
Halaman ke sepuluh:
Malu, sedih, kesal bercampur aduk melihat tatapan-tatapan sinis orang -orang,
dengan image ibu yang buruk.
Dan semua itu lah yang membuat batas diri Wulan dengan dunia luar.
Bertahan dan berpura-pura seolah semua baik-baik saja ,terus Wulan lakukan.
Tetapi itu malah membuat perilaku ibu menjadi dahsyat dan terlilit hutang dengan renternir sangat banyak.
Hal itu membuat adik harus berusaha membiayai sekolah dan pendidikan dengan perjuangan sendiri.
Dimana setelah pulang sekolah.
Adik bekerja sampingan dengan membantu-bantu tetangga sebelah rumah, dengan menjaga warungnya untuk mendapatkan uang.
Yang dapat Wulan gunakan untuk membiayai sekolah Wulan.
Terkadang juga Wulan menjaga anak tetangga, menyetrika baju, bersih-bersih rumah, dan semuanya Wulan lakukan.
Dengan tujuan agar adik bisa tetap sekolah.
Dan membantu membayar hutang-hutang ibu.
Meskipun seburuk apa pun perilakunya.
Adik sangat sayang kepada ibu.
Dan adik yakin pasti ada cara untuk dapat mengubah ibu, suatu hari nanti.
Walaupun sulit adik tidak pernah menyerah.
Adik terus belajar dengan giat.
Untuk menyusul nilai-nilai adik yang hancur. Dari kelas satu sampai kelas empat sekolah dasar,saat tinggal bersama kakak perempuan ku.
Untungnya di dekat tempat tinggal adik.
Ada kios penyortiran buku-buku bekas.
Wulan manfaatin saja untuk bisa bantu-bantu kerja di sana, sehabis pulang sekolah.
Lumayan hasilnya.
Adik bisa mendapatkan buku-buku tulis bekas untuk sekolah.
Meskipun tidak baru, tetapi adik bersyukur .
Karena di sini, adik menjadi terbiasa membaca buku-buku apa saja.
Dan untung pemiliknya sangat baik. Terkadang mereka memberikan adik buku untuk di baca di rumah.
Kegiatan Wulan rutin seperti itu, hingga adik berhasil mendapatkan peringkat satu terus menerus, hingga kelas enam sekolah dasar.
Adik pun menjadi murid berprestasi dan mendapatkan beasiswa.
Sehingga semuanya menjadi lebih mudah. Adik tidak merepotkan ibu lagi untuk membiayai sekolah adik.
Dan hasil kerja sampingan adik.
Wulan memberikannya untuk ibu membiayai rumah tangga.
Halaman ke sebelas:
Itu pun tidak membuat ibu langsung berubah. Justru sikap ibu semakin bertambah parah. Dimana ibu malah sering membawa pria pulang ke rumah.
Dan itu membuat Wulan sangat merasa tidak nyaman.
Ibu hanya bisa marah dan memaki Wulan saja.
Bahkan lebih sering membela pria itu dari pada Wulan.
Setiap harinya Wulan hanya bisa menangis, menangis dan terus menangis.
Karena rasanya tidak ada satu pun yang bisa aku lakukan.
Hati Wulan miris ,sakit, nyeri dan pilu melihat pemandangan kotor.
Yang tidak seharusnya layak di saksikan oleh anak seumur Wulan.
Ibu bersenggama dengan pria di hadapan adik.
Tertawa - tertawa melihat wajah bodoh ini.
__ADS_1
Saat itu ,Wulan hanya bisa apa Mas Yoki.
Wulan hanya terus menangis dan menangis, di sudut pojok kamar mandi.
Di mana saat semua orang sudah terlelap tidur, di kasur yang hangat.
Badan ini harus merasakan dinginnya malam.
Dan tidur dengan cara duduk di kamar mandi.
Pedih dan sakit sekali rasanya.
Saat semua orang tidak ada yang peduli dengan Wulan.
Rasanya semua orang melupakan Wulan saat itu.
Namun,hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang terus menemani dan menjaga hati Wulan.
Untuk bertahan dan bertahan dengan semua ini.
Hingga Wulan terlelap tidur di kamar mandi.
Saat itu, wulan terus bertekad untuk bisa mengumpulkan uang yang banyak.
Agar hutang ibu segera lunas.
Dan tidak menjadi alasan untuknya, melakukan hal-hal buruk lagi.
Wulan kasihan.
Kasihan sekali dengan ibu.
Meskipun terkadang sikapnya tidak baik dan sering melukai perasaan adik.
Tetapi Wulan yakin di sudut hatinya yang paling dalam.
Ada masa di mana tangan mungil ini.
Akan berhasil menjamah hati dan pikiran nya, agar dapat berubah.
Untuk kembali pada jalan kebenaran, jalan yang di ridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan itu lah yang membuat Wulan terus yakin.
Pada suatu hari adik memberanikan diri untuk datang ke mushola.
Dengan tujuan agar adik bisa belajar mengaji dan lebih dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Karena hanya itu lah satu-satunya jalan yang dapat memperkokoh ketahanan Wulan dalam melangkah.
Alhamdulillah, niat Wulan di sambut baik oleh ustad yang mengajar di sana.
Wulan tidak perlu membayar biaya mengaji di mushola.
Sehingga membuat Wulan belajar sungguh-sungguh.
Dan terkadang Wulan juga pinjam buku-buku panduan salat, syariat agama, fiqih milik ustad. Untuk Wulan baca dan pelajari.
Dan jika Wulan tidak paham.
Wulan akan bertanya langsung pada ustad.
Lambat laun, Wulan pun sedikit demi sedikit
mulai memahami tata cara dalam hal yang di syariatkan di agama Islam.
Saat itu, Wulan baru kelas lima sekolah dasar. Semuanya begitu terbuka dan di mudahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dimana Wulan sudah bisa mengaji dengan baik, salat rutin, dan tidak pernah meninggalkan puasa Senin Kamis hingga sekarang.
Wulan hanya punya tekad yang kuat. Meskipun ibu tidak bisa di ingatkan dengan kata-kata.
Tetapi Wulan berusaha menunjukkan melalui perbuatan yang baik.
Ibu memang masih melakukan perbuatannya yang terkutuk itu.
Tetapi Wulan tidak menyerah begitu saja.
Di rumah Wulan pun terus mengaji, salat dan puasa.
Alhamdulillah semuanya rutin Wulan lakukan.
Hingga sampai di Sekolah Menengah Atas Wulan terus mendapatkan beasiswa.
Karena Wulan mendapatkan peringkat terbaik terus.
__ADS_1
Selain itu, untuk mengisi waktu luang adik ikut drumah band atau marching bandung juga modern dance.
Yah.
Lumayan jika tampil, uang nya dapat untuk di tabung
Meskipun sedih ,terluka dan kecewa.
Wulan tidak ingin menunjukkan kepada ibu dan orang lain.
Akan rasa kesedihan nya Wulan.
Semuanya hanya bisa Wulan tumpahkan pada Allah subhanahu wa ta'ala dan buku diary ku saja.
Wulan tidak menyesel mempunyai kehidupan seperti ini.
Wulan ikhlas.
Apa pun yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan ke Wulan.
Semuanya wajib Wulan syukuri.
Dan Wulan terus berusaha selalu berusaha, untuk menjadi seseorang yang berguna.
Dalam hal apa pun di dunia akhirat.
Halaman ke tiga belas:
Di saat kelulusan Sekolah Menengah Atas. Wulan berada dalam dua kutub yang berlawanan antara meneruskan pendidikan atau bekerja.
Karena Wulan selalu mendapatkan peringkat yang baik di sekolah menengah atas.
Wulan mendapatkan seleksi Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) atau Jalur Prestasi.
Dimana jalur seleksi penerimaan calon mahasiswa melalui seleksi prestasi bidang akademik berdasarkan nilai rapor dan nilai ijasah.
Dan adik mendapatkan PMDK kedokteran tanpa tes ,dan tawaran melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang Wulan suka dan pilih sendiri.
Waktu itu banyak sekali surat-surat datang ke rumah, untuk menawarkan adik masuk ke kampus-kampus ternama.
Tetapi semua tidak semudah itu.
Karena hutang-hutang ibu banyak sekali dan terus berbunga.
Kalau pun di perguruan tinggi Wulan bisa dapetin beasiswa.
Tapi ibu bagaimana.
Sampai pada akhirnya, kakak perempuan adik datang ke Palembang.
Untuk mau membantu Wulan meneruskan pendidikan.
Namun, dengan satu syarat.
Asalkan Wulan harus ikut kakak perempuan ku ke Lampung, dan meninggalkan ibu sendirian di kota Palembang.
Jelas saja Wulan menolak secaramentah-mentah syarat dari kakak perempuan ku itu.
Bahkan Wulan sempat marah ke kakak perempuan ku.
Karena se buruk apa pun perbuatan ibu.
Dia tetap ibu Wulan, orang yang sudah bersusah payah membesarkan Wulan. Meskipun dengan jalan yang salah.
Akhirnya Wulan memutuskan untuk bekerja saja. Dan alhamdulillah tetangga Wulan menawarkan adik pekerjaan.
Untuk mengajar di tempat bimbingan belajar milik adik iparnya.
Awalnya Wulan tidak mau menerimanya, tetapi setelah di coba.
Alhamdulillah Wulan betah dan merasa nyaman.
Dari pekerjaan mengajar ini lah.
Wulan dapat menyisihkan uang untuk membayar hutang -hutang ibu, membayar kontrakan rumah, listrik dan memenuhi semua keperluan ku dan ibu.
Dan Wulan berjanji akan bisa mengubah ibu. Meskipun memang sangat sulit.
Tetapi siapa lagi yang peduli dan akan merawat ibu, jika bukan Wulan.
Karena kakak perempuan Wulan saja sudah tidak peduli, atau setengah-setengah peduli pada ibu.
Saat itu ibu hanya bisa menangis dengan tatapan kosong menatap Wulan.
Yah, ibu memeluk Wulan.
__ADS_1
Pelukan dan pelukan dari seorang ibu yang telah lama, Wulan nantikan selama ini.