Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Eps 12


__ADS_3

Tania tercengang begitu melihat pria lacknat itu kembali muncul di depannya. Padahal sebelumnya ia santer berdoa agar tidak lagi di pertemukan dengan pria itu. Tetapi takdir berkata lain. Baru satu jam lebih indah kembali ke Indonesia, rupanya alam sudah mempertemukan mereka kembali.


Pria bernama Doni itu tersenyum nakal menatap wajah Tania yang memang lebih cantik di banding wajah Siska. Buru-buru Tania membuang muka ke arah lain, sudah muak menatap wajah yang dulu pernah ia panut sebagai imam keluarganya.


"Cih! Sombong sekali. Untung cantik," umpat Doni kepada Tania yang kentara berpaling darinya.


Tetapi Tania kemudian bisa bernafas dengan lega, setelah mengetahui rupanya pria itu benar-benar tidak mengenalinya lagi. Setelah pria itu keluar dari warung untuk makan di teras warung itu, barulah Tania menyenggol lengan Siska.


"Ada apa?" tanya Siska curiga setelah melihat wajah Tania sedikit memucat.


"Buruan pulang," bisik Tania agar tidak di dengar oleh ibu Ima.


Tetapi Siska yang memang tidak tahu menahu apa penyebab kegelisahan pada Tania, masih menolak pulang karena nanggung makanannya belum habis.


"Bisa mubadzir nih," seru Siska sambil menyendoki makanannya ke mulut.


Tania hanya bisa mendengus melihatnya. Wanita itu bahkan tidak berani lagi menoleh ke belakang. Karena memang saat ini Doni duduk tepat di belakangnya, walau masih terhalang kaca pembatas tetapi Tania benar-benar merasa takut akan ketahuan siapa dirinya.


"Ta, makan noh, habisin, mubadzir tau," tegur Siska karena melihat Tania hanya bengong tanpa mau memakan makanannya lagi.


"Udah kenyang, Sis," jawab Tania.


Siapa yang tidak mendadak kenyang setelah kembali di pertemukan dengan lelaki yang pernah membuatnya ftustasi dan sampai nekat mau bunuh diri. Jemari wanita itu memilin gelisah, begitu tak tenang yang di rasanya saat ini.


"Aah, Alhamdulillah...." ucap Siska begitu makanannya sudah habis.


"Yuk buruan," Tania langsung menarik lengan Siska.


"Tunggu dulu napa, belum minum juga, haus..."

__ADS_1


Dan Siska masih menikmati sisa es teh yang di pesannya tadi.


"Semuanya berapa, Buk?" tanya Tania kepada ibu Ima.


"Empat puluh ribu, Mbak," jawab ibu Ima.


"Eh, murah banget! Tiga porsi cuma empat puluh ribu doang?" Siska terpekik kaget mendengar total biaya makan di warung milik ibu Ima itu.


Apalagi pecel yang di makan barusan benar-benar mantap. Rasanya tidak rugi menjadi pelanggan tetap ibu Ima setelah ini.


Tania tidak lagi banyak bicara. Segera wanita itu memberikan selembar uang biru kepada ibu Ima.


"Kembaliannya buat Ibu," ucap Tania yang langsung mendapat senyuman hangat dari ibu Ima.


"Waah... Terimakasih, Mbak-mbak. Lain kali mampir lagi ya. Warung ibu bukanya setiap hari, dari pagi sampe jam sepuluh malam. Jangan lupa ajak juga teman-teman mbak buat makan di sini juga," ucap ibu Ima sekalian promosi.


Siska tertawa kecil mendengarnya.


"Baru kali ini ada orang kaya takut kehabisan duit," batin ibu Ima bermonolog.


"Eh, mari Buk, kita permisi," pamit Tania kemudian.


Lalu Tania dan Siska keluar dari warung sederhana itu. Sejenak Siska tak sengaja bertatapan dengan pria yang usil tadi. Tetapi Tania tetap berlenggang masuk ke mobil, sama sekali tidak menghiraukan mata nakal Doni yang langsung berbinar melihat perempuan kinclong bin bening seperti Tania.


"Sumpah ya, tadi tuh orang rese banget! Ganteng masih mending, nah dia? Mana dekil, tattoan pula, emang dia preman di sana kali ya?" heboh Siska saat mobil yang mereka naiki sudah kembali melaju di jalanan Ibu kota.


Tetapi Tania tidak menanggapi apa-apa celotehan Siska itu. Terus terang ia bingung mau mengakui jika pria tadi itu adalah Doni. Karena jika tidak di ceritakan khawatir suatu saat tak sengaja bertemu lagi, maka Siska bisa menghindarinya.


"Ta, bengong terus? Ada apa sih?" tanya Siska curiga lagi.

__ADS_1


"Eh, nggak pa-pa, Sis. Cuma agak pusing saja. Bisa nggak aku nggak ikut ke klinik. Rasanya aku pingin cepat-cepat istirahat."


"Tapi dokter Yudha pingin kita ke sana dulu," ucap Siska yang merasa harus patuh dengan perintah dokter Yudha, karena memang selama ini ia bekerja dengannya.


"Kamu aja yang ke sana, aku nggak bisa ikut, maaf..."


Siska meneliti aura wajah Tania. Sepertinya wanita itu memang sedang kurang baik. Di lihat dari wajahnya yang gelisah, mungkin lebih baik Tania segera sampai rumah untuk beristirahat. Aah, andai ia tidak terlanjur berjanji akan membelikan makanan kepada dokter Yudha, mungkin Siska juga memilih langsung pulang.


"Baiklah. Ini kunci rumah aku. Sampai sana kamu langsung tidur saja di kamar, beres-beresnya besok aja." Siska menyerahkan kunci rumahnya kepada Tania.


Siska memang sudah memiliki rumah sendiri hasil dari menyicil setiap bulan. Perumahan kecil berukuran type 36 itu adalah hasil dari jerih payahnya yang ia kumpulkan selama menjadi perawat. Apalagi tiga bulan terakhir ini gaji yang di dapatnya lumayan fantastis bagi seorang perawat sepertinya. Sebab Zafran memberinya upah dua kali lipat dari gaji bulanannya sebagai seorang perawat. Tentu dengan syarat agar Siska ikut membujuk Tania untuk tidak lagi menuntut atas kejadian kecelakaan itu.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di klinik milik Yudha. Hanya Siska yang keluar dan segera menemui dokter Yudha di ruang kerjanya. Dan Tania sendiri kembali di antar oleh sopir yang mengendarai mobilnya itu.


Selama perjalanan itu Tania memilih diam saja. Apalagi lelaki muda yang menjadi sopir itu juga sama-sama diam. Jadilah suasana menjadi hening. Hanya terdengar keramaian kendaraan yang melintas di jalanan itu.


Sebelumnya Siska sudah memberitahu kepada sopir itu di mana alamat rumahnya. Dan Tania yang memang tidak tahu sama sekali di mana rumah Siska, hanya duduk pasrah ke mana sopir itu membawanya.


Hingga sampai sopir itu berhenti di depan sebuah toko otomotif yang sangat besar mirip swalayan, barulah Tania tersadar jika itu tidak mungkin rumahnya Siska.


"Maaf, Nona, saya harus menjemput tuan Zafran dulu," seru sopir itu dengan ramah.


"Eh, jangan panggil aku nona. Aku bukan nona kamu."


"Maaf, kalau saya salah mrmanggil," ucap sopir itu lagi.


Tidak salah jika sopir itu beranggapan Tania adalah teman dari Zafran, majikannya. Karena tadi dirinya hanya di perintah untuk menjemput ke bandara tanpa menjelaskan siapa yang di jemputnya ini. Apalagi paras Tania yang juga rupawan, membuat sopir itu sempat salah paham kalau Tania adalah kekasih Zafran.


Segera sopir itu keluar dari mobilnya. Lalu hanya berdiri di depan pintu utama toko itu sambil bertelponan. Tania hanya memandanginya dari dalam mobil. Seketika ia tersadar jika sopir tadi bilang akan menjemput tuan Zafran. Apakah ini saatnya Tania akan bertemu dengan pria yang membuatnya berubah seperti ini?

__ADS_1


*


__ADS_2