Setumpuk Rindu Dalam Kata.

Setumpuk Rindu Dalam Kata.
Surat Mas Yoki:part 4


__ADS_3

Halaman ke tujuh:


Dengan berbekal kata-kata yang di ajarkan para guide itu. Setiap aku bertandang ke rumah bule.


Aku lontarkan saja, ucapan penolakan yang di ajarkan guide pada ku.


Pertamanya sih ada yang tersinggung, tetapi lama kelamaan para langganan atau customer bule itu memaklumi nya juga.


Bahkan terkadang aku pun mendapatkan uang tips dari mereka.


Karena terlalu asyiknya bekerja.


Aku sampai merubah kebiasaan pulang menjadi per tiga bulan sekali.


Untuk sejenak menjenguk keluarga di Jawa Timur.


Tetapi aku imbangi dengan mentransfer, sedikit penghasilan ku setiap bulannya. Meskipun masih jauh dari kata sebagai tulang punggung keluarga.


Tetapi aku masih tetap menjaga kontak dengan keluarga, dan jalan terus.


Meskipun hanya sekedar tanya kesehatan bapak dan sekolahnya adik-adik ku.


Tidak terasa hingga hanya setiap lebaran saja aku pulang kampung.


Hingga membuat diri ku seperti anak yang kehilangan induknya.


Tetapi aku melakukan semua itu, hanya ingin membuktikan, jika aku serius dalam bekerja.


Oh ya, Dek Wulan.


Tidak lengkap rasanya sebagai manusia normal.


Aku tidak menceritakan kisah asmara ku.


Hehehehe.


Aku sempat kenal dan dekat dengan sesama perantau, tetapi tidak lama sudah bubar.


Itu pun karena cewek itu ke buru di jodohkan orang tuanya.


Yah.


Hanya perasaan ikhlas dan tabah saja, aku menyikapinya.


Memang mungkin belum jodoh ku. Setelah agak lama sendiri.


Aku mendapatkan kenalan dan berkomitmen bersama-sama.


Tetapi lagi-lagi ada tembok penghalang. Bahkan hubungan ku yang satu ini, terpaksa membuat aku harus tarik ulur.


Karena kita beda agama ( maklum dia beragama Hindu ).


Tentu keluarganya menolak mentah-mentah kehadiran ku.


Dimana ada satu syarat yang mesti aku lakukan. Supaya bisa melanjutkan hubungan ku ini, yaitu dengan cara aku harus pindah agama.


Dengan iming-iming di kasih segepok materi.


Waduh,berat sekali.


Belum lagi ada teman yang memberitahukan ke keluarga ku.


Tentang hubungan dan masalah asmara ku ini.


Tak ayal seluruh keluarga ku memprotes keras dan kasih pilihan pada ku.


Kalau ingin tetap meneruskan hubungan ku dengan pacar ku.


Lebih baik aku tidak usah pulang kampung sekalian, begitu keinginan keluarga ku.


Tak lama kemudian.


Aku pun akhirnya, memutuskan untuk di mengakhiri saja hubungan kami.


Dari pada aku harus mengorbankan agama dan keluarga ku.


Setelah itu, aku menenggelamkan diri pada rutinitas pekerjaan ku.


Meskipun jauh jam kerja ku hanya sampai jam empat sore.


Tetapi aku ikut bantu-bantu di proyek hingga larut malam.

__ADS_1


Dan terkadang menggantikan para sopir yang tidak masuk kerja.


Dan aku pun belum berani membuka hati.


Hingga tidak terasa tiga tahun ku lewati dengan kesendirian ku.


Bukan Bali namanya kalau tidak melewatkan malam dengan alkohol.


Mungkin ungkapan itu bisa mewakili suasana kota Denpasar di waktu malam.


Hingga kebiasaan itu menular ke tempat kerja ku. Apalagi teman-teman kerja banyak menghabiskan gajinya, dengan berpesta minuman.


Mungkin satu sampai dua bulan.


Aku bisa menghindar untuk sekedar pergi.


Supaya aku tidak ikut teman-teman yang pada mabuk.


Tetapi lama kelamaan aku merasa tidak kuat dengan suasana seperti itu.


Akhirnya aku memutuskan untuk ngekost sendiri. Dari pada menasehati mereka yang ujung-ujungnya menjadi ribut sama teman sendiri.


Untuk ngekost bukan perkara mudah bagi ku.


Karena aku harus menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu.


Hingga aku menjadi absen tidak transfer uang ke orang tua ku selama dua bulan.


Tetapi sebelumnya aku memberikan penjelasan terlebih dahulu, kepada mereka. Alasan kenapa aku ngekost.


Ternyata kedua orang tua ku tidak keberatan dan mendukung penuh langkah ku itu.


Mulailah aku hunting kos-kosan yang letaknya tidak jauh dari tempat ku bekerja.


Dan yang terpenting bebas dari para pemabuk.


Akhirnya aku mendapatkan juga tempat kos yang punya larangan seperti itu.


Dan langsung saja aku ngekos di situ.


-----


Halaman ke delapan:


Aku mencoba untuk bersikap profesional. Tanpa menjauhi teman-teman yang suka berpesta minuman.


Meskipun terkadang mereka bertanya kenapa aku ngekost.


Tetapi aku selalu menjawab.


"Kalau sewaktu-waktu ada saudara dari kampung berkunjung dan menginap.


Aku sudah mempunyai tempat sendiri, " ucap ku pada semua teman-teman ku.


Lega,senang dan merasa bebas.


Karena aku punya teman-teman kos yang gila kerja semua.


Berangkat pagi dan pulang malam.


Hanya di hari Minggu.


Teman-teman kos pada kumpul dan biasanya jalan-jalan ke tempat wisata di luar daerah.


Yah, dari pada uang habis buat pesta.


Akan jauh lebih baik, jika di buat jalan-jalan dan ikut teman-teman baru.


Sekalian mumpung masih tinggal di Bali.


Sekaligus bisa melihat pemandangan alam Pulau Dewata yang sangat indah.


Enam bulan sudah aku hidup menjadi anak kost. Hingga aku beranikan diri lagi


Untuk membuka hati ku dan berharap bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Tanpa sengaja aku mendapatkan telepon dari teman sekolah ku dulu.


Meskipun awal nya bernostalgia masa lalu, tapi di tengah pembicaraan dia mengatakan. Jika mantan pacarku sewaktu SMEA dulu masih jomblo.


Terus teman ku memberikan ku nomor telepon mantan pacar ku itu.

__ADS_1


Hingga suatu hari aku iseng sms-an sama mantan pacar ku itu.


Dan tepat saat lebaran.


Aku bertemu dia.


Dimana aku dan dia sepakat untuk balikan lagi.


Jujur waktu itu besar harapan ku kepada dia. Bahkan di awal tahun 2010.


Aku berani mengenalkan dia pada orang tua ku.


Tapi selang beberapa hari.


Setelah aku bermaksud untuk serius atau melangkah ke jenjang pernikahan.


Ternyata dia nya belum siap untuk menikah.


Aku mengira diabbelum siap menikah karena faktor umur.


Ternyata dia memendam perasaan ke cowok lain.


Ehem, akhirnya berakhir juga deh hubungan yang selama ini aku jaga banget.


Meskipun long distance, mungkin itulah penyebabnya.


Tetapi apa pun itu aku tetap mencoba untuk bersabar. Meskipun sulitnya minta ampun.


Namun, aku harus bangkit.


Apalagi keluarga memberikan support terus-menerus tidak berhenti.


Tidak terasa empat tahun sudah aku hidup di Bali. Karena sesuatu hal, akhirnya kantor cabang Bali di tutup.


Dimana semua karyawan yang di nilai bagus di mutasi ke Solo.


Dan termasuk aku salah satunya


Di tengah persiapan kepindahan ku tepat tanggal 5-2-2010.


Aku mendapat kabar, jika kondisi bapak semakin parah dan sekarang sudah di opname di rumah sakit.


Tanpa berpikir panjang.


Aku pun langsung pulang dan menuju rumah sakit di mana bapak di rawat.


Masih teringat jelas di ingatan ku saat itu.


Aku tiba di sana saat waktu subuh.


Dimana aku melihat sosok yang selama ini aku hormati dan ku kagumi.


Terbaring lemas dengan beberapa selang pada tubuhnya, di ruang ICU.


Seluruh keluarga pada datang menjenguk bapak .Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter.


Dan mengatakan bahwa bapak terkena penyakit darah tinggi ,jantung dan kencing manis.


Dimana penyakit itu sudah komplikasi dan kronis.


Hanya ibu yang setia menemani di samping bapak.


Sedangkan aku dan nenek hanya bisa tidur di depan kamar bapak di rawat, dengan beralaskan tikar tipis.


Tidak banyak pesan bapak kepada ku.


Hanya satu yang ku ingat yaitu," Jadilah orang yang tahan banting dan kuat dalam kondisi apapun nak, "begitu ucapnya.


Simple tapi mengandung arti.


Hanya seminggu di rumah sakit.


Bapak bisa bertahan hidup.


Hingga 12-02-2010 selepas semua orang menjalankan salat subuh.


Bapak akhirnya meninggal dunia.


Rasanya dunia berubah jadi gelap seketika. Mungkin tiga sampai empat kali senggugukan air mata ku keluar.


Karena aku harus kuat dan tabah menerima kenyataan.

__ADS_1


Dimana aku selalu teringat akan pesan bapak sebelum ia meninggal dunia.


__ADS_2