wanita itu untuk memasak. Walau agak ragu untuk meminta bantuannya, demi perut yang keroncongan sementara buang rasa gengsi dulu. Akhirnya Zafran berjalan mendekat ke kamar Tania, kemudian mengetuk pintu kamar itu pelan-pelan.
Tania yang mendengar pintunya di ketuk, lekas beranjak dari kasurnya untuk membukakan pintunya.
"Ta, aku lapar," seru Zafran langsung tanpa canggung, saat Tania sudah berdiri di depannya.
Sebenarnya Tania juga merasa lapar. Berhubung di dapur minim bahan untuk di masak, jadilah ia menahan rasa laparnya sedari tadi.
"Di dapur ada apa yang bisa di masak?" tanya Zafran lagi.
Tania menggelengkan kepalanya.
"Kosong maksudnya?"
Tania mengangguk.
"Loh, trus dari seharian kamu nggak makan?"
"Sudah," sahut Tania dengan pelan.
Seharian ini Tania hanya makan roti bekal yang Siska bawa dari rumah yang lama. Siang tadi ia sudah menunggu pak Joko untuk mengantarnya ke toko buat membeli keperluan seperti sembako. Berhubung pak Joko seharian tadi tidak muncul-muncul, jadilah sampai malam ini isi dapur masih kosong.
"Ck!" Zafran berdecak kesal.
Spontan pria itu menarik tangan Tania, menuntunnya keluar rumah.
"Tuan, ini mau ke mana?" tanya Tania saat Zafran sudah duduk di atas motornya dengan mesin yang sudah menyala.
"Ayo naik!" titah Zafran sudah tidak bisa di bantah, karena wajahnya saja sudah sedikit menyeramkan menatap Tania.
Walau canggung akhirnya Tania naik ke motor itu. Wanita itu memilih duduk menghadap ke samping, tentu dengan sedikit menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan tubuh Zafran.
Zafran yang sudah kepalang pusing, mana perut lapar, di tambah ucapan ayahnya yang terus saja menari-nari di benaknya, menarik tuas gas motor itu sedikit kencang. Sehingga membuat Tania spontan mencengkram baju di pinggangnya dengan erat, karena takut terjatuh saat pria itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
*