
Palembang, 20 Januari 2011.
Esok paginya setelah melaksanakan salat subuh sekitar pukul 04:58:12.
Aku pun membalas pesan dari Mas Yoki.
"Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Mas Yoki. Maaf ya mas, semalam adek ketiduran. Jadi, tidak sempat membalas pesan dari Mas. "
Dan Mas Yoki pun langsung membalas pesan dari ku.
"Wa'alaikumussalam Warohmatulohi Wabarokatuh. Okey. Tidak apa-apa Dek Wulan. Lagi pula, Mas juga ketiduran juga.
Ya sudah, selamat beraktivitas ya Dek Wulan."
"Iya Mas Yoki, sama-sama. "
Aku dan Mas Yoki pun melaksanakan aktivitas kami masing-masing.
Barulah pada pukul 17:41:20 Mas Yoki mengirimkan pesan pada ku.
Sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa.
"Dan ketika surya berganti senja.
Semua akan bersiap untuk mempersiapkan diri. Supaya menjadikan dirinya pantas, untuk menemui sang rembulan.
Selamat sore Dek Wulan.
Buka puasa yuk. "
"Selamat sore juga Mas Yoki.
Disini belum waktunya untuk berbuka puasa Mas. Belum adzan maghrib. "
"Hehehe. Iya Dek Wulan. Maksudnya Mas persiapan untuk buka puasa. Oh ya, ibu masak apa tadi Dek Wulan?. "
"Ibu baru mau masak Mas.
Mas Yoki buka puasa dengan menu apa. "
"Mas sudah membeli ikan lele dengan lalapan dan sambalnya. Memangnya Dek Wulan belum pulang kerja kah?. "
"Wah enak ya mas. Adek sudah pulang kerja mas. Ini lagi duduk. "
"Pasti dong enak. Kok adek tidak membantu ibu yang sedang memasak. Oh ya, nanti adek mengajar les private ya dek. "
"Adek sedang capek mas. Tenaga adek habis. Hari ini adek tidak mengajar private Mas Yoki. "
"Wow tenaga Dek Wulan di buat apa saja. Sehingga tenaga nya bisa habis. Lho memang nya kenapa hari ini adek tidak mengajar les private. "
" Tadi adek mengajarnya banyak kelas,karena teman yang mengajar tidak masuk. Dan bos adek juga sedang sakit. Jadi tidak ada yang bantuin. Dimana adek harus bekerja sendirian.
Terus adek juga harus mengajari pegawai baru. "
"Oh begitu ya Dek. Hehehe. Yang sabar ya Dek Wulan. Anggap saja semua itu sebuah tantangan untuk adek. Oh ya, kita salat maghrib dulu yuk dek, sekalian berbuka puasa. "
__ADS_1
"Iya Mas Yoki. Selamat berbuka puasa ya Mas. "
"Iya Dek Wulan, sama-sama. "
Aku dan Mas Yoki pun mengakhiri obrolan singkat kami melalui pesan SMS. Dan setelah berbuka puasa, juga menyelesaikan pekerjaan ku.
Pada pukul 20:43:12 aku pun mengirimkan pesan untuk Mas Yoki.
"Meskipun cinta yang ku milki ini terasa begitu dalam. Seperti bagaikan dalamnya samudera. Namun, semua seakan tidak lengkap dan berarti. Tanpa kehadiran mu di sisi ku.
Dimana sebutir cinta ku yang begitu indah. Telah aku persembahkan pada mu, wahai jantung hati ku. Sebagai persembahan dari lubuk jiwa ku yang terdalam, dari palung dasar samudera cinta ku.
Sungguh,rasanya aku ingin menghabiskan semua masa kehidupan ku bersama diri mu.
Dan aku terus membayangkan kebersamaan kita berdua.
Yaitu saat kita berjalan menyusuri pantai-pantai kebahagiaan, hutan lebat nan rindang penuh keteduhan dan kenyamanan,mendaki tingginya gunung yang penuh harapan, atau pun menyusuri indahnya taman-taman bunga yang sedang bermekaran.Dalam gelora nuansa cinta yang kita miliki berdua.
Sembari aku membayangkan.
Dimana diri ku mengandeng tangan mu dengan penuh kehangatan dan kelembutan, juga penuh kemesraan.
Mas Yoki engkau pun tahu,
Betapa inginnya aku memberikan sebentuk kebahagiaan yang ku rasa menuju ke dalam hati mu. Dimana aku ingin sekali melihat senyuman bahagia itu mengembang dari bibir indah mu. Dan menatap wajah mu dalam, sambil memainkan jemari tangan ku untuk mengusap wajah mu.
Dimana aku akan memetik segala keresahan dan kegelisahan, dari dalam kehidupan mu.
Dan membuangnya jauh-jauh dari hidup mu. Sehingga aku sangat berharap.
"MasyaAllah. So sweet adek.
I love you Dek Wulan. Muach.
Wow. Betapa bahagianya diri ku. Jika waktu itu datang. Dimana kita berdua saling mengisi kehidupan satu sama lain. Dengan penuh rasa ketulusan, kasih sayang dan mengharap ridho dari Allah Subhanahu WA Ta'ala. Aku sangat mengetahui dan memahami. Dimana cinta itu memang butuh perjuangan keras. Tetapi sungguh semua itu, tidak akan menyurutkan niat ku. Untuk bisa bersama dengan diri mu.
Dan untuk itu mas sangat berharap sekali, jika adek akan selalu menjaga perasaan ini. Tolong ya Dek Wulan. "
"InsyaAllah Mas Yoki. "
"Mungkin kehadiran mu disini. Menjadikan awal bagi perjalanan hidup kita. Jadi, jangan pernah sekali pun engkau ragu akan perasaan ku pada mu. Karena disini hati ku senantiasa selalu menanti mu, sayang ku.
Wah, ujung-ujungnya kok kita sama-sama keras kepala. Bagaimana jika lebih baik, kita slow down dulu sambil berpikir. Untuk mencari jalan tengah. Supaya kita sama-sama tidak di rugikan. Bagaimana Dek Wulan?. "
"Maksudnya Mas Yoki apa?. "
"Sebenarnya Dek Wulan inginnya bagaimana?. "
"Maksudnya?. "
"Emm. Kira-kira Dek Wulan apakah ikhlas untuk melepaskan semua rutinitas adek di Palembang demi Mas?. "
"InsyaAllah adek siap Mas Yoki. "
"Alhamdulillah Dek Wulan.
__ADS_1
Mas mengatakan begitu. Bukan karena Mas keras kepala atau terlalu memaksakan keinginan Mas. Namun, Mas mengatakan hal itu secara tidak langsung demi kelangsungan hubungan kita. Tetapi mas berharap Dek Wulan berpikir dan mempertimbangkan nya dahulu secara matang dan serius. Sebelum Dek Wulan memutuskannya. Karena mas tidak ingin Dek Wulan menyesal di kemudian hari.
Lalu hal apa yang kira-kira adek pikirkan, tentang hal yang baru saja kita bicarakan?."
"Iya mas, adek tahu dan paham.
Salah satu cara untuk kita agar dapat bersama. Yaitu salah satu di antara kita harus ada yang berkorban. "
"Dengan cara apa Dek Wulan?.
Apakah Dek Wulan sudah memikirkannya dengan matang dan membahas masalah ini dengan ibu adek?. "
"Pilihan nya hanya Mas Yoki yang pindah ke Palembang atau adek yang pindah ke Solo. Adek belum membahas semuanya dengan ibu, karena keseriusan mas belum sepenuhnya adek dapat kan. "
"Iya dek, baiklah. Katakan kepada Mas apa yang harus Mas lakukan. Untuk menunjukkan keseriusan mas kepada Dek Wulan.
Jika adek mempunyai niat seperti itu.
Yah, salah satu caranya adalah kita memasrahkan nya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kira-kira siapa di antara kita yang terbaik untuk berkorban demi hubungan kita, dan membawa faedah besar bagi kedua belah pihak. Tidak hanya diri kita, tetapi masing-masing dari keluarga kita berdua. Dan yang paling penting kita mempunyai niat yang baik juga bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. "
Namun, setelah itu aku tidak langsung membalas pesan dari Mas Yoki.
Dimana pembahasan kami malam ini, secara tidak langsung mulai mengusik diri ku. Dan banyak pertimbangan yang mulai ku pikirkan. Jika seandainya aku yang harus mengalah untuk pindah ke Solo dari Palembang.
Masalah terbesarnya adalah pada ibu ku.
Apakah beliau mau untuk pulang ke kampung halamannya. Setelah hampir enam belas tahun hidup merantau di Palembang. Dan sudah sangat nyaman tinggal di kota ini, yang semula asing bagi ku dan ibu ku. Tetapi nyatanya kota ini memiliki kisah kenangan yang luar biasa. Dalam perjalanan kehidupan ku dan juga ibu ku. Tidak hanya kebahagiaan namun juga kesedihan, air mata, kesusahan hidup hingga sekarang dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Merupakan proses kehidupan yang luar biasa kami berdua. Dimana tidak ada satu pun sanak keluarga yang menemani.
Tetapi, aku dan ibu ku tetap mampu berjuang meskipun terasa bagai di buang oleh keluarga sendiri. Tanpa pernah di cari keberadaannya. Namun, semua orang tetangga di sekitar tempat ku tinggal. Nyatanya memiliki perasaan dan ikatan emosional yang sangat jauh lebih dekat dari keluarga sendiri.
Dan inilah yang menjadi pekerjaan terbesar ku untuk membujuk ibu ku.
Apakah beliau bersedia untuk pulang ke Solo atau tetap memilih menetap di Palembang?.
Hanya ibu ku lah yang dapat memutuskan nya, sembari aku terus berdo'a kepada Allaha Subhanahu Wa Ta'ala.
Mas Yoki pun mengirimkan pesan lagi pada ku.
"Adek pasti sudah mengantuk ya.
Kok adek lama sekali membalas pesan dari Mas. "
Namun, aku juga tidak membalas pesan dari Mas Yoki. Hingga ia mengirimkan pesan lagi pada ku.
"Ya sudah, kalau memang Dek Wulan sudah mengantuk. Adek tidur saja ya.
Selamat tidur ya Dek Wulan.
Mas sayang sekali dengan Dek Wulan. "
Aku hanya membaca pesan darinya dan tidak membalasnya. Bukan karena aku tidak mau, tetapi pikiran ku menjadi gusar dan gelisah. Setelah percakapan kami berdua.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun langsung meletakkan telepon genggam milik ku ke dalam laci meja.
__ADS_1
Dan langsung memejamkan kedua mata ku.