Setelah Kau Hianati

Setelah Kau Hianati
Part 16


__ADS_3

Zafran keluar dari ruang kerjanya dengan mengenakan pakaian seragam seperti karyawannya yang bekerja di toko itu. Banyak mata memandang heran atas tampilannya yang tak biasanya. Tetapi Zafran terlihat biasa saja, karena ia sudah memasrahkan Yoga untuk menjelaskan ini semua kepada seluruh karyawannya.


Pria itu berjalan keluar tokonya untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya sedari tadi. Begitu orang itu melihat tampilan Zafran yang jauh berbeda dari saat pertama bertemu itu, matanya menyorot heran kepada Zafran.


"Tuan," sapa Doni kepada Zafran.


"Sudah ku bilang jangan panggil aku tuan, nanti bisa kedengeran yang lain." Zafran pura-pura panik sambil menoleh ke belakang, seperti takut di lihat orang.


Dan Doni hanya manggut-manggut patuh.


"Ada apa ke sini?" tanya Zafran.


"Ee... Itu--"


Doni terlihat bimbang untuk mengatakannya. Sebelumnya pria itu sudah menyusun rencana bagus setelah memergoki Zafran masuk ke toko itu dengan tampilan layaknya bos pemilik toko ini. Tetapi setelah melihat Zafran yang juga berseragam sama seperti karyawan di dalam, Doni agak ragu.


"Ah, iya... Apa kamu ke sini mau melamar kerja?"


Doni mengangguk ragu.


Sebenarnya pria itu malas berurusan dengan pekerjaan yang mengikat dirinya dengan aturan-aturan yang di buat di tempat kerjanya. Jika bukan karena Sari yang hampir tiap saat ngomel-ngomel karena Doni yang pengangguran, membuat pria itu terpaksa datang ke toko ini.


"Ayo masuk. Aku antar kamu temui bos ku, mumpung orangnya ada," ajak Zafran.


Meski agak ragu akhirnya Doni mengikuti Zafran masuk ke toko itu. Di sana Zafran mengedipkan matanya kepada karyawan yang kebetulan ingin menyapanya. Beruntung semua paham dan akting yang di lakoni Zafran berjalan mulus.


"Pak Yoga," sapa Zafran berdrama hormat kepada karyawan yang sebenarnya ia tugaskan sebagai personalia di toko miliknya.


"Eh, i-iya.." Yoga menyahut kikuk. Bos nya sendiri memanggilnya sebutan pak rasanya gimana gitu.


"Ada tamu ingin bertemu anda," ucap Zafran lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Yoga.


"Ooh... baiklah." Lalu Yoga mengajak Doni duduk dalam ruang kerjanya.


"Kamu boleh pergi. Oh ya, jangan lupa hari ini cek orderan barang yang datang. Nanti laporkan sama saya, paham?" titah Yoga di luar batas.


Zafran mendelik menatap Yoga. Tetapi sepertinya karyawan yang satu itu teramat serius menjalani perannya.


"Kenapa masih belum pergi?" ucap Yoga lagi.


"Eh, ee... iya, Pak."


Lalu Zafran keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega bercampur dongkol. Sekali di beri peran pengganti dirinya, tak tahunya Yoga sudah ngelunjak. Pria itu meraih ponselnya yang ia simpan di saku bajunya. Dengan cepat jarinya mengetik pesan singkat untuk Yoga.

__ADS_1


[Heh, jangan ngelunjak kau! Buruan beresin pekerjaan mu! Cepat urus orang itu!]


Pesan terkirim kepada Yoga.


[Siap, pak Bos. Maaf... ]


[Aku mau keluar. Selesai kau mengurusnya, bilang padaku.]


[Oke!]


Setelah saling berkirim pesan itu kemudian Zafran segera pergi dari tokonya.


Baru beberapa meter keluar dari tokonya tiba-tiba ponselnya berdering. Zafran menepikan mobilnya untuk menjawab telpon yang rupanya dari ayahnya.


"Jangan sampai ayah tanya soal semalam," batin Zafran seketika was-was.


"Assalamu'alaikum, Yah," sapa Zafran dengan sopan.


"Wa'alaikum salam. Ada di toko, Zaf?"


"Eem... Kebetulan lagi di luar, Yah. Ada apa?"


"Bisa mampir ke pabrik dulu tidak?"


"Baiklah. Tapi tidak lama kan, Yah?"


Zafran menarik nafasnya dalam-dalam. Sejujurnya ia sangat malas menemui ayahnya hari ini setelah kebohongan yang ia katakan semalam. Tetapi jika tidak di temui takutnya itu hal penting yang ingin di sampaikan oleh ayahnya mengenai pabrik.


Lalu setelah itu Zafran kembali melajukan mobilnya menuju pabrik milik keluarganya.


Sedangkan pagi itu di rumah Siska, perempuan berprofesi sebagai perawat di klinik Yudha itu hari ini sedang libur kerja. Tidak tanggung-tanggung Yudha malah memberinya libur selama tiga hari. Dengan begitu akan membuat Siska bisa bersantai tanpa di buru jam berangkat kerja.


Hari ini Tania dan Siska berencana akan pergi ke rumah kontrakan Tania yang dulu. Tujuan wanita itu datang ke sana hanya ingin mengambil berkas penting miliknya, termasuk ijazah dan KTP biar gampang melamar pekerjaan. Selain dua barang itu Tania sudah tidak peduli.


Kedua wanita itu sengaja berpenampilan tertutup agar tidak mudah di kenali orang saat nanti berada di rumah kontrakan itu. Dan kini keduanya sudah berangkat sambil berboncengan menaiki motor milik Siska.


"Makasih ya, Sis. Kamu baik sekali deh," ucap Tania sangat senang karena Siska akhirnya mau mengantarnya hari ini.


"Hem, sama-sama." Siska menyahut malas.


"Masih nggak ikhlas ya nganterin aku?"


"Bukan nggak ikhlas, Ta, tapi takut. Iih... Ngeri aja kalau tiba-tiba ketemu mantan suami kamu di sana," seru Siska sambil begidik sendiri.

__ADS_1


Semalam Tania menceritakan kepada Siska siapa laki-laki yang menggoda mereka saat mereka makan di warung ibu Ima itu. Dan setelah Siska tahu kalau pria itu adalah mantan suami Tania, tentu Siska sangat takut jika nanti tak sengaja akan bertemu lagi.


Di lihat dari tampang dan kebiasaannya itu Siska sudah paham jika mantan suami Tania itu tidak baik orangnya.


"Kita berdoa saja semoga hari ini tidak ketemu dia lagi," ucap Tania terdengar tenang padahal sebenarnya sama-sama was-was.


"Aamiin... Aku aminin yang kenceng biar do'a kamu terkabul." Lalu Siska menarik stang motornya lebih kencang agar segera sampai di alamat rumah kontrakan Tania itu.


Sesampainya di rumah kontrakan itu mereka berdua tidak segera turun dari motornya, masih mengintai keadaan sekitar, menyatakan benar-benar aman dari adanya Doni di sana. Kebetulan saat itu ada ibu pemilik kontrakan yang lewat, dan itu memudahkan Tania untuk menjalankan drama yang sudah ia susun.


"Assalamu'alaikum, Ibu," sapa Tania dengan suaranya yang di rubah dari biasanya.


"Waalaikum salam." Ibu itu menghentikan langkahnya, menoleh kepada Tania dan Siska dengan tatapan heran.


Lalu Tania mendekat kepada ibu itu dan kemudian mengajaknya berjabatan tangan. Sedangkan Siska di tugaskan untuk mengintai keadaan, takut tiba-tiba Doni datang saat Tania sedang asyik mengobrol dengan ibu itu.


"Kamu siapa?" tanya ibu itu kepada Tania.


"Mm... Begini, Bu. Saya mau tanya apakah ibu tahu rumah kontrakan Tania?" Tania memulai aktingnya.


"Itu," ibu itu menunjuk pada sebuah rumah yang terlihat kotor seperti tak berpenghuni lagi.


"Itu, Ibu. Kalau begitu terimakasih ya, Bu," ucap Tania yang kemudian akan beranjak ke rumah itu tetapi di cegah oleh ibu itu.


"Tania tidak ada, Dek," seru ibu itu.


"Sudah lama tidak ada kabar, tiba-tiba menghilang begitu saja," jelasnya.


Tania berpura-pura kaget mendengarnya.


"Tapi suaminya ada kan, Bu?" tanya Tania yang sebenarnya juga ingin tahu selama ini Doni ada di mana. Hitung-hitung buat jaga keamanan diri kalau sudah tahu pria itu tinggal di mana.


"Sudah hampir sebulan ini nggak ke sini lagi."


Tania manggut-manggut lega.


"Kamu tahu nggak, Dek, semua barang elektronik punya Tania di jual sama Doni. Makanya ibu sering lewat sini buat jaga-jaga takut kursi sama lemari punya ibu di sana ikutan di jual sama dia," bisik ibu itu menjelaskan.


Tania hanya mengangguk-angguk saja.


Ibu pemilik kontrakan itu membiarkan Doni leluasa keluar masuk rumah itu karena memang sewa kontrakan itu masih ada sisa. Sebelum kejadian naas itu, Tania sudah membayar uang kontrakan itu selama empat bulan. Jika di hitung-hitung akan berakhir bulan ini.


"Sudah pulang saja sana. Tania nggak ada juga," seru ibu itu lagi.

__ADS_1


Tania mengangguk pelan. Setelah ibu itu pergi cukup jauh, Tania langsung melesat cepat masuk ke rumah itu. Beruntung sekali rumah itu tidak terkunci. Dan segera Tania mencari barang penting miliknya, di bantu juga oleh Siska yang ikut masuk ke rumah itu.


*


__ADS_2