Setumpuk Rindu Dalam Kata.

Setumpuk Rindu Dalam Kata.
Surat Mas Yoki :part 2


__ADS_3

Setelah membaca dua halaman dari surat yang di kirim Mas Yoki.


Aku jeda sebentar sembari meneguk air putih dingin dari botol yang aku ambil dari lemari pendingin.


Dari dua halaman surat yang ku baca, perasaan ku mulai merasa semakin dekat dan lebih mengenal Mas Yoki secara perlahan.


Dan dengan rasa penasaran dan tidak sabar, aku pun segera meneruskan membaca surat dari Mas Yoki ke halaman berikutnya.


Halaman ke tiga:


Dari situ aku mulai berpetualangan mencari hal-hal baru dari hidup ini.


Hingga kpercayaan kedua orang tua ku sedikit demi sedikit pulih kembali.


Semua itu tidak lepas, karena orang tua ku juga harus memberikan perhatian pada kedua adik ku yang masih kecil.


Tetapi bukan berarti aku lepas kendali. Dimana kegiatan mengaji ku masih tetap berjalan dengan sangat baik.


Hal ini di karenakan aku di besarkan di keluarga yang fanatik dan sangat keras akan kedisiplinan agamanya.


Apalagi aku tinggal bersama nenek yang nilai religiusnya sangat tinggi, dan sangat menjaga peraturan nilai -nilai agama.


Dimana nenek ku itu tidak akan segan-segan selalu mengontrol tentang salat.


Apa pun yang sedang kita lakukan atau seberapa sibuknya kita.


Jika sudah waktunya salat.


Nenek ku yang jadi panglimanya.


Dimana dengan berbekal sapu lidi.


Nenek selalu menanyakan kepada kami semua.


"Sudah salat belum?," tanyanya nya.


Jangankan kita berbohong.


Untuk menunda salat pun, kita semua tidak akan berani.


Karena nenek tidak segan-segan memukul, agar kami semua segera menyegerakan salat.


Nah, tulah sekilas tentang kedisiplinan nenek ku Dek Wulan.


Meskipun terlihat seperti ratu yang tega.


Tetapi terkadang aku sangat merindukan pukulan sapu lidinya lagi.


Hehehehe.


Oke,Dek Wulan.


Kita balik lagi ceritanya ke masa sekolah ku. Bersekolah yang kebanyakan di huni anak perempuan.


Bohong besar , jika aku tidak tertarik dengan salah satu anak perempuan yang bersekolah di tempat aku juga sekolah.


Tetapi mungkin itu hanya cinta monyet saja.


Di tahun pertama tidak banyak prestasi yang dapat aku ukir.


Mungkin aku kalah dari siswi perempuan yang tekun-tekun dalam belajar nya.


Malah aku itu tergolong murid yang agak nakal.


Karena sampai tiga kali di panggil


Guru Bimbingan Penyuluhan (Guru BP).


Mungkin sekarang lebih sering dikenal dengan perubahan istilah penyuluhan menjadi konseling, namanya berubah menjadi Guru Bimbingan Konseling (Guru BK).


Tapi semua kenakalan yang aku lakukan itu, masih dalam batas kewajaran dan tidak sampai memanggil kedua orang tua ku segala.


Sehingga masih aman dan terkendali dengan baik.


Hal itu pun harus ku tebus dengan menjadi pengurus koperasi sekolah.


Dimana sanksi atas hukuman yang ku terima atas kenakalan ku itu, adalah bertujuan agar sedikit mengurangi kenakalan ku.


Tetapi di sini bukan hanya aku saja yang di ikutkan organisasi.


Tetapi teman-teman band ku juga ikut.


Namun, kami semua dipisah-pisah kan dan tidak di jadikan menjadi satu.


Mungkin supaya kami tidak membuat kenakalan bersama lagi.


Masuk di tahun kedua mulai ada sistem jurusan di sekolah ku itu.


Yaitu ada tiga jurusan meliputi:

__ADS_1


1.Sekretaris : biasanya hanya di isi murid-murid yang ingin menjadi orang kantoran.


2.Akuntasi: yang kebanyakan muridnya suka membawa buku besar-besar dan tebal-tebal.


3.Penjualan: Nah, kalau yang ini di isi oleh murid yang ingin jadi sales.


Dan kebanyakan di isi oleh anak-anak yang agak bandel dan nakal termasuk aku di dalamnya.


Bandel atau nakal di sini, bukan seperti tawuran di jalan, atau melakukan tindakan yang ekstrem hingga membahayakan orang lain.


Bukan seperti itu ya Dek Wulan.


Tetapi bandelnya hanya di dalam kelas seperti tidur di dalam kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung, menganggu guru yang sedang mengajar dan lain-lain.


Selain itu, aku juga tetap rajin belajar. Meskipun tidak seintens waktu SMP.


Soalnya konsentrasi ku terpecah belah.


Hal itu di sebabkan katena latihan ngeband dengan teman-teman dan bermain bola.


Enaknya sekolah di kejuruan itu, setiap tiga bulan menjelang kenaikan kelas.


Semua murid di wajibkan mengikuti praktek kerja industri.


Yang keuntungannya dapat di tempatkan di instansi atau perusahaan yang terkait dengan jurusannya masing-masing.


Waktu itu aku di tempatkan di perusahaan minuman kemasan.


Memasuki tahun ke tiga masa di sekolah ku.


Aku pun mulai meninggalkan sedikit demi sedikit kebiasaan ku untuk bermain musik.


Karena ternyata sulit untuk menjadi musisi.


Sehingga aku ingin kembali fokus pada ujian di akhir sekolah, yang banyaknya minta ampun.


Hingga semua tahapan ujian itu kelar dan hasil nilai yang ku dapatkan juga tidak mengecewakan.


Setelah lulus, aku pun menjadi bingung.


Inginnya sih kuliah, tetapi bapak sudah sakit-sakitan.


Sehingga aku putuskan untuk mencari pekerjaan saja.


Demi membantu ekonomi keluarga ku saat itu.


 


Halaman ke empat:.


Pekerjaan, asmara dan bayangan masa depan.


Setelah sadar akan kondisi keluarga ku, yang tidak memungkinkan untuk ku melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.


Maka aku pun memutuskan untuk bekerja saja.


Apalagi kondisi bapak yang sudah tidak layak lagi, untuk melanjutkan kerja di instansi pemerintahan.


Dan mengharuskannya untuk pensiun dini.


Hal ini di karenakan bapak menderita penyakit darah tinggi dan stroke.


WOW.


Rasanya dunia mau kiamat untuk ku.


Tetapi aku mencoba untuk bersikap tenang, sambil meminta petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Hingga aku membulatkan tekad untuk merantau ke Surabaya ,dengan hanya berbekal ijazah dan uang saku yang pas-pasan.


Untungnya di Surabaya ada saudara yang mau menampung aku selama mencari pekerjaan.


Turun naik angkot dan berjalan menyusuri areal pabrik.


Kemudian menanyakan mengenai lowongan pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain.


Hal itu pun aku pernah melakukannya.


Sampai hampir setiap hari selama kurang lebih dua bulan.


Meskipun ada yang mau menerima dan harus mengikuti tes.


Tetapi semua itu percuma, karena aku tidak kenal dengan orang dalam.


Sehingga aku tidak bisa di terima untuk bekerja.


Hingga suatu hari.


Ada temannya saudara ku yang mau membantu diri ku, untuk bisa kerja di tempatnya.

__ADS_1


Tetapi itu pun masih menunggu beberapa hari lagi.


Hingga aku dapat bekerja di sana.


Dan aku pun baru sadar.


Jika bekal atau uang saku yang ku bawa dari rumah semakin menipis.


Ingin meminta ke saudara pasti malu.


Sehingga aku memutuskan untuk bekerja apa saja.


Intinya supaya dapat untuk bertahan hidup dan untuk ongkos mencari pekerjaan.


Jadi ketika ada teman yang mengajak pekerjaan kasar.


Aku mau saja.


Dan itu pun aku lakukan, tanpa sepengetahuan saudara ku.


Dari situlah, akhirnya aku bisa pegang uang lagi.


Meskipun kerja kasar itu hanya seminggu, karena aku di terima kerja di tempatnya teman saudara ku.


Mulai saat itu aku bekerja di pabrik kertas di daerah Sidoarjo sebagai pegawai kontrak, yang setiap tiga bulan harus rela di istirahatkan dan di panggil lagi.


Mulai dari tukang angkat sampai menjadi administrator gudang.


Aku mengerjakan nya di tempat itu.


Kurang lebih dua tahun aku bertahan di tempat itu.


Sampai pada akhirnya, ada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM ) dan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.


Dimana aku terkena juga dampaknya.


Bingung mau kemana lagi mencari pekerjaan.


Tetapi aku tetap bersabar.


Dengan hanya berbekal uang pesangon.


Aku pun berusaha untuk bertahan hidup dan mencari pekerjaan lagi.


Tetapi hampir tiga bulan berlaku.


Tidak ada lowongan pekerjaan juga.


Hingga aku pun melihat isi di dalam dompet ku yang sangat menipis, dan hanya cukup untuk ongkos pulang ke desa.


Aku pun berpikir dari pada di kota menjadi beban saudara.


Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung saja.


Meskipun aku tidak tahu di kampung.


Aku bekerja apa.


Tetapi dari pada aku menganggur di kota.


Lebih baik aku menganggur di kampung saja.


Dan bisa membantu nenek berjualan nasi di pasar.


Setelah tiba di rumah.


Semua keluarga ku memberikan semangat pada ku.


Jika suatu hari nanti, pasti akan ada pekerjaan untuk ku.


Jujur aku terharu akan sikap dan dukungan dari keluarga ku.


Dan aku pun bangga mempunyai keluarga seperti mereka.


Selama menganggur di kampung halaman.


Aku pun banyak merenung dan mengintropeksi diri.


Banyak hal yang aku pikirkan, hingga membuatku menjadi seorang yang sangat pemalu.


Dan hanya beraktivitas di dalam rumah saja.


Aku tahu Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu adil terhadap hambanya.


Dan aku percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti merubah jalan hidup ku suatu saat nanti.


Aku pun terus berikhtiar.


Dengan sambil bertanya tentang pekerjaan pada setiap teman yang baru datang dari perantauan.

__ADS_1


__ADS_2