
Dengan perasaan berdebar-debar dan penuh ke seriusan. Aku pun mulai membaca surat dari Mas Yoki, yang di tulis tangan dengan tinta pena warna hitam. Dalam kertas polio yang berjumlah sepuluh halaman.
Dimana setiap lembar kertas polio yang ku baca, semakin membuat diri ku jauh lebih mengenal dirinya.
Dengan melafadzkan basmalah.
Aku pun perlahan demi perlahan membaca surat nya.
Halaman pertama:
Jogjakarta, 03 Januari 2011.
Assalamu'alaikum Warohmatulohi Wabarokatuh.
Adek Wulan.
Sebelumnya aku meminta maaf kepada Dek Wulan.
Jika tulisan tangan ku jelek dan alur ceritanya mungkin sedikit membingungkan.
Jujur aku bingung harus memulai dari mana dan apa yang harus aku ceritakan tentang diri ku. Tetapi aku berusaha untuk bisa menceritakannya, yaitu semua cerita hidup ku ini.
Meskipun tidak semuanya bisa aku tulis di sini. Baiklah jika begitu aku akan mulai mulai bercerita dari.
Latar belakangku dan pendidikanku;
Aku terlahir dari rahim seorang ibu asli Jawa dan bapak yang asli keturunan orang Madura.
Di sebuah desa kecil di ujung kota Jember-Jawa Timur. Masa kecil ku sama seperti anak-anak kecil pada umumnya, tetapi aku cenderung menjadi anak pemalu, pendiam, dan penakut bila berhadapan dengan orang lain yang belum aku kenal.
Bahkan waktu sekolah TK pun.
Aku harus di antar dan di tungguin oleh kakek sampai pulang sekolah.
Kebiasaan itu pun berlanjut hampir sampai dua tahun lamanya.
Hingga menginjak sekolah dasar, aku harus pindah ke desa terpencil mengikuti bapak yang di pindah tugaskan.
Oh iya, Dek Wulan.
Bapak ku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, yang sering di mutasi ke desa-desa yang jauh dari desa tempat ku tinggal.
Sedangkan Ibu ku hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, sambil berjualan kecil-kecilan untuk menopang ekonomi di keluarga.
Di tempat yang baru aku mulai agak berani berangkat sekolah sendiri, meskipun masih mengandalkan teman-teman baru untuk berangkat bersama-sama.
Di tempat itu aku banyak bergaul dengan teman sebaya ku. Dan untuk mengisi masa kecil ku di sana.
Aku dan teman-teman menghabiskannya dengan mandi di sungai, memancing, bermain sepeda dan lain-lain.
Sekitar dua tahun kemudian.
Aku pun terpaksa harus meninggalkan teman-teman ku dan pindah sekolah.
Dan kembali lagi ke desa asal ku.
Hal ini di karenakan tugas bapak ku di desa tersebut sudah selesai dan balik lagi ke kantor asalnya.
Lalu aku pun meneruskan sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal ku.
Sampai di situ, adik kedua ku lahir melalui operasi cesar.
Dimana orang tua ku yaitu ibu ku harus opname di rumah sakit sekitar dua Minggu.
Dari situ aku pun kemudian berpikir untuk bisa melakukan sesuatu dengan sendiri. Karena konsentrasi orang tua ku pasti terpecah, untuk adik kecil ku yang baru lahir ke dunia ini.
__ADS_1
Maka dari itu semua perlengkapan sekolah aku selalu menyiapkannya sendiri.
Dua sampai tiga tahun setelah itu.
Setiap aku bermain keluar rumah.
Aku selalu menggendong adik kecil ku. Meskipun banyak teman-teman yang kurang nyaman.
Karena aku harus mengajak adik ku, untuk ikut turut bermain.
Tetapi aku berpikir inilah resiko anak pertama yang harus bisa
nge-mong adik-adiknya.
Karena ibu di rumah harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Kebiasaan itu berlanjut sampai aku menginjak kelas enam sekolah dasar.
Tetapi sudah agak jarang, karena aku harus konsentrasi belajar dan ikut les atau kursus untuk persiapan Ujian Nasional.
Karena dengan cara lulus dari Sekolah Dasar. Bapak ku menjanjikan akan mengkhitankan aku.
Dari situ semangat ku terlecut untuk bisa lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Bahkan di tengah persiapan ujian kelulusan ku.
Aku mendapatkan tambahan semangat yaitu lahirnya adik ketiga ku.
Ternyata pengorbanan ku tidak sia-sia, setelah tahu hasil ujiannya.
Nilai ku tergolong baik dan cukup untuk bisa melanjutkan di SLTP favorit.
Halaman kedua:
Meskipun rasa penakut ku belum hilang.
Alhamdulillah lega rasanya.
Tetapi aku tahu perjuangan ku belum berakhir.
Tahun pertama ku lewati tanpa menyampingkan tugas-tugas di rumah, yaitu dengan membantu ibu dan mengasuh adik-adik.
Memasuki di tahun kedua prestasi, kedisiplinan dan ketekunan ku di sekolah agak terganggu.
Mungkin karena terbawa pergaulan jadi sering bolos sekolah.
Yaitu ikut keluar bersama teman waktu pelajaran dan sering nongkrong yang tidak jelas.
Tetapi suatu hari, semua kebiasaan ku itu langsung berhenti total.
Di karenakan bapak di panggil ke sekolah. Dan pihak sekolah memberitahukan kepada bapak ku.
Bahwa satu bulan ini aku hanya masuk kelas selama sepuluh hari saja.
Dari situ bapak aku selalu membatasi pergaulan ku, dan selalu memonitor kemana pun aku pergi.
Jadi setiap pulang sekolah aku hanya di kasih izin main di sekitar rumah.
Sehabis itu langsung ikut mengaji di surau sampai jam 09.00 malam.
Setelah pulang mengji aku di haruskan untuk belajar sebentar dan tidur hingga jam 04.30 pagi.
Di lanjutkan dengan salat subuh.
Terus belajar lagi sambil menemani nenek dan ibu memasak, untuk berjualan aneka sayur matang di warung nasi milik nenek ku.
__ADS_1
Setelah itu, aku pun baru mandi dan terus bersiap berangkat ke sekolah.
Tentunya dengan di temani sepeda gayung kesayangan ku.
Kebiasaan itu berlanjut hingga di tahun ketiga, sampai aku lulus SLTP dengan nilai yang agak mencengangkan.
Karena aku masuk sepuluh besar terbaik di SLTP ku itu.
Padahal dari kelas satu sampai kelas tiga, bisa di bilang prestasi ku sangat pas-pasan.
Tetapi semua itu aku syukuri saja dan bisa membuat diri ku berbangga hati.
Walaupun banyak pertanyaan dari teman-teman yang bernada sindiran.
Tetapi apa pun itu perkataan mereka.
Aku hanya mengacuhkannya saja.
Sebab itu adalah hasil belajar ku dan sikap keras orang tua ku.
Lulus dengan nilai yang lumayan baik.
Bukan berarti kepercayaan orang tua, bisa membuat aku memilih sekolah apa yang ingin aku masuki.
Justru di situ masalahnya.
Jujur waktu itu aku tidak ingin masuk SMU. Aku hanya ingin masuk STM ,karena aku berpikir sekolah di kejuruan mempunyai nilai plusnya.
Di karenakan selain kita dapat pelajaran umum.
Tetapi kita juga dapat keahlian yang berorientasi langsung ke dunia kerja.
Nah,di situ aku dapat tantangan keras dari bapak ku.
Di karenakan image STM di tempat ku itu selalu bikin rusuh dan banyak tawuran di jalan, daripada belajar di kelas.
Dari situ semangat ku down sekali dan hampir ingin masuk pondok pesantren saja.
Tetapi lagi-lagi aku harus pasrah terhadap sikap otoriter bapak, yang tanpa sepengetahuan ku sudah mendaftarkan aku ke sekolah kejuruan juga.
Tetapi SMEA dan ketika aku tahu bukan main kecewanya diri ku.
Hingga sampai aku tidak bertegur sapa dengan bapak selama dua hari.
Karena di mata ku itu SMEA hanya diisi anak-anak perempuan saja.
Jika pun ada anak laki-laki.
Tetapi pasti sedikit sekali dan pastinya anak laki-laki yangvmelambai.
Namun, sekali lagi aku sadar.
Mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus ku jalani.
Meskipun masuk pertama sekolah sedikit malas-malasan.
Tetapi semua prasangka atau pikiran ku tentang sekolah itu berbalik dan tidak benar sepenuhnya.
Meskipun masih anak perempuan yang mendominasi.
Tetapi anak laki-laki nya tidak semuanya melambai.
Maka dari situ lah aku sedikit agak betah.
Karena aku mulai kenal dengan teman-teman yang sealiran.
__ADS_1
Maksudnya satu aliran musik rock.