Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 03


__ADS_3

"Ah, Mas, pelan, Mas."


"Ah....."


Tania mendekatkan telinganya pada dinding kamar Sari yang hanya terbuat dari bahan triplek.


"Astaghfirullah! Itu suara Sari!" gumamnya sambil membungkam mulutnya menggunakan telapak tangannya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Mas, aku sudah tidak kuat, Mas."


Lagi, suara itu bertandang di telinga Tania dengan jelas sejelas-jelasnya.


"Dengan siapa Sari di dalam?" Tania mulai terpancing curiga.


"Keluarkan, Sayang. Jangan di tahan."


Suara pria yang sedang bersama Sari di dalam ikut berbicara. Dari pembicaraan keduanya di dalam pikiran Tania semakin negatif. Jangan-jangan?


"Astaghfirullah...."


Tania mengelus dadanya berulang-ulang sembari mengucap lafadz mohon pengampunan. Jika benar temannya itu berbuat yang tidak senonoh, ia jadi ikut merasa berdosa karena membiarkan teman karibnya itu berbuat perbuatan terlarang, yang Tania tahu kalau Sari masih single dan belum pernah menikah.


Tania tahu jika Sari memang banyak mantan pacarnya. Apalagi parasnya juga cantik dan ebih menawan jika dibanding dirinya. Mungkin karena itu yang membuat Sari enggan menikah dan lebih suka mengobral cinta kepada pria yang mendekatinya. Padahal usianya tak jauh berbeda dengan Tania, yaitu 22 tahun. Bagi seorang wanita yang berasal dari kampung dan juga tidak berpendidikan tinggi seperti mereka sudah wajar di usia segitu sudah menikah, bila perlu sudah memiliki anak.


Tetapi yang membuat Tania sama sekali tidak menduga yaitu tentang malam ini. Mungkin saja Sari sudah sering melakukannya dengan pria lainnya.


"Astaghfirullah... Kenapa aku jadi buruk sangka begini sama teman sendiri?"


Tania beristighfar lagi, begitu tiba-tiba pikiran buruk tentang Sari semakin menjadi di benaknya.


"Ah, Sayang, kamu pintar sekali melakukannya. Bagaimana aku tidak semakin tergila-gila sama kamu."


Suara pria itu kembali memuji Sari.


"Beneran?" Sari ikut bersuara.


"Iya. Si tonggos itu mana tahu seperti kamu begini. Dia bodoh! Tidak pandai memuaskan suami," ujar pria itu lagi.


Deg.


Denyut jantung Tania tiba-tiba berdegup nyeri. Seperti berhenti berdetak saat itu juga.


Si tonggos? Bahkan beberapa menit yang lalu Doni juga menyebut kata si tonggos saat bertelponan di rumah tadi.

__ADS_1


Diam-diam Tania semakin nekat untuk menguping lebih dekat. Sorot matanya sesekali melihat ke sekitar, salah-salah takut nanti dirinya yang kepergok orang lewat sedang menguping di rumah orang.


Jiwa rasa ingin tahunya semakin meningkat. Mana kala ia memperhatikan dengan intens jika motor yang berada di teras rumah Sari itu mirip dengan motor miliknya.


"Jadi mas Doni kapan mau ceraikan Tania?"


Boom!


Kali ini lebih dari kata terkejut lagi bagi Tania. Bagai terkena bom nuklir saat mendengar dengan jelas Sari menyebut nama Doni. Hatinya meledak dan hancur berkeping-keping.


Seluruh tubuh Tania langsung gemetar tak berdaya. Derai air matanya sudah membanjiri wajahnya yang kusam. Meski begitu Tania telah nekat akan masuk ke rumah Sari. Untuk membuktikan sendiri, jika Doni yang disebut Sari itu suaminya atau bukan.


Derit pintu kayu itu berbunyi cukup berisik saat Tania mulai membuka pintu rumah itu. Mungkin karena terlalu asyik sang pemilik rumah dengan kegiatan terlarang nya itu, sehingga keduanya sama-sama tidak sadar jika ada Tania sudah masuk ke rumah itu dengan lancang.


"Sayang, sayang, sayang...."


Suara Doni semakin jelas terdengar. Berulang-ulang menyebut kata sayang kepada Sari.


Brakk!!


Pintu kamar itu terbuka lebar. Tania melihat dengan mata kepala sendiri lelaki yang sudah dua tahun ini menjadi suaminya tengah asyik bercinta dengan teman karibnya.


Sayangnya Doni dan Sari masih tidak sadar dengan kedatangannya. Karena kebetulan saat Tania memergoki, pria itu sedang berada dalam puncak kenikmatan dan ambruk di atas tubuh Sari.


Mulut Tania sangat gemetar, juga berderai air mata yang cukup deras, saat ia memanggil nama suaminya itu.


Doni menoleh, pun juga dengan Sari.


"Tania!!"


Bersamaan keduanya kaget melihat adanya Tania yang berdiri di ambang pintu kamarnya saat ini.


Cukup! Cukup sudah Tania melihatnya. Langkah kakinya perlahan mundur. Rasanya sudah tak mampu jika berlama-lama berada di ruangan yang seperti penuh dengan kobaran api neraka.


Setelah itu Tania segera berlari keluar rumah. Lari sekencang-kencangnya. Tanpa tahu harus kemana lagi dirinya akan pergi saat ini. Masih dengan derai air mata yang menetes, Tania tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang melihatnya keheranan.


"Ya Allah... Kenapa ini harus terjadi pada hidupku?" batin Tania mulai meronta-ronta.


Sedangkan keadaan di rumah Sari sendiri, wanita itu langsung turun dari kasurnya begitu kepergok oleh Tania tadi. Tetapi langkah kakinya dicegah oleh Doni saat wanita itu berencana akan mengejar Tania.


"Sudahlah! Buat apa kamu mau kejar dia?" ucap Doni sedikit meninggikan suaranya kepada Sari.


"A--aku...."

__ADS_1


Tetapi kemudian Sari terdiam cukup lama.


"Aku bingung!" satu kata itu akhirnya keluar dari mulut Sari.


"Sini deh..."


Doni menarik tubuh Sari yang hanya terbungkus selimut, menuntunnya duduk di atas pangkuannya.


"Nggak usah mikirin wanita jelek itu lagi. Biar saja dia pergi sendiri. Dengan begini aku akan mudah untuk bisa cerai sama dia. Dia pasti nggak tahan tadi. Aku yakin, dalam waktu dekat ini Tania pasti meminta cerai. Kalau iya, aku akan minta dia yang beli akta cerainya. Biar kita bisa segera menikah," ucap Doni penuh kelicikan.


Perlahan sudut bibir Sari tertarik membentuk lengkungan. Wanita itu langsung sumringah saat mendengar pria yang dicintainya itu berjanji akan menceraikan Tania dan akan menikahinya. Walau nyatanya Sari menjadi pelakor dari sahabatnya, tetapi tiada kesedihan sama sekali yang dipancarkan wajahnya saat ini.


"Kalau misalnya Tania memilih memaafkan kamu, trus misalnya kalian nggak jadi cerai, kamu lebih memilih balik sama Tania lagi, aku khawatir kalau itu beneran terjadi."


Doni langsung tertawa mengejek saat itu juga. Lalu mendaratkan kecupan singkatnya di pipi Sari.


"Jangan khawatir. Sudah ku bilang perempuan tonggos itu nggak akan tahan. Dia nggak akan kuat melihat kita begini barusan. Atau apa perlu kita mengulangnya lagi seperti tadi, hem?"


Jemari tangan Doni mulai membelai di pipi Sari. Sorot matanya mengerling nakal, menatap haus pada setiap lekuk tubuh Sari.


"Siapa tahu setelah ini Si Tonggos tuh balik lagi. Biar tambah afdol, mergokin kita begituan kedua kali. Haha...."


Usai mengatakan itu, Doni langsung membimbing tubuh Sari agar kembali berbaring. Dan Sari hanya bisa diam. Pasrah saja saat pria itu mulai menggoyang lagi di atas tubuhnya.


"Aduh, Sayang... Makin ke sini kamu makin pintar. Yang begini nih, yang sulit buat aku berpaling sama wanita lain."


"Diem, Mas. Jangan meracau, nikmati saja," seru Sari dengan rona wajahnya yang memerah menahan malu.


"Ah, enak banget, Sayang."


*


Hai Hai semua.... 🤗


Tak bosan othor terus meminta dukungan dari kalian semua ya...


Budayakan like dan komentar setiap selesai baca part nya. Othor juga menerima bunga dan kopi loh, biar tambah semangat🤭


Eh, Btw... Novel othor sudah kalian subscribe belum?


Wajib subscribe ya... 😁


Apa iya nggak penasaran bagaimana kisah Doni dan Tania selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2